
Sinar matahari pagi menerobos masuk ke kamar Revon. Membuatnya terbangun dan merasakan sakit yang luar biasa seluruh ditubuhnya.
Di meja samping tempat tidur ada cangkir hitam berisi cairan yang pekat, terdapat juga sebuah note "Drink this, itu akan membuat rasa sakitnya berkurang. Erica".
Tanpa berlama - lama Revon meminum seluruh isi cangkir itu. Dan benar saja rasa sakitnya sedikit berkurang. Saat melihat sekelilingnya, dia bertanya kapan dia pulang dari rumah sakit.
Roseline, bagaimana bisa dia meninggalkannya. Dengan terburu dia bangkit dari ranjang, namun tubuhnya seakan menolak untuk sekedar bergerak.
Tubuhnya terasa lemas dan lemah. Kepala berdenyut dan pusing sehingga dia terjatuh ke lantai. Dia mencoba menggunakan kekuatannya agar bisa setidaknya berjalan saja. Tapi tetap tidak bisa, dia hanya mampu kembali berbaring di ranjang.
Suara ketukan pintu kamar dan suara yang sangat dia kenal terdengar. Nada khawatir terselip disana.
"Revon, are you okay? Tadi aku mendengar suara sesuatu terjatuh." Ujar Roseline.
"I'm good. Don't worry. Kamu boleh masuk jika kamu ingin menemuiku."Ujar Revon.
Lalu Roseline masuk dan duduk di samping ranjang. Selama beberapa menit dia seperti ingin bicara namun ragu. Tanpa sadar wanita itu mengigit bibirnya karena gugup.
"Don't do that. Don't bite your lips." Ujar Revon sambil memandang serius.
"Ah, yaa. Aku ingin.. Aku.. Aku minta maaf atas semua yang pernah aku lakukan sebelumnya. Terimakasih, kamu sudah menolongku saat kecelakaan dan membawaku ke rumah sakit. Aku benar-benar buruk. Aku sudah berbuat buruk kepadamu... " Ujar Rose dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ssstt... It's okay. I am okay, bae. Bagaimana kamu tahu kalau aku yang membawamu ke rumah sakit?" Ujar Revon. Jangan sampai Robert atau Erica memberitahu kalau dia yang menyembuhkannya.
"Tadi saat aku terbangun di rumah sakit, Robert menjelaskan kalau aku mengalami kecelakaan saat pulang bersama Wen. Tapi Wen hanya terkena luka ringan. Dan aku mengalami luka yang cukup serius. Setelah dirawat 1 bulan aku sembuh dan bahkan bekas luka juga tersamarkan. Tapi ini sangat tidak masuk akal, bekas lukanya sama sekali tidak ada." Ujar Rose dengan wajah heran dan bingung.
"Unbelievable, right?. Aku sudah meminta dokter memberikan perawatan yang terbaik hingga ke bekas luka. Dan aku senang kamu sudah sembuh. Sekarang aku minta kamu menetap disini ya. Aku ingin kamu selalu berada di dekatku, Rose. Hatiku terasa hancur saat kamu pergi meninggalkan aku. I love you, Roseline Dent. Will you be my girlfriend? " Ujar Revon dengan bersungguh-sungguh sambil menggenggam tangan Rose.
"Yaa, aku akan menetap disini. Tapi aku masih belum bisa menjawab pertanyaan kamu. Masih banyak hal yang ingin aku ketahui darimu." Ujar Rose.
"Alright. Aku akan menunggumu". Ujar Revon dengan tersenyum.
Rasa sakit ditubuhnya kembali lagi. Membuatnya mengeratkan rahang dan memejamkan mata. Rose yang melihat merasa cemas. Dia menggenggam tangan Revon dan berkata.
"You are not okay. Katakan apa yang sakit? Apa kamu mau aku panggilkan Robert?" Ujar Rose sambil melihat wajah Revon yang sangat pucat.
"I just need rest. Don't worry. Ah, ya bisa kamu panggilkan Robert ?" Ujar Revon dan berusaha tersenyum walau rasa sakitnya belum hilang.
"Okay. Kamu istirahat dulu. Aku akan memanggil Robert." Ujar Rose sambil bangkit dari ranjang.
Tapi sebelum itu dia mencium pipi Revon lalu bergegas keluar kamar. Revon merasa senang karena Rose sudah berani mengekspresikan perasaannya.
Tak lama berlalu Robert datang menemui Revon. Dia membawa beberapa kantong darah dalam box dan secangkir ramuan yang sama seperti tadi.
"Siapa yang memberikan ramuan itu?" Ujar Revon sambil menerima kantong darah dari Robert. Merobek ujung kantong dan menyesap darah yang terasa menyegarkan.
"Nona Erica yang membuatnya. Dia mengatakan kalau ramuan itu bisa mengurangi rasa sakit yang Boss rasakan." ujar Robert.
"Dimana Erica sekarang? Dia tidak bicara mengenai penyembuhan kepada Rose, bukan?" Ujar Revon dengan tatapan tajam.
"Tidak boss. Dia segera pergi saat Nona Rose sadar. Lalu dia hanya menemui saya saat memberikan ramuan." Ujar Robert.
__ADS_1
"Good. Jangan pernah membicarakan penyembuhan itu kepada Rose. Lalu untuk sementara aku akan bekerja di rumah. Kamu yang mengurus sisanya." Ujar Revon sambil meminum ramuannya.
"Baik boss. Ada hal lain yang anda butuhkan? "Ujar Robert dengan hormat.
"Katakan kepada Mr. Pont untuk mencukupi semua kebutuhan Rose dan kamu suruh beberapa pengawal untuk menjaganya saat pergi keluar. Only your best people! " Ujar Revon dengan suara tegas.
"Yes boss. Saya pergi dulu." Ujar Robert yang dibalas dengan anggukan Revon.
Sudah 5 jam Revon berkutat dengan pekerjaannya. Memeriksa dokumen, menandatangani dan membalas email penting.
Rasa lelah mulai datang ditambah rasa sakit ditubuhnya kembali lagi. Sedangkan Erica belum mengirimkan ramuan lagi. Dia menyudahi aktivitasnya dan duduk bersandar di kursi kerjanya.
Memijat ujung hidungnya sambil berharap pusingnya hilang. Selama pemulihan kekuatannya, dia kembali ke wujud manusianya.
Dengan fisik yang seperti manusia yang bisa lelah dan terluka. Tentu kekuatannya juga menghilang sementara karena proses pemulihan diri.
Saat dia memejamkan mata agar rileks, terdengar suara ketukan di pintu ruang kerjanya. Setelah dia mengatakan "masuk" terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Revon dapat mencium aroma lavender dengan jelas.
"Kamu terlihat sangat lelah. Ah, aku tadi bertemu Robert didapur. Dia mau mengantarkan obat kamu, tapi tiba-tiba dia ada urusan pekerjaan sehingga dia meminta aku yang mengantarkan obatnya." Ujar Rose dengan sesekali melirik meja yang penuh dengan tumpukan dokumen.
"Mmm... I see. Iya aku sedang kurang sehat akhir-akhir ini dan temanku memberikan ramuan obat untukku yang biasanya di ambil Robert. Tapi tidak biasanya kamu masih dirumah, bae. Kamu tidak pergi kerja?" Ujar Revon dan menarik pinggang Rose untuk duduk di pangkuannya.
"Wen ingin aku mengambil cuti 1 minggu untuk memastikan aku benar-benar sembuh. Aku sempat menolak tapi dia tidak mau kalah. Dan mengancam akan memberikan cuti lebih lama dari 1 minggu." Ujar Rose.
Selain alasan itu dia merasa ada sesuatu yang membuatnya ingin selalu berada didekat Revon.
"I'm happy you are staying, bae. Aku merasa tidak perlu minum obat karena kamu ada disini." Ujar Revon sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Nooo, kamu harus minum obat. Now!" Ujar Rose dan menyerahkan cangkir ramuannya.
Revon menerimanya dan meminumnya sampai habis. Revon meletakkan cangkir di meja. Lalu tangannya memeluk Rose dan menenggelamkan wajahnya di leher wanita itu. Rose mengulurkan tanganya membelai rambut Revon.
Selama beberapa menit mereka menikmati kedekatan masing-masing.
Revon menatap mata Rose dengan lembut dan mencium bibir wanita itu. Rose membalas menciumnya dengan penuh antusias. Jari-jari Revon memberikan sentuhan ringan di setiap lekuk tubuh Rose.
Rose mengubah posisinya menghadap Revon sepenuhnya. Rose menelusuri garis rahang, leher, dan lengan Revon dengan lembut. Ciuman mereka terhenti karena mereka kehabisan nafas.
Rose memberanikan diri untuk memberikan kecupan-kecupan ringan ke tubuh Revon, dari rahang sampai leher dengan sesekali mengigit kecil dan membuat lelaki itu menggeram sambil memejamkan mata.
Revon seketika membuka mata saat merasakan tangan Rose bergerak memainkan kancing celananya. Terlihat jelas tonjolan dibalik celana jeansnya.
"I want you, and i know you want me."Ujar Rose dengan mata berbinar. Revon menelan ludah saat tangan Rose semakin turun dan menyentuh ringan miliknya dari balik celana.
"I don't remember you being so bluntly. But I do like it. Bed or just.. here?"Ujar Revon dengan suara serak.
"I want something new." Ujar Rose dengan tersenyum.
Dengan cepat Revon berdiri dari kursi sambil menggendong Rose dan menurunkannya di sofa ruang kerja. Lelaki itu berjalan mengunci pintu dan kembali ke sofa. Revon melepas kaosnya dan mencium bibir Rose.
Tangannya memeluk pinggang Rose sehingga membuatnya merasakan tonjolan milik Revon yang menggoda area sensitifnya. Sensasi itu membuat Rose mendesah sehingga ciuman mereka terhenti.
Revon beralih mencium leher Rose dan mengigit kecil agar meninggalkan mark bahwa Rose miliknya. Revon semakin menggoda wanita itu dengan menggesekkan miliknya ke area sensitif Rose.
__ADS_1
Rose pun tidak tahan dan menarik wajah Revon dari posisi sebelumnya agar bertatapan dengannya lalu memasang ekspresi memohon kepada Revon.