
Revon meninggalkan Evan di gudang itu. Dia sudah menelpon ambulance menggunakan ponsel Evan. Dia sangat ahli dalam hal ini.
"Kita pergi dari sini. Ah, dimana hutan tergelap selain Hutan Red Cliff?" Ujar Revon.
"Hutan di sisi kota, saya pernah mendengar disana hutan yang tidak bisa di masuki manusia karena dapat membuatnya tersesat berhari-hari dan tidak pernah kembali. Nama hutan itu... Hutan Dark Shadow." Jawab Robert.
"That's it. Kita pergi kesana." Ujar Revon.
Dia sudah tidak sabar ingin membunuh penyihir itu.
Aku tidak akan melepaskanmu, witch boy. Pikirnya.
**Hutan Dark Shadow**
Revon POV
Sampai di tepi hutan, aku mengamati situasi disekitar. Sepi, dan hanya terdengar suara daun dan ranting yang bergesekan terkena angin. Sinar bulan membuat hutan ini lebih mencekam, bayangan dari pohon dapat menyamarkan keberadaan siapapun yang berdiri di bawahnya.
Kami mulai melangkah memasuki hutan. Semakin kedalam, semakin terasa ada yang mengawasi kami.
"Witch boy! Sembunyi dimana kamu? Aku sudah datang kesini khusus untuk menemuimu. Kamu ingin bermain denganku, bukan?" Ujarku.
Tidak ada pergerakan sama sekali. Tapi aku merasa suasananya sedikit berubah. Seperti udara yang berubah lebih dingin.
Tiba-tiba terdapat sulur-sulur yang melilit dengan cepat tubuhku. Dari kaki hingga terus ke atas.
What the \*\*\*\* is this!
Aku melihat Robert juga mengalami hal sama denganku. Setelah melilit seluruh tubuh, sulur itu menarik kami ke atas pohon dengan tinggi 10 meter. Membuat kami tergantung dengan kepala di bawah.
"Well, well, well. Tidak aku sangka kamu akan menemukanku secepat ini. Impressive!" Ujar laki-laki yang aku kenali suaranya.
Yeah, that's him.
"I'm so glad to hear that. Stevan Hallagar. " Ujarku dengan tersenyum.
"Aww.. seorang Revonelle Dent vampir murni yang hebat tahu namaku. I'm so touched." Ujar dia dengan smirknya.
"Hey! Babe. Come here." Ujar dia memanggil seseorang.
Saat aku melihat siapa yang dia panggil. Seketika nafasku tercekat. Dia memanggil seorang wanita, dan dia adalah Rose.
"Don't you dare touch her." Ujarku dengan rahang yang mengeras.
__ADS_1
Wujud vampirku benar-benar mengambil alih sekarang.
"Why? Dia sangat cantik dan... seksi. Sayang sekali kalau menyentuhnya saja tidak bisa. " Ujar Stevan.
Lelaki itu menarik dagu Rose sehingga menghadap ke arahku. Bola mata dia hitam kelam dan terlihat hanya menatap kosong ke arahku.
"Look at her. She's gorgeous. Bagaimana kalau aku jadikan dia kekasihku? Aku hanya tinggal menghapus memorinya tentangmu dan... voila.. She will be mine." Ujar Stevan dengan tersenyum lebar.
No! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi !
Aku memakai teleportasi agar bisa lepas dari sulur itu. Dengan cepat aku mendorong lelaki itu hingga menjauh dari Rose.
Akhirnya Robert pun bisa terlepas dari sulur itu juga dan menghampiriku.
"Bawa dia menjauh. Aku akan sedikit bermain dengannya." Ujarku. Robert bersiap pergi dan membawa Rose.
"Not so fast." Ujar Stevan yang memakai sihirnya untuk membuat Robert tidak bisa bergerak.
"Not so smart." Ujarku setelah membuat dia terpental hingga menabrak pohon.
"Go!" Perintahku kepada Robert. Melihat mereka menjauh aku kembali fokus kepada Stevan.
"Shit! It's a trap." Ujarku dan secepatnya mengejar Stevan.
Sayangnya, aku hanya menemukan Robert yang berlumuran darah dan tidak sadarkan diri. Aku mengecek luka Robert, sepertinya dia masih bisa bertahan.
Aku mencoba mencari Rose hingga tiba di tengah hutan ini. Di balik pohon, aku melihat sosok wanita yang keluar.
"Rose? Can you hear me?" Ujarku yang melihat dia masih dengan pandangan kosong membawa sebuah belati. Belati berwarna perak dengan aksen kuno.
Pasti Stevan yang memberinya belati itu.
Sial. Apa dia berencana membuat Rose terluka dengan belati itu?!
"Rose? Berikan yang ada di tanganmu itu." Ujarku sambil mendekatinya.
Hening! Tidak ada jawaban darinya.
Sekarang aku sudah berada di hadapannya. Aku mencoba menatap matanya, berharap dia masih bisa mendengarku.
__ADS_1
Aku coba masuk ke dalam pikirannya, tapi aku tidak berhasil. Ada yang menghalangiku untuk masuk kepikirannya.
Tiba-tiba saja dengan gerakan cepat, Rose menghujamkan belati itu ke titik vital tubuhku.
Jleb. Jleb. Jleb.
Aku tertegun belum bisa mencerna kejadian ini. Aku melihat darah mengalir deras dari luka tusukan dia. Dan rasa sakit mulai menjalar ke seluruh tubuhku.
"Rose?" Aku tidak bisa percaya ini.
Sakit. Sangat sakit. Kenapa belati seperti itu bisa memberikan sakit seperti ini?
Setiap syaraf tubuhku terasa terbakar dan kekuatan menyembuhkanku sama sekali tidak bekerja. Nafasku terasa sesak.
Tidak kuat menahan tubuhku lagi, aku berlutut dan mencoba bernafas.
"Bagaimana rasanya? Sangat menyakitkan bukan? Mana yang lebih menyakitkan. Kekasih yang mencoba membunuhmu atau tusukan belati perak yang beracun ini?" Ujar Stevan yang entah sejak kapan berdiri di hadapanku.
Sekedar menjawab pertanyaannya saja aku tidak sanggup. Racun apa yang ada di belati itu?
"ANSWER ME!" Ujar Stevan lalu menendangku.
Kini aku hanya terbaring tidak berdaya dan menatap langit.
"Rose. Cepat akhiri penderitaan dia. Tancapkan belati itu ke jantungnya." Ujar Stevan.
Apa aku harus mati di tangan wanita yang aku cintai?
Rose mendekat dan berada di atas tubuhku. Beberapa menit dia menatapku.
Apa dia masih di sana..Rose?
Melihat itu, Stevan meraih dagu Rose dan menatap matanya.
"DO IT ! NOW ! " Ujar Stevan lalu kembali melepas Rose.
Tanpa ragu dia menusukkan belati itu sangat dalam ke jantungku. Ini adalah akhir hidupku.
Tapi aku merasa sedikit lega karena bisa melihat dia untuk terkahir kalinya. Senang bisa mengenalmu, Rose. Pikirku.
__ADS_1
Lalu menyambut kegelapan yang datang.