My Vampire Ceo

My Vampire Ceo
Episode 18 - Candlelight dinner (Revisi)


__ADS_3

Sore ini mereka bersiap untuk pergi keluar. Revon dengan setelan tuxedo hitam, sedangkan Rose memakai gaun merah gelap dan makeup bold. Semenjak melihat Rose dengan gaun merah itu, Revon terpesona dan wanita itu sangat cocok memakai warna itu.




Sekarang mereka sedang berada di dalam mobil. Selama perjalanan mereka hanya sesekali berbicara dan selanjutnya hanya ada keheningan yang nyaman.


Setelah perjalanan cukup lama Revon menghentikan mobilnya di restoran yang sangat bagus. Revon turun dari mobil dan membukakan pintu Rose.


Keduanya berjalan beriringan dengan tangan Revon yang berada di pinggang wanita itu. Setelah berada di dalam restoran, pelayan secara langsung mengenal Revon.


"Mr. Dent. Please follow me." Ujar pelayan lalu mengangguk dan berjalan ke suatu pintu. Revon menggiring Rose untuk mengikuti pelayan tadi.


Akan tetapi Rose sangat kaget dengan apa yang ada di balik pintu. Ruangan yang luas dengan barang-barang klasik didalamnya. Jendela yang tinggi menjulang.


Terdapat lampu gantung kristal di tengah ruangan dan di bawahnya ada meja kecil dan dua kursi berhadapan. Di tengah meja ada 3 lilin menyala, gelas dan peralatan makanan seperti di restoran lainnya.


Revon menggandeng tangan Rose menuju meja dan mempersilahkannya duduk. Lelaki itu memanggil pelayan dan meminta menu.


"Kamu sudah pilih menunya?" Ujar Revon.


"Mmm.. aku sama dengan yang kamu pesan saja." Ujar Rose sambil tersenyum.


"Alright. 2 of Coq au Vin, 1 of Ratatouille, and 2 Chocolate Mousse. Ah, and a bottle of Bourgogne Pinot Noir. Thanks." Ujar Revon kepada pelayan.


Lalu pelayan itu mengkonfirmasi pesanan dan pergi.


"So. What do you think about this place?" Ujar Revon dengan smirk dan menyandarkan punggungnya ke kursi.


Kedua tangannya dilipat ke depan dada dan pandangan matanya tertuju kepada wanita di hadapannya.


"Vintage and wonderful. Aku belum pernah ke restoran ini sebelumnya. Dan aku tidak menyangka kamu menyiapkan candlelight dinner ini dalam waktu singkat." Ujar Rose yang terlihat senang.


Tak lama kemudian pelayan datang mengantarkan sebotol Pinot Noir yang dipesan. Wine yang terbuat dari berbagai macam buah dan terasa manis.


Pelayan menawarkan untuk membuka botol wine tapi dengan cepat Revon menolak dan mengambil botol itu, lalu meminta pelayan meninggalkan mereka berdua.


Dengan mudahnya lelaki itu membuka botol wine dengan bantuan sendok ditangannya. Dia menuangkan ke gelas milik Rose baru kemudian menuangkan ke gelasnya sendiri.


Revon menyesap winenya dengan terus menatap Rose. Rose yang merasa gugup membuatnya meminum winenya dengan cepat hingga gelasnya kosong.


"It's seems you like this wine, right?" Ujar Revon dengan mencondongkan tubuhnya ke meja, menopang dagunya di satu tangannya.


"Ah, That's right." Ujar Rose dengan tersenyum dan wajah yang sedikit merah.


"Rileks, bae. I want you to enjoy this evening so much as i am. Ma rose bien-aimée." Ujar Revon dengan tatapan yang dalam dan tulus.


Mendengar ucapan lelaki itu, Rose merasa lebih rileks dan terpesona dengan semua perlakuan Revon.


Tak lama kemudian makanan yang dipesan datang dan mereka mulai menyantap makanannya. Keduanya sesekali berbicara mengenai kehidupan pribadi mereka, percintaan dan pekerjaan.


Pada saat Revon menanyakan keluarga Rose. Rose terlihat sedikit sedih, karena keluarganya sudah meninggal. Sebenarnya Revon sudah mengetahui semua tentang Rose, karena dia sudah memiliki berkas yang berisi semua hal tentang Rose.


Akan tetapi lelaki itu ingin mendengarnya langsung dari mulut wanita itu.


"Keluargaku meninggal dalam kecelakaan tunggal. Lalu kerabat tidak ada yang peduli denganku. Selama ini aku tinggal sendiri dengan harta peninggalan orang tuaku. Sampai suatu saat aku bertemu Wen, dia melihatku yang dulu sedang melakukan freelance model saat umur 15 tahun. Lalu dia sering memberiku pekerjaan model pengganti saat tiba-tiba model tidak bisa hadir. Akhirnya aku mengikuti seleksi model di agency kamu. Dan ternyata aku lolos dan bekerja sampai sekarang." Ujar Rose setelah selesai menghabiskan makanan utamanya.


Revon mendengarkan cerita wanita dihadapannya dengan intens hingga makanannya baru setengahnya habis. Revon memilih untuk tidak melanjutkan makanannya dan meminum habis wine digelasnya.


"Kamu hanya memakannya sedikit." Ujar Rose.


"Entah mengapa aku tidak ingin lanjut memakannya. But, i'm fine with that. Aku hanya ingin melihatmu makan dengan lahap." Ujar Revon dengan nada bercanda. Membuat Rose tertawa kecil.


"Ah, i know. Kamu ingin membuatku gemuk karena terlalu banyak makan? You are so evil." Ujar Rose sambil tersenyum dengan pandangan yang berbinar.


"Nah, trust me. You will still sexier than every woman in the world after eat all of this food. But, about the evilness. You are right about this one. Terkadang kamu harus menjadi jahat agar tidak tertindas atau bahkan terbunuh." Ujar Revon dengan nada becanda


namun tersirat kesedihan di akhir kalimat.


Rose tahu ada sesuatu yang telah terjadi, namun dia tidak ingin bertanya lebih dalam jika lelaki itu belum ingin bercerita.


"Tapi aku ingin kamu juga memakan Chocolate Moussenya, please honey." Ujar Rose tatapan memohon yang sukses membuat Revon tidak bisa menolak.


Saat Rose memakan dessertnya. Revon sama sekali tidak menyentuh dessert miliknya. Rose melihat dan saat ingin mengeluarkan protesnya lelaki di hadapannya berkata.


"Aku ingin memakan Chocolate Mousse yang saat ini kamu makan. Aku tidak ingin yang lain." Ujar Revon tersenyum manis dengan tatapan menggoda.


Rose menatapnya tajam sambil mengamati sekeliling. Ternyata dari tadi memang hanya mereka berdua di ruangan. Rose berpikir sejenak mengenai ucapan Revon.


Setelah beberapa detik dia terpikirkan ide, dia mengambil sesendok dessertnya dan berjalan ke arah Revon. Satu tangannya berada di pegangan kursi Revon sambil sedikit membungkukkan tubuhnya dan satu lagi mengarahkan sendok ke mulut lelaki itu.


Revon mengeluarkan smirknya dan menerima suapan wanita itu. Namun belum sempat Rose berdiri, lelaki itu menarik pinggangnya sehingga membuatnya duduk dipangkuan Revon.


Dalam sekejap Revon mencium bibir Rose dengan intens, tanpa sadar menjatuhkan sendok ditangannya. Perpaduan rasa chocolate mousse, wine dan bibir Revon terasa memabukkan bagi Rose.


Lelaki itu semakin memperdalam ciuman dan tangannya mulai menelusuri tubuh Rose dari balik gaunnya.


"Aahh.. Revon..." Ujar Rose dengan suara lirih.


Seakan tersadar lelaki itu mulai menghentikan ciumannya dan mengecup sudut bibir Rose. Revon melihat lipstik Rose yang berantakan dan gaun yang naik keatas sampai ke paha ulah dari tangannya.

__ADS_1


Rose sedikit tertawa saat melihat lipstik yang menempel di bibir Revon. Dia meraih tisu di meja dan membersihkan sisa lipstik di bibir Revon.


"Masih ada waktu sebelum kita melanjutkan kencan. Di sana ada kamar mandi yang bisa kamu pakai untuk merapikan diri. Aku akan menunggu di sini." Ujar Revon sambil menunjuk ke pintu di sisi kanannya.


Lalu Rose bangkit dan berjalan ke kamar mandi untuk merapikan diri.


Selang beberapa saat Rose kembali ke meja rupanya semua sudah di bereskan kecuali botol wine dan Revon sedang meminum gelas terakhir winenya.


Melihat wanita itu sudah kembali, Revon berdiri dan menggandeng Rose keluar menuju mobil. Wanita itu penasaran ke mana lagi Revon membawanya.


Kali ini perjalanan cukup lama dan menuju ke tempat yang lebih sepi. Sesekali wanita itu melirik ke arah Revon dan mendapat kedipan mata menggoda darinya.


Revon menghentikan mobil di tempat seperti tebing lalu dia membuka atap mobil. Saat Rose melihat ke sisi lain, pemandangan kota di malam hari dengan gemerlap lampu yang sangat menakjubkan.


Ditambah dengan langit yang cerah dan bintang yang terang semakin menambah keindahan. Rose melihat ke arah Revon yang semakin terlihat tampan dengan sinar bulan yang menerangi.


Tanpa sadar Rose merasa terlalu senang hingga menitikkan air mata. Revon yang merasa diperhatikan akhirnya menoleh ke samping dan melihat Rose yang menangis. Lelaki itu bingung kenapa Rose menangis.


"Hei. What's wrong? Tell me." Ujar Revon sambil mengusap air mata wanita itu.


Namun dia tetap menangis, secara refleks dia menarik Rose ke pangkuannya dan memeluk wanita itu.


Mencoba menenangkannya dengan kata-kata menenangkan. Setelah merasa cukup tenang Rose menatap Revon dan mengatakan.


"Aku hanya merasa terlalu senang. Ini benar-benar malam terindah bagiku. Aku sangat menikmati kencan ini. Thank you, honey." Ujar Rose dengan tersenyum.


"Anything for you, bae. Sepertinya sudah semakin larut dan anginnya cukup kencang. Lebih baik kita kembali sekarang sebelum kamu sakit." Ujar Revon dengan lembut lalu mengecup kening Rose.


Wanita itu kembali ke kursi penumpang dan Revon menutup atap mobilnya. Saat perjalanan Revon mulai merasakan sakit ditubuhnya perlahan kembali dia berusaha menahannya hingga mereka sampai di kediamannya.




Setelah menghentikan mobil di halaman. Revon melihat wanita disampingnya tertidur dengan pulas. Revon melepaskan jasnya dan menyelimutkannya ke tubuh Rose.



Pusing dikepalanya tiba-tiba datang dan membuatnya sejenak memejamkan mata. Terdengar suara ketukan dijendela mobil, dengan malas Revon membuka mata dan melihat Robert di sana.



Dia membuka jendela dan Robert langsung menyerahkan ramuan yang ada di cangkir kepada Revon. Revon mengambilnya dan meminumnya sampai habis.



Lalu melambaikan tangan sebagai isyarat Robert agar pergi meninggalkannya.




Mengambil jasnya dan menutupi tubuh Rose dengan selimut. Karena Revon belum mengantuk, dia mencari sebuah buku di lemari buku kamarnya.



Buku itu dari clan vampir murni pertama yang dia temukan saat abad pertengahan. Setelah mencarinya dengan teliti, dia menemukan buku itu.



Mungkin saja didalamnya terdapat petunjuk untuk mempercepat pemulihan dirinya. Dia khawatir tidak bisa menjaga Rose sementara kekuatannya belum pulih.



Sambil berjalan ke balkon kamar dia membawa buku dan segelas wine ditangannya. Menyandarkan punggungnya ke pembatas balkon, lalu mulai membaca buku di tangan kirinya sambil sesekali menyesap wine di tangan kanannya.



Tidak terasa 1 jam berlalu dan Rose terbangun karena tidak merasakan kehadiran Revon disampingnya.



Wanita itu melihat Revon di balkon sedang asik membaca buku. Setelah membersihkan makeup dan menyisir rambut, dia menghampiri Revon.



"Buku apa itu?" Ujar Rose.



"Ah, Apa kamu terbangun karena aku?" Ujar Revon sambil menurunkan bukunya. Lelaki itu berusaha menyembunyikan buku yang dia bawa di balik punggungnya.



"Revon, buku apa itu? Tidak seperti buku yang biasanya. " tanya Rose lagi.



"Ini hanya buku tentang bisnis, tidak ada yang menarik. Okay, lebih baik kita tidur sekarang." bujuk Revon.


__ADS_1


"Coba sini, aku ingin lihat beberapa halaman saja." pinta Rose.



Revon menggeleng dan pergi mengembalikan buku ke lemari. Lalu dia menaruh gelas wine di meja. Rose masuk dan menutup pintu balkon. Dia menghampiri Revon yang sedang mencuci muka di kamar mandi menunggunya selesai sambil berpikir.



"Ada apa denganmu? Kamu aneh." Ujar Rose yang sukses membuat Revon sedikit panik.



Akan tetapi lelaki itu berhasil mengontrol dirinya dan kembali tenang. Revon menarik lengan wanita itu mendekat dan mendudukannya di wastafel. Lalu dia mengunci pergerakan Rose dengan mencium bibirnya.



Sekejap wanita itu lupa akan semuanya dan hanya fokus kepada rasa manis bibir Revon setelah meminum wine. Ciuman semakin intens dan keduanya saling merapatkan tubuh mereka.



Rose menghentikan ciumannya dan membuka satu persatu kancing kemeja Revon.



Setelah berhasil melepas kemejanya dari tubuh lelaki itu, Rose melihat keseluruhan tubuh lelaki itu. Rose menyentuhkan jari-jarinya ke tubuh Revon dengan lembut, lalu dia menatap mata Revon dan berkata.



"Aku ingin mandi bersama dan memakai shower." Ujar Rose dengan wajah ceria dan mata berbinar.



Membuat Revon terkekeh melihat ekspresi Rose. Lelaki itu beranjak menyalakan shower air hangat. Sambil menunggu airnya ke temperature yang pas, Revon menurunkan Rose dan membantunya membuka seluruh pakaiannya.



Setelah mengecek temperature air, Rose masuk ke kabin shower dan disusul Revon. Wanita itu mencium bibir Revon. Lelaki itu mengangkat tubuh Rose dan memojokkannya ke dinding.



Tanpa membuang waktu Revon segera memasukkan miliknya ke area sensitif Rose, membuat wanita itu sedikit kaget. Tersadar Revon berhenti sejenak.



"Is it hurt?" Ujar Revon dengan nafas yang masih tak beraturan.



"No. It's just... feel right. And make me feel excited." Ujar Rose.



"Just tell me if it start hurt. Okay?" Ujar Revon dengan suara serak.



"Sure. I will tell you." Ujar Rose dengan tersenyum. Rose mencium bibir Revon dengan penuh hasrat.



Revon kembali melanjutkan aksinya. Rose menutup matanya dan mendongakkan kepalanya ke atas, merasakan kenikmatan yang luar biasa. Revon memberi kissmark di leher wanita itu



Rose yang merasa akan sampai puncaknya, mencengkram bahu Revon. Tanpa sadar Revon menggigit leher wanita itu dan meminum darahnya.



"Aahh... Revon..." Ujar Rose sambil menutup mata dan nafas yang memburu.



Setelah keduanya menormalkan nafas mereka, Revon menurunkan tubuh Rose dan mulai membersihkan tubuh wanita itu. Mengusapkan shampo di rambut dan sabun di tubuh Rose.



Rose yang masih sedikit lemas menumpuhkan tubuhnya ke Revon. Setelah selesai membersihkan Rose, lelaki itu lebih dulu mengeringkan Rose dan memakaikan bathrob di tubuhnya.



"Kamu duduk di sini saja. Aku akan bersih-bersih sebentar." Ujar Revon sambil mencium kening Rose.



Wanita itu sempat ingin membantah tapi tidak jadi karena mendapat tatapan tajam dari Revon.



Setelah menunggu beberapa menit Revon selesai mandi dan mengeringkan diri lalu memakai bathrob. Rose terlihat lelah dan mengantuk.


__ADS_1


Lelaki itu pun menggendong Rose ke ranjang dan menyelimutinya, kemudian Revon ikut berbaring memeluk wanita itu dari belakang. Seketika mereka pun terlelap.


__ADS_2