
Hari menunjukkan sore, dan ruang kerja Revon hanya menyalakan satu lampu yang tidak begitu terang.
Dengan cepat Revon mengangkat gaun Rose. Sebelum lanjut, Revon menuang segelas wine dan meminumnya dengan sekali teguk.
Dia menuang lagi, kali ini dengan kristal es. Lelaki itu meminum wine untuk sedikit menenangkan dirinya, karena dia merasa seluruh tubuhnya panas dan adrenalin memuncak.
Revon menyesap sedikit wine dan meletakkannya di meja. Revon mendekat dan mencium bibir Rose, rasa wine itu terasa di mulut Revon. Disela-sela ciuman Rose berkata, "Aku ingin mencicipi winenya".
Revon sebenarnya tidak yakin apa wanitanya tidak apa meminum wine racikan itu. Tapi mungkin tidak apa kalau hanya sedikit. Revon menyesap winenya lalu mencium Rose, sedikit wine itu mengalir ke mulut Rose.
Rasa winenya sedikit lebih manis dan seperti ada rasa lain. Revon menghentikan ciumannya dan mulai membuka celananya. Revon langsung melancarkan aksinya.
Masing-masing dari mereka akan mencapai puncak kenikmatan. Keringat membasahi tubuh mereka.
Lengan Rose memeluk punggung Revon dengan erat.
Saat akan mencapai puncak, Revon mencium bibir Rose dan menautkan lidahnya dengan lidah wanita itu. Revon beralih ke leher wanita itu lalu menancapkan taringnya dan meminum darah Rose.
"Aahh... Revon.. mm.." Ujar Rose saat merasakan Revon yang mengigitnya sambil terus bergerak.
Nafas mereka memburu. Revon yang tidak ingin mengambil darah wanita itu terlalu banyak, dia melepaskan gigitannya dan mengecup bekas gigitan itu.
Dia menatap wajah Rose yang memerah dan perlahan wanita yang dihadapannya menunjukkan senyuman yang manis.
"Are you thirsty, bae? I have a wine there" Ujar Revon dengan sedikit tertawa.
"Mhmm." Ujar Rose yang masih belum bisa bicara karena hanyut oleh sensasi yang lelaki itu berikan. Dengan satu lengannya yg panjang dia meraih gelas wine yg di meja dan meminumnya.
__ADS_1
Setelah isi gelas itu kosong, Revon mendekat dan mencium bibir Rose. Lidahnya membuka mulut Rose dan membuat wine itu mengalir ke mulut wanita itu. Revon menyudahi ciumannya dan mendekatkan wajah mereka.
"Sleep with me in our room, please." Ujar Revon dengan suara yang masih serak dan tatapan yang menusuk ke hati.
"Alright, alright. But i want to take a shower first." Ujar Rose dengan tertawa.
"Do you want me to join? Hmm?" Ujar Revon dengan senyuman yang lebar dan satu alis yang terangkat.
"Nah. There will be round 2 if you join me. Sekarang ayo kembali ke kamar." Ujar Rose yang dibalas Revon dengan senyuman sambil mengedipkan satu mata.
Revon bangkit dan memakai celananya. Begitupun Rose merapikan gaunnya. Wanita itu meluruskan kakinya sambil sedikit meregangkan kaki.
Revon yang sudah kembali memakai kaos melihat Rose yang sedang meregangkan kaki. Seakan tahu kalau Rose masih lemas dia menggendong wanita itu.
"Apa kamu mau aku panggilkan pelayan untuk membantumu mandi?" Ujar Revon sambil berjongkok dihadapan Rose.
"Apa mereka bisa memijat?" Ujar Rose dengan tersenyum. Revon tertawa lepas mendengar ucapan wanita dihadapannya.
"That's what your little head thinking? Ah, I see. Iya mereka bisa memijit, bahkan melakukan semua hal yang dilakukan di spa." Ujar Revon dengan tersenyum.
"Excelent. Yes, then." Ujar Rose dengan senang.
"Tapi aku tidak mau menunggumu di kamar mandi terlalu lama. Hari ini hanya pijit saja, okay?"Ujar Revon.
"Okay. Thank you, Honey." Ujar Rose yang tanpa sadar memanggil Revon dengan panggilan lain. Revon hanya tersenyum dan senang mendengarnya. Lalu dia pergi menemui Mr. Pont.
__ADS_1
Saat di ruang tamu Revon bertemu Mr. Pont. Revon meminta kepada Mr. Pont untuk menyuruh beberapa pelayan wanita yang bisa melakukan treatment spa menemui Rose untuk membantunya mandi dan memberikan treatment yang diinginkan wanita itu.
Setelah selesai berbicara dengan Mr. Pont, ponselnya berbunyi dan ternyata Robert menelfon. Dia menerima telfon dan Robert sedang menanyakan dokumen pekerjaan yang membuatnya harus kembali ke ruang kerja.
Rose merasa puas dengan pelayan-pelayan yang membantunya mandi dan memberikan pijatan yang membuat tubuhnya terasa segar.
Sekarang rambutnya sedang dikeringkan oleh pelayan sambil menceritakan tentang pengalaman kerjanya dulu di tempat spa. Setelah selesai mengeringkan rambut dan memyisirnya.
Hadir pelayan lain yang membawa teh dan beberapa kue untuknya. Mereka menggiring Rose duduk di sofa dan menuangkan teh hangat untuknya. Karena belum lapar jadi Rose tidak memakan kue itu.
Tak lama kemudian Revon masuk ke kamar, semua pelayan melihat ke arah Revon dan menunduk memberi hormat yang dibalas anggukan oleh lelaki itu. Lalu para pelayan itu beranjak pergi dan meninggalkan mereka berdua.
Revon membawa beberapa map dokumen dan meletakkannya di meja sambil ikut duduk di samping Rose. Revon memeluk Rose dan mengecup bibir wanita itu.
"Kamu terlihat lebih cantik dan... segar, bae." Ujar Revon dengan suara menggoda dan tersenyum.
"Enough. Kamu bisa mandi sekarang. Apa kamu mau mencoba tehnya dulu?" Ujar Rose.
"Nah. Aku sudah bosan minum teh itu. Aku mandi dulu." Ujar Revon lalu beranjak pergi ke kamar mandi.
Saat memeriksa ponselnya, ternyata tidak ada notif apapun. Akhirnya Rose memutuskan untuk berganti pakaian sweater navy dan celana jeans pendek.

Lalu dia melihat televisi di tengah kamar dan membuatnya ingin menonton film. Selang beberapa menit Revon keluar dari kamar mandi dengan memakai jubah mandi. Rambutnya dibiarkan sedikit basah.
Dia berganti pakaian memakai kemeja navy dengan celana kain.

Revon melihat Rose sedang asik menonton film sambil memakan kue. Lelaki itu mendekat dan mencium pipi Rose. Melihat pakaian Revon membuat wanita itu bertanya.
"Kamu mau pergi? Kalau begitu sama saja dong. Sendirian disini." Ujar Rose sambil cemberut.
"Aku pergi hanya sebentar, bae. Aku harus menemui orang kantor ada beberapa yang perlu didiskusikan. Dan itu juga aku menyuruhnya ketemu di rumah ini." Ujar Revon dengan lembut.
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar. Revon membuka pintu dan ternyata Robert yang sedang membawa ramuan sambil memberitahu kalau orang yang ditunggu sudah datang.
Revon meminum ramuannya lalu mengambil map dokumen yang ada di meja. Robert pergi lebih dulu dan memberikan waktu untuk Bossnya.
"Bae, aku pergi dulu. I'll be back soon." Ujar Revon lalu mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Rose.
"Hmmhmm.. Sudah pergi sana." Ujar Rose.
Revon menghampiri Robert yang berada di ruang tamu. Dia akan melakukan meeting mengenai hasil uji senjata yang dia ciptakan. Kebetulan sekarang dia sedang tidak bisa menggunakan kekuatannya. Sehingga dia terpikirkan untuk menciptakan senjata untuk dirinya juga.
"Kita meeting di area kolam saja. Di disisi kanan ada ruangan yang bisa buat kita meeting. Kamu ajak orangnya masuk dulu." Ujar Revon lalu Robert memberi hormat dan keluar menjemput orang tersebut.
__ADS_1
Tidak terasa meeting sudah berjalan 30 menit, dan senjatanya sudah lulus uji coba. Lalu sebelum rapat selesai dia memberikan desain senjata yang khusus memakai peluru perak yang bisa mencair saat menembus tubuh vampir dan serigala.
Tapi untuk vampir murni itu tidak bisa sampai membunuh. Robert meminta orang itu untuk mengerjakan project ini setelahnya.