My Vampire Ceo

My Vampire Ceo
Episode 20 - Asking for apologize


__ADS_3

Pagi hari Rose bangun terlebih dulu. Akan tetapi wanita itu terlihat berbeda. Dia seperti masih marah dan cenderung tidak menghiraukan Revon.


Seperti saat sarapan, Revon yang baru turun ke ruang makan berhenti di samping kursi Rose untuk memberi kecupan di pipinya.


Tapi wanita itu menjauhkan wajahnya tepat sebelum bibirnya menempel di pipi Rose. Lelaki itu mengambil duduk di samping Rose dan meminta kopi kepada pelayan.


"Bae. Are you still mad at me?" Ujar Revon dengan lembut.


"Mhmm" Ujar Rose.


"Okay, katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkanku." Ujar Revon.


"Just tell me the truth. Kemarin kamu kemana?" Ujar Rose sambil memotong pancakenya.


"Ah. Alright. I just followed you. Aku khawatir denganmu jadi aku mengikuti kamu ke taman bermain." Ujar Revon dengan hati-hati sambil melihat respon Rose.


"Kamu mengikutiku? Kenapa kamu tidak menemuiku saja?" Ujar Rose dengan bingung.


"Aku memiliki sedikit masalah dengan seseorang yang bekerja disana. Aku tidak bisa memperburuk masalah apalagi saat bersama kamu." Ujar Revon.


"Lalu kenapa kamu tidak pulang disaat yang sama denganku? Apa terjadi sesuatu kepadamu?" Ujar Rose.


"Yeah. Hanya sedikit masalah saja. Jadi sekarang kamu sudah tidak marah, bukan?" Ujar Revon.


"I don't know." Ujar Rose dengan mengangkat kedua tangan.


Melihat itu Revon berinisiatif untuk membujuk Rose dengan mengajaknya kencan nanti malam.


"How about we have some our time together? More intimate. Just you and me." Ujar Revon yang sukses membuat Rose berhenti makan dan menatap lelaki di sampingnya.


"Aku punya villa di suatu tempat yang sejuk, tenang, dan tempatnya aman." Ujar Revon dengan smirknya.


"Alright. That's sounds good. Kapan kita akan pergi?" Ujar Rose dengan tenang, agar tidak terdengar sangat tertarik.


"Nanti sore, akan membutuhkan cukup waktu lama untuk ke sana. Tapi kamu tidak perlu berkemas sekarang, aku akan menyuruh orang untuk mengirim barang-barang yang kamu butuhkan nantinya." Ujar Revon lalu mengecup pipi Rose.


"Ah iya. Apa kamu masih ingin memakan chocolate moussenya bersama?" Ujar Revon dengan tatapan menggoda.


"Yes, let's eat." Ujar Rose dengan semangat.


"Hey. Bukannya kamu sudah sarapan?" Ujar Revon dengan tertawa.


"Aku baru memakan pancakenya sedikit. Sekarang aku hanya ingin chocolate mousse." Ujar Rose dengan tatapan tanpa bersalah.


Revon yang melihat itu merasa gemas. Akhirnya mereka kembali ke kamar untuk memakan dessert itu.


Saat di kamar, Rose sudah mengambil chocolate mousse itu. Dan menyuapkan sendok pertama ke mulutnya. Revon yang duduk di sampingnya merebut sendoknya dan menyuapkan dessert itu ke mulutnya juga.


"Tapi menurutku lebih enak chocolate mousse di restoran kita kencan." Ujar Revon dengan satu alis terangkat.


"Iya itu karena kamu memakannya sambil menciumku." Ujar Rose tanpa sadar.


Lalu setelah memikirkan kata-katanya membuat wajahnya memerah seketika.


"Really? I don't think so." Ujar Revon dengan tenang.


Rose yang merasa tidak terima akhirnya berencana melakukan hal yang sama saat di restoran itu.


Wanita itu menyuapkan chocolate mousse ke mulutnya lalu menarik wajah Revon dan mencium bibirnya. Awalnya Revon kaget, namun dengan cepat dia mengikuti alur permainan wanita itu.


Dengan mudah Revon mengubah posisi sehingga Rose berada di pangkuannya. Ciuman mereka semakin intens dan membuat adrenalin keduanya terpacu.


Tangan Revon mulai menyentuh seluruh tubuh Rose membuat wanita itu mendesah lirih. Ciuman berhenti sejenak saat Revon melepas kaos putih yang wanita itu kenakan.


Bibir Revon mengecup rahang Rose, tanpa sadar wanita itu semakin memberi akses Revon dengan mengikat rambutnya asal lalu mendongakkan kepalanya.


Tanpa berlama-lama lelaki itu memberikan kecupan disertai gigitan kecil ke leher hingga dada Rose.


Akan tetapi tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu kamar. Selama beberapa detik Revon tidak menghiraukannya sehingga Rose berinisiatif mendorong lelaki itu agar tercipta jarak antara mereka.


"Kamu buka pintu dulu. Mungkin ada sesuatu yang penting." Ujar Rose sambil menormalkan nafasnya.


Revon yang masih tidak ingin beranjak, menyatukan keningnya dengan kening Rose. Kemudian lelaki itu berdiri untuk membukakan pintu.

__ADS_1


"What?!" Ujar Revon dengan nada tidak sabar.


"Maaf, Boss. Ada beberapa dokumen yang perlu tanda tangan anda segera." Ujar Robert dengan tidak enak hati.


Lalu Revon mengambil dokumen yang diserahkan Robert. Membacanya dan meneliti isinya, setelah itu memberikan tanda tangan disetiap lembar dokumen.


"Semua sudah aku tanda tangani. Ada yang lain?" Ujar Revon dengan melipat kedua tangan didepan.


"Tidak ada, Boss. kalau begitu saya permisi. " Ujar Robert yang dibalas anggukan oleh Revon.


Saat kembali ke dalam kamar, Revon melihat wanita itu masih duduk di sofa sambil memakan chocolate mousse.


Lelaki itu duduk di samping Rose dan meminta untuk disuapi dessert itu. Setelah menghabiskan dessertnya mereka memutuskan untuk bersiap-siap pergi ke villa.


Matahari sudah berada tepat diatas kepala, menandakan hari sudah siang. Revon yang sudah siap dengan pakaian casualnya menunggu Rose di sofa depan televisi sambil membaca Buku "The Destiny Of Vampire" miliknya.


Selang beberapa menit Rose menghampiri Revon. Wanita itu memakai pakaian yang simple dan nyaman.




"I'm ready, hon. Aku ingin tau di villa ada apa saja? Coba ceritakan sedikit." Ujar Rose saat mendekat ke arah Revon. Lalu duduk dan memeluk pinggang lelaki itu.


"Nah. This is surprise. So i'll be keep quite." Ujar Revon dengan smirknya.


"Just give me a clue. Apa tempatnya di dalam hutan yang banyak binatang buas?" Ujar Rose dengan tatapan tanya.


"Bae, i will never put you in dangerous place like that. Just trust me." Ujar Revon sambil menutup bukunya dan memberi perhatian penuh kepada Rose.


Kemudian lelaki itu berdiri dan mengajak Rose berdiri lalu mereka berjalan bersama-sama keluar rumah.


Di luar rumah Mr. Pont sudah siap dan memberi kunci mobil kepada Revon. Revon meminta Rose masuk terlebih dulu ke mobil sementara dia perlu berbicara sedikit dengan Robert.


Revon mengatakan kepada Robert untuk tidak diganggu selama dia dan Rose berlibur dan mengurus semua kerjaan selama dia pergi.


Setelah itu dia masuk ke mobil dan mulai melajukan mobil sportnya. Selama perjalanan Rose melihat pemandangan pohon-pohon hijau dan terlihat segar.


Revon berhenti untuk mengisi bahan bakar mobil sekalian memberi waktu Rose untuk istirahat dan membeli beberapa snack dan keperluannya.


"Kamu ingin sesuatu? Aku ingin membeli beberapa makanan." Ujar Rose sambil menyisir rambut Revon yang berantakan.


"Nah. I'm okay." Ujar Revon dengan tersenyum.


"Alright. Wait a minute." Ujar Rose.


"No, we will go together. After this, okay?" Ujar Revon.


"Why? " Ujar Rose yang heran.


"Just make sure you are safe. Dan aku tidak ingin wanitaku yang cantik diganggu oleh lelaki lain." Ujar Revon dengan tersenyum manis lalu mengecup pipi Rose.


Wanita itu tertawa mendengar ucapan Revon dan memilih untuk menurutinya.


Selang beberapa menit Revon selesai mengisi bahan bakar lalu mengajak Rose ke minimarket yang ada di stasiun pengisian bahan bakar itu.


Sesampainya di sana, Rose membeli snack, roti dan minuman dingin lalu kembali ke mobil bersama Revon.


"Kamu mau roti?" Ujar Rose sambil membuka roti isinya.


"Kamu makan dulu saja. Aku hanya ingin mencoba sedikit." Ujar Revon sambil menyetir mobil.


"Alright. Aku sudah memakannya. Sekarang buka mulutmu." Ujar Rose setelah memakan satu gigitan rotinya. Lelaki itu menerima suapan Rose dengan senang hati.


Selama perjalanan mereka saling mengobrol hingga tidak terasa sudah sampai di tujuan. Terdapat seorang lelaki berpakaian rapi menyambut di depan villa.


"Welcome, Mr. Dent and Mrs. Dent." Ujar lelaki itu.


"Thank you Mr. Thomas. Apakah semua sudah siap?" Ujar Revon. Sementara itu di sisi lain, Rose merasa bingung karena lelaki tadi tidak menyebut namanya melainkan menyebutnya Mrs. Dent.


"Yes Mr. Dent. Saya sudah menyiapkan semua sesuai perintah anda. Selamat menikmati liburan anda." Ujar lelaki itu yang dibalas dengan senyuman oleh Revon.


Setelah lelaki itu pergi, Revon menggiringku untuk masuk kedalam villa. Memang ini villa yang luas dan berada di hutan. Tapi villa ini tidak terlihat menakutkan sama sekali.

__ADS_1


Bangunan modern dengan pencahayaan yang cukup. Ketika masuk ke ruang tamu, Revon menghentikan langkahku.


"Wait. Aku ingin kamu menutup mata dengan kain ini. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepadamu tapi kamu harus tutup mata dulu." Ujar Revon yang mengambil kain hitam panjang dari kantong mantelnya.


"Mmm.. Apa ini sesuatu yang sangat spesial?" Ujar Rose sambil berkacak pinggang.


"Ssstt. Aku akan memakaikan kainnya sekarang." Ujar Revon sambil mendekat dan mulai memasangkan kain penutup mata ke Rose.


Lalu perlahan Revon menuntun Rose ke area halaman belakang villa. Perlahan terdengar suara gemercik air yang terasa menenangkan.


Rose dapat merasakan bahwa Revon membawanya ke tempat yang terbuka dan udara sejuk langsung menyambutnya.


"Aku akan membuka kain penutup matanya pada hitungan ke-3. 1...2...3..." Ujar Revon lalu membuka kain penutup mata wanita itu.


Beberapa kali Rose mengerjapkan mata sambil menyesuaikan penglihatannya. Suara gemercik air terdengar jelas dan ternyata dihadapannya ada air terjun yang jernih dengan pohon-pohon yang menghiasi sekitarnya.


Rose sedikit mendekat ke air terjun dan merasakan percikan-percikan air yang segar. Wanita itu merasa senang dan senyumannya semakin sumringah. Revon yang berada di belakangnya turut merasa senang melihat reaksi Rose.


"This is amazing, hon. Aku bisa bermain kesini sepuasnya. Airnya sangat jernih dan segar. " Ujar Rose sambil menatap Revon dengan gembira.


Saat Rose melangkahkan kaki ke sebuah batu, tiba-tiba dia terpeleset karena batu yang licin. Dengan cepat Revon meraih pinggang Rose dan menariknya kedalam pelukannya. Rose menahan nafas dan menutup mata karena mengira dia akan terjatuh ke air.


"Rose, don't hold your breath. You are safe with me." Ujar Revon yang melihat wajah Rose. Lelaki itu mengusap pipi Rose dan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya. Refleks wanita itu membuka mata dan kembali bernafas.


"Udaranya mulai dingin, ayo kita masuk ke dalam. Aku akan membuatkan kamu coklat panas." Ujar Revon dengan senyuman hangat lalu membantu Rose melangkah agar tidak terjatuh.


Mereka pun masuk ke dalam. Rose yang masih ingin melihat-lihat ruangan memutuskan untuk berkeliling sebentar. Sementara Revon membuat coklat panas dan menyimpan beberapa snack yang tadi mereka bawa.


Ketika berkeliling villa, Rose melihat satu ruangan di ujung koridor yang memilki pintu berwarna coklat dengan ukiran yang indah. Ruangan itu menarik perhatian Rose sehingga dia beranjak untuk membuka pintunya.


Akan tetapi ternyata pintunya terkunci. Revon yang membawa coklat panas melewati koridor dan melihat Rose yang ingin membuka ruangan di ujung koridor.


"There you are. Kamu ingin melihat apa yang ada di balik pintu ini?" Ujar Revon sambil menyesap coklat miliknya di gelas.


Rose yang melihat lelaki itu menyodorkan coklat di cangkir lain pun menerimanya dengan senang hati.


"Yeah. Aku penasaran apa yang ada di dalamnya sehingga kamu menguncinya. Apa ini semacam ruangan rahasia?" Ujar Rose yang menyenderkan tubuhnya ke pintu.


"Nah. Ini hanya ruangan koleksi barang-barang yang menjadi legenda. Karena aku yang menemukan dan membeli barang-barang ini dengan harga yang sepadan jadi aku tidak bisa sembarangan mengizinkan orang masuk. Selama ini hanya Mr. Thomas yang aku izinkan masuk dan juga merawat barang-barangnya. Tapi kalau kamu ingin masuk, aku mengizinkanmu Roseline Dent." Ujar Revon dengan smirk.


"Roseline Dent?" Ujar Rose dengan wajah memerah dan menahan senyum.


"Yes. It's suit you. Dengan memakai nama belakangku kamu bisa lebih leluasa mengunjungi ruangan ini. Sekarang coba buka pintunya." Ujar Revon yang telah menghabiskan coklatnya.


Rose merasa bingung karena lelaki itu tidak memberi kunci untuk membuka pintu. Tapi Rose tetap mencobanya. Terdengar bunyi 'klik' dan pintu terbuka. Rose masuk ke dalam ruangan dan sangat takjub melihat apa yang ada di dalamnya.


Beberapa barang yang terlihat klasik tertata rapi di meja dan lemari kaca. Ada satu barang yang sangat terlihat spesial dan menarik perhatian.


Di tengah ruangan terdapat kotak kaca yang terbuat dari kayu dengan ukiran yang rumit dan dihiasi batu permata. Sedangkan di dalam kotak itu terdapat sebuah pedang yang berwarna perak berkilau.


Sementara di pegangan pedang berwarna hitam dengan ukiran yang rumit dan tertera tulisan yang tidak dia mengerti.



"A gorgeous sword. Apa legenda dari pedang ini?" Ujar Rose sambil terus mengamati pedang itu.


"Sword of The Darkness Prince. Aku membelinya dari satu keluarga jauh kerajaan pada abad pertengahan. Mereka mengatakan pedang ini tidak boleh disentuh oleh siapapun karena ini milik Sang Pangeran Kegelapan. Akhirnya aku memindahkanya dengan kotaknya sekalian." Ujar Revon.


"Jadi belum ada yang menyentuh pedangnya sekalipun kamu? Apa kamu percaya dengan apa yang keluarga itu katakan?" Ujar Rose dengan raut tidak percaya.


"Believe it or not. Itu tetaplah suatu kepercayaan menurut mereka. Aku hanya menghormati kepercayaan mereka. Lagipula aku tidak ada niat untuk memakai pedang ini." Ujar Revon dengan mengangkat bahu.


"To be honest. I want to touch it. Aku ingin tahu apakah itu ringan saat digenggam atau bahkan sangat berat." Ujar Rose.


"No, you can't do that. Dari yang aku lihat pedang ini pasti cukup berat dan kamu tidak bisa mengangkatnya. Aku juga tidak akan memperbolehkan kamu mengangkatnya. Ini bukan barang yang aman untuk kamu, bisa saja kamu tergores atau bahkan lebih buruk. So, don't ever try about it. " Ujar Revon dengan serius sambil menatap lekat mata Rose.


"Alright. I will not." Ujar Rose. Lalu rasa kantuk mulai muncul sehingga dia menguap.


"It's time to sleep. Kemarilah." Ujar Revon sambil mengambil cangkir dari tangan Rose lalu meletakkannya di meja kosong. Saat Rose mendekat, tiba-tiba dia merasa tubuhnya terangkat.


Rupanya lelaki itu menggendongnya pergi ke kamar yang ada di lantai 2. Rose menikmati perlakuan Revon dan memilih untuk memejamkan mata.


Lelaki itu membaringkan Rose di ranjang dan menyelimutinya. Sementara Revon melepas mantelnya dan kemudian menyusul Rose berbaring di ranjang. Selama beberapa detik Revon mengelus rambut wanita itu sebelum kegelapan menyambutnya.

__ADS_1


__ADS_2