
Erica meminta Rose menunggu diluar ruangan bersama Robert agar dia bisa lebih leluasa dalam melakukan penyembuhan.
Sambil menunggu, Robert menawarkan untuk membuatkan makanan karena Rose terlihat sedikit pucat. Awalnya Rose menolak untuk makan tapi lelaki itu membujuknya dengan alasan Revon pasti khawatir kalau tahu dia tidak makan.
"Alright alright. Tapi kamu harus ikut makan juga, okay?" Ujar Rose.
"Yes, boss." Ujar Robert dengan bercanda membuat Rose sedikit terhibur.
Saat mereka berdua makan, Rose teringat akan menanyakan sesuatu.
"Robert. Can i ask you something about Revon?" Ujar Rose.
"Sure." Ujar Robert yang telah menyelesaikan makannya.
"Revon adalah vampir, bukan? Mengapa dia tidak bisa menyembuhkan diri dengan cepat? Sementara di buku yang pernah aku baca vampire memiliki kemampuan penyembuhan yang cepat." Ujar Rose.
Robert hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Rose. Lalu samar-samar terdengar suara orang masuk dari pintu depan. Robert yang was-was, seketika itu pun pergi menghampiri seseorang itu.
"Where is she? Wanita itu sudah membuat lelaki yang aku cintai terluka. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri." Ujar Natalie dengan marah dan suara yang kencang.
"Nona Natalie. Anda tidak diperbolehkan masuk. Silahkan anda keluar sekarang juga." Ujar Robert yang tepat berada di hadapan Natalie. Robert tidak bisa membiarkan wanita itu masuk semakin dalam ke villa.
"Try me, Robert." Ujar Natalie dengan smirknya.
Natalie menerjang Robert hingga membentur ke dinding. Dengan cepat Robert membalas dan menendang tubuh Natalie mengenai lemari kaca di sisi lain ruangan.
Wanita itu mematahkan lengan Robert dan membenturkan kepala Robert ke lantai. Selama Robert merasa kesakitan, Natalie memanfaatkan hal itu untuk mencari Rose.
Rose yang mendengar suara dentuman itu merasa takut, dia mencoba berjaga-jaga dengan membawa pisau ditangan. Sekejap Natalie sudah berada di hadapannya dan mencekik lehernya.
"You are just a human. Why? Mengapa dia memilihmu? Apa karena rasa darahmu yang menggiurkan? Atau karena tubuhmu yang memuaskan?" Ujar Natalie dengan suara rendah.
Rose hanya menatap wanita itu seakan menantang, cekikan di lehernya terasa sangat menyakitkan. Tersadar bahwa dia menggenggam pisau ditangan, dengan berani dia menusukkan pisaunya ke perut Natalie.
Hal itu semakin membuat Natalie marah dan melempar Rose ke dinding. Terdengar bunyi "krek" dan tubuhnya terasa sakit semua.
"You want to kill me with this? Idiot." Ujar Natalie sambil menarik pisau keluar dari perutnya.
Sekejap Natalie berada di hadapannya dan dia melihat taring wanita itu seakan ingin menghisap darahnya. Namun secara tiba-tiba Natalie terlempar menjauh darinya.
"You have cross the line, Nat. And you absolutely know that i hate it." Ujar Revon dengan suara tenang tapi penuh dengan aura membunuh yang kuat.
Rose yang mulai hilang kesadaran, seakan tidak percaya bahwa lelaki itu adalah Revon. Dia terlihat dikelilingi aura gelap, warna pupil matanya hitam kelam seakan mampu membawa orang terhipnotis hanya dengan tatapannya.
Yang mengejutkan lagi, Revon menggenggam pedang yang berada di ruang koleksinya. Permata yang berada di pedang itu berkilau seakan senang telah menemukan pemiliknya.
Di akhir kesadarannya dia melihat Erica dan Robert menghampirinya dengan cemas.
"Revon? How do you feel? Are you alright?" Ujar Natalie dan bangkit untuk mendekati Revon.
"You know, Nat. Aku tidak memiliki perasaan seperti yang kamu rasakan padaku. Dulu ataupun sekarang. So, please go away for my life, Nat. You have to find someone better than me." Ujar Revon.
"Hah! I don't believe you. She is just your slave, right? Dia hanya manusia. Siapapun bisa membunuhnya. You are just mine, Revonelle Dent." Ujar Natalie dengan percaya diri.
Natalie dengan cepat pergi untuk kembali menemui Rose. Akan tetapi saat dia akan keluar dari area dapur, Revon menarik rambutnya dan melempar tubuhnya ke counter. Tidak berhenti sampai disitu, lelaki itu menarik tubuhnya agar berdiri dan mendekatkan wajahnya.
"You are so pathetic. Kamu tidak sebanding dengan Rose. Dan kamu sudah berani menyakitinya. Ah, tangan mana yang kamu gunakan tadi? Kiri atau kanan? Atau keduanya?" Ujar Revon dengan tersenyum menakutkan.
"What?! She is just a human. I will kill her right now." Ujar Natalie sambil memberontak dari cengkraman Revon.
"You dare to said it in front of me, bit*h. My patience is up." Ujar Revon lalu memunculkan lagi pedang tadi. Natalie tidak bisa melihat pergerakan Revon namun tiba-tiba dia sudah menusukkan pedangnya tepat di jantung wanita itu. Lalu tubuhnya menghilang menjadi abu.
Ketika Revon mengambil pedangnya, dia mendengar seorang lelaki berbicara di dalam kepalanya. Dia mengatakan "My Lord. Now we are one". Revon berpikir dan mencoba mencerna perkataan itu. Akan tetapi tubuhnya sangat lelah untuk sekedar berpikir.
__ADS_1
Dia berjalan ke ruang koleksi untuk menyimpan kembali pedangnya. Tubuhnya sembuh dari luka sebelumnya karena pedang itu. Saat akan keluar dari ruangan dia merasa lemas dan pingsan.
Satu jam kemudian Revon terbangun karena dia bermimpi buruk. Terdengar suara ketukan pintu yang refleks mengalihkan perhatiannya. Dia mengatakan "masuk" dan ternyata Erica disana.
"Hey. Aku hanya ingin mengecek keadaanmu. Apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang kamu rasakan?" Ujar Erica.
"Yeah. I'm good. How is she?" Ujar Revon dengan cemas.
"Calm dawn. She is fine. Tangan kanannya retak dan beberapa lebam di tubuhnya karena benturan. Untuk tangan kanannya memerlukan sedikit waktu untuk penyembuhan. Untuk bekas cekikan dan lebam sudah hilang. Aku tidak bisa melakukan terlalu banyak sihir ketubuhnya karena akan berdampak buruk pada tubuh manusianya." Ujar Erica.
"Ah, I see. Dimana dia sekarang?" Ujar Revon.
"Aku membawanya ke kamar lantai 2. Karena tadi kamu berkelahi dengan wanita itu di dapur, jadi aku pikir lebih baik membawanya jauh dari dapur. Dia tertidur setelah minum ramuan obat." Ujar Erica.
"Thank you, Erica. Sebenarnya, kamu sudah membalas balas budimu. Tapi mengapa kamu masih terus membantuku?" Ujar Revon dengan menaikkan satu alis dan melipat tangannya di dada.
"That's it? You are not in love with Robert?" Ujar Revon yang membuat wajah Erica memerah.
"Don't be ridicolous. He is not my type. So, are we staying here? Aku sudah lama ingin berlibur di tempat sejuk seperti ini." Ujar Erica mengalihkan pembicaraan.
"I think it's okay to stay few days. Aku merasa kekuatanku kembali?" Ujar Revon.
"Are you sure?" Ujar Erica.
Untuk memberikan kepastian jika kekuatannya kembali, Revon mencoba menggerakkan meja dari jauh. Dan benar saja, meja itu bergerak mengikuti keinginan Revon. Erica yang menyaksikan hanya tersenyum takjub.
Dengan cepat Revon pergi ke kamar yang Rose tempati. Robert yang sedang berjaga di depan ruangan sedikit terkejut dengan keberadaan Tuannya yang tiba-tiba.
"You can take a break, Robert." Ujar Revon sambil menyisir rambutnya yang menutupi pandangannya.
__ADS_1
"Yes, Boss." Ujar Robert dan sedikit membungkuk memberi hormat.
Revon masuk dan menghampiri Rose yang tertidur di ranjang. Tangan kanan wanita itu terdapat kain perban yang melilit.
Melihat Rose yang mengerutkan dahi dalam tidurnya membuat lelaki itu mendekat dan berharap bisa menghilangkan sesuatu yang mengganggu tidur wanita itu.
Mengusap rambut panjang Rose, lalu beralih ke pipinya. Karena merasakan sentuhan itu, Rose perlahan membuka mata.
"How do you feel?" Ujar Revon sambil mengusap pipi dan turun ke leher wanita itu.
"I don't know. Aku merasa terlalu banyak pertanyaan di kepalaku. Ah, kamu sudah sembuh?" Ujar Rose sambil menatap Revon yang terlihat baik-baik saja.
"Yeah. Aku sudah sembuh. Rose, kamu bisa menanyakan apapun yang ingin kamu ketahui. Aku akan berusaha menjawab semua pertanyaanmu sebisaku. " Ujar Revon yang menatap lekat wanita didepannya.
"Who is she? Mengapa dia tiba-tiba datang dan mencoba membunuhku? " Ujar Rose sambil mencoba duduk. Revon berniat membantunya karena dia terlihat sedikit kesulitan.
"Don't touch me! I can do it myself!" Ujar Rose dengan tatapan tajam. Revon hanya menghembuskan nafas berat dan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Before i answer. Please don't get mad at me and let me finish it, okay?" Ujar Revon dengan suara rendah.
"I'm not promise." Ujar Rose.
"Before i met you. Aku sempat melakukan one night stand dengan beberapa wanita. Hidup terlalu lama membuatku tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menghilangkan rasa kesepian dan bosan. Hingga aku berpikir untuk melakukan one night stand dengan seorang wanita akan bisa mengurangi rasa kesepian itu. Dia adalah wanita vampir, namanya Natalie. Setelah kita melakukan hubungan intim, keesokan harinya dia tidak ingin pergi dari rumahku. Dia mengatakan bahwa dia menyukaiku pada pandangan pertama dan berniat menjadi kekasihku. Tapi aku tidak memiliki perasaan yang sama dengannya, sehingga aku menolak dengan tegas. Aku kira dia akan menyerah, tapi ternyata salah. Dia sangat gigih mendekatiku setiap kali aku pergi kemanapun." Ujar Revon sambil mengusap dahinya karena teringat kejadian itu.
"Lalu suatu hari saat aku pergi bussines trip ke Rusia. Dia diam-diam mengikutiku. Karena aku sudah muak melihat dia dimanapun aku berada. Muncul ide untuk menghapus ingatannya tentangku. Rencana itu berhasil dan aku meninggalkan dia di Rusia. " Ujar Revon sambil mengamati Rose.
"Believe me, aku sudah melupakan dia. Aku bahkan tidak ingat namanya sampai Robert yang mengingatkanku. Dan ini pertama kali dia mendatangiku. Seperti ada yang memberitahunya."Ujar Revon sambil melihat respon dari Rose.
Wanita itu hanya diam, tapi ekspresi wajahnya tidak terbaca. Revon menggenggam tangan Rose, namun dengan pelan Rose menepis lelaki itu.
"I need time to think. You know what i mean, right?"Ujar Rose tanpa menatap ke arah Revon.
__ADS_1
"Okay, just take your time. I love you, Rose. Aku berjanji akan selalu melindungimu apapun yang terjadi." Ujar Revon sebelum keluar dari kamar.