My Vampire Ceo

My Vampire Ceo
Episode 11 - My sunshine


__ADS_3

Revon POV


Hangat dan aroma lavender yang menenangkan. Saat aku membuka mata, wajah Rose menjadi pemandangan yang indah di pagi hari ini.


Cahaya matahari masih belum sepenuhnya menyinari bumi. Sepertinya masih pukul 5 pagi. Kenapa aku tidur di gazebo taman? Ah, aku ingat.


FLASHBACK ON


Kemarin aku kembali dari mengurus masalah pengerjaan senjata dan karena kecerobohan satu teknisi hampir membuat kebakaran di lab.


Terpaksa aku menggunakan kekuatanku untuk mencegah kebakaran dan segera mengamankan senjata yang malfungsi. Setelah itu aku segera kembali ke rumah untuk kembali istirahat dan memulihkan tubuhku.


Sesampainya di halaman rumah dari jauh aku melihat sosok yang familiar sedang berjalan di taman samping rumah. Walau sedikit terhalangi oleh tanaman dan pohon sebagai pembatas taman, masih bisa terlihat jelas bagiku.


Sudah berapa lama aku tidak bertemu dia? Rasanya sangat menyesakkan tidak bisa menemuinya padahal dia berada di rumahku. Kenapa dia berjalan tanpa melihat langkahnya? Kalau seperti itu dia bisa terjatuh.


Segera aku menghampirinya dari belakang dan memeluk pinggangnya sebelum tubuhnya menyentuh jalan taman yang keras. Aroma lavender yang selalu aku rindukan dan kehangatan tubuhnya selalu membuatku nyaman.


Ah, aku lupa penampilanku belum kembali ke wujud manusia. Tunggu, kenapa dia berjalan-jalan di taman? Apa dia sudah pulih?


Aku melepas pelukanku dan melihat tubuhnya dari bawah hingga ke atas. Ternyata tidak ada luka bahkan bekas lukanya telah hilang seluruhnya.


****. Dia semakin cantik dan mempesona. Tanpa sadar aku mendekat dan memeluk pinggangnya yang ramping.


Tanganku yang lain membelai pipinya dan beralih ke lehernya yang sebelumnya terdapat luka gigitan itu. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Rose, you are mine.


"Jangan pernah memperlihatkan lehermu seperti itu kecuali kepadaku." Ujarku dengan ekspresi serius. Tampaknya dia kesal.


"Jadi, kamu menemuiku hanya untuk berkata itu? Look, ada hal yang lebih penting dan sudah lama aku ingin menanyakan ini kepada kamu. Kita harus membicarakannya sekarang sebelum kamu sibuk dengan pekerjaanmu." Jawab Rose dengan kesal dan menatapku sinis.


Aku menghela nafas lalu berbicara.


"Kita bicarakan di tempat yang lebih nyaman. Kamu bisa pilih tempatnya." Ujarku sambil menyisir rambutku yang agak panjang dengan tangan.


Dari sudut mataku aku melihat dia sedang berpikir dan melihat sekitar taman. Tangannya menunjuk ke arah gazebo yang berada di sudut taman.


Kami berjalan berdampingan dan sesampainya di sana, kami duduk bersebelahan.


Walau gazebo ini kecil, tapi aku tidak tahu jika Robert mendekorasinya dengan sangat bagus dan nyaman. Aku jarang sekali berjalan di taman. Bahkan berada di rumah juga hanya beberapa hari.


Tapi aku tidak keberatan berada di rumah selamanya jika Rose menemaniku. Aku tersadar dari lamunanku saat Rose berkata.

__ADS_1


"Sebelumnya, aku ingin kamu berjanji untuk menjawab semua pertanyaanku dengan jujur dan tanpa ada yang ditutupi. Ayo berjanjilah." Ujar Rose dengan serius menatap tajam ke arahku.


Aku hanya akan menjawab bagian yang perlu kamu tahu, belum waktunya kamu tahu kalau ada mahluk lain selain manusia yang hidup di dunia ini.


"Ya aku berjanji akan menjawabnya jika memang itu perlu aku jawab." Jawabku.


"Baiklah, aku akan mulai bertanya. Bagaimana aku bisa berada disini?" Ujar Rose.


"Aku yang membawamu kesini." Jawabku.


"Bagaimana bisa kamu menemukanku saat itu? karena aku berpikir tidak ada yang tahu kalau aku diculik." Ujar Rose.


"Aku pergi mencarimu di acara fashion week, tapi kamu tidak terlihat disana dan Wen melihatmu pergi dari acara sambil membawa botol wine. Aku berpikir kalau kamu masih berada di sekitar tempat fashion week. Tapi aku tidak menemukanmu dan hanya melihat pecahan botol wine. Aku berpikir kalau itu botol wine milikmu. Lalu ada nomor tidak dikenal menelfonku yang ternyata adalah orang yang menculikmu. Aku meminta Robert melacak ponselnya dan menemukan lokasinya. Segera aku pergi untuk menyelamatkanmu. Sesampainya disana aku berhasil menemukanmu tapi...." Ucapanku terhenti saat mengingat kejadian itu.


Dia akan mati jika saja aku tidak menggunakan kekuatanku. Pengobatan medis akan memerlukan waktu untuk menyembuhkan dan aku tidak bisa membiarkan wanita yang aku cintai perlahan mati.


Membayangkannya saja aku tidak mampu. Apa aku harus menceritakan ini kepadanya? Tapi tidak ada salahnya dia tahu kebenarannya.


Ughhh!! Rasa sakit ditubuhku mulai kembali. Aku harus menahannya untuk sementara.


"Aku menemukanmu dalam keadaan tidak sadar dengan luka lebam juga cakaran di seluruh tubuhmu. Yang paling parah adalah luka di leher yang membuatmu kehabisan darah. Suara nafas dan denyut nadimu sangat lemah. Dan itu membuatku panik dan seperti sesuatu menusuk jantungku hingga rasanya sulit bernafas." Ujarku dengan suara rendah dan kesedihan yang menusuk jantungku seakan ingin meledak.


Aku menatap matanya dan dalam hati aku berjanji akan melindunginya dari siapapun yang berniat buruk. Lalu dia meneruskan pertanyaanya.


Si*l.


Intensitas rasa sakit di seluruh tubuhku semakin bertambah. Jantungku berdetak kencang dan nafasku mulai tidak beraturan.


Perutku terasa di aduk dan ingin muntah. Keringat bercucuran membasahi tubuhku. Mulutku terkatup rapat, aku tidak bisa berkata-kata lagi. Aku tidak bisa memperlihatkan sisi lemahku kepadanya.


Aku menundukkan kepala untuk menyembunyikan ekspresiku. Beberapa menit berlalu, aku tidak bisa menahannya. Aku segera keluar dan berdiri di samping gazebo.


Satu tanganku memegang tiang untuk menahan berat tubuhku. Tanpa sadar aku memuntahkan darah yang kemarin aku santap bercampur dengan darah milikku. Samar-samar aku mendengar Rose.


"Revon! Oh My *****ing God." Ujar Rose yang terkejut.


Dia memegang lenganku yang lain dan mengusap lembut punggungku. Cukup lama aku memuntahkan semua yang ada. Pandanganku sedikit kabur dan seluruh tubuhku terasa lemas.


Aku mengusap bibirku dengan asal. Aku menoleh dan melihat raut wajah cemas dan bingung yang ada diwajahnya.


"Kamu mau aku panggilkan dokter atau kamu butuh sesuatu? Apa kamu baik-baik saja?" Ujar Rose dengan panik dan cemas.

__ADS_1


"I'm fine. Aku tidak memerlukan siapapun. Aku hanya perlu kamu. Bisakah kamu membantuku kembali ke gazebo?" Ujarku dengan suara pelan.


Dalam hati aku menertawakan diriku yang terlihat lemah didepannya.


"Are you sure?" Tanya wanita itu lagi sambil memeluk pinggangku dan membantuku berjalan kembali ke gazebo.


Walau aku menjawab tidak apa.


Tapi sebenarnya aku tidak bisa berbohong seperti itu karena ini sangat terasa sakit. Ini efek tadi aku menggunakan kekuatanku dengan keadaan yang belum pulih.


Dia menuntunku ke sisi gazebo yang terdapat sofa panjang agar aku bisa berbaring. Tapi tiba-tiba dia ingin pergi, aku menarik lengannya untuk mencegahnya pergi.


"Jangan pergi. Tetaplah disini." Ujarku sambil menahan sakit yang menusuk.


Dia memandangku dengan raut iba? atau sedih? entahlah. Disaat seperti ini aku tidak dapat melihat jelas semuanya. Dia ikut duduk di sofa dan menempatkan pahanya yang ramping sebagai bantal untukku.


Jemarinya yang lentik mengusap rambutku dengan lembut dan menyeka keringat di dahiku. Ah, ini terasa sangat nyaman.


"Apa yang terjadi kepadamu? Apa tidak sebaiknya kamu ke dokter agar mendapat perawatan?" Ujarnya dengan nada khawatir.


Apa dia melihat raut wajahku yang kesakitan?


Tapi aku senang karena dia terlihat khawatir denganku. Berbeda dengan dia yang sebelumnya.


"Apa sekarang kamu mengkhawatirkanku?" Ujarku dengan tersenyum lalu mencium telapak tangannya yang lembut. Dia memalingkan wajahnya yang merona.


"Jangan menggodaku. Ini sudah mau malam. Lebih baik kamu istirahat di kamar." Ujar Rose.


"Jadi sekarang kamu mengajakku ke kamar?" Ujarku.


"Iisshh.. Sebenarnya kamu ini benar-benar sakit atau tidak? Aku akan memanggil Robert untuk membantumu ke kamar." Ujarnya sambil berdiri dari sofa.


Tidak aku hanya mengingikanmu berada disini. Segera aku menarik tangannya hingga membuatnya terjatuh tepat di atas tubuhku. Wajah kami sangat dekat, aku bisa melihat bibirnya yang menggoda. Aku ingin merasakan lagi bibir itu.


Refleks tanganku menarik lehernya dan membuat bibir kami bertemu. Sedangkan tanganku yang lain memeluk erat pinggangnya semakin mendekat ke tubuhku.


Awalnya hanya kecupan ringan yang semakin lama menjadi ciuman yang penuh cinta dan tersirat akan kerinduan yang aku rasakan kepadanya.


Aku menutup mataku sambil meresapi rasa bibir wanita ini. Tubuhku terasa lebih membaik sekarang. Setelah beberapa saat, aku mengakhiri ciumanku dan memberinya waktu bernafas.


Aku memberikan cukup space untuknya agar dia ikut berbaring di sofa denganku.

__ADS_1


Tanganku memeluknya dengan posesif agar dia tidak bisa kabur saat aku tidur. Setelah istirahat tidur aku akan mandi, tubuhku sedikit tidak nyaman karena keringat ini.


Robert atau pelayan pun tidak akan berani datang kesini karena tahu kalau tadi siang aku di taman. Jadi aku tidak perlu khawatir ada yang mengganggu waktu kami. Saat aku memejamkan mata seketika aku terlelap dan samar-samar aku mendengar detak jantung Rose yang rileks.


__ADS_2