
Selama perjalanan ke rumah sakit, Revon sempat bertanya beberapa hal kepada wanita itu. Dia bernama Erica Zanquen penyihir dari klan Zanich. Salah satu penyihir yang dihormati dan memiliki pengetahuan racun dari tersulit sampai termudah.
Namun karena wanita ini masih tergolong penyihir muda, kekuatannya belum sepenuhnya begitupun pengetahuannya. Dia tinggal bersama adik laki - lakinya yang remaja, orang tuanya mati karena serangan vampir brutal.
Saat Revon menolongnya dulu, dia masih remaja yang dikejar satu klan serigala. Karena dia belum terlalu bisa menggunakan sihirnya membuatnya terkena gigitan dan cakaran yang cukup banyak.
Dia yang berlari menabrak Revon di seberang club meminta akhirnya meminta tolong kepadanya. Aroma serigala sangat tercium ditubuhnya, membuat Revon muak.
Tapi karena dia cukup membuat lelaki itu merasa kasihan jadi dia menolongnya dan membawanya ke tempat yang aman. Beruntung dia bertemu vampir murni yang bisa menyembuhkan.
Karena dia bukan manusia sehingga hanya butuh memberi sedikit darah dan kekuatannya dia bisa pulih dengan cepat. Mengenai ancaman Revon tadi, dia hanya menakutinya saja.
Yah, darah tidak bisa membuatnya membunuh seseorang. Akan tetapi kekuatannya bisa membunuh seseorang.
Tiba di rumah sakit sudah dini hari dan sebentar lagi pagi. Sebelum masuk Revon memakai topi baseball yang berada di dasbor mobil untuk menutupi sedikit area matanya (karena warna pupilnya masih merah gelap).
Mereka masuk ke dalam rumah sakit beriringan. Terlihat dokter dan perawat yang kemarin merawat Rose, dengan tergesa berjalan ke arah ruangan Rose. Revon mulai merasa cemas dan segera mengikuti mereka. Robert yang masih berada di samping pintu merasa lega melihat Revon.
"Tuan, nona Rose kondisinya semakin menurun. Dokter sedang memeriksa...." jawab Robert yang terpotong karena Revon yang berjalan menuju pintu ruangan.
Tanpa disuruh Erica mengikuti Revon. Dengan penuh tenaga Revon membuka pintu dan membuat dokter dan perawat menoleh ke arahnya.
"Get out from here, please. Kalian bisa mengerjakan apapun pekerjaan kalian sebelum kesini." Ujar Revon dengan melihat mata satu persatu dari mereka.
Dengan mudah mereka terhipnotis dan mulai bergerak keluar ruangan. Revon menutup pintu dan memberikan segel dengan kekuatannya. Alat pendeteksi detak jantung memberikan sinyal buruk.
Revon melepas topinya dan segera mendekat ke ranjang. Dia memegang tangan Rose yang dingin. Dia mengigit tangannya yang lain dan mendekatkan tangannya ke bibir Rose sambil memfokuskan kekuatan penyembuhannya.
Erica yang sedari tadi melihatnya merasa tersentuh, dia hanya diam sambil mengamati. Wanita yang beruntung bisa mendapat lelaki vampir yang hebat seperti Revon.
"Apa kamu bisa mencari bahan yang kamu butuhkan untuk sihir penyembuhan? Kamu bisa meminta bantuan Robert. Lelaki yang didepan tadi. Aku akan membuka segelnya. Tapi berikan sihir pelindung di ruangan ini agar tidak ada yang mengangguku." Ujar Revon sambil tetap menatap Rose.
"Alright. Aku akan kembali secepatnya setelah mendapat semua bahan." Ujar Erica. Revon membuka segel dan Erica pergi.
Tentunya sebelum pergi dia memasang sihir pelindung. Sekarang hanya ada mereka berdua di ruangan. Revon duduk diranjang dan mendekat ke tubuh Rose.
Dia membisikkan kata - kata manis yang mungkin bisa membuat Rose kembali. Tubuh wanita itu merespon kekuatan Revon dan mulai menyembuhkan diri. Revon tersenyum bahagia melihatnya.
"Roseline Mint. Stay with me, babe. I love you. I miss you. Please come back to me." Ujarnya dalam bisikan ke telinga wanita di hadapannya.
__ADS_1
Setelah kurang lebih 3 jam mencari bahan untuk keperluan sihir penyembuhan, Erica dan Robert kembali ke rumah sakit. Tapi sebelum itu Erica meminta Robert mengantarkannya pulang sebentar untuk mengecek adiknya.
Sesampainya di rumah sakit mereka menuju ke ruangan ICU tempat Rose dirawat. Erica pun masuk dan Robert berjaga diluar. Dia melihat Revon masih melakukan penyembuhan dengan menggunakan darah dan kekuatannya.
Padahal sudah beberapa jam, dan itu bisa melukai dan melemahkan tubuhnya juga jika seperti ini. Erica melihat tubuh Revon yang mulai tidak seimbang seakan mau pingsan. Dengan cepat dia menghampiri Revon dan menahan lengannya.
"Revon, kamu sudah terlalu banyak menggunakan kekuatanmu. Itu berbahaya untuk tubuhmu." Ujar Erica dengan cemas.
"Aku masih bisa melakukannya sedikit lagi. Lebih baik kamu siapkan bahan untuk sihir penyembuhan." Ujar Revon dengan suara pelan.
Keringat sudah membasahi tubuhnya dan wajahnya semakin pucat. Sekali lagi dia meminta Erica unuk melakukan tugasnya membuat wanita itu pun menurutinya. Baru setengah jadi ramuannya, tanpa sengaja Erica melihat hidung Revon yang keluar darah.
Erica yang panik pun berteriak memanggil Robert dengan teriakan. Dengan wajah bingung Robert masuk kedalam ruangan dan melihat Revon yang pingsan.
"Robert, dia pingsan karena terlalu berlebihan memakai kekuatan dan darahnya. Bisa kamu pindahkan dia ke sofa? Aku akan membuat ramuan lain untuk meringankan sakitnya nanti saat bangun." Ujar Erica.
"Alright. Bagaimana kamu tahu kalau Tuan Revon akan sakit setelah memakai kekuatan berlebihan?" Ujar Robert sambil membawa Revon ke sofa.
"I am a witch, remember? Aku tahu beberapa hal okay. Tapi kamu bisa percaya aku, karena aku adalah salah satu orang yang pernah dia tolong. Dan ini adalah wujud balas budi yang dia inginkan." Ujar Erica dengan tersenyum.
Setelah Erica menyelesaikan ramuan untuk sihir penyembuhan, kemudian dia mengecek keadaan wanita yang masih berbaring di ranjang. Mengarahkan sihirnya ke tubuh wanita itu dan ternyata Revon sudah mengobati hampir seluruh lukanya.
__ADS_1
Sekarang dia hanya harus mengobati sisanya saja. Tapi ini membuatnya khawatir dengan keadaan Revon, lelaki itu benar-benar memakai kekuatannya secara berlebihan.
Dia akan memakan waktu sangat lama untuk memulihkan diri jika sudah seperti ini. Robert yang merasa harus berjaga di luar tiba-tiba diminta Erica untuk tetap di dalam ruangan.
"Hei. Mau kemana? Lebih baik kamu tetap di dalam karena aku mungkin membutuhkan sedikit bantuanmu. Aku akan menyegel dan membuat ilusi di pintu agar tidak ada yang bisa masuk." Ujar Erica dengan berkacak pinggang.
"Okay okay. Aku akan tetap disini. Sekarang katakan apa yang bisa aku bantu." Ujar Robert.
"Bahan ini sudah, ini juga, jadi hanya kurang darah vampir. Kamu bisa meneteskan beberapa darah kamu ke dalam ramuan." Ujar Erica dengan membawa cairan berwarna orange di mangkuk kayu.
Robert mengigit pergelangan tangan kanannya dan mulai meneteskan darahnya. Robert melihat wajah serius Erica yang sedang mengamati ramuan.
Selang beberapa detik, wanita didepannya mengatakan kalau darahnya sudah cukup. Dan ramuan itu terlihat sedikit berubah warna ke warna bening seperti air tapi lebih berkilauan.
Erica mendekati Rose dan mengucapkan sesuatu yang tidak Robert mengerti. Dia meminta Robert membantunya meminumkan ramuan ke Rose.
Lalu Erica menyuruh Robert mundur dan Erica berjalan keujung ranjang. Sekilas Robert melihat warna pupil Erica berubah warna menjadi silver dan berkilau.
"Uklonite sve rane, izlečite Rozelin od svih rana. Odvedite ga do čoveka koji ga je voleo. Revonelle Dent." Ujar Erica yang membaca mantra.
Tiba-tiba muncul kilatan cahaya dan seketika hilang. Lalu Rose menggerakkan jarinya dan mulai membuka mata. Namun karena Erica tahu kalau Revon pasti tidak ingin terlihat lemah di hadapan Rose, jadi Erica memberikan mantra penidur agar dia juga bisa beristirahat.
__ADS_1