My Vampire Ceo

My Vampire Ceo
Episode 13 - Finding a witch


__ADS_3

Revon POV


Aku harus melihat kondisi Rose secara langsung. Saat dokter berbicara mengenai kondisi Rose, tanpa mendengarkan larangan dokter aku segera masuk ke ruang ICU. Dua perawat yang di dalam aku usir keluar lalu mengunci pintu ruang ICU dari dalam.


Suara dari peralatan yang ada di ruangan ini sangat menganggu indra pendengarku. Saat aku melihat wanita yang baru beberapa menit lalu bertemu denganku, sekarang hanya diam terbaring di ranjang itu. Dadaku terasa sesak dan nafasku tercekat.


Perban melilit di kepalanya dan di kakinya. Terpasang juga alat bantu bernafas dan infus. Saat aku menggunakan kekuatanku untuk melihat seberapa parah luka yang ada ditubuhnya, pendarahan otak yang parah, tulang rusuk yang patah dan mendekat ke arah jantung, selain itu kaki kanan dan tangan kanannya patah.


Sial. Ini sangat parah. Jika aku menggunakan kekuatanku untuk menyembuhkannya aku tidak tahu apa itu cukup. Aku tidak peduli kalau harus mengorbankan nyawaku untuk bisa menolongnya. Sebelum itu aku butuh seseorang yang bisa menjadi penggantiku ketika kekuatanku tidak bisa menyembuhkannya.


Penyihir, seorang penyihir lebih baik dari pada werewolf atau vampir lain. Tapi siapa penyihir itu? Ah, Seingatku aku pernah menolong seorang penyihir yang memiliki aura yang cukup kuat. Aku hanya mengingat wajahnya dan tempat saat bertemu, tanpa mengetahui namanya. Aku harus mencarinya.


Saat aku keluar ICU Robert sedang berdiri di sisi pintu. Aku memintanya untuk tetap berjaga disini dan hanya dokter yang boleh masuk.


Setelah itu aku beranjak pergi ke tempat yang aku ingat saat bertemu penyihir itu. Kota yang ramai ketika malam, ya karena tempat itu dekat dengan club malam yang terkenal. Aku harap penyihir itu masih berada disekitar sana.


Rencanaku pertama adalah mencarinya di club. Mengamati wajah mereka yang ada di club. Setelah itu baru mencari ke sekitar kota ini. Rose, aku mohon bertahanlah. Gemerlap lampu di club mulai terlihat, aku memarkirkan mobil di sudut. Sudah kuduga club ramai seperti perkiraanku.


Aku memesan vodka dan duduk di salah satu meja di sudut ruangan. Penerangan yang temaram di tempatku sangat cocok sebagai tempat mengamati. Aku masih belum melepas kacamataku, karena aku tidak mau menarik perhatian sekecil apapun.


Aroma vampir dan serigala telah terdeteksi, tapi penyihir mampu menutupi aromanya. Akan sulit untuk mengetahui keberadaan penyihir disini. Pelayan mengantar minumanku ke meja. Sedikit - sedikit aku menyesap vodka ini dan menyesapi sensasinya di tenggorokanku.


Tiba - tiba terdengar ribut dari area dansa. Seorang serigala pria menyerang vampir pria. Mereka saling memukul, menendang dan berteriak untuk menjauh dari seorang wanita. Saat aku mengamati adegan berkelahi mereka, aku melihat wajah yang pernah kulihat.


Tapi bukankah dia dulu seorang pria? Apa bukan dia? Tanpa sengaja dia bertemu dengan tatapanku dan tersenyum dengan lembut. Wanita ramping dengan kulit sawo matang, pupil coklat keemasan dan rambut blonde sebahu.


Dia berjalan menghampiriku sambil membawa segelas wine dari meja terdekatnya. Karena aku belum yakin kalau dia penyihir yang waktu itu, aku hanya diam tanpa ekpresi di hadapannya.

__ADS_1


"Hai." Ujar wanita itu saat tepat di hadapanku. Aku tidak menjawab sapaannya dan hanya menatap tidak tertarik.


"Kamu sedang mencari seseorang bukan?" Tanya wanita itu sambil duduk mendekat kearahku.


Bagaimana dia bisa tahu? Apa dia penyihir yang pernah aku tolong? Atau hanya penyihir lain? Sial. Aku tidak mencium aroma penyihir sedikitpun padanya. Yang jelas dia bukan manusia tapi bukan juga vampir atau serigala.


"Lebih tepatnya mencari seseorang untuk menagih balas budinya." Jawabku dengan suara datar.


Wanita itu menatapku dan menaikkan satu alisnya. Saat mengedarkan pandanganku, aku melihat dua pria yang berkelahi tadi melihat kearahku dengan kesal dan berjalan ke mejaku.


"Selesaikan urusanmu dulu. Aku tidak ingin terlibat dalam masalah tidak penting." Ujarku lalu menyesap vodkaku.


Wanita itu mengeluarkan smirk nya dan meletakkan gelas wine di meja. Secara tiba - tiba dia duduk di pangkuanku dan menempelkan bibirnya ke bibirku.


Gelas vodka yang tadinya ada di tanganku terlepas dari genggamanku, menumpahkan cairan vodka ke pakaianku lalu gelasnya jatuh ke lantai. Dua pria yang menyaksikan itu, menarik lenganku dan mendorongku ke meja sebrang. Hah, you dare to touch me!


Dengan jentikan jari aku melemparnya keluar dan membuat lubang besar di dinding. Dia hanya vampir biasa jadi itu cukup membuatnya tidak sadarkan diri. Pria serigala itu mulai merubah wujudnya dan menyerangku.


Sebelum cakarnya menyentuh wajahku, aku memakai telekinesis untuk meremas jantungnya. Terdengar suara erangan menyakitkan dari serigala coklat itu. Sebenarnya aku tidak ingin membuat masalah dengan klan serigala.


Saat ini pasti ada yang melihat kejadian ini dan melaporkan ke klannya. Aku menghentikan siksaanku dan melihat sekeliling club untuk menemukan wanita tadi. Dan dia masih ditempat yang sama tadi sambil meminum wine seolah sedang menikmati pertunjukan. Brengs*k.


Aku menyeretnya masuk kedalam mobilku lalu pergi dari club. Setelah sampai di tempat sepi, aku mematikan mesin dan menatap wanita itu.


"Katakan! siapa kamu? Melihat dari apa yang sudah kamu lakukan kepadaku, mungkin hari ini adalah hari terakhir kamu hidup." Ujarku sambil menatap tajam matanya.


"Aku ingin keluar dari mobil dulu. Udaranya sangat sejuk di luar." Ujar wanita itu lalu keluar dari mobil. Mau tidak mau aku ikut keluar mobil.

__ADS_1


"Kamu mencari orang untuk menagih balas budi, kan? Bagaimana kalau kamu sudah menemukan orangnya, dan tepat di hadapanmu." Ujar wanita itu sambil tersenyum.


Aku tidak percaya dan dalam hitungan detik tanganku mencengram lehernya dan menghantamkannya ke cap mobil. Moodku benar - benar buruk.


"Don't you dare to play with me, bit*h. Tell me the truth." Ujarku dengan rahang yang mengatup dan menatap tajam wanita itu. Dia berusaha lepas namun tetap tidak bisa. Dengan suara yang putus - putus dia menjawab.


"I tell you the truth. Damn" Ujar wanita itu. Aku melepaskan cengkraman tanganku dan mundur beberapa langkah. Dia berusaha menormalkan bernapasnya sambil terbatuk - batuk.


"Penyihir yang aku tolong itu seorang pria. Bukan wanita." Ujarku dengan menaikkan satu alis.


Dia menghembuskan nafas lalu dia berubah menjadi seorang pria yang pernah aku tolong. Ternyata dia penyihir itu dan dia bisa mengubah wujudnya.


"Ah, i see. Tapi kenapa aku tidak mencium aroma penyihir dari tubuhmu? Dan yang mana dirimu sebenarnya?" tanyaku dengan melipat tangan.


"Aku sebenarnya seorang wanita. Dan untuk aroma, aku memanipulasinya sehingga tidak tercium. Aku ingin bersenang - senang tanpa ada orang yang tau identitasku. Well, apa yang harus aku lakukan untuk membalas budi?" Ujar wanita itu.


"Aku lihat kamu penyihir yang cukup mahir. Kamu bisa sihir penyembuhan?" Tanyaku.


"Yes, i can. Tapi itu membutuhkan beberapa bahan untuk membuat sihirnya sempurna." Ujar wanita itu sambil terlihat berpikir.


"Aku hanya akan membutuhkanmu saat aku sudah tidak bisa melakukannya sendiri. Seseorang sedang mengalami luka yang parah, dan aku kurang yakin kalau aku bisa menyembuhkannya dengan kekuatanku sendiri." Ujarku.


"Whoa. Kamu vampir murni. Aku rasa kamu bisa melakukan penyembuhan itu. Ah, apa kamu sudah pernah melakukannya kepada manusia? Karena kalau sudah pernah maka akan sulit untuk bisa sesempurna sebelumnya. Penyembuhan manusia lebih membutuhkan banyak tenaga." Ujar wanita itu.


"Yeah, that's it. That is the reason. Dan aku tidak bisa mempercayai orang seenaknya. Karena kamu adalah orang yang pernah aku tolong, maka aku bisa dengan mudah membunuhmu karena ada sebagian kekuatanku dan darahku di tubuhmu. Dengan 2 hal itu aku bisa membunuhmu dari dalam dengan telekinesis." Ujarku dengan smirk.


"I guess i dont have a choice either." Ujar wanita itu sambil mengangkat tangan tanda menyerah.

__ADS_1


"We should go then." Ujarku dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Aku menyalakan mobil dan pergi ke rumah sakit. Roseline, wait for me.


__ADS_2