
Ibnu dan anak - anaknya baru kembali ke rumah sekitar pukul 10.00
Ibnu mendiamkan Meita begitupun Meita melakukan hal yang sama dengan Ibnu. Mereka tidak saling sapa.
" berenang dulu yuk, habis itu kita mandi" ajak Ibnu kepada anak - anak nya.
" Ayo " ucap Mujib.
Mereka cukup lama di kolam, sampai jam 12 siang barulah mereka naik dari kolam dan mandi.
Pukul 13.00 tiba - tiba mendung dan hujan, anak - anak sudah sholat dan makan siang.
Mungkin karena kelelahan mereka tertidur kembali di ruang keluarga.
Kini hanya ada Meita dan Ibnu di rumah yang masih terjaga hujan yang deras dan sesekali suara petir terdengar.
Ibnu dan Meita masih sama - sama terdiam.
" Kapan kamu kembali ke Bogor Mas?"
" sore ini"
" Sudah bicara pada anak - anak??"
" Sudah"
" Mas juga sudah bicara dengan Kakak, kalau misal kita tidak serumah lagi"
" Kenapa sudah diberi tahu, Kakak mau pesantren. Anak anak biarkan tahu saat mereka mengerti, sekarang mereka masih terlalu kecil jahat kamu Mas"
" Kakak mengerti kok, karena memang kita tidak pernah satu rumah bukan"
" iya terserah "
" Mas bilang sama Kakak kalau Mamah minta cerai, minta pisah"
" Lalu kamu tidak mengatakan apa alasannya??"
" Tidak, dia tidak anak mengerti "
" kalau mau memberitahu dan menjelaskan sesuatu kepada anak itu jangan setengah - setengah Mas. Saya sudah dengan susah payah mendidik mereka menjadi versi terbaik mereka. Aku tidak pernah mengajarkan mereka untuk membencimu."
" mas juga tidak mengajarkan mereka membenci kamu Mei"
" kan Mas memberitahu mereka kalau Aku minta pisah. Sama saja Mas menyuruh mereka membenciku. Tidak seharunya mas mengatakan hal itu, kalau kamu menjadi suami yang baik. Hal itu tidak akan terjadi"
" Mas sudah menjadi suami yang baik, memang sudah ada wanita yang mas tiduri atau hamili??"
" Lalu, siapa nama yang kau sebut saat kita melakukan hal itu??? Siapa Mas??? Mas melakukan dengannya?? Atau Mas membayangkannya saat melakukannya denganku???"
Mendengar ucapan Meita dia mengingat ngingat kembali saat datang, dia memang baru saja chat Tiara untuk tidak menghubungi nya, tapi rasanya dia tidak menyebutkan nama Tiara
" Mas tidak mengatakan apa - apa"
" Telinga aku mendengar nama Tiara kamu sebut Mas, sudah lah jangan dibahas. Tidak akan ada habisnya, pokoknya kita berpisah. Semoga Mas Ibnu bahagia, semoga segera bisa pindah ke Jogya bahagia bersama keluarga dan orang tua Mas Ibnu, dan bisa menemukan wanita baik untuk Mas Ibnu jadikan istri"
" Aaamiin, kalau kau memang sudah bulat mau berpisah. yang pe ting bukan Mas yang mau menceraikan kamu. Tapi permintaan kamu " jawab Ibnu
" pikir saja sama kamu Mas, sudah selingkuh di belakangku. Kemudian pindah dinas saja ke Jogya bukan ke bandung. jelas jelas itrimu di Bandung, apa ini rumah tangga normal??? Apa masih bisa dilanjutkan"
" selingkuh bagaimana??? Cuma chat saja Mah, tidak lebih. Kita bisa pindah sama - sama ke Jogya kalau kamu mau" ucap Ibnu
" Rumah ku di sini" jawab Meita yang memang rumah yang ditempati adalah rumah nya, mobil yang dia pakai adalah mobil nya yang dia beli dengan pengahasilannya.
" sebagai istri yang baik seharusnya kan"
" di Jogya belum ada rumah Mas, yang benar saja. Sebelum menikah dengan mu aku sudah bekerja disini, tinggal disini. Dan Mas Ibnu sudah setuju bukan aku disini tetap bekerja dan menempati rumah ku, tidak perlu ikut ke Bogor. Lalu kenapa sekarang aku jadi harus ikut ke Jogya. Aku kira mas Ibnu mau pindah ke Bandung saja"
" Jual saja rumah ini lalu kita pindah ke Jogya"
" ini rumah ku, dan aku tidak akan menjualnya. Aku tinggal di rumah sendiri saja kamu perlakukan begini.apalagi kalau aku numpang hidup dengan mu Mas Ibnu. Apa jadi nya aku, yang paling benar kita hidup masing - masing" ucap Meita
" Mah " ucap Mujib yang mengentiian perdebatan Meita juga Ibnu.
__ADS_1
" Kak " ucap Meita
" Bisa tidak Mamah dan Papah kalau bertemu jangan berantem terus "
" Maafkan Mamah sayang " ucap Meita namun Mujib meninggalkan Meita juga Ibnu.
Mujib mengunci kamarnya sehingga Meita tidak bisa masuk ke kamar Mujib
" Kak buka, Mamah mau bicara sebentar " ucap Meita.
Tak butuh waktu lama Mujib membuka pintu kamar nya terlihat oleh Meita sisa air mata Mujib.
" Kak, maafkan Mamah dan Papah"
" Mamah dan Papah mau pisah kan, nanti kita tidak akan tinggal serumah??"
" Iya kan Papah kerja di Bogor, Mamah di Bandung"
" Kakak tidak mau punya Mamah tiri, tidak mau punya Papah tiri juga"
" Sayang, tidak akan ada Papah tiri. Papah Kakak tetap Papah Ibnu. "
" apa karena Kakak nakal?? Mamah dan Papah selalu bertengkar. Apa karena Kakak dan Adik tidak seperti yang Mamah Papah mau, jadi Mamah mau pisah sama Papah??" ucap Mujib sambil terisak
" kakak janji tidak akan nakal Mah, Kakak janji akan jadi anak yang pintar. Kakak juga akan ajari Davin jadi anak yang pintar Mah. Tapi Mamah dan Papah jangan berantem terus, Kakak Takut." Ucap Mujib semakin terisak dan kini Meita ikut menangis, karena Davin pun sudah terbangun dan ikut menangis walau Davin tidak tahu apa yang dia tangisi, hanya melihat kakak dan Ibu nya menangis dia pun ikut menangis.
Melihat anak istrinya menangis Ibnu menundukan kepalanya.
" Kelak saat kalian dewasa, jadilah laki - laki yang bertanggung jawab. Perlakukan wanita kalian dengan istrimewa " ucap Meita sambil memeluk anak - anak nya. Mungkin anak sekecil itu tidak akan paham apa yang dia ucapkan, tapi suami nya yang mendengar ucapan Meita mungkin mengerti.
Meita memeluk anak - anak nya. Ibnu pun mendekat dan memeluk istri dan kedua anaknya.
Meita tidak menolak saat Ibnu memeluk mereka, Meita takut Mujib dan Davin semakin takut dengan pertengkarannya dengan Ibnu
" sudah ya jangan nangis lagi, Mamah minta maaf" ucap Meita seilah ingin mengakhiri drama berpelukan mereka.
"Davin tidak melepaskan pelukan Ibu nya, begitupun Mujib. Davin dan Mujib menghujani Ibunya dengan ciuman.
Tanpa terasa adzan ashar berkumandang, hujan pun telah berhenti.
selang beberapa menit di rumah Meita sudah kembali seperti biasa, Mujib dan adik nya sudah melakukan kegiatan mereka masing - masing.
" yakin kita masih mau berpisah???" tanya Ibnu saat dia sudah siap hendak bernagkat lagi ke Bogor"
Meita mengangguk tanpa menjawab sepatah kata pun.
" pikirkan lagi, lihat anak - anak"
" sudah aku pikirkan Mas, 10 tahun sudah cukup"
Ibnu pun tidak menjawab apa - apa.
tepat pukul 17.00 Ibnu pamit kepada anak - anak nya seperti biasa untuk pergi lagi berdinas di Bogor.
" jaga Mamah ya" ucap Ibnu kepada kedua anaknya
" Papah kapan pulang lagi??" tanya Davin
" Kalau jumat ada IB papah pulang lagi"
" Kerja nya jangan lama - lama "Ucap Davin
Ibnu pun mengacungkan jempolnya lalu mencium puncak kepala kedua anaknya.
Meita berdiri diantara anak - anak nya.
" Mah, Papah pergi dulu, titip anak - anak ucap Ibnu, dia sudah membawa sebagian baju nya dari rumah Meita yang masuk ke dalam kopernya.
Meita pun mengangguk
Ibnu sudah berada di dalam mobil nya, dia melihat kedua anaknya masih berdiri melihatnya. Lain halnya Meita yang sudah masuk ke dalam rumah.
Anak - anak melambaikan tangannya saat mobil keluar dari rumah. Ibnu masih melihat kedua anak nya dari spion dan masih berdiri dengan melambaikan tangannya. Ada sedikit penyesalan di hatinya. Apalagi saat anak - anaknya menangis.
__ADS_1
Ibnu melajukan mobilnya, sebelum ke Bogor dia mampir ke Purwakarta, di mana orang tua Meita tinggal.
" Nak Ibnu" ucap Ibu nya Meita sambil melihat ke arah mobil Ibnu berharap anak dan cucu nya ikut
" Bu " ucap Ibnu menyalami mertuanya.
" ada apa?? Kenapa Meita dan anak - anak tidak ikut??"
" Ibnu mau berangkat lagi ke Bogor bu "
" tumben mampir, ada hal yang penting kah??"
" Ibu maaf, mungkin Ibnu belum bisa jadi suami yang baik untuk anak Ibu. Maksud Ibnu kesini bukan untuk menceraikan Meita, Ibnu hanya mau memberitahu Ibu bahwa rumah tangga kami sudah tidak harmonis. Ibnu mungkin mengembalikan Meita kepada Ibu dan Bapak, tapi bukan menceraikannya Bu. "
Mendengar perkataan Ibnu, Ibunya Meita menarik nafas begitu panjang dan membuangnya pelan.
" sudah jatuh talak mu kepada Meita Nak Ibnu, jika Nak Ibnu sudah mengembalikannya kepada kami."
" proses cerai TNI lama Bu, apalagi Meita juga PNS harus atas ijin atasannya jika Meita yang mengajukan cerai"
" Apa Anak Ibu melakukan kesalahan???biar Ibu yang tegur anak Ibu. kalau misal kesalahannya bukan berselingkuh dengan laki laki lain, mungkin masih bisa diperbaiki "
" Meita meminta berpisah dengan saya bu, kalau saya masih ingin terus bersama Meita. Tapi sepertinya kalau dipaksakan, tidak akan bisa Bu"
" pikirkan baik - baik Nak, kalian sudah 10 tahun menikah, masalah dalam rumah tangga itu sudah biasa. Tergantung bagaimana kita menyikapinya."
" Mungkin kami akan mencoba masing - masing dulu Bu, karena untuk ke proses cerai juga pasti akan lama. Bapak kemana Bu?? Ibnu juga mau bicara kepada Bapak"
" Tidak perlu bicara apa - apa kepada Bapak, cukup sama Ibu saja. Akan hancur hati nya jika tahu anak perempuannya telah dikembalikan oleh suaminya."
" Saya tidak mengembalikan Meita Bu, saya hanya menitipkannya kepada Ibu, karena hubungan kami sedang tidak baik "
" Kenapa Nak Ibnu tidak berusaha mempertahankan rumah tangga Nak Ibnu?? Apa kesalahan anak Ibu?? Kenapa dengan Meita??? Dia wanita yang mandiri, dia punya pekerjaan, dia punya penghasilan, dia bisa menguris rumah, dia bisa mengurus anak. ada apa dengan anak Ibu, sampai Nak Ibnu mengembalikan Meita kenapa kami?? Apa Meita mengkhianati Nak Ibnu selama Nak Ibnu di Bogor?? Apa Meita tidak bisa menjaga nama baik Nak Ibnu??"
" mendengar perkataan Ibu mertuanya, Ibnu merasa malu sendiri"
" Bu, Ibnu pamit dulu. Takut kemalaman ke Bogornya. Sekali lagi Ibnu minta maaf, Meita terlalu sempurna untuk Ibnu. Ibnu merasa kurang pantas untuk Meita"
" yang penting kesalahan bukan ada di anak Ibu, namun Ibu juga minta maaf atas nama Meita. Maaf jika anak ibu tidak menjadi istri yang baik"
" tidak Bu, justru Meita terlalu baik untuk Ibnu. Doakan jalan terbaik buat kami"
" seluruh doa terbaik untuk anak - anak ibu" ucap Mertua Ibnu
Ibnu pun meninggalkan kediaman mertuanya. Sedangkan Ibunya Meita langsung menghubungi Meita.
" Ibu " ucap Meita saat melihat ponselnya yang berdering.
"assalamualaikum Bu"
" Waalaikum salam, Mei. Barusan Mas Ibnu dari rumah. Dia sudah mengembalikan kamu kepada Ibu dan Bapak. Kamu baik - baik saja Nak?"
" Iya bu, maafkan Meita Bu. Mei sudah tidak sanggup lagi Bu. Tolong Ibu jangan tanyakan alasannya."
"hati - hati disana, jaga anak - anak dan nama baik keluarga kita"
" iya bu , bapak bertemu Mas Ibnu??"
" Bapak tidak perlu tahu, takutnya bapak ngdrop"
" maafkan Mei Bu, maaf Mei gagal"
" kamu sudah besar, sudsh dewasa, kamu sudah tahu apa yang terbaik untuk kamu. Ibu hanya berpesan jaga diri selama di sana"
" Iya bu" jawab Meita.
" sudah dulu ya Mei, ada Bapak . Assalamualaikum"
" Waalaikum salam Bu"
__ADS_1
" suatu saat aku akan menjadi rindumu yang paling menyakitkan, karena kamu tidak akan pernah mendapatkan lagi apa yang sudah kamu tinggalkan " ucap Meita sesaat setelah menutup telepon dari Ibu nya.
"