My Vampire Ceo

My Vampire Ceo
Episode 8 - Something bad


__ADS_3

11.20 AM - Ruang kantor manager project


Revon POV


Sebenarnya urusanku dengan manager project ini tidak terlalu penting. Biasanya akan ada staff yang mengurusnya, karena aku hanya perlu laporan dari mereka. Hanya demi berada dekat dengan wanita itu aku melakukan hal ini.


Yah, wajar manager project sangat kaget namun seketika senang karena bisa bertemu denganku secara langsung. Dan sekarang dia sibuk menjelaskan kepadaku tentang project - project yang di tangani saat ini. Tiba - tiba terdengar suara ketukan pintu.


Saat asistennya membuka pintu, didekatnya Rose sedang berdiri. Aku sangat lega bisa melihatnya. But, it's seem something bad happened!!


"Sorry for interrupted. Ms. Rose ingin bertemu dengan Mr. Revon." Ujar asisten itu.


"Kalau begitu saya pamit pergi dulu." Jawabku dan bergegas pergi. Saat kami sudah cukup jauh dari keramaian, Rose berbalik dan menatapku dengan penuh amarah.


"CEO Firstin Entertainment, Revonelle Dent. Apa kau sudah tahu ada trending topic apa hari ini?" Ujar Rose dengan nada sarkas.


"Jadi kamu sudah tahu siapa diriku. Dan ada trending topic apa memangnya?" Jawabku dengan menaikkan satu alis.


"Lihat dan baca! Aku ingin kamu menyelesaikan semua masalah ini, pasti sekarang sudah viral di seluruh kota. Aku tidak mau reputasiku sebagai model menjadi buruk." Jawab Rose dengan kesal sambil menyodorkan ponselnya. Saat aku membaca headlinenya, Wtf!?


"ROSELINE MINT TERLIHAT DI HOTEL BERSAMA CEO FIRSTINE ENTERTAINMENT REVONELLE DENT. APAKAH MEREKA SEDANG DATING? ATAU HANYA HUBUNGAN KHUSUS SEPERTI FRIEND WITH BENEFIT?"


Mengapa masih bisa muncul berita seperti ini. Robert!! Apa yang kamu kerjakan sebenarnya. Lalu tiba - tiba ponsel Rose bergetar, tanda ada notif dari sosial medianya.


Dan benar saja banyak sekali orang - orang yang mengirim pesan.


"Jadi bagaimana? Beruntung nomor ponselku tidak banyak yang tahu. Hanya beberapa teman dan orang terdekat saja, kalau saja semua orang tahu...."Ujar Rose.


"Calm down, bae. Aku akan membereskan semua ini. Sementara kamu harus tinggal bersamaku." Jelasku.


"What? Itu akan semakin memperkuat kebenaran berita itu. Aku tidak mau tinggal bersamamu." Ujar Rose.


"Rose, aku tidak tahu berapa banyak orang yang tidak suka denganku. Mereka bisa memanfaatkan ini untuk melawanku. Aku tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi padamu." Jelasku kepada Rose.


"Selesaikan dulu masalah ini. Jam istirahat sudah selesai. Aku harus pergi." Ujar Rose dengan wajah dingin lalu pergi meninggalkanku.


Seketika itu aku menghubungi Robert dan menyuruhnya bertemu di kantor. Karena tempatku sekarang lebih dekat dengan kantorku dari pada rumahku.


Aku memesan taksi, namun sebelum pergi aku berbicara dengan Wen untuk selalu berada di dekat Rose. Selain itu aku juga memintanya untuk menghubungiku bila terjadi sesuatu.


Setelah sampai kantor, aku melihat Robert sudah menunggu didekat pintu masuk menuju ruang kerja di kantorku. Aku mengisyaratkannya untuk ikut masuk bersamaku.


Saat di dalam, aku membuang jas dan dasi yang melekat di tubuhku. Amarahku harus kutahan, selesaikan masalahnya dulu, pikirku.


"Robert. Jelaskan mengapa masih ada media yang membuat berita itu. Kamu sudah mendengar perintahku tadi pagi bukan?" Ujarku dengan wajah datar sambil duduk di sofa.


"Boss. Saya sudah memperingatkan semua media untuk tidak membuat berita apapun mengenai anda dan nona. Dan saya tahu bahwa mereka semua tidak berani untuk melanggar peringatan dari anda." Jawab Robert dengan cemas dan takut.


Dia sudah melihat jelas kalau tuannya sedang menahan amarah.


"Selidiki penyebab berita itu bisa menyebar. Dan tarik semua beritanya. Setelah semua berita ditarik, bunuh semua yang turut campur pada kejadian ini." Ujar Revon.


"Baik Boss. Saya pergi dulu." Ujar Roberr.


"Ingat urusan kita belum selesai, Robert."


Robert menelan ludahnya dengan susah payah.


Setelah tinggal hanya aku sendiri di ruangan, pikiranku penuh dengan wanita itu. Bagaimana kalau dia semakin menjauh dariku? Padahal kita sudah mulai dekat tadi pagi. ****.

__ADS_1


 ~~~


Sementara itu di tempat pemotretan. Seorang model wanita lain sedang memperhatikan Rose. Dia tidak menyangka, Rose ternyata dekat dengan Revon.


Sedangkan dirinya sudah berusaha lama dekat dengan Revon, tapi selalu saja gagal. Apa hebatnya dia!? Kamu sudah merampas lelaki yang aku sukai. Lihat saja apa yang aku lakukan.


"Tidak aku sangka, ada juga wanita yang dekat dengan CEO Revon. Bahkan keluar bersama dari hotel pagi ini."Ujarnya.


Saat itu hanya dia dan Rose yang berada di ruang make up. Sebenarnya Rose sudah tahu apa yang wanita itu maksud, namun dia enggan menanggapinya.


"Pasti wanita itu sudah menggodanya dengan tubuhnya seperti wanita murahan."Ujar wanita itu lagi.


Mendengar kalimat terakhir itu Rose mulai menjawab perkataan itu.


"Wanita murahan atau bukan, lelaki berkelas pasti bisa mengetahuinya. Tidak mungkin seorang CEO memilih wanita murahan bukan? Atau mungkin ada wanita murahan yang berpikir dirinya bisa dekat dengan CEO? Sangat menyedihkan." Ujar Rose dengan wajah smirknya.


Wanita itu bersiap menampar Rose, tapi dengan cepat dia menangkap pergelangan tangannya sehingga tamparan itu tidak berhasil. Rose pergi dari tempat itu dan kembali melanjutkan aktivitas photoshoot.


Tidak terasa sudah pukul 6 PM. Rose segera bersiap untuk pergi ke Fashion Week. Wen yang sedang berbicara dengan kru melihat Rose yang sudah keluar dari ruang make up.



"Rose, kamu sudah siap?" Ujar Wen.


"Iya. Apa berita itu masih belum hilang?" Tanya Rose.


"Sudah tidak ada di internet sekarang. Tapi beberapa orang masih membicarakannya. Rose menurutku ini tidak akan berpengaruh pada reputasimu, asalkan.." belum sempat Wen menyelesaikan kalimatnya, Rose memotongnya.


"Wen! Stop it. Aku tidak mau membahas lelaki itu." Ujar Rose.


Wen juga tidak keberatan jika memang mereka menjalin hubungan karena Revon terlihat baik dan perhatian dengan wanita itu.


Venezil sengaja berpindah tempat duduk disamping Rose. Wanita berdarah Rusia itu bercerita mengenai aktivitasnya hari ini, lalu dia tiba - tiba bertanya mengenai berita hari ini.


Dia menanyakan kebenaran berita itu. Rose kesal dan tidak menjawab pertanyaan Vienna. Rose mengambil wine yang disediakan oleh pelayan lalu meneguknya sampai separuh botol.


Wanita itu pergi dan berjalan menjauh sambil membawa botol wine. Wen yang duduk tidak jauh darinya melihat Rose menjauh. Namun dia tidak bisa mengejarnya karena dia sedang berbicara dengan seseorang yang penting.


Selama beberapa menit, Rose berjalan tanpa arah dan sampai di bagian gedung yang sepi. Tiba - tiba seseorang dari belakang membungkam mulut dan hidungnya.


Dia memukul dan menendang siapapun itu yang ada di belakangnya. Namun perlahan kesadarannya menghilang dan kegelapan menghampirinya.




7.30 PM - Kantor CEO Firstin



Robert memberi kabar telah membereskan media yang menyebar berita. Benar dugaanya kalau ada seseorang yang memberikan jaminan kepada media untuk melindunginya dari CEO Fristin.



Tentunya tidak ada siapapun yang bisa melindungi dari orang seperti Revon. Dan Robert menemukan bahwa seseorang yang memberikan jaminan itu adalah salah satu model yang tidak lulus tes karena beberapa hal.



Lelaki itu mempunyai dendam dengan Revon dan sudah memulai rencana balas dendamnya. Revon yang mengetahui informasi dari asistennya itu, seketika pikirannya mengarah ke Rose.

__ADS_1



Dia pasti mengincar wanita itu. Tanpa pikir panjang dia melakukan teleport ke tempat fashion week dan dengan sihirnya mengganti pakaiannya menjadi lebih nyaman.



Dia mengamati seluruh area, namun tidak menemukan wanita itu. Rasa cemas dan panik menyerang dirinya. Dia mencoba bertanya kepada Wen melalui pesan teks.



Dengan cepat Wen membalas dan benar Rose telah lama pergi, dia tidak bisa mengikutinya karena saat itu dia sedang berbicara dengan ketua acara itu.



Semakin cemaa mengetahui hal itu, dia berpikir mungkin Rose masih di sekitar sini. Seketika Revon menelusuri gedung terdekat dari tempat fashion week, tak seberapa jauh dia melihat ada botol wine yang pecah.



Apa mungkin Rose kesini tadi? pikirnya. Namun tidak ditemukan tanda - tanda keberadaan Rose. Detak jantungnya semakin cepat dan pikirannya dipenuhi kemungkinan buruk yang terjadi kepada wanita yang dicintainya.



Tiba - tiba ponselnya berbunyi dan nomor tak dikenal menelfon.



"Mr. Dent. Selera anda memang sangat luar biasa. Wanita yang cantik dan tubuh yang indah. Saya harap anda tidak keberatan jika saya meminjamnya sebentar." Ujar orang tak dikenal itu. Dia seorang lelaki. Dia menculik Rose, aku harus mencari informasi lebih.



"Katakan, apa yang kamu mau? aku akan mengabulkan semuanya. Asal kamu tidak menyakiti wanita itu." Ujar Revon.



"Hah. Apa yang bisa kamu lakukan? aku tidak menginginkan apapun dari anda. Tapi aku ingin bermain dengan wanita cantik ini." Ujar lelaki itu.



"Jangan. Pernah. Menyentuhnya. Sedikit. Pun. " Ujar Revon sambil mengirim nomor orang itu kepada Robert untuk dilacak.



"Hahaha. Kita lihat apa yang bisa anda lakukan." ujar lelaki itu lalu memutuskan panggilan.



Revon sangat kesal, dia memukul tembol hingga hancur. Robert mengirim lokasi lelaki penelfon tadi. Dia keluar dari gedung dan memakai motor seseorang yang terparkir di area itu.



Lokasi penculik itu di daerah yang terpencil sehingga motor lebih cocok daripada mobil karena tidak terlalu menarik perhatian. Rose, aku harap kamu baik - baik saja. Pikirnya.



 


 


 

__ADS_1


__ADS_2