
Revon sampai di tempat bertemu dan melihat Evan terikat di kursi dengan penutup kepala. Dia tersenyum lebar merasakan senang karena disini dia bebas melakukan apapun kepada Evan untuk menggali informasi.
Dia ingat dulu saat mencari mangsa, dia menemukan suatu gudang yang kosong dan jauh dari keramaian. Ternyata saat ke sini tempat itu masih ada dan masih sama seperti terakhir kali dia datang.
"Sialan! Lepaskan aku! Apa yang kalian inginkan dariku?" Ujar Evan berteriak tanpa tahu siapa yang telah menculiknya.
Senyuman Revon semakin lebar merasakan ketakutan yang dirasakan Evan. Perlahan dia mendekat dan membuka penutup kepalanya.
Evan mengerjapkan mata menyesuaikan dengan cahaya. Dia melihat sekelilingnya dan berhenti tepat di tempat Revon berdiri. Lelaki itu tersenyum mengerikan, aura gelap menyelimutinya.
"Apa yang kamu inginkan dariku?" Ujar Evan sambil berusaha lepas dari ikatan di tangan dan kakinya.
Revon tidak menjawab dan hanya tersenyum melihat lelaki itu. Lalu dia pergi dari hadapan Evan dan kembali dengan membawa pisau lipat.
"Lepaskan aku! Apa yang akan kamu lakukan padaku?! Stop! Jangan mendekat!" Ujar Evan panik dan menggerakkan tangan dan kakinya berharap bisa lepas dari tali yang mengikatnya.
Revon berada tepat di hadapannya dan tersenyum lebar. Evan melihat mata Revon yang berubah warna menjadi merah gelap.
"Kamu ingin tahu apa yang akan aku lakukan padamu?" Ujar Revon berbisik ditelinga dia.
__ADS_1
Tiba-tiba Evan merasakan sakit karena sesuatu menusuk ke lututnya.
"AAARRGGHH!!!" Teriak Evan.
Mendengar teriakan Evan membuat Revon semakin memperdalam tusukan pisaunya ke lutut dia.
"Katakan. Siapa nama penyihir itu dan dimana dia sekarang?" Ujar Revon dengan tenang.
Evan diam karena masih merasakan sakit dan belum bisa mencerna perkataan Revon. Dia mencengkeram dagu Evan dan memastikan dia melihat ke arahnya.
"Aku bertanya sekali lagi. Siapa penyihir itu dan dimana dia sekarang?" Ujar Revon dengan tatapan tajam.
"Stevan.. Namanya Stevan Hallagar. Dia tidak pernah mengatakan tempat tinggalnya.. Jadi aku tidak tahu.." Ujar Evan dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Aku.. hanya tahu itu saja. "Ujar Evan.
"Dan aku tidak percaya itu." Ujar Revon dengan tertawa kecil.
Dia mencabut pisaunya lalu menusukkannya ke lutut satunya. Terdengar jeritan kesakitan lagi dari mulut Evan.
__ADS_1
Revon menikmati semua ini. Rasanya semua syaraf dan otot di tubuhnya terasa segar kembali. Dia menekankan jarinya di luka sebelumnya.
"Eeerrgghh.. Stop! Okay okay... aku akan memberitahumu. " Ujar Evan yang tidak tahan dengan rasa sakitnya.
"Good boy." Ujar Revon lalu menjilat darah yang ada di jari-jarinya.
"Dia penyihir dari Donovhan Clan... Penyihir kegelapan. Dia tidak memiliki tempat tinggal tetap... yang aku tahu dia sering tinggal di hutan. Aku tidak tahu hutan yang mana." Ujar Evan.
"Apa imbalan yang kamu tawarkan kepadanya?" Ujar Revon.
"Ah.. aku menawarkan jantungku kepadanya." Ujar Evan.
"Jadi kamu memang berniat mati rupanya." Ujar Revon dengan smirknya.
"Buat apa aku hidup. Kekasihku sudah mati. Kamu sudah membunuhnya Dent!" Ujar Evan dengan marah.
Merasa kesal, Revon mencabut pisau di lutut dia dan mengarahkannya ke jantung Evan sambil berkata,
"Kenapa kalian berdua sangat membuatku muak! Asal kamu tahu. Natalie datang ke menemuiku untuk mengajakku menjalin hubungan dengannnya. Aku menolak karena aku tidak punya perasaan apapun kepadanya. Dan aku juga sudah memiliki kekasih.
__ADS_1
Kamu tahu apa yang dia lakukan selanjutnya? Dia mencoba membunuh kekasihku. Siapa yang hanya duduk diam melihat kekasihnya akan dibunuh?! " Ujar Revon dengan rahang yang mengeras.
Mereka saling melemparkan pandangan tajam selama beberapa saat. Revon mengatakan sesuatu kepada dia lalu tidak lama dia tidak sadarkan diri.