
Pada meeting hari ini Revon mendapat kabar bahwa ada yang menyabotase model-model dari agency miliknya di New York hingga tidak bisa mendapat projek pemotretan sama sekali.
"Apa anda selaku manager disana sudah bertindak untuk mengatasi masalah ini?" Ujar Revon kepada manager di cabang New York bernama George.
"Saya sudah melakukan beberapa cara untuk mengatasinya, termasuk menelusuri pelaku sabotase. Mereka berasal dari agency pesaing kita di New York, sir. Akan tetapi saya masih belum bisa mengatasi masalah ini. Untuk itu saya membutuhkan bantuan dari anda, Mr. Dent." Ujar George.
"Alright. Saya akan mengirim tim khusus ke New York untuk membantu anda. Bila masalah ini masih belum selesai sampai 2 minggu kedepan. Saya sendiri akan pergi ke New York. Alright, Cukup sampai disini meeting hari ini." Ujar Revon lalu beranjak kembali ke ruangannya.
Robert masuk ke ruangan Revon dengan membawa beberapa vampir.
"Mr. Dent. Saya membawa beberapa vampir yang saya percaya memiliki kemampuan dan kecerdasan yang excellent. Mereka bisa membantu tim khusus ke New York." Ujar Robert.
"Alright. Kita buat kontraknya dulu. Kalian berempat bersedia melakukan apapun agar bisa mengatasi masalah sabotase di Firstin cabang New York? " Ujar Revon.
"Yes, Sir. Kami bersedia." Ujar keempat vampir.
Lalu terjalin kontrak yang tidak terlihat namun sangat kuat. Mereka tidak akan bisa terlepas dari kontrak kecuali masalah sudah terselesaikan atau mereka telah mati.
Karena Revon yang pemilik kontrak, dia bisa mengetahui jika yang menjalin kontrak sedang berada di situasi berbahaya atau telah mati.
"All of you go to New York now." Ujar Revon yang dibalas anggukan tanda hormat.
Setelah itu Revon terhanyut dengan pekerjaannya sebagai CEO perusahaan. Ditambah dia ingin meresmikan perusahaan baru yang bekerja di bidang persenjataan minggu depan.
Robert sudah memberi laporan bahwa sudah memesan tempat untuk acara peresmian. Juga menyewa event organizer yang terbaik di Paris.
Tiba-tiba seorang wanita berambut blonde dengan pakaian yang minim menerobos masuk ke ruangan Revon. Robert terlambat ketika ingin menghalangi wanita itu di depan pintu ruangan.
"Mr. Dent! Kebetulan sekali anda sedang di kantor. Oh god, you are looks so gorgeous. Saya sangat menyukai anda." Ujar wanita blonde itu.
"Who are you? Bagaimana kamu bisa menerobos masuk seenaknya kesini?" Ujar Revon sambil memijat pangkal hidungnya.
"I'm Becca Foster. Saya salah satu model anda dari New York. Saya tidak ingin bekerja disana lagi. Saya ingin bekerja di sini, pusat Firstin agar bisa selalu dekat dengan Mr. Revonelle Dent." Ujar Becca.
"From New York? Sorry but, there are some procedure you have to finished. Sebelum kamu bekerja disini. So, get out please." Ujar Revon menatap tajam Becca.
"Yes, alright. Tapi apa anda bisa meluangkan waktu makan malam bersama saya? Saya benar-benar menyukai anda sejak 5 tahun lalu. Susah payah saya masuk ke agency ini agar bisa bertemu anda. Saya selalu bermimpi anda akan menikah dengan saya di bawah menara Eiffel..." Ujar Becca. Karena muak mendengar perkataan Becca, Revon menyela.
"Stop!? Get. out. now. Robert!" Ujar Revon dengan kesal.
Robert dengan sigap membawa Becca keluar walau wanita itu terus memberontak dan berteriak.
"Fu*k! Dia membuat moodku menjadi buruk." Ujar Revon lalu menutup dokumen di mejanya.
Revon pergi keluar kantor, dan berpapasan Robert di lobby.
"Jangan biarkan wanita gila itu masuk ke kantor ini. Dan kembalikan dia ke New York secepatnya. " Ujar Revon.
"Yes, boss." Ujar Robert.
Karena waktu sudah sore, Revon memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, lelaki itu melihat Rose yang sedang menikmati pijatan dari pelayan sambil menutup mata. Revon meminta pelayan-pelayan pergi dan meninggalkan mereka berdua.
Revon memijat kaki Rose dengan lembut dan sentuhan yang sedikit menggoda. Wanita itu awalnya tidak menyadari, namun perlahan dia merasa ada yang berbeda dari pijatan sebelumnya.
Tanpa sadar Rose mengeluarkan desahan lirih. Mendengar itu Revon tersenyum dan melanjutkan aksinya.
"What are you doing here?" Ujar Rose yang membuka mata dan melihat Revon memegang kakinya.
"Memijat kakimu? Ah, kamu terlihat menikmati pijatanku sampai mendesah. Itu baru pijatan saja, kamu tidak ingin yang lain?" Ujar Revon dengan tenang.
__ADS_1
"Get away from me. Aku masih belum memaafkanmu." Ujar Rose.
"Rose.. Okay Okay. Kamu ingin tahu rahasia apa saja yang aku sembunyikan darimu? I'll tell you." Ujar Revon dengan menghela nafas. Dia melepas dasi diikuti dengan jas yang dipakainya. Melipat lengan kemeja dan membuka 2 kancing teratas.
Sebelum memulai bercerita, dia meminta pelayan untuk mengambilkan wine miliknya beserta beberapa es batu. Lelaki itu menuangkan es batu ke gelas kemudian wine.
"First. Aku ingin kamu tidak memotong aku bercerita, okay?" Ujar Revon sambil menyesap winenya.
"Yeah, fine." Ujar Rose yang memusatkan perhatian penuh kepada Revon.
"Vampir murni memang memiliki kekuatan yang bervariasi. Seperti, teleportasi, telekinesis, mind controlling, dan healing. Tapi, kamu tidak usah khawatir. Aku tidak pernah mengontrol pikiranmu sama sekali." Ujar Revon lalu berhenti sejenak menyesap winenya.
"Ketika aku memakai kekuatan terlalu berlebihan dan mencapai batas, tubuhku akan melemah. Seperti saat kamu melihatku sakit beberapa hari lalu. Tubuh yang selayaknya manusia karena aku sama sekali tidak bisa memakai kekuatan. Pemulihan tubuh dan kekuatanku juga membutuhkan waktu yang lama." Ujar Revon sambil menatap Rose dengan lekat.
"Itu alasan mengapa aku merasa takut dan panik saat Natalie datang ke villa. Bagaimana jika ada sesuatu yang terjadi padamu, tapi aku tidak bisa melindungimu. Aku memanggil Robert untuk membantuku menjagamu. Dan ternyata dia tidak bisa mengalahkan Natalie." Ujar Revon sambil sedikit tertawa miris.
"Saat itu aku merasakan ketakutanmu. Aku mencoba mencari cara bagaimana menolongmu. Hingga aku terpikir dengan pedang legenda itu. The Darkness Prince Sword. Ketika aku memegang pedang itu, aku merasakan seperti teralirkan kekuatan yang cukup kuat. Tanpa berlama-lama aku langsung pergi menolongmu." Ujar Revon.
"Aku ingat diakhir kesadaranku, saat kamu menolongku. Kamu terlihat dikelilingi aura kegelapan dan bola mata kamu berwarna hitam kelam. Apa kamu masih sadar saat itu? Ujar Rose.
"Dimana dia sekarang?" Ujar Rose.
"Ofcourse, I kill her." Ujar Revon. Mendegar itu Rose sedikit terkejut, namun dia mengerti Revon melakukannya semata demi keselamatan dirinya.
Revon menuang lagi winenya, kali ini dia meminumnya dengan sekali teguk.
"Ah, tentang one night stand. Aku sudah lama tidak melakukan hal itu. Jauh sebelum aku bertemu denganmu. Aku selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan. Dan.. melakukan sedikit pekerjaan kotor di waktu tertentu." Ujar Revon.
"Pekerjaan kotor? Apa maksudnya?" Ujar Rose.
"Killing people. Karena waktu itu aku memiliki musuh yang cukup membuatku muak dengan tingkahnya. Aku membunuhnya dan meminum darahnya." Ujar Revon tenang.
"OMG!? Apa kamu juga akan membunuhku jika aku membuatmu kesal?" Ujar Rose dengan sedikit takut.
"No, of course not. You know that i love you. Dan cinta vampir berbeda dengan manusia. Ketika vampir telah menemukan cintanya, mereka akan menikah dan melakukan mating. Setelah melakukan itu, keduanya akan terikat sampai mati." Ujar Revon.
__ADS_1
"Apa itu mating?" Ujar Rose.
"Do you really want to know, hmm?" Ujar Revon dengan tersenyum lalu perlahan mendekati Rose.
"What?" Ujar Rose panik melihat Revon sudah berada tepat diatasnya yang berbaring di kursi santai.
"I want to ask you. Apakah kamu pernah memimpikanku dalam tidurmu? Karena, aku sudah berkali-kali memimpikanmu setiap tidur. Aku selalu memikirkanmu saat jauh dariku. Touch me here. Kamu merasakan detak jantungku? Padahal vampir memiliki detak jantung yang pelan, sangat pelan hampir tidak terasa." Ujar Revon mengarahkan tangan Rose ke dada lelaki itu. Wanita itu dapat merasakan detak jantung Revon yang cepat.
Rose hanya terpaku merasakan detak jantung Revon. Dia terus menatap mata Revon yang terlihat berkilau. Perlahan dia mengalihkan pandangannya ke bibir Revon. Dari jarak sedekat ini dia dapat mencium aroma wine yang diminumnya tadi.
Tangan wanita itu terulur menyentuh pipi Revon dengan lembut. Seakan senang akan sentuhan yang wanita itu berikan, Revon tersenyum manis dengan memejamkan mata.
"Aku lega kamu sudah mau bercerita kepadaku, hon. Seterusnya aku ingin kamu lebih terbuka kepadaku, karena aku juga ingin tahu lebih banyak tentangmu. Kamu tidak ingin aku salah paham bukan?" Ujar Rose.
"Ya, aku tidak ingin ada salah paham di antara kita. Kamu tahu? Aku tersiksa saat kamu tidak menghiraukanku, dan terus menolakku. Jadi, apa kita sudah baikan?" Ujar Revon.
"Mmm... I do think so." Ujar Rose sambil berpura-pura berpikir.
"Don't play with me." Ujar Revon dengan tertawa kecil lalu mengajak Rose bangun.
Rose terpikirkan ide untuk menjahili lelaki itu. Dengan sengaja dia memancing Revon ke pinggir kolam. Saat lelaki itu tepat di tepi kolam, Rose mendorongnya sekuat tenaga sampai terdengar bunyi air 'byur'.
"Whoaa. Really? Oh god." Ujar Revon saat muncul dari air. Rose tertawa melihat rencananya berhasil. Suasana hati Revon sangat senang melihat tawa Rose.
"Can you help me? Aku tidak bisa naik, bae." Ujar Revon yang berpura-pura kesulitan naik dari kolam. Rose sedikit tidak percaya, tapi Revon meyakinkannya.
Rose mengulurkan tangannya untuk menarik Revon. Tanpa disangka lelaki itu menarik tangannya hingga terjatuh ke kolam renang.
"Iissh.. Kamu!" Ujar Rose sedikit kesal. Karena Rose yang memakai gaun tipis membuatnya transparan ketika basah oleh air. Revon melihatnya dengan tersenyum lebar.
"Yes! Kamu ingin protes, bae?" Ujar Revon. Lelaki itu menarik tubuh Rose mendekat ke tubuhnya.
Sebelum ada yang mengganggu, Revon menutup pintu penghubung area kolam dengan ruang tamu agar tertutup.
"Revon! Bagaimana kalau ada yang melihat? " Ujar Rose mencoba menahan Revon yang akan menciumnya.
__ADS_1
"Don't worry, bae." Ujar Revon sambil mengarahkan pandangan ke pintu. Rose melihat dan tahu bahwa itu ulah Revon.