
Pagi ini Revon bangun lebih dulu dan menyiapkan sarapan khusus untuk Rose. Karena semalam dia terlihat lelah dan lemas, membuatnya khawatir kalau terlalu memforsir tenaga wanita itu.
Revon meminta Mr. Pont menyiapkan sarapan chicken soup dan strawberry guava. Lalu dia berpesan agar pelayan mengantarkannya ke kamar. Sementara itu, dia pergi ke ruang gym untuk berolahraga.
Rose terbangun karena aroma soup yang membuatnya lapar. Rupanya beberapa pelayan sedang membawa sarapan ke kamar.
"Morning, Ms. Rose." Ujar salah satu pelayan dengan tersenyum ramah.
"Morning. Kalian membawa apa?" Ujar Rose yang penasaran.
"Chicken soup dan strawberry guava, Mr. Dent khusus meminta kami untuk menyiapkan ini untuk nona. Dan kami menambahkan teh hangat dan beberapa kue. Ah iya kami akan membereskan kamar juga." Ujar pelayan lain.
"Oh, okay. Where is he? Ah iya, Kamu bisa menaruh makanannya di meja sana." Ujar Rose sambil bangkit dari ranjang.
"Mr. Dent sedang di ruang gym. Apa anda ingin kami menyampaikan pesan ke Mr. Dent?" Ujar pelayan lain.
"No, but thank you." Ujar Rose dengan ramah lalu pergi ke kamar mandi.
Setelah mencuci muka dan menyisir rambut, Rose mulai menyantap makanannya. Dia menyukai supnya dan terasa hangat di tubuh.
Ternyata pelayan-pelayan itu hanya perlu sedikit membersihkan kamar dan sangat cekatan setelah selesai mereka pamit untuk pergi.
Selang beberapa detik pintu terbuka dan Revon masuk ke kamar. Lelaki itu tersenyum saat meliha Rose. Di tangan lelaki itu membawa box kecil putih lalu meletakkannya di meja.
"Morning, bae. How do you feel?" Ujar Revon yang duduk di samping Rose sambil mengecup kening Rose.
"Fresh and happy. Setelah tidur dan makan aku merasa tenagaku kembali terisi. By the way, thank you for the meal, hon." Ujar Rose yang sedang menyesap Strawberrry Guava.
"Anytime, bae." Ujar Revon lalu beranjak pergi ke kamar mandi.
Rose penasaran apa isi box yang dibawa Revon. Akan tetapi tidak sopan jika dia membukanya sembarangan. Akhirnya wanita itu memilih untuk mengalihkan perhatiannya ke ponselnya.
Tanpa sengaja Rose melihat foto orang-orang yang sedang berkunjung ke taman hiburan. Sepertinya sangat seru dan jaraknya dari rumah ini tidak terlalu jauh. Muncullah keinginan untuk pergi ke taman hiburan dan mengajak Revon.
Selang beberapa menit lelaki itu selesai mandi dan melilitkan handuk di pinggangnya. Revon mendekat ke sofa tempat Rose duduk. Mengambil satu kantong darah dan menyobek ujungnya agar dia bisa meminumnya.
Rose memperlihatkan layar ponselnya yang memperlihatkan taman hiburan. Revon mengangkat alis dengan tatapan tanya.
"Aku ingin ke sana. Bisa kita pergi ke sana sore ini?" Ujar Rose dengan tatapan memohon.
"Tempatnya tidak terlalu jauh dari sini. Tapi aku akan meminta orang untuk memastikan dulu semua permainan disana aman atau tidak. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi." Ujar Revon yang telah menghabiskan darah yang dia minum.
Rose mengangguk tanda setuju. Lalu Revon pergi untuk ke walk in closet sementara Rose beranjak untuk mandi.
Siang hari setelah Robert memberikan informasi mengenai taman hiburan, ternyata semua permainannya aman dan lolos uji coba.
Lalu di dalam sana terdapat tim keamanan yang menjaga pengunjung agar tetap aman, tapi beberapa tim keamanan adalah werewolf dan Revon khawatir kalau mereka adalah clan werewolf yang pernah bermasalah dengannya di club waktu itu.
Yang pasti mereka akan melakukan sesuatu padaku, apalagi sekarang ada Rose.
Saat ini lelaki itu sedang di ruang kerja. Revon yang sedang berpikir keras mengenai pergi ke taman hiburan tersentak karena suara pintu terbuka. Rose masuk dan berdiri tepat di hadapannya yang duduk di kursi kerja.
"So? Are you done thingking? Can we go there?" Ujar Rose dengan raut memohon.
"Stop looking at me like that. Aku sudah mengeceknya dan ternyata ada selain manusia yang bekerja di sana. Something not human like me. And i don't want to take the risk." Ujar Revon dengan tegas.
"Why not? You are a vampire. And you can bring your people to giving more protection." Ujar Rose dengan raut sedih yang bercampur kesal.
"Bae. It's not that simple. Your protection is the first intention for me. And i can't just take the risk." Ujar Revon dengan lembut.
"I just want to have fun time in there. I never going there. Whatever. " Ujar Rose lalu pergi keluar ruangan dengan mata berkaca-kaca.
****. You are done, man. You made her crying.
Lelaki itu menuang wine dan meminumnya dalam sekali teguk. Melalui jendela ruang kerja dia melihat cahaya matahari yang mulai redup menandakan sore akan datang.
Karena memang hanya Revon yang wajahnya diketahui oleh werewolf itu. Berarti dia bisa meminta seseorang yang menemani Rose untuk pergi ke taman bermain. Robert dan Erica.
Sementara dia bisa memantau dari jauh nanti. Akhirnya dengan berat hati Revon memutuskan untuk melakukan rencana itu. Revon menghubungi Robert dan meminta untuk membawa Erica juga.
Setelah itu dia mencari Rose. Ke kamar, kolam renang, ruangan gym, hingga dapur tidak ada keberadaan wanita itu. Revon mulai panik lalu bertanya ke Mr. Pont.
"Mr. Pont!! Do you know where is she?" Ujar Revon dengan raut panik.
"Nona Rose baru saya lihat di taman, Tuan." Ujar Mr. Pont dengan tenang.
"Alright. Thanks." Ujar Revon lalu bergegas ke taman.
Sesampainya di taman lelaki itu berjalan menelusuri seisi taman dan akhirnya menemukan Rose. Wanita itu sedang duduk menatap kolam kecil yang berada di ujung taman dan menangis.
Revon memetik setangkai mawar putih lalu mendekat ke Rose sambil memberikan bunganya. Tanpa sadar Revon pada saat memetik bunga terkena duri-duri yang melukai jari-jarinya, hanya Rose yang dalam sekejap menyadari itu.
__ADS_1
"Revon? Tangan kamu berdarah. Kenapa kamu memetik bunga langsung dengan tangan!?" Ujar Rose yang masih menangis sekaligus marah.
"....." Revon hanya diam dan melihat Rose memeriksa luka-luka di jarinya.
"Kamu tunggu sini, aku akan mengambil kotak obat." Ujar Rose lalu berlari ke dalam rumah. Revon tersenyum melihat kelakuan Rose. Walau dia sedang kesal kepadanya, tapi tetap khawatir dengannya.
Revon berpindah duduk ke bawah pohon rindang yang sejuk disamping kolam. Sejenak menikmati ketenangan alam dan memejamkan mata.
Rose kembali menemui Revon dan mulai mengobati lukanya. Lelaki itu membuka mata dan mengamati Rose yang terlihat serius mengobati.
"Terakhir tinggal menempelkan plester. Apa masih sakit?" Ujar Rose.
"Yeah! It's hurt. Ouch!" Ujar Revon berpura-pura sakit.
Lalu Rose berinisiatif meniup-niup jari Revon agar hilang rasa sakitnya. Tingkah lucu Rose membuat Revon tidak bisa menahan tawa. Wanita itu seketika tahu kalau Revon hanya berpura-pura sakit.
Rose menjadi kesal kembali dan bersiap pergi, namun belum sempat berdiri tangannya ditarik oleh lelaki itu. Tubuh Rose terjatuh tepat diatas Revon.
Wajah mereka sangat dekat dan wanita itu bisa mencium aroma wine dari mulut Revon. Rose mencoba untuk bangkit kembali tapi gagal karena tangan Revon memeluknya dengan erat.
"Kamu boleh pergi ke taman hiburan. Tapi aku tidak bisa menemani kamu." Ujar Revon dengan lembut.
"Really? But, why you can't go with me?" Ujar Rose.
"I have some work to do." Ujar Revon.
"I don't want to go alone then." Ujar Rose.
"Siapa bilang kamu pergi sendiri? Robert dan temannya akan menemani kamu." Ujar Revon dengan tersenyum.
"Okay, then. I will take a shower now." Ujar Rose sambil menatap tajam Revon, meminta dilepaskan.
Namun lelaki itu semakin memeluknya dan menghirup aroma tubuh Rose. Setelah puas memeluk Rose, lelaki itu melepaskan pelukannya dan melihat Rose berjalan ke dalam rumah.
Hari ini Rose memakai kaos putih, jaket denim dengan celana jeans hitam membuatnya terlihat santai. Sebelum mereka pergi bersama, Revon memperkenalkan Rose dengan Erica.
Tentu lelaki itu tidak memberitahu bahwa Erica adalah penyihir. Lalu Robert dan Erica masuk ke mobil terlebih dulu. Sementara Revon masih berat melepaskan Rose. Tapi demi kesenangan wanita itu, dia tidak bisa melarangnya pergi.
Lelaki itu mencium kening Rose lalu beralih ke bibirnya, ciuman yang lembut dan penuh cinta. Sekitar pukul 5 mereka pergi menuju taman hiburan.
Suasana saat sampai ditempat cukup ramai. Banyak anak-anak dan remaja yang datang. Pada saat perjalanan Erica sempat mengajak Rose berbincang karena memang umur mereka hampir sama.
Setelah selesai menaiki roller coaster Robert tidak tahan dan akhirnya muntah. Erica dan Rose pun tertawa melihat lelaki itu yang ternyata tidak kuat.
Selanjutnya mereka bermain lempar bola ke kaleng. Rose tidak berhasil sama sekali membidik kalengnya membuat dirinya sedih karena tidak mendapatkan hadiah.
Sementara Erica berhasil membidik semua kaleng dan mendapat teddy bear coklat berukuran sedang.
Karena Rose belum menyerah akhirnya dia mencoba bermain lempar bola lagi. Lemparan pertama meleset, lemparan kedua meleset juga, dan saat ingin melempar yang ketiga tiba-tiba ada yang merebut bolanya dan melempar tepat ke kaleng di depan.
Rose senang dan melihat ke arah orang yang melempar tadi. Seorang lelaki tidak terlalu tinggi, tubuh yang atletis, kulit kecoklatan rambut pendek yang rapi dan pupil mata berwarna abu. Dia memakai pakaian hitam sama seperti tim keamanan di sini.
"Choose your gift, sweet." Ujar lelaki itu dengan tersenyum dan mengedipkan mata.
Rose yang tidak tahu harus menerima hadiahnya, menatap ke arah Erica.
"Thank you, boy. Tapi kami tidak bisa menerima pemberian orang asing." Ujar Erica dengan tersenyum.
"Ah, really? How do you think, sweetgirl?" Ujar lelaki itu yang tertuju pada Rose.
"Yes, She's right. Sorry, aku tidak bisa menerimanya. Kami pergi dulu." Ujar Rose lalu mulai melangkah pergi.
Akan tetapi belum sempat pergi, lelaki itu menarik tangan Rose dan menahannya pergi.
"Let go of her, dude. Do you want to make a scene as a security team here?" Ujar Robert yang memegang tangan lelaki itu.
Erica dan Robert tahu bahwa lelaki itu werewolf. Dan lelaki itu tahu kalau Robert adalah vampir. Dua lelaki itu saling melempar tatapan tajam.
Di sisi lain Revon yang berdiri di balik keramaian mengamati Rose dari jauh. Dia dapat merasakan emosinya yang mulai tersulut dan ingin sekali rasanya memberi pelajaran werewolf brengs*k itu.
Karena mendengar keributan, tim keamanan yang lain datang menghampiri.
"Excusme gentlemen. Apa yang sedang terjadi disini?" Ujar salah satu yang terlihat seperti ketua tim.
Lelaki yang memegang tangan Rose pun langsung melepaskan tangan wanita itu. Robert merasa ini kesempatan dia, Erica dan Rose untuk pergi.
"Hello, sir. Hanya kesalahpahaman kecil, benar bukan? " Ujar Robert yang ditujukan kepada lelaki tadi di akhir kalimatnya.
Lelaki itu hanya mengangguk sambil memasang smirknya.
__ADS_1
"Alright. Kalau begitu kami pergi dulu." Ujar Robert dengan ramah.
Setelah berjalan cukup jauh, Rose berhenti dan berkata.
"Kita akan pulang sekarang?" Ujar Rose dengan tatapan bertanya.
"Yes, we do. Lelaki tadi pasti akan mencari kamu lagi. Lain waktu kita bisa ke sini lagi. Jadi kita pulang sekarang, okay?" Ujar Erica dengan lembut.
Rose tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Sebelum pulang Erica mengajak untuk makan sesuatu yang manis. Lalu Rose berpikir chocolate mousse yang pernah dia makan saat kencan.
"Yesss. Let's eat some dessert." Ujar Rose yang membuat mata Erica berbinar dan Robert yang tertawa kecil.
Revon sedang menyamar dan mencari tahu identitas lelaki tadi yang menggoda Rose. Dia memakai kaos hitam, celana jeans hitam, jaket hitam dan topi hitam.

Dengan mudahnya dia masuk ke camp istirahat, dan masuk ke ruang tempat menyimpan berkas. Revon menelusuri seluruh lemari hingga akhirnya menemukan berkas milik lelaki tadi.
Dengan cepat dia memotret berkas itu, namun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Revon melihat tidak ada tempat yang bisa dipakai sembunyi.
Sehingga dia memasukkan kembali berkasnya ke lemari dan bersiap di balik pintu. Di jarak sedekat ini dia tidak mencium aroma werewolf jadi sudah pasti dia bisa mengatasinya.
Revon dengan mudah keluar dari ruangan, tapi saat akan sampai ke pintu keluar, dia bertemu lelaki tadi yang dia cari.
Sekejap lelaki itu mengeluarkan pisau perak. Lelaki itu menerjang dengan cepat, yah karena menggunakan kekuatan werewolfnya.
Revon sempat terkena beberapa sayatan, akan tetapi dengan lihai dia mengambil alih pisau dan mengunci pergerakan lelaki itu dengan menaruh pisaunya di leher.
Sebelum pergi Revon menusuk bahu dan paha lelaki itu agar tidak mengejarnya nanti. Padahal perak bisa melukai werewolf tapi dia membawa pisau itu.
Rose sudah kembali ke rumah dan membawa chocolate mousse untuk Revon. Erica masih setia menemaninya dan mereka semakin akrab. Rose meminta Erica untuk menginap, setelah berpikir sejenak dia akhirnya setuju tapi dia harus menelpon adiknya dulu.
Mereka melakukan berbagai macam kegiatan termasuk spa. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam tapi Revon belum pulang. Rose sudah mengirim pesan tapi tidak ada balasan dari lelaki itu. Karena lelah, Rose memutuskan pergi ke kamar dan menunggu Revon di kamar.
Beberapa menit kemudian Revon pulang. Lelaki itu berpapasan dengan Erica di ruang tamu.
"OMG. What happened? Jangan bilang kamu menemui lelaki itu. Aku tahu kamu melihat kejadian tadi." Ujar Erica dengan menaikkan alis.
"Yeah. Aku mencari tahu identitasnya lalu tanpa sengaja bertemu dengannya." Ujar Revon dengan tenang.
"Are you crazy, man? Look. Kekuatan kamu masih belum pulih dan dia werewolf. Kamu bisa saja terbunuh ditempat. Dan kamu tahu, Rose dari tadi menunggu kamu pulang. Dia membelikanmu chocolate mousse. Lalu sekarang bagamana dengan luka-lukamu?" Ujar Erica dengan sedikit kesal.
"Dia sudah berani menggoda Rose. Aku tidak akan bisa diam melihat itu. Aku akan memberikan peringatan yang jelas untuknya. Bisa kamu melakukan sihir penyembuhan kepadaku?" Ujar Revon.
"Aku hanya bisa mengobati luka luar kamu. Untuk pemulihan kekuatanmu aku tidak bisa berbuat apa-apa." Ujar Erica.
"Alright." Ujar Revon lalu menunjuk ruang gym.
Setelah luka-lukanya berhasil disembuhkan, Revon berterimakasih kepada Erica dan pergi ke kamar.
Sesampainya di kamar, dia melihat wanitanya tertidur di sofa dengan televisi yang menyala. Lalu di meja ada chocolate mousse, agar bisa dimakan besok Revon menyimpannya di kulkas yang ada di sudut kamar.
Setelah melepas jaketnya, Revon menggendong Rose ke ranjang dan menyelimuti tubuhnya. Lelaki itu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Selang beberapa menit Rose terbangun dari tidurnya dan melihat jaket milik Revon di sofa. Tak lama kemudian Revon keluar dari kamar mandi dengan memakai kaos abu.
"Hey. Apa kamu terbangun karena aku?" Ujar Revon saat melihat Rose yang terbangun.
"Mmhmm.. Kamu tadi pergi ke mana? Aku kirim pesan ke ponsel kamu tapi tidak ada balasan. Aku tunggu kamu pulang. Aku ingin kamu makan chocolate mousse bersamaku tapi..." Ujar Rose dengan sedikit kesal dan marah.
"Aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan, bae. Dan aku belum sempat membalas pesan kamu. I'm sorry, bae. Chocolate Moussenya aku simpan di kulkas besok kita makan bersama, okay?" Ujar Revon dengan lembut sambil memeluk Rose.
__ADS_1
Wanita itu hanya diam mencoba untuk tidak terlalu emosional. Akhirnya Revon membaringkan tubuh wanita itu dan memeluknya hingga tertidur.