
Hari ini adalah hari Rose kembali bekerja sebagai model. Tapi dia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Ya alasannya, tadi malam dia bermimpi melakukan hubungan intim yang panas dengan Revon.
Begitu terbangun, dia sedikit bingung karena sudah berada di kamar. Namun dia hanya sendiri dan pakaiannya masih lengkap sehingga dia yakin bahwa itu benar-benar hanya mimpi.
Belum terlepas dari mimpi itu, hingga pagi harinya berkali-kali dia teringat bagian klimaks dari mimpinya. Sentuhan, aroma dan suara Revon teringat jelas di kepalanya. Sepertinya dia sudah terlalu tergila-gila dengan lelaki itu.
Wen sang manager menelpon jika hari ini ada pemotretan pukul 10 pagi dan dilanjutkan makan siang bersama penyambutan kembali dirinya dari cuti.
Saat hendak berangkat kerja, dia bertemu pandang dengan Revon yang baru keluar dari kolam renang.
"Where are you going?" Ujar Revon dengan suara serak dan tubuh yang basah oleh air.
"......Time to work. Hari ini aku sudah bisa kembali bekerja. Waktu cutiku sudah berakhir." Ujar Rose yang sedikit gugup saat menjawab. Dia menelan ludah melihat tubuh Revon yang terlihat semakin seksi.
"Robert! Dia akan mengantarmu ke tempat pemotretan. No rejection." Ujar Revon dengan tegas membuat Rose memutar mata.
Robert menimpali dengan anggukan lalu menunggu di mobil. Saat Rose akan beranjak menyusul Robert. Lengannya ditarik oleh Revon dan memerangkapnya di antara dinding dan tangan lelaki itu.
"I miss you so much. Aku rindu manis bibirmu, sentuhan jarimu, hangat tubuhmu sampai suara desahanmu. Do you have any idea how much I want you, hmm? Right now, right here." Ujar Revon dengan suara rendah dan berbisik di telinga Rose.
Rose hanya diam tidak bisa berkata lagi. Hanya dengan perkataan lelaki itu membuat tubuhnya memanas. Namun dia tidak bisa begitu saja menyerah kepada Revon.
"I have to go. You can find someone else to release your need." Ujar Rose dengan sedikit mendorong Revon agar bisa lepas darinya.
Rose langsung masuk ke mobil dan meminta Robert segera melajukan mobil.
Rose melakukan pemotretan berpasangan dengan model lelaki dari agency lain. Dengan mudah dia melakukan berbagai pose secara profesional.
Karena melihat Robert masih berada di tempat pemotretan, Rose berinisiatif untuk bertanya.
"Robert. Kamu tidak pergi ke kantor?" Ujar Rose.
"No, i have to stay here. Mr. Dent meminta saya untuk mengawal anda." Ujar Robert dengan mudahnya.
"What?! I can't believe it. Kenapa dia melakukan hal ini?" Ujar Rose.
"I don't know. But, with this. Mr. Dent akan lebih sibuk karena dia mengerjakan semua pekerjaan sendiri." Ujar Robert.
"Tidak bisakah kamu pergi? OMG! Aku tidak ingin pengawal." Ujar Rose.
"I'm sorry, i can't. Tuan akan membunuh saya jika saya pergi dan tidak mengawal anda." Ujar Robert.
Rose tidak tahu lagi harus bagaimana. Dia memilih pergi melanjutkan kerja dan tidak menghiraukannya.
Acara makan siang untuk menyambut Rose setelah pulih dan kembali bekerja pun dimulai. Hanya fotografer, kru dan beberapa model serta managernya yang ikut.
__ADS_1
"Rose! Aku sangat senang kamu bisa kembali bekerja. Aku benar-benar minta maaf karena aku kamu jadi harus mengalami kecelakaan." Ujar Wen saat berjalan bersama Rose ke restoran tempat mereka akan memulai acara.
"Wen, ini bukan salahmu. Jadi jangan menyalahkan dirimu. Siapa yang tahu akan kejadian masa depan? Tidak ada yang tahu. Lebih baik hari ini kita bersenang-senang." Ujar Rose yang memeluk Wen. Wen merasa terharu dan membalas memeluk Rose.
Wen memesankan makanan kesukaan Rose dan juga beberapa wine terbaik di restoran. Mereka makan sambil sesekali mengobrol tentang banyak hal.
Karena tidak ada jadwal pemotretan lain, Wen dan Rose tetap di restoran sementara yang lainnya pergi untuk kembali bekerja.
Tidak terasa mereka terlalu asik mengobrol sampai waktu menunjukkan pukul 8 malam. Keduanya sudah agak mabuk karena pengaruh wine.
Revon yang teringat akan Rose akhirnya menelpon Robert di sela-sela kesibukannya.
"Robert. Where is she?" Ujar Revon tanpa basa-basi.
"She is at restaurant. Dia sedang minum bersama Wen saat ini. I think she is not sober." Ujar Robert yang samar-samar terdengar suara wanita di dekatnya.
"Stay there. I will coming to you. Kirim lokasi restorannya." Ujar Revon sambil menyimpan dokumennya lalu mematikan panggilannya.
Setelah menunggu beberapa menit, Robert merasa lega melihat Revon memasuki pintu restoran.
"Kamu antar Wen sampai rumahnya dengan selamat. Aku tadi menelpon suaminya tapi dia tidak bisa menjemput karena masih sibuk bekerja." Ujar Revon lalu melepas jasnya dan memakaikannya kepada Rose.
"Who are you?"Ujar Rose dengan wajah yang memerah dan mata yang menyipit ke arah Revon.
"Come here. Let me get this bottle." Ujar Revon yang mencoba mengambil botol wine dari tangan wanita itu.
"No. This is mine. Not yours." Ujar Rose lalu menjauhkan botol wine dari Revon.
"Bae, give me that bottle now." Ujar Revon yang masih mencoba mengambil botol dari genggaman tangan Rose.
"You are so annoying. Shut the fu*k up." Ujar Rose lalu menuang wine ke gelas.
Saat akan meminumnya, gelas itu direbut oleh Revon. Rose tidak terima dan mengambil gelas dari lelaki itu. Namun genggaman tangan Revon pada gelas sangat erat membuat Rose tidak bisa merebutnya.
Tiba-tiba muncul ide untuk meminum wine dari botol langsung. Melihat itu Revon merebut botolnya tapi tanpa sengaja tangan Rose menumpahkan wine ke kemeja putih lelaki itu.
Dengan cepat Revon menggendong wanita itu di pundak sehingga posisi kepalanya menghadap kebawah. Rose memberontak, memukul dan menendang.
Setelah masuk ke mobil, Revon langsung menancap gas. Rose melirik Revon yang terlihat marah. Membuatnya takut sambil menahan pusing dan mual.
Sesampainya di rumah, Revon membantu Rose keluar dari mobil. Wanita itu segera menjauh sedikit dan memuntahkan semua makanan hari ini.
Satu tangan Revon memegangi rambut Rose dan satu lagi mengusap punggung wanita itu. Setelah dirasa cukup, Rose mendorong Revon.
"Don't touch me. How can you driving like that? Bisakah kamu tidak melampiaskan emosi dengan mengemudi seperti itu? Fu*k you." Ujar Rose denga nada tinggi.
"I'm sorry. But i'm not mad at you. Aku hanya tidak bisa melihatmu dengan keadaan seperti ini. You know, you look so damn sexy right now even you not sober enough. You made me turn on, ****." Ujar Revon dengan nafas yang tidak beraturan dan rambut yang acak-acakan.
Rose terkejut mendengar perkataan Revon, padahal menurutnya dia sedang dalam keadaanya yang buruk. Gaun yang sudah kusut dan makeup yang luntur. Tidak lupa juga rambut yang acak-acakan.
Rose memutuskan untuk masuk ke dalam rumah terlebih dulu. Revon mengikutinya dari belakang. Saat naik ke tangga, Rose tersandung kakinya sendiri dan hampir terjatuh. Dengan sigap Revon meraih tubuh Rose agar tidak terjatuh.
"Careful, bae." Ujar Revon sambil menatap Rose dengan intens.
Lalu mereka pun sampai di kamar. Melihat Rose yang semakin terlihat mengantuk dan sedikit sisa kesadaran membuat Revon memintanya duduk di ranjang.
Dengan lembut dia melepas sepatu, mengganti gaunnya dengan piyama tidur lalu membersihkan make up nya dengan remover.
Setelah semua selesai dia membaringkan Rose dan menyelimutinya. Melihat Rose tertidur lelaki itu beranjak membersihkan diri sambil menenangkan miliknya yang dari tadi turn on.
Walau tubuhnya sudah sedikit rileks, akan tetapi dia sama sekali tidak bisa tidur. Akhirnya dia hanya duduk di sofa sambil memperhatikan Rose yang tidur.
Pagi harinya Rose bangun dengan kepala yang berdenyut. Dia mencoba mengingat kejadian semalam. Tapi sama sekali tidak ada ingatan yang muncul dikepalanya.
__ADS_1
Saat menengok ke meja samping ranjang, dia melihat dua tablet obat, jus jeruk dan sepiring sandwich. Di meja juga terdapat selembar note yang diatasnya terdapat setangkai bunga mawar merah yang masih segar.
Note itu bertuliskan 'Morning, bae. Eat and drink this for your hangover. Had a meeting in this early morning. Be back soon.'
"Mengapa dia memberiku mawar? Apa aku sudah berbaikan dengannya? Idiot. Why you can't remember last night?!" Ujar Rose dengan kesal.
Rose mencoba mengecek tubuhnya, rupanya dia sudah berganti pakaian. Tidak ada kissmark sama sekali dan ranjang yang masih cukup rapi. Rose cukup lega karena itu berarti dia tidak melakukan hubungan intim dengan lelaki itu.
Setelah meminum obat dan menyelesaikan sarapannya, wanita itu menyimpan tangkai mawarnya dalam vas kecil. Rose pun beranjak membersihkan diri dengan mandi.
Mendengar ponselnya berbunyi, Rose segera menuntaskan mandinya. Saat mengangkat telpon, terdengar suara Wen yang berteriak.
"Rose!! I'm sorry. Aku lupa kalau hari ini ada pemotretan pagi. Tapi karena kepalaku serasa pecah akibat hangover, dan aku yakin kamu juga merasakan hal yang sama. Jadi aku cancel jadwalnya menjadi besok. It's that okay?" Ujar Wen dengan heboh.
"Tidak bisakah kamu sedikit mengecilkan suaramu? Kamu membuat telingaku berdengung. Iissh.. Ah mengenai pemotretan, aku setuju. Yah karena aku bangun terlalu siang juga. Wen, can i ask you something?" Ujar Rose.
"Yes, girl. Ofcourse you can." Ujar Wen.
"Semalam bagaimana aku dan kamu bisa pulang? Aku sama sekali tidak ingat apapun." Ujar Rose.
"Mmm.. aku hanya ingat kalau Robert mengantarku pulang. Lalu kamu masih di restoran dengan Revon. Apa kamu sama sekali tidak ingat?" Ujar Wen.
"No, absolutely not. Masalahnya aku sedang marah dengannya. Dan kami tidak dekat selama beberapa hari. Yah, walau dia masih bersikap manis seperti biasa. Tapi aku masih belum ingin berbaikan dengannya. Bagaimana menurutmu, Wen?" Ujar Rose.
"Apa selama kamu marah dengannya dia bersikap aneh? Seperti ingin mengakhiri hubungan atau ingin berselingkuh?" Ujar Wen.
"Tidak. Dia tetap manis dan perhatian. Seperti pagi ini, dia menyiapkan obat pereda hangover dan sandwich. Lalu dia menyisipkan note dan setangkai mawar merah di meja."Ujar Rose.
"He is so sweet. I think you have to forgive him. Atau kamu bisa menyelesaikan masalah itu dengan kepala dingin. Bersama-sama menemukan solusinya. " Ujar Wen.
"I'll think about it. I have to go now. Bye Wen." Ujar Rose.
__ADS_1
"Bye Rose. See you." Ujar Wen.