My Vampire Ceo

My Vampire Ceo
Episode 23 - Alex


__ADS_3

Revon POV


Sudah 3 hari Rose masih diam dan menghindariku. Apakah dia masih marah? Ini benar-benar membuatku frustasi.


Aku mencoba bertanya kepada Erica. Dia mengatakan kalau Rose kecewa karena aku tidak pernah menceritakan soal Natalie ini. Dan dia sedikit takut jika ada Natalie lain yang akan mendatanginya kelak.


Ditambah lagi beberapa hari ini aku sering bermimpi tentang suara yang memanggilku "My Lord. Now we are one". Aku sempat mencari tahu di buku tentang arti suara itu.


Ada yang menjelaskan bahwa itu berarti perjanjian jiwa yang saling terikat. Dan ada juga yang menjelaskan hanya yang memiliki masa lalu yang sama bisa menjadi kesatuan.


Kastil vampir sudah beratus tahun lalu musnah. Dan aku sudah mencoba mencari relasi yang memiliki hubungan clan denganku, tapi hasilnya nihil.


Mungkin aku harus bertanya kepada keluarga pemilik pedang itu. Aku masih tidak mengerti mengapa kekuatanku kembali setelah memakai pedang itu. Walaupun aku senang karena aku sudah pulih dan bisa memakai kekuatanku seperti semula.


"Revon, apa area villa ini terdapat sihir pelindung atau semacamnya? Karena kemarin saat memasuki area villa seperti ada kabut yang aku lihat." Ujar Erica yang tiba-tiba menghampiriku yang sedang di dapur meminum sekantung darah.


"Yes. Aku membuat semacam kabut pelindung beberapa tahun lalu. Agar tidak sembarang orang bisa masuk. Hanya atas izin dariku atau Robert yang bisa masuk. Tapi sepertinya sekarang perlu memperkuatnya lagi karena sudah lama dan memudar seiring berjalannya waktu." Ujarku yang telah menyelesaikan minumnya.


"Aku belum mencoba sihir pelindung dengan area yang luas. Mungkin kita bisa menciptakan pelindung yang lebih kuat sambil aku belajar lebih dalam tentang sihir." Ujar Erica dengan smirknya


"No. Terlalu beresiko dan memakan waktu. Kamu bisa mencobanya dengan vampir lain. But, not me." Ujarku dengan wajah serius.


Lalu aku melihat Rose yang datang dari arah halaman belakang dengan memakai bathrob dan tubuh yang basah. Aroma lavender dari tubuhnya sangat jelas memenuhi indra penciumanku.


Wanita itu melihatku dan Erica di dapur, dan dia hanya tersenyum kepada Erica. Tanpa disangka dia mendekat ke arahku yang berdiri di depan counter.


"I'm thirsty." Ujar Rose sambil sekilas memandangku.


Dia meraih gelas yang ada di counter belakangku sambil mendekatkan tubuhnya kepadaku dan mengekspos lehernya di depan wajahku. Merasakan tubuhnya yang menempel pada tubuhku walaupun masih sama-sama berpakaian, membuat nafasku tercekat. Oh, Fu*k.


Setelah dia mengambil gelas lalu menuang air dan meminumnya. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. I want to touch her, feel her, all of her.


"What? Do you want to say something?" Ujar Rose dengan satu alis naik.


Sebelum menjawab Rose, aku memberi kode kepada Erica untuk meninggalkan kami berdua.


"Are you still mad at me, hmm?" Ujarku sambil terus memandanginya.


"Seriously? Aku tahu kamu sudah mengetahui jawabannya." Ujar Rose lalu beranjak berjalan ke arah kamar.


Sebelum dia meninggalkan area dapur, dengan cepat aku menghadangnya. Dia terlihat kesal dan melipat kedua tangannya di dada.


"What do yo want? Aku sedang tidak ingin berlama-lama denganmu." Ujar Rose dengan tegas.


"Bae, sampai kapan kamu ingin marah? Aku benar-benar minta maaf atas kejadian waktu itu. Aku juga tidak tahu kalau dia akan datang kesini. Dan aku akan pastikan tidak akan ada kejadian seperti itu lagi. Aku berjanji. Please, forgive me." Ujarku dengan sungguh-sungguh.


"Berapa banyak wanita yang pernah tidur denganmu? Katakan semuanya tanpa terkecuali." Ujar Rose dengan tidak sabar.


"I don't know. Aku tidak pernah mengingat mereka. Even is just their name. Karena aku melakukannya tanpa dasar cinta. Berbeda saat denganmu. Setiap detik waktu bersamamu adalah memori terindah untukku. Kamu sudah membuat hidupku lebih berwarna." Ujarku frustasi.


"I try to believe you. But, aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Dan itu membuatku merasa ragu dengan perasaanmu. Apa kamu benar-benar mencintaiku atau kamu hanya ingin memanfaatkanku lalu setelah kamu bosan kamu akan membuangku..." Ujar Rose yang seketika dipotong Revon.


"Rose?! Aku tidak akan pernah bosan denganmu apalagi membuangmu. I love you. Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya? Dan satu lagi, aku hanya akan menyembunyikan sesuatu yang memang tidak ada hubungannya denganmu. I'm a vampire, i have a lot of complicated secret. Aku hanya tidak ingin membebanimu apalagi menyeretmu dalam keadaan berbahaya." Ujarku.


"You said that you love me. Tapi kamu tidak sepenuhnya jujur padaku. Sementara aku sudah menceritakan semua hal tentang kehidupanku tanpa ada yang aku sembunyikan. You think that's how a relationship works?" Ujar Rose.


Aku tersadar dengan perkataan Rose. Ya, dia tidak menyembunyikan apapun dariku. Sementara aku menyembunyikan banyak hal darinya.


Karena aku tidak menjawab, dia hanya tersenyum miris dan mendorongku agar tidak menghalanginya lagi. Aku melihat dia perlahan menghilang dibalik tangga.




Pagi ini mereka kembali ke rumah, karena permintaan Rose. Tidak lupa Revon mengabari Mr. Thomas karena mereka akan kembali ke kota.



"Mr. Thomas, apa ada orang lain yang mengetahui villa ini selain kami?" Ujar Revon.



"No, Mr. Dent. Saya tidak memberitahu siapapun tentang villa ini atau anda yang sedang menginap." Ujar Mr. Thomas dengan tenang.



Revon sedikit tidak percaya dengan perkataan Mr. Thomas. Karena hanya lelaki paru baya itu yang tahu kalau dia menginap di villa. Tapi dia akan meminta Robert mencari tahu nantinya.



"Alright. We will go now. But Mr. Thomas, Anda tahu saya sangat tidak suka ada penghianat, bukan?" Ujar Revon dengan menatap tajam Mr. Thomas.



"Yes absolutely." Ujar Mr. Thomas sedikit terintimidasi.



Revon beranjak membuka pintu mobil untuk Rose. Tapi Rose hanya menatapnya sekilas dan melewati mobil Revon untuk masuk ke mobil Robert.



Melihat itu membuat Revon mulai emosi. Tapi dia berusaha tetap tenang lalu menghampiri Rose yang duduk di kursi belakang.

__ADS_1



"Rose. Get in my car. Now." Ujar Revon sambil membuka pintu mobil.



"No." Ujar Rose.



"Rose, please. You want to get in my car by yourself or i will do my way to get you in." Ujar Revon.



"I don't want to be in a car with you. Just leave me." Ujar Rose sambil meminta Robert mulai melajukan mobil.



Melihat tingkah Rose membuat Revon menghela nafas dan mengacak rambutnya. Tidak ingin menunggu lagi, Revon langsung mengangkat tubuh Rose walau wanita itu memberontak, memukul dan mencakarnya.



Setelah dia memasukkan Rose, lelaki itu dengan lihai masuk ke mobil tanpa memberi Rose waktu untuk kabur dari mobil.



Selama perjalanan hanya keheningan tanpa ada yang memulai pembicaraan. Karena tahu kalau Rose belum makan sejak semalam, Revon mengirim pesan kepada Erica mengajak mereka makan dulu sebelum lanjut perjalanan.



Mereka berhenti di cafe terdekat. Rose langsung keluar dari mobil dan menggandeng Erica masuk ke dalam cafe. Revon dan Robert menyusul di belakang.



"Kita makan di meja terpisah." Ujar Rose dengan wajah datarnya. Lalu mengajak Erica ke meja sudut dimana meja sekitarnya sudah terisi sehingga Revon tidak bisa mendapat meja dekat dengan wanita itu.



Namun, Revon tidak ingin kalah. Dia memilih meja seberangnya yang baru saja kosong dan menghadap ke arah Rose.



Selang beberapa detik, ada segerombol lelaki yang masuk ke cafe. Mereka mendapat meja tak jauh dari Rose. Revon yang pertama menyadari bahwa salah satu mereka adalah werewolf yang beberapa hari lalu mengganggu Rose.



Dan sekarang dia melihat lelaki itu menghampiri Rose dengan percaya diri membuat Revon kesal dan terus menatap ke arah werewolf itu.




Erica dan Rose saling bertatapan, mereka sama-sama ingin menghindar tapi sudah terlambat.



"Perkenalkan saya Alex Keihler." Ujar lelaki itu sambil mengulurkan tangan.



"Rose. Dan dia temanku Erica." Ujar Rose dengan malas dan terpaksa menerima uluran tangan lelaki itu.



"Rose? That's a beautiful name." Ujar Alex lalu mencium punggung tangan Rose.



Revon sudah tidak tahan dan memutuskan untuk segera mengakhiri hidup werewolf itu. Dia menghampiri werewolf itu dan melapaskan tangan Rose darinya.



"It's rude to flirting a woman in front of her mate. Alex" Ujar Revon tersenyum sambil memeluk pinggang Rose dengan posesif.



"Ah, really? But it seems she is here only with her friend. Am i right, Rose?" Ujar Alex dengan satu alis terangkat.



"Honestly, i'm here with my friends and my mate." Ujar Rose dengan tersenyum. Wanita itu menatap tajam Revon karena dia masih marah dengannya.



"Lalu kenapa kalian makan di meja berbeda?" Ujar Alex yang tidak menyerah mencoba mencari cela.



"Kami dari berlibur ke villa dekat sini. Lalu sebelum pulang Rose ingin mencoba makanan di cafe ini. Tapi karena jam makan siang jadi sangat ramai pengunjung sehingga kami duduk di meja yang berbeda." Ujar Revon.



"Rose, Is he true? Or he is threatened you?" Ujar Alex.

__ADS_1



"What the fu\*k do you mean?!" Ujar Revon yang emosi mendengar perkataan Alex.



Dengan cepat Revon mendorong Alex ke meja tempat teman-temannnya makan. Alex membalas dengan melempar Revon ke pintu keluar. Kedua lelaki itu menghilang ke dalam hutan.



"Kemana mereka pergi? Erica, kita harus menghentikan mereka." Ujar Rose bersiap pergi keluar.



"Nona Rose. Sebaiknya kita tetap disini. Saya yakin Mr. Dent bisa mengatasinya." Ujar Robert menghentikan Rose.



"Ah, ya he is a vampire." gumam Rose.



"And Alex is a werewolf." Ujar Erica yang semakin membuat Rose cemas.



"What?! OMG! Bukannya werewolf itu biasanya bergerombol? Dimana yang lainnya?" Ujar Rose dengan berbisik.



"Yang datang bersama Alex tadi adalah teman-temannya." Ujar Erica.



"Bagaimana kalau mereka menyerang Revon secara bersamaan? Kenapa dia masih belum kembali juga?" Ujar Rose cemas dan terus melihat keluar jendela cafe.



"You are worrying too much. Trust me, he'll be fine." Ujar Erica sambil tertawa kecil melihat tingkah Rose.



Setelah beberapa menit Revon muncul dari dalam hutan tanpa luka sedikitpun.



"Let's go home." Ujar Revon lalu menggandeng tangan Rose. Erica dan Robert pun ikut keluar cafe.



Saat di dalam mobil, Rose terus memandangi Revon. Melihat dengan teliti mungkin saja ada sedikit luka di tubuh lelaki itu. Revon yang merasa terus di tatap akhirnya bertanya.



"What's wrong? Is there something on my face?" Ujar Revon sambil melihat Rose sesekali.



"No, nothing." Ujar Rose yang malu karena sadar dia sudah cukup lama menatap Revon.



"Why you are blushing? Apa sebenarnya yang kamu pikirkan?" Ujar Revon dengan bercanda.



"Sstt. Just focus on the road." Ujar Rose sambil melirik Revon.



"Tell me, bae. Apa yang kamu pikirkan?" Ujar Revon dengan smirk.



Rose hanya diam dan melihat keluar jendela. Saat Revon perhatikan ternyata wanita itu belum memakai sabuk pengaman. Akhirnya lelaki itu menepikan mobil.



"Kenapa berhenti? Bukannya masih jauh..." Rose tiba-tiba tidak melanjutkan perkataannya melihat Revon mendekat tanpa aba-aba.



Wajah mereka sangat dekat, dan Rose bisa mencium aroma khas tubuh lelaki itu. Tubuh Rose seakan tidak bisa bergerak seketika. Setelah Revon memasang sabuknya dia kembali ke posisi mengemudi.



Sesampainya di depan rumah, Revon melihat Rose yang ternyata tertidur pulas. Sejenak dia memandangi wajah Rose yang terlihat damai. Tangan lelaki itu terulur untuk mengusap pipi Rose.



"Aku sudah memberi peringatan kepada werewolf itu. Dia tidak akan bisa dengan mudah mendekatimu, bae. Dan aku ingin kamu jangan dekat-dekat dengannya atau lelaki lainnya. You are mine. Only mine." Ujar Revon dengan menatap Rose penuh cinta.


__ADS_1


Dengan mudah Revon mengangkat wanita itu masuk ke dalam rumah. Sebelum itu dia meminta Robert memarkirkan mobilnya.


__ADS_2