
Revon POV
Aku sudah melacak orang yang membunuh anak buahku. Saat sedikit lagi tertangkap, tiba-tiba gagal karena lelaki itu menghilang tanpa jejak sedikit pun.
****! Where is he?!
Sampai sekarang aku masih belum kembali ke Paris karena fokus mencari lelaki itu. Untuk Agency yang membuat masalah, aku sudah menyelesaikannya dengan memberi pelajaran ke mereka.
Perkataan dari Evan yang kutahu CEO Agency itu sangat membuatku tertarik.
Flashback ON
"Kamu tidak akan bisa menemukan lelaki itu. Hahaha. Dan aku... pastikan kamu tidak akan bisa tenang Dent." Ujar Evan dengan smirk.
"Oh Evan. Tidak ada yang tidak bisa aku temukan. You don't know me and what i'm capable of. Sebenarnya apa motif kamu melakukan hal ini? Apa karena hanya masalah bisnis?" Ujarku dengan tenang.
"Hahaha... **** you, Dent." Ujar Evan dengan raut marah.
"Watch your mouth!! Kamu membuatku ingin merobek mulutmu sekarang." Ujarku sambil mencengkram kerah bajunya.
"Apa kamu tidak ingat ? Kamu membunuh seorang wanita tepat 2 minggu yang lalu." Ujar Evan sambil menatap tajam ke arahku.
Wanita? Jangan bilang yang dimaksud adalah Natalie. Pikirku.
"Kamu membunuh kekasihku. Jangan pikir kamu bisa menyembunyikan semua ini. Aku berjanji akan membunuhmu dengan segala cara. Hahaha. Dan aku sudah menemukan caranya. Hahaha." Ujar Evan dengan tertawa.
__ADS_1
Ah, dia kekasih Natalie rupanya. Apa dia tahu juga soal Rose? Aku tidak bisa menghubunginya saat ini. Itu akan semakin membuatnya bahaya jika orang yang berada di belakangnya tahu dan menemukan Rose. Pikirku.
Aku memberi kode Robert untuk tidak menghubungi Rose.
"She is not a good girl. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan. Kamu tahu? Dia terlihat tidak bisa lepas dariku. Harusnya kamu menjaganya lebih ekstra." Ujarku dengan tenang.
"You're fucking bastard!! I will kill you." Ujar Evan lalu menerjangku dan memukul wajahku.
Aku merasa mulai emosi dan perlahan wujud vampirku mendominan.
"Yeah. Keluarkan wujud aslimu, Dent. Agar semua orang tahu kamu adalah vampir. Dan perlahan semua orang akan takut untuk bekerjasama dengan perusahaanmu." Ujar Evan dengan smirk.
Pasti ada sesuatu yang dia rencanakan. Ah, cctv!
Pyar, pyar, pyar. Semua cctv di ruangan ini aku hancurkan dengan kekuatanku.
"Aku tidak akan memberitahumu." ujar Evan menantang.
Dia sangat keras kepala. Sial. Aku mencengkram lehernya dan menyudutkannya ke dinding.
Aroma ini. Seperti ada aroma lain ditubuh Evan.
Cklek. Tiba-tiba seorang lelaki masuk dan membawa dokumen. Aku menormalkan kembali wujud manusiaku.
"Saya membawa beberapa dokumen yang anda butuhkan, Mr. Evan. " Ujar lelaki itu.
__ADS_1
"Yes. Thanks" Ujar Evan.
Tunggu! Aroma ini sama dengan aroma tadi. Saat aku melihat ke arah lelaki itu, dia juga melihat ke arahku dengan tersenyum smirk.
It's him! Dia keluar dari ruangan dan berlari. Tanpa membuang waktu aku langsung mengejarnya.
Saat melalui pintu tangga, dia memakai sihirnya dan sudah berada di luar gedung.
Shit. Tidak ingin kehilangan jejaknya aku pun melakukan teleportasi menyusulnya keluar gedung.
Aku melihat dia belok di ujung jalan. Tapi tiba-tiba menghilang dan tidak meninggalkan aromanya sama sekali. Damn!
"Aku akan menemukanmu secepatnya. Witch boy" Ujarku.
Aku menelpon Robert.
"Kita kembali ke hotel. Sebelum itu, kamu beri Evan pelajaran."Ujarku.
"Yes, Boss." Ujar Robert. Aku memutuskan telpon dengan Robert. Lalu pergi ke telepon umum untuk menelpon Erica.
"Erica. Ini aku Revon. Aku minta kamu lebih ekstra menjaga Rose. Aku belum bisa pulang karena masih ada urusan yang harus aku selesaikan." Ujarku.
"Ada apa? Apa yang terjadi? Ya, aku pasti akan menjaganya. Kenapa kamu tidak mengabari Rose? Dia sangat cemas denganmu." Ujar Erica.
"Aku tidak bisa sembarangan menghubunginya. Aku tidak ingin ada musuhku yang mengincar Rose. I have to go now. "Ujarku.
__ADS_1
"Hmm.. okay Bye." Ujar Erica. Panggilan berakhir.
Flashback OFF