
Pagi hari yang cerah dan sinar matahari mulai memasuki celah-celah jendela kamar. Di atas ranjang seorang wanita perlahan membuka matanya. Saat melihat sekeliling, dia merasa familiar dengan dekorasi hitam abu dari kamar yang dia tempati.
Aroma khas yang sama seperti aroma lelaki itu. Bagaimana bisa aku ada di kamar Revon? pikirnya. Saat bangkit untuk duduk dia menyadari kalau hanya memakai pakaian dalam.
Wajahnya memerah dan mencoba mengingat apa yang terjadi. Dia melihat ponsel untuk memastikan hari, ternyata baru semalam dia disini. Ingatan kejadian kemarin muncul seketika.
Seseorang mengigit lehernya dan melukai tubuhnya. Secara refleks dia menyetuh lehernya, tapi hanya kulit halus yang dia rasakan. Dia melihat infus yang terhubung ke kantong darah.
Sebenarnya apa yang terjadi? pikirannya masih belum bisa menerima tentang kejadian itu dan bagaimana tubuhnya sembuh tanpa bekas luka. Aku harus meminta penjelasan Revon.
Walau masih lemas dan sedikit pusing dia berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka dan mengambil baju yang tersedia di wardrobe.
Gaun simple berwarna nude menjadi pilihannya, dia memutuskan untuk memakai sandal rumah sebagai alas kaki. Saat keluar kamar dia bertemu Robert, supir yang waktu itu pernah mengantarnya. Robert pun menyapanya.
"Nona Roseline Mint" ujar Robert sambil menunduk.
"Tuan Robert, benar?" Ujar Rose.
"Robert. Panggil saja Robert. Apa ada yang nona perlukan? Anda bisa katakan kepada saya, nona harus istirahat lebih banyak." Ujar Robert.
"Ehmm.. Saya hanya ingin bertemu Revon. Saya ingin tau mengenai kejadian kemarin. Apa anda bisa memberitahu dia dimana?" Tanya Rose.
"Tuan Revon sedang sibuk akhir-akhir ini. Sehingga sulit untuk menemuinya." jawab Robert dengan tenang, dia ingat perkataan tuannya kalau tidak ingin diganggu saat pemulihan.
"Ah begitu ya. Baiklah tapi tolong sampaikan kalau saya mencarinya." Ujar Rose dengan nada sedikit kecewa.
Tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing dan membuat tubuhnya limbung. Robert yang melihatnya dengan sigap menahan tubuh Rose agar tidak jatuh.
"Nona, saya akan antarkan anda kembali le kamar." Ujar Robert dan menuntun Rose berjalan ke kamar.
Setelah Rose berbaring di ranjang, Robert mulai berjalan ke pintu kamar. Namun sebelum keluar, Rose memanggilnya dan berkata.
"Terimakasih, Robert." Ujar Rose sambil tersenyum.
Robert hanya membalasnya dengan anggukan. Saat di luar kamar, dia menuju ke kamar yang ditempati Revon. Dia mengetuk pintu dan Revon memperbolehkannya masuk.
Revon yang baru selesai mandi berjalan ke sofa dan meminum wine yang ada di gelas.
"Ada hal penting apa?" Ujar Revon dengan wajah datar.
Rasa sakit di tubuhnya masih belum menghilang dan dia ingin segera berbaring di ranjang. Padahal dia sudah memperingatkan kalau menemuinya jika ada hal yang sangat penting saja.
"Maaf tuan. Saya baru saja bertemu Nona Rose di depan kamarnya. Dia mengatakan kalau ingin bertemu anda untuk membicarakan kejadian kemarin." Ujar Robert.
"Bagaimana keadaan dia?" Tanya Revon sambil duduk di sofa.
"Nona masih terlihat lemah. Tadi saya sudah mengantarnya kembali untuk beristirahat." Jawab Robert.
"Karena aku masih belum bisa menemuinya. Katakan kepada Mr. Pont untuk memantau kondisinya dan kirim beberapa pelayan untuk melayani setiap kebutuhannya. Berikan aku laporan kondisinya setiap hari kirim ke ponselku. Dan satu lagi Robert, aku tidak ingin diganggu siapapun sampai aku mengatakan sebaliknya." Ujar Revon sambil menatap tajam mata Robert.
"Baik tuan. Saya akan melakukan sesuai perintah anda." Ujar Robert dengan kepala menunduk. Setelah itu Robert pergi dari kamar Revon dan menemui Mr. Pont untuk menyampaikan perintah tuannya.
Ā ~~~
1 minggu kemudian..
Rose POV
Revon, kemana sebenarnya dia? Kenapa dia bahkan tidak menelponku. Robert bilang sudah menyampaikan pesanku, tapi kenapa dia tidak menemui atau menghubungiku sama sekali.
__ADS_1
Arrgghhh!!! menyebalkan.
Selama seminggu ini beberapa pelayan selalu datang membantuku melakukan ini itu. Setelah dokter memeriksa keadaanku kemarin, dia mengatakan kalau aku sudah sembuh.
Wen juga sudah memberitahu kalau pekerjaan akan ditunda sampai kondisiku benar-benar pulih. Tapi dia hanya tahu kalau aku sakit karena terlalu banyak aktivitas dan pikiran yang mengganggu.
Apa Revon sengaja menyembunyikan kebenarannya? Sebenarnya apa yang terjadi setelah aku tidak sadar? Dan mengapa orang itu menculikku? Kenapa dia menggigit leherku saat itu? Tapi tidak ada bekas luka ditubuhku.
Bahkan luka segaris pun tidak ada. Aku bisa-bisa gila. Tidak bisa, aku harus segera meminta penjelasan dari Revon. Karena terlalu larut dalam pikiranku, aku tidak memperhatikan langkahku saat berjalan di taman.
Sial. Refleks aku menutup mata sambil menunggu tubuhku membentur kerasnya bebatuan di jalanan taman ini. Aneh, selama beberapa menit aku tidak merasakan sakit.
Aroma ini, aroma khas lelaki itu. Revon! Dengan cepat aku membuka mata dan aku dihadapkan dengan dada bidangnya yang terbalut kemeja maroon. Tangannya semakin memelukku dengan erat.
Tanpa sadar tanganku membalas pelukannya yang seakan mengobati semua rasa kesalku. Revon melepaskan pelukannya dan pandangannya menelusuri seluruh tubuhku seperti sedang memeriksa apa aku terluka atau tidak.
Pandangannya semakin naik hingga mata kami bertemu. Rambutnya lebih panjang dari terakhir kali aku melihatnya. Warna matanya merah gelap dan sangat dalam.
Revon semakin mendekat, satu tangannya memegang wajahku dan tangan lainnya memeluk pinggangku. Jari-jarinya yang panjang membelai pipiku dan turun ke leherku.
Secara refleks aku memiringkan kepalaku untuk memberikannya akses lebih luas. Bibirnya membentuk garis sambil menelan ludah.
"Jangan pernah memperlihatkan lehermu seperti itu kecuali kepadaku." Ujar Revon dengan ekspresi serius.
Hah, kami baru bertemu dan dia sudah mengesalkan seperti ini.
"Jadi, kamu menemuiku hanya untuk berkata itu? Look, ada hal yang lebih penting dan sudah lama aku ingin menanyakan ini kepada kamu. Kita harus membicarakannya sekarang sebelum kamu sibuk dengan pekerjaanmu." Jawab Rose dengan kesal dan menatap sinis lelaki dihadapannya.
Revon menghela nafas lalu berbicara.
"Kita bicarakan di tempat yang lebih nyaman. Kamu bisa pilih tempatnya." Ujar Revon sambil menyisir rambutnya dengan tangan.
Kami berjalan berdampingan dan sesampainya di sana, kami duduk bersebelahan. Walau gazebo ini kecil, tapi dekorasinya sangat bagus dan nyaman.
Sepertinya aku ingin menelusuri kediaman lelaki ini lebih dalam, pasti banyak tempat-tempat yang belum aku datangi. Aku kembali fokus ke tujuanku dan memulai pertanyaan.
"Sebelumnya, aku ingin kamu berjanji untuk menjawab semua pertanyaanku dengan jujur dan tanpa ada yang ditutupi. Ayo berjanjilah." Ujar Rose dengan serius menatap tajam ke arah lelaki dihadapannya.
"...... Ya aku berjanji akan menjawabnya jika memang itu perlu aku jawab." Jawab Revon. Kenapa dia berjanji seperti itu? pikirku.
"Baiklah, aku akan mulai bertanya. Bagaimana aku bisa berada disini?" Ujar Rose.
"Aku yang membawamu kesini." Ujar Revon.
"Bagaimana bisa kamu menemukanku saat itu? karena aku berpikir tidak ada yang tahu kalau aku diculik." Ujar Rose.
"Aku pergi mencarimu di acara fashion week, tapi kamu tidak terlihat disana dan Wen melihatmu pergi dari acara sambil membawa botol wine. Aku berpikir kalau kamu masih berada di sekitar tempat fashion week. Tapi aku tidak menemukanmu dan hanya melihat pecahan botol wine. Aku berpikir kalau itu botol wine milikmu. Lalu ada nomor tidak dikenal menelfonku yang ternyata adalah orang yang menculikmu. Aku meminta Robert melacak ponselnya dan menemukan lokasinya. Segera aku pergi untuk menyelamatkanmu. Sesampainya disana aku berhasil menemukanmu tapi...." Ujar Revon dengan tatapan kosong seperti mengingat sesuatu yang menakutkan dan raut wajah yang muram.
Dia menarik nafas dengan berat lalu memandangku dengan tatapan marah dan sedih?
"Aku menemukanmu dalam keadaan tidak sadar dengan luka lebam juga cakaran di seluruh tubuhmu. Yang paling parah adalah luka di leher yang membuatmu kehabisan darah. Suara nafas dan denyut nadimu sangat lemah. Dan itu membuatku panik dan seperti sesuatu menusuk jantungku hingga rasanya sulit bernafas." Ujar Revon dengan suara rendah dan matanya yang melihat ke arahku terlihat sedikit berkilau.
Kenapa dia begitu sedih saat melihatku sekarat? Apa dia benar-benar mencintaiku? Tunggu.
"Siapa orang yang menculikku? Kenapa dia ingin menculikku? Padahal Aku tidak memiliki masalah dengan siapapun. I mean masalah yang fatal" Ujar Rose sambil melihat bunga-bunga yang indah dan berwarna-warni.
Terdengar hembusan nafas berat dari Revon. Selang beberapa menit tidak ada satu katapun yang aku dengar. Merasa diacuhkan, aku menoleh ke arahnya dan aku melihat dia hanya diam sambil melihat ke bawah.
__ADS_1
Rambutnya menutupi sebagian wajahnya, hanya terlihat bibirnya yang terkatup rapat. Tubuhnya berkeringat dan sedikit gemetar.
Apa dia menahan sesuatu? Tiba-tiba dia berdiri dan menuju samping gazebo. Dia sedikit menunduk dan tangan satunya memegang tiang disebelahnya.
Aku beranjak menghampiri Revon, seketika aku dikejutkan dengan kejadian selanjutnya.
"Revon! Oh My *****ing God." Ujar Rose yang terkejut.
Dihadapanku Revon sedang memuntahkan darah pekat dan sangat sangat banyak.
Aku memegang lengannya dan mengusap punggungnya. Tubuhnya benar-benar basah oleh keringat dan suhu tubuhnya sangat dingin.
Apa dia sedang sakit parah? Selama ini aku tidak pernah melihatnya berkeringat. Dan lagi dia memuntahkan darah yang sangat banyak. Setelah beberapa menit dia berhenti muntah dan mengusap sudut bibirnya dengan tangan.
"Kamu mau aku panggilkan dokter atau kamu butuh sesuatu? Apa kamu baik-baik saja?" Ujar Rose dengan panik dan cemas.
"I'm fine. Aku tidak memerlukan siapapun. Aku hanya perlu kamu. Bisakah kamu membantuku kembali ke gazebo?" Ujar Revon dengan suara pelan.
Dia terlihat pucat dan tidak bertenaga. Apa yang terjadi denganmu Revon??
"Are you sure?" Tanyaku lagi sambil memeluk pinggangnya dan membantunya berjalan kembali ke gazebo.
"....." Tidak ada jawaban darinya.
Aku menuntunnya ke sisi gazebo yang terdapat sofa panjang agar Revon bisa berbaring.
Setelah dia berbaring dengan nyaman, aku ingin mengambil sesuatu untuk menyeka keringatnya. Belum sempat melangkah, dia menarik lenganku dan berkata.
"Jangan pergi. Tetaplah disini." Ujar Revon.
Dia terlihat menahan sakit. Aku ikut duduk di sofa dan menempatkan pahaku sebagai bantal untuk Revon.
Agar dia sedikit rileks aku mengusap rambutnya dan menyeka keringat di dahinya dengan punggung tanganku. Dia terlihat menikmati sambil memejamkan mata.
"Apa yang terjadi kepadamu? Apa tidak sebaiknya kamu ke dokter agar mendapat perawatan?" Ujar Rose saat melihat Revon mengerutkan dahi dan mengepalkan tangan dengan sangat erat.
Dia membuka mata dan memandangku cukup lama.
"Apa sekarang kamu mengkhawatirkanku?" Ujar Revon dengan tersenyum lalu mencium telapak tanganku.
Wajahku memanas, disaat seperti ini dia masih bisa menggodaku.
"Jangan menggodaku. Ini sudah mau malam. Lebih baik kamu istirahat di kamar." Ujar Rose.
"Jadi sekarang kamu mengajakku ke kamar?"
"Iisshh.. Sebenarnya kamu ini benar-benar sakit atau tidak? Aku akan memanggil Robert untuk membantumu ke kamar." Ujar Rose sambil berdiri dari sofa.
Tiba-tiba Revon menarik tanganku hingga membuat tubuhku berada tepat di atas tubuhnya. Wajah kami sangat dekat, dia melirik ke arah bibirku sedikit lebih lama.
Tangannya menarik leherku dan membuat bibir kami bertemu. Sedangkan tangan lainnya memeluk erat pinggangku. Kecupan ringan yang semakin lama menjadi ciuman yang penuh cinta dan tersirat akan kerinduan.
Seakan tahu kalau aku butuh sejenak bernafas, lelaki itu mengakhiri ciuman kami. Saat dia membuka mata, aku melihat lensa matanya lebih kehitaman dari sebelumnya yang merah.
Dia memberikan cukup space untukku ikut berbaring di sofa dengan mengubah posisi tubuhnya menyamping. Lengannya memeluk tubuhku dengan posesif seakan tidak membiarkanku pergi atau kabur.
Walau pun keringatnya sangat banyak, tapi tidak ada bau apapun. Wah, sangat berbeda dengan lelaki lain yang akan bau kalau berkeringat. Suhu tubuhnya sudah tidak sedingin tadi.
Sudah beberapa menit hanya diam dan hening. Mungkin dia sedang tertidur karena aku tidak bisa melihat wajahnya.
__ADS_1
Tidak terasa aku pun mulai mengantuk, cahaya lampu yang temaram dari arah luar gazebo pun terlihat. Tapi aku tidak mendengar suara langkah kaki siapapun.
Ini berarti kami akan aman bukan? Tidak ada pelayan atau orang-orang yang tinggal disini melihat kami berdua. Kelopak mataku semakin berat dan kegelapan mulai menyambutku.