
5 AM - Kamar hotel Rose
Roseline POV
Hmmm.. Nyaman sekali. Aroma tubuh ini seperti tidak asing. Dengan enggan aku membuka mata untuk mengecek apa yang sedang aku peluk. Revon!? Di ranjangku?
Kemarin malam... kita cuma berciuman. Tenang Rose, tidak terjadi apa - apa semalam. Aku mengambil ponsel dan melihat jam masih menunjukkan pukul 5 pagi.
Aku kembali berbaring, dan mengamati wajah lelaki itu. Dia terlihat sangat damai saat tertidur. Apakah kedepannya aku akan melihat wajah itu saat bangun tidur?
Stop Rose!! Bagaimana kalau selama ini dia cuma pura - pura menyukaimu? Dia tampan dan juga cukup kaya, pasti banyak wanita yang ingin dekat dengannya. Memikirkannya saja sudah kesal.
Lebih baik aku mandi saja. Sebelum sempat beranjak dari ranjang, tiba - tiba tangannya ditarik dan tubuhnya terperangkap oleh tubuh Revon yang berada di atasnya.
"Morning, Bae. Apa tidurmu nyenyak?" Tanya Revon dengan suara serak dan tersenyum.
Beberapa helai rambutnya menutupi sebagian wajahnya. Kali ini warna matanya benar - benar hitam tanpa ada warna merah. Kami saling menatap dengan intens.
"Morning, Revon. Iya tidurku cukup nyenyak, walau ada pengganggu yang tidur satu ranjang denganku." Ujarku dengan alis terangkat.
"Mmm.. Pengganggu yang tampan, sexy dan genius pastinya." Ujar Revon dengan nada humornya.
Dia menatap bibirku dan tak butuh waktu lama kami sudah mulai berciuman.
Tanganku secara otomatis bergerak membelai rambutnya.
Terdengar erangan kecil dari mulutnya. Setelah beberapa detik, dia mengakhiri ciuman kami dan berkata.
"Pukul berapa jadwal pemotretanmu?" Tanyanya sambil mencium seluruh area wajahku lalu turun ke leher.
"Pukul 8 tapi Wen akan datang kesini pukul 7 nanti." Jawabku dengan cepat.
"Sepertinya ada cukup waktu untuk kita berolahraga pagi. Apa kamu tidak tertarik?" Tanyanya sambil menggigit kecil telingaku.
Tangannya meraba pahaku dan semakin lama semakin naik. Nafasku mulai tidak beraturan. Ketika tangannya sampai di bagian intimku, hanya sentuhan ringan yang dia berikan.
Akan tetapi itu semakin membuat tubuhku bergetar merasakan sentuhannya. Pandangan matanya intens seakan mengamati semua reaksi dariku.
Semakin lama rasa yang berkumpul di bawah perutku semakin tidak tertahankan, sepertinya aku harus ikut dalam permainannya.
Tanganku memeluk lehernya dan menarik tubuhnya semakin mendekat hingga hidung kami bersentuhan.
Ekspresinya sedikit kaget, namun dengan cepat menujukkan wajah smirknya. Aku mulai menelusuri bahunya yang lebar dengan jariku, aku melihat nafas lelaki itu tercekat dan memejamkan matanya.
Saat kedua matanya terbuka warna pupil matanya samar - samar terlihat sedikit merah. Lalu dia berbisik di telingaku.
"Rose. Aku suka ketika kamu menyentuh tubuhku, tapi.. itu juga semakin membuatku hilang akal. Dan jika itu berlanjut.. aku tidak akan bisa menghentikan diriku untuk bercinta denganmu. Sekarang." Ujar Revon dengan suara serak.
Aku menelan ludah saat mendengar perkataan itu. Dia menatap mataku seakan menunggu jawaban dariku.
Tubuhku masih menginginkan lebih, seperti ada sesuatu yang ingin segera dilepaskan.
Aku hanya mengikuti alur dari tubuhku dan hal pertama yang kulakukan adalah mencium bibirnya dengan lembut dan sedikit menuntut.
Tanganku bergerak menelusuri setiap helai rambutnya. Sekarang dia tahu akan jawabanku bukan?
Perlahan dia membuka jubah mandi yang dipakainya, memberikanku akses untuk menyentuh tubuhnya. Jari - jariku mulai menelusuri lengan, bahu, dada, dan perut sixpacknya.
Hah! Aku tidak berani untuk melanjutkan sentuhanku melebihi area itu. Dia melepaskan ciuman kami dan mulai bersiap untuk memasukkan miliknya.
Tanpa sadar aku menahan nafas saat itu. Terdapat sedikit rasa sakit pada awalnya, Revon mengigit kecil leherku dan berkata.
__ADS_1
"Rileks, Bae. Jangan tahan nafasmu." Ujar Revon. Lalu aku mencoba rileks dan mengatur nafasku. Lelaki itu mulai bergerak pelan sambil mengamati ekspresiku.
OMG. Aku memejamkan mata sambil tanganku memegang lengannya dengan erat. Dia menenggelamkan wajahnya di leherku sambil mempercepat ritmenya.
Tanganku yang semula memegang lengannya sekarang berpindah ke bahunya yang lebar. Revon mencium bibirku dengan lembut dan menggenggam erat tangan kiriku.
Sepertinya kita berdua sudah mencapai puncaknya. Keringat membasahi seluruh tubuhku.
Aku membuka mata dan disambut dengan pemandangan yang indah di hadapanku. Lelaki tampan dengan rambut yang berantakan. Good looking, indeed!
"Istirahatlah. Aku akan membangunkanmu nanti." Ujar Revon sambil mengusap keringat dikeningku.
Lalu dia beranjak dari ranjang dan menarik selimut menutupi tubuhku. Tak selang beberapa menit pun aku terlelap.
Terdengar suara seseorang mengetuk pintu hotel. Revon memakai jubah mandinya dan berjalan menuju pintu. Ternyata Robert yang sedang mengantar pakaian.
"Boss" Ujar Robert sambil memberikan tas yang berisi pakaian.
"Apa kamu sudah melakukan hal yang aku minta kemarin?" tanya Revon.
"Sudah boss. Saat ini mereka mungkin sudah berada di tempat pemasok. Lalu tentang Mr. Ben saya sudah mengatur janji dengan managernya dan sedang menunggu kabar dari mereka." Jawab Robert.
"Nice. Kamu boleh pergi, tapi jangan terlalu jauh dari sini. Aku akan membutuhkanmu nanti." Ujar Revon.
"Yes boss" Jawab Robert.
Revon pun kembali masuk kedalam hotel dan pergi mandi. Setelah beberapa menit, dia selesai mandi dan berganti pakaian.
Setelan formal bewarna hitam membalut tubuhnya dengan pas, rambutnya pun sedikit dirapikan agar tidak menutupi wajahnya.
Selang beberapa menit, pelayan hotel mengantarkan makanan yang dipesan. Aroma makanan itu menggoda indra penciuman Rose.
Perlahan dia membuka mata dan mengedarkan pandagannya ke sekitar. Siapa yang memesan makanan? Ah, pasti Revon. Pikirnya.
Lelaki itu duduk disofa meminum segelas wine sambil fokus ke ponselnya. Rose beranjak dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi.
Saat dia selesai mandi dan akan mengambil pakaian. Pandangannya tertuju pada lelaki itu yang sedang marah dengan orang disebrang telfon. Tiba - tiba Revon berbalik sehingga pandangan mereka bertemu.
Dia memberikan senyuman hangatnya lalu berjalan ke arah balkon, mungkin dia tidak ingin aku mendengar pembicaraannya ditelfon.
Rose memakai kaos dan jeans, ya memang dia ingin pakaian yang kasual hari ini. Makeup natural dan rambut yang tergerai. Mengambil tas dan memasukkan barang - barang yang akan dia butuhkan.
Saat Rose mulai memakan sarapannya dan duduk di sofa, Revon mendekat dan ikut duduk di sampingnya. Tangan lelaki itu bergerak memeluk pinggang Rose dan menghirup aroma tubuhnya.
"Aku akan mengantarmu ke tempat pemotretan." Ujar Revon sambil mengecup lehernya.
"Hmm? Tidak perlu. Sebentar lagi Wen juga datang menjemput." Jawab Rose sambil mengambil ponselnya. Ternyata sudah jam 7 lebih tapi Wen belum datang.
"Kamu lihat, Wen belum datang. Lagi pula aku ada perlu dengan manager projectnya juga." Ujar Revon sambil sedikit memakan sarapan miliknya.
"Wait! Kamu bilang apa? Kamu ada perlu dengan manager projectnya? Siapa kamu sebenarnya? Apa kamu juga bekerja di agency sama denganku?" Tanya Rose dengan curiga.
"Puftt.. Hahahaha. Calm down Bae. Aku hanya akan menjawab kalau ya benar kita bekerja di agency yang sama. Selebihnya aku tidak ingin memberitahumu, nanti juga kamu akan tahu." Ujar Revon sambil tertawa kecil.
"Okay-okay, i dont care. Lebih baik kita pergi sekarang. Aku tidak ingin terlambat." Ujar Rose mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Mereka pun berjalan keluar kamar, saat dilift Revon menghubungi Robert agar bersiap didepan hotel.
Sesampainya di lobby, beberapa orang mengalihkan perhatiannya ke arah Revon. Lelaki itu tidak mempedulikannya, sampai mereka masuk kedalam mobil.
Tanpa diketahui siapapun, salah satu dari mereka mengambil gambar diam - diam dan berencana akan menjualnya ke media.
Saat di mobil, Revon memberitahu tempat tujuan mereka yaitu tempat pemotretan salah satu brand pakaian di Paris. Selama perjalanan pikiran Rose dipenuhi berbagai pertanyaan karena masih penasaran dengan pekerjaan Revon.
Yah walau tadi dia tidak mengakuinya. Suara dering ponsel terdengar dan membuyarkan lamunan wanita itu. Rupanya Wen menelfonnya.
"Halo Wen. Apa kamu sudah sampai di tempat pemotretan?" Tanya Rose.
"Hai Rose. Ya aku sudah sampai. Sorry, tadi aku lupa mengabari kalau tidak jadi menjemputmu. Apa kamu sudah dalam perjalanan kesini?" Ujar Wen.
"Iya, aku sudah dekat dengan ini. Btw, aku ingin kamu mentraktirku makan malam nanti sebagai permintaan maaf. Tidak boleh menolak." Ujar Rose.
"Haa.. Okeoke. Ke restoran biasanya kan?" Ujar Wen.
"Yes, Right. Aku tutup dulu ya. Ini sudah di depan." Ujar Rose.
"Oke." Ujar Wen.
Mobil perlahan berhenti di area parkir. Rose bersiap keluar tapi seketika tangannya ditarik oleh lelaki disampingnya. Revon mendekat dan mengecup bibirnya.
Jantung Rose berdetak kencang karena perlakuan lelaki itu. Dia segera keluar dari mobil dan berjalan cepat masuk ke gedung tempat pemotretan.
Sebelum ikut masuk, Revon berpesan ke Robert untuk memantau aktivitas media agar tidak ada berita mengenai dirinya dan wanitanya.
Mereka sibuk dengan kegiatan masing - masing. Menjelang jam makan siang, beberapa kru disana sedikit heboh dengan berita terbaru yang muncul.
Entah mengapa, Rose merasa kalau beberapa mata sedang memperhatikannya. Namun dia mencoba untuk tidak peduli. Mungkin hanya perasaanku, pikirnya.
Saat ingin pergi ke kamar mandi, Wen menghampirinya dengan raut wajah yang sedikit cemas. Dia mengajak Rose ke kamar mandi untuk membicarakan sesuatu.
"Rose, kamu.. sudah baca berita hari ini?" Tanya Wen.
"Belum. Ponselku berada di dalam tas. Memangnya ada apa?" Ujar Rose dengan bingung.
"Eh.. Sebelum itu kamu janji jangan marah atau panik dulu ya. Aku akan memperlihatkan beritanya." Ujar Wen sambil menyerahkan ponselnya.
Rose pun melihat ponsel itu dan ternyata ada fotonya dan Revon saat di lobby hotel. Namun bukan itu yang membuatnya kaget, melainkan headline dari berita itu.
"ROSELINE MINT TERLIHAT DI HOTEL BERSAMA CEO FIRSTINE ENTERTAINMENT REVONELLE DENT. APAKAH MEREKA SEDANG DATING? ATAU HANYA HUBUNGAN KHUSUS SEPERTI FRIEND WITH BENEFIT?"
What the hell!?? Revon.. CEO Fristin? Revonelle Dent yang pemiliki agencyku sekaligus CEO. Bagaimana bisa seorang Revonelle Dent begitu tampan dan bukan seorang pria paruh baya?
Dan yang terpenting, kita tertangkap sedang bersama di hotel. OMG. Sekarang media sudah menyebar berita ini keseluruh kota, bahkan mungkin sudah menyebar ke seluruh dunia.
Bagaimana dengan kelanjutan karierku sebagai model. Aku tidak ingin reputasiku menjadi jelek. Aku harus mencari Revon dan membuat konferensi pers untuk meluruskan hal ini.
"Wen. Apa kamu sudah tahu kalau Revon adalah CEO Fristin? Kamu sempat menyebut 'CEO kita' saat menghubungiku." ujar Rose.
"Iya aku sudah tahu. Aku kira kamu juga sudah mengetahuinya." Ujar Wen.
"OMG Wen. Saat itu kamu hanya bilang "CEO kita" dan aku tidak tahu kalau Revonelle Dent adalah nama CEO kita. Lalu saat aku tanya mengenai dirinya, dia selalu menghindar. Aku harus menemui Revon dan membicarakan ini semua." Ujar Rose sambil bergegas ke luar kamar mandi.
Wen terus mengejarnya dan memintanya untuk tenang. Wanita itu tidak menghiraukannya, setelah mengambil tas dia pergi ke ruang manager produk berharap lelaki itu masih disana.
__ADS_1