My Vampire Ceo

My Vampire Ceo
Episode 12 - Do what i said


__ADS_3

Revon sudah merasa lebih baik dari kemarin, walau masih terasa sedikit sakit di tubuhnya. Saat dia bangun dari tidurnya dia melihat sosok wanita cantik yang terlelap di pelukannya.


Karena masih sangat pagi, udara di luar cukup dingin. Lelaki itu berinisiatif membawa wanita itu ke kamar agar bisa berisitirahat lebih nyaman dan tidak kedinginan.


Perlahan dia mengangkat Rose dan berusaha untuk tidak membangunkannya. Di pintu menuju ke dalam rumah dia berpapasan dengan Mr. Pont.


Mr. Pont ingin berbicara tapi tidak jadi karena mendapat tatapan tajam dari Revon. Sesampainya di kamar miliknya di membaringkannya di ranjang dengan sangat pelan dan menyelimutinya.


Setelah melihat dia tidak terbangun dan tetap tidur dengan nyenyak, Revon memutuskan untuk mandi dan membersihkan diri. Air dingin yang menyentuh kulitnya membuat otot tubuhnya menjadi rileks.


Setelah beberapa menit dia keluar dari shower dengan memakai handuk yang menutupi bawah perut sampai paha. Saat melihat pantulannya di kaca dia melihat kalau penampilan manusianya sudah kembali, warna bola matanya hitam dan rambut yang tidak terlalu panjang.


Dahinya berkerut karena dia tidak memakai kekuatannya untuk mengubah penampilannya, lalu bagaimana bisa?


Saat keluar dari kamar mandi dia melihat Rose yang sudah bangun dan tanpa sengaja pandangan mereka bertemu.


Wanita itu melihat tetesan-tetesan air yang mengalir dari rambut lelaki itu menuju ke leher, lalu turun ke dada bidangnya, lanjut ke perut sixpacknya dan menghilang dibalik handuk.


Dia tersadar kalau sedang memandangi tubuh Revon dan segera memalingkan wajahnya sambil menelan ludah. Revon merasa terhibur dengan sifat malu-malu tapi mau dari wanita itu.


Dia semakin menggodanya dengan naik ke ranjang seperti seorang predator yang menangkap mangsanya.


Tanpa sadar Rose menahan nafasnya saat wajah mereka berdekatan dan saling memandang dengan intens. Revon semakin mendekat wajahnya namun tidak sampai menciumnya.


"Do you want me? Right here right now?" Ujar Revon dengan suara serak dan menggoda.


Rose dapat mencium aroma mint dari mulut Revon. Jantungnya semakin berdetak kencang saat mendengar ucapan lelaki di depannya.

__ADS_1


Seluruh tubuhnya mulai memanas dan tangannya ingin menyentuh rambutnya yang basah itu. Otaknya mengatakan jangan, tapi tubuhnya sangat ingin merasakan kembali semua sentuhan Revon.


Dia tidak peduli lagi dan segera merangkul leher Revon dan menariknya untuk berciuman. Revon tersenyum disela-sela ciumannya, dan mendorongnya pelan agar mereka busa berbaring di ranjang.


Revon menelusuri lekuk tubuh Rose dengan sentuhan ringannya. Desahan kecil keluar dari mulut Rose dan itu semakin membuat Revon turn on.


Revon mendekatkan miliknya diantara kaki Rose, seketika mata Rose terbuka lebar dan nafasnya tercekat. Revon menghentikan ciumannya dan menatap mata Rose.


"I miss you, bae. Seminggu tidak bertemu denganmu adalah waktu tersulit bagiku. Aku ingin kamu menjadi milikku sepenuhnya. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun mencelakaimu."Ujar Revon dengan raut serius.


Rose merasa kaget dengan ucapan Revon. Dia pikir dirinya barang yang bisa dimiliki. Jangan-jangan dia hanya menganggap dirinya mainan **** yang bisa dia pakai kapanpun. Rose marah dan kesal dengan apa yang ada dipikirannya.


Seketika dia mendorong dada Revon untuk memberikan jarak antar tubuh mereka.


"What?! Milikmu? Kamu pikir aku barang yang bisa kamu miliki sesuka hatimu. Atau kamu hanya ingin bermain-main denganku dan setelah bosan kamu akan membuangku? You are disgusting Revon." Ujar Rose dengan amarah yang memuncak dan hati yang sakit.


Tapi Rose tetap tidak mendengarkan ucapan Revon dan beranjak dari ranjang dan menghilang di balik pintu kamar mandi. Revon memutuskan untuk berpakaian dan menunggu Rose selesai membersihkan diri.


Revon duduk di balkon sambil menyesap wine di tangannya. Selang beberapa menit Rose sudah segar dan berganti pakaian. Wanita itu menghampirinya dan berkata.


"Aku ingin kembali ke hotel sekarang. Aku sudah memanggil Wen untuk menjemputku." Ujar Rose dengan wajah dingin dan tanpa melihat ke arah Revon. Revon meneguk winenya dalam satu kali teguk lalu memegang wajah Rose agar pandangan mereka bertemu. Terlihat pancaran kesedihan di mata lelaki itu.


"Look into my eyes. Apa kamu tidak ada rasa suka sedikit pun kepadaku? Katakan sejujurnya, jika memang kamu tidak ada perasaan apapun kepadaku. Aku tidak akan mengganggumu lagi. I'm promised." Ujar Revon dengan suara rendah.


"Aku tidak ada perasaan apapun kepadamu, Revon." Ujar Rose.


"You are lying." Ujar Revon.

__ADS_1


"No, i'm not. Sekarang lepaskan aku." Ujar Rose.


Tiba-tiba Revon memeluknya erat dan mencium bibirnya dengan intens. Selama beberapa detik Rose terbawa suasana tapi dia tersadar dan mengigit bibir Revon untuk menghentikan ciumannya.


Lalu tangannya terangkat untuk menampar wajah lelaki itu. Rose sendiri tidak menyangka akan menampar Revon, tapi dia tidak peduli dan pergi dari kamar menuju keluar. Revon melihat Rose masuk ke mobil Wen lalu segera melaju keluar kediamannya.


Tamparan atau gigitan wanita itu sama sekali tidak sakit baginya. Namun perkataan wanita itu yang seakan menusuk jantungnya dan membuatnya frustasi. Dia berjalan ke garasi dan menjalankan mobil sportnya keluar dari kediaman.


Menginjak pedal gas sangat dalam hingga terdengar deruman khas mobil sportnya. Tanpa sadar dia mengemudikan mobilnya ke area hutan yang terletak di pinggiran kota yang sangat sepi. Menghentikan mobilnya dan berjalan cepat masuk ke hutan.


Saat berada di bagian terdalam hutan dia melampiaskan rasa sakit di hatinya dan menghancurkan pohon, bebatuan dan teriak kencang hingga membuat tanah bergetar di bawahnya.


Wujud vampirnya kembali lagi namun lebih intens. Warna pupil matanya berwarna merah darah dan terdapat samar-samar warna violet di pinggirnya. Rambutnya yang hitam semakin berkilau dan memanjang sampai bahu. Seluruh indra di tubuhnya menjadi lebih tajam dari sebelumnya.


Ketampanannya semakin bertambah saat menjadi vampir dan terdapat aura yang mencekam dan mengintimidasi siapapun yang ada di dekatnya. Tiba-tiba ponselnya berdering di saku celananya. Dia melihat nama Robert lalu mengangkat telfonnya.


"Boss gawat. Terjadi kecelakaan mobil.. mobil yang dikendarai Nona Wen dan Nona Rose ditabrak oleh truk..." Ujar Robert dengan panik.


"Apa?! Katakan dimana kejadiannya? Aku akan kesana secepatnya." Ujar Revon dengan panik dan dia dapat merasakan seluruh tubuhnya gemetar. Jantungnya berdegup kencang.


"Disini sudah ada ambulance dan petugas polisi Boss. Saya akan mengirim alamat rumah sakitnya." Ujar Robert sambil mengirim alamat melalui pesan.


"......" Tidak ada jawaban dari Revon karena dia mengakhiri panggilannya. Dia menuju mobilnya dan mengendarai mobil dengan cepat ke alamat yang diberikan Robert. Dalam hatinya dia mengucapkan kata-kata "Rose, You'll be fine, Right." Jemarinya mencengkram erat kemudi dan mengeratkan rahangnya.


Sesampainya di rumah sakit, Robert menunggu di depan ICU. Tepat saat dia sudah di depan pintu ICU, dokter keluar dan memberitahu bahwa Rose mendapat luka dalam yang serius. Juga luka dikepalanya menyebabkan dia koma.


Dokter melihat Revon sedikit aneh dengan penampilannya. Ya, sebelum dia sampai rumah sakit dia memakai kacamata hitam untuk menutupi warna pupil matanya. Dan rambutnya yang panjang sedikit berantakan.

__ADS_1


__ADS_2