Nama Baik

Nama Baik
NB 2


__ADS_3

Sesampainya di rumah Meita mengecek kembali ponsel nya.


" belum di baca juga " ucap Meita melihat ponselnya, dia mengecek apakah suaminya membuat story.namun ternyata tidak. Meita menyimpan ponsel nya.


Meita memilih duduk di sofa dan meluruskan punggungnya. Bukan pekerjannya yang yang membuat lelah, tapi kehidupannya yang di rasa dia cukup berat.


Mungkin orang lain menilainya sebagai wanita yang paling beruntung dimuka bumi ini, bisa menjadi seorang ASN lalu bersuamikan seorang abdi negara. kemudian di karuniai anak - anak yang lucu dan pintar. namun semua orang tidak mengetahui apa yang dirasakan Meita. kekosongan dalam dirinya, separuh hati nya sudah tidak sehangat dulu. Apa yang orang lain bayangkan, tidak seperti apa yang Meita alami. Dia harus pintar pintar menjadi seorang ibu sekaligus berperan sebagai ayah untuk anak - anaknya. Kadang bathin nya bergejolak ingin berontak, namun dia merasa itu tidak akan ada gunanya. Rasa sayang, cinta, cemburu, seolah sekarang sudah tidak pernah Meita rasakan lagi. Yang dia rasakan dan dia inginkan hanya sebuah perhatian kecil dari suaminya, perhatian yang sudah bertahun tahun tidak dia dapatkan.


" Mas Ibnu " gumam Meita sambil menunduk dan menarik nafasnya.


Meita pun beranjak dari sofa dan ke kamarnya memilih mengganti baju dan menyibukan diri.


Setiap pulang bekerja Meita kembali dengan kehidupan ibu rumah tangga, karena setelah anak keduanya masuk sekolah dasar dia tidak menggunakan lagi jasa asisten rumah tangga. Jadi dia benar - benar menyelesaikan pekerjaan rumah, mengurus anak sendiri sebelum dia berangkat bekerja atau setelah dia pulang bekerja. Dia memilih menyibukan diri dan tidak ada waktu untuk memikirkan suaminya dan meratapi nasib nya.


Hingga pukul 16.00 Meita sudah bersiap kembali menjemput anak - anaknya. Sampai dia lupa dengan suaminya dan tidak memikirkan lagi tentang hari istimewa baginya namun tidak untuk suaminya.


kegiatan rutin yang sekarang menjadi kebiasaannya. Dan itu membuat dia merasa menjadi seorang Ibu seutuhnya. Namun tidak pernah menjadi seorang istri seutuhnya layaknya orang lain. Bertemu suami satu bulan sekali saja sudah sangat beruntung untuknya. Kadang saat bertemu banyak hal yang ingin Meita ungkapkan dan bicarakan namun rasanya 2 malam ijin bermalam dia terasa singkat, dan kadang obrolan mereka pun ujung nya selalu terarah pada pertengkaran. Jadi kadang Meita memilih diam, demi kesehatan mental anak - anak nya.


Seperti biasa Meita menunggu di gerbang sekolah anak - anaknya. Tak lama Meita melihat anak kedua nya berlari lebih dulu dan memeluk Meita.


" Mamah!!!"


" Adeeeee" ucap Meita sambil tersenyum


" Ade lapar Mah" ucap Davin sambil meraih tangan mamah nya dan mencium tangan Mamah nya.


" Ayo pulang, Mamah sudah masak " ucap Meita saat giliran Mujib yang mencium tangannya


" Mah besok Papah pulang?? Tanya Mujib kepada Meita saat memasuki mobil.


" coba tanya sama Kakak ya" ucap Meita melirik ke belakang dimana Mujib duduk, sambil memasangkan sabuk pengaman kepada anak keduanya yang duduk didepan.


Meita melihat dari kaca spion mobil raut wajah anak pertamanya.


" Kakak sudah kirim pesan sama Papah??? Kakak tanya ya"


" Papah suka lama balas nya, jadi mending tidak usah di hubungi"


Mendenggar jawaban Mujib, dada nya terasa ditusuk tusuk sesuatu. terasa sakit, sakit sekali.


" mau kemana dulu nih kita " ucap Meita mengalihkan obrolan nya dengan Mujib


" Makan " ucap Ade


" pulang" ucap Mujib.


Meita tahu anak - anak nya rindu dengan Papah nya.


Sesampainya di rumah Mujib langsung turun dari mobil dan berlari ke dalam rumah.


" Kakak kenapa??" tanya Ade kepada Mamah nya.


" Mungkin lapar "


" Ade juga lapar" ucap Davin sambil berlari mengejar Kakak nya.


----- Davin langsung duduk di meja makan dan mulai melahap makanannya.

__ADS_1


" Kak, Kakak!!! Ayo makan..." teriak Meita namun Mujib lebih memilih diam di kamar nya dan mengabaikan panggilan Mamahnya.


Sampai Davin menyelesaikan makan Mujib belum juga keluar kamar.


" Kak tidak makan Mah???" tanya Davin


" mungkin Kakak mandi dulu".


" Mah, Kata Ibu Guru Davun juga harus belanjar mandi sendiri"


Meita tersenyum mendengar ucapan anaknya.


" Davin mau mandi sendiri??"


" Iya"


" Tapi yang bersih ya"


" Iya Mah" ucap Davin sambil berlari menuju kamarnya.


Meita melihat Davin menaiki anak tangga, dan masuk kedalam kamarnya. Sedang kan Mujib belum juga menunjukan batang hidungnya.


Meita berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Mujib.


------- " Kak !!!" ucap Meita sambil membuka pintu kamar anaknya. Dilihatnya anaknya sesang duduk di kursi menghadap ke jendela kamarnya yang terbuka lebar. Meita mendekati anak sulungnya. Perlahan Meita sudah berdiri tepat disamping anak nya yang duduk sambil melihat pemandangan di luar jendela yang anak nya lihat.


" Kakak kenapa??" tanya Meita sambil mengelus punggung anaknya.


" Mah, Mujib mau pesantren saja"


" tadi di sekolah Pak ustad juga bilang Mujib sekolah nya sambil pesantren karena Mujib sudah besar.


" Terus Mamah sama siapa kalau tidak ada Kakak"


" Kan ada Ade Davin "


" kenapa tiba - tiba Kakak ingin sekolah sambil pesantren??"


" ingin saja"


" Kakak marah sama Mamah??"


Mujib hanya menggeleng pelan.


" Nanti saja ya pesantrennya kalau sudah lulus SD"


" Masih lama, sekarang Kakak baru kelas 4"


" iya jadi nanti saja ya"


" Pengennya sekarang Mah, di sekolah banyak juga yang jauh dari orang tua nya sambil pesantren. Ini Kakak dekat kan. Mamah bisa tengok Kakak kapan pun Mamah mau"


" Nanti Mamah bicarakan dulu sama Papah ya"


" Papah memang peduli??"


" Kenapa Kakak bicara seperti itu?? Tentu saja Papah peduli."

__ADS_1


" Lalu kenapa Papah tidak ada di rumah seperti Papah orang lain. ??


" Papah kan kerja sayang. Papah juga kerja jauh sama kita untuk kita "


" Temen Kakak ada Mah yang Papah nya Polisi. Pulang ke rumah setiap hari, bahkan diantar kesekolah sebelum Papah nya pergi dinas"


" Papah nya Kakak kan TNI"


" Papah nya Edo juga TNI ada di rumah"


" Mamah susah menjelaskan nya bagaimana biar Kakak paham"


" Pokoknya Kakak mau pesantren, Kakak tadi sudah bilang sama Ibu Guru sama Pak ustad juga, mulai hari Rabu Mujib mau sekolah nya sambil pesantren"


" Kenapa hari rabu??"


" kata Pak ustad kalau mau mulai pesantren hari Rabu"


" Nanti saja kalau sudah lulus SD ya Kak"


" Hari Rabu Mah"


" Kak, Kakak masih kecil.harusnya Kakak masih sama Mamah.Nanti ada saatnya kamu jauh sama Mamah tapi jangan sekarang.


" kalau Kakak jadi anak soleh, kelak nanti Kakak yang akan jemput Mamah di surga"


Mendengar ucapan anak nya Meita benar - benar tersentuh. Dan tanpa terasa air matanya berurai begitu saja.


Dan tangan kecil anak pertamanya mengusap air mata yang jatuh di pipi Meita.


" Maafkan Mamah sayang" ucap Meita.


" Maafkan Mamah tidak bisa memberikan kehidupan seperti orang lain" ucap Meita dengan berat karena menahan rasa sakit dipangkal tenggorokannya menahan air mata agar tidak terus terurai.


.


.


.


.


.


😌😌😌😌😌


.


.


.


.


.


" jangan bosen kasih dukungannya ya🤭🙏

__ADS_1


__ADS_2