
Adzan subuh sudah berkumandang, Meita baru menggeliat. Rasanya tidurnya belum cukup, Meita melaksanakan sholat subuh dan akhirnya dia melanjutkan kembali tidur nya setelah melaksanakan sholat subuh.
" hari minggu, hari bermalas malasan " ucap Meita sambil nenarik kembali selimutnya.
Meita tidak lupa membuka ponselnya kembali.
Meita membulatkan matanya bahkan mulutnya terbuka lalu tertawa sendiri.
Meita melihat Fatih mengirimi nya pesan
" Malam " tulis Fatih
Namun Meita tidak sempat membalasnya karena dia semalam keburu tidur.
" Yes yes yes !!! " ucap Meita kegirangan sendiri membaca pesan dari Fatih. Meita lalu terkekeh kembali dibalik selimutnya.
" Mah !!! " ucap Ibnu langsung membuka pintu kamar Mujib dimana Meita tidur
Meita melirik ke arah Ibnu dan menyimpan ponselnya.
Ibnu mendekati Meita dan ikut berbaring disamping Meita. Lalu mendekap Meita yang membelakangi nya.
" Maafkan Papah ya"
" Sudah dimaafkan Mas "
" Jangan cuek dong, ingin seperti biasa lagi"
mendengar Ibnu Meita terdiam
" ayo bicara dong "
" sudah aku maafkan, kalau aku biasa lagi. Mas Ibnu pun akan melakukan hal yang sama lagi. Jadi sekarang biarkan aku juga menikmati hidup Aku. Silakan mas Ibnu mau melakukan apapun dibelakang Aku, tapi jangan paksa Aku untuk melakuka hal yang Mas Ibnu inginkan, karena Mas Ibnu juga tidak pernah seperti yang Aku inginkan."
Ucapan Meita kali ini terasa sangat sakit terdengar ditelinganya, bahkan kata kata yang terlontar dari mulut Meita membuat dada nya terasa sesak.
" Maaf ya Mas belum jadi suami yang baik buat kamu, beri Mas kesempatan sekali lagi. Mas janji kalau misal ketahuan lagi Mas macam - macam lagi, kamu boleh meninggalkan Mas. "
" Nanti Aku pikir - pikir dulu ya Mas "
" Jangan lama - lama mikir nya " ucap Ibnu semakin mengeratkan pelukannya kepada Meita.
" Aku mau mandi dulu deh " ucap Meita menyingkirkan tangan Ibnu yang memeluknya.
Meita meninggalkan Ibnu dikamar Mujib.
Meita kemudian mandi di kamar nya, dan menyimpan ponsel nya di meja rias nya.
Ibnu yang mengikuti Meita ke kamar nya mengambil ponsel Meita namun ternyata ponsel Meita pun berkode seperti ponselnya.
Seingat Ibnu Meita tidak pernah pake kode ponsel. Namun Ibnu ingat - ingat lagi memang dirinya tidak pernah mengecek ponsel istrinya.
Cukup lama Ibnu memegang ponsel Meita namun dia tidak bisa membuka kode ponsel Meita. Sampai Meita selesai mandi Ibnu masih berdiri ditempat yang sama.
" Kamu nyari apa di ponsel Aku?" ucap Meita yang membuat Ibnu kaget
" Apa kode nya??"
" Aku juga tidak menanyakan kode ponsel mu" ucap Meita.
Tak lama ponsel Meita berdering, panggilan dari ustad Dani
Ibnu langsung menjawab panggilan tersebut.
" hallo assalamualaikum ibu Meita " ucap si penelpon
" iya waalaikum salam"
" Ooh ternyata ayah nya Mujib dan Davin, setiap hari minggu bapak dan Ibu sudah bisa melakukan vidio call kepada anak - anak Pak"
" Oh iya Pak ustad " jawab Ibnu dan langsung mengalihkan panggilan vidio. Meita yang mendengar percakapan suaminya mempercepat memakai baju nya.
" assalamualaikum anak - anak Papah " ucap Ibnu saat melihat kedua anak nya.
" Waalaikum salam, Mamah mana?" tanya kedua anak Meita kompak yang membuat Ibnu tersentak.seolah anak - anak nya tidak peduli terhadap keberadaannya.
Meita buru - buru mengambil ponsel dari tangan suaminya.
" assalamualaikum anak - anak Mamah " ucap Meita melihat kedua anak nya.
" mamaaaaaaahhh" teriak keduanya kegirangan
" waalaikum salam Mamah " ucap keduanya
Meita tak tahan menahan haru melihat anak - anak nya.padahal baru 4 malam saja anak - anak nya di pondok pesantren. Masih harus menunggu 26 hari lagi untuk bisa memeluk mereka
" Kakak sama Adek apa kabar???"ucap Meita dengan mata berkaca - kaca
" kakak sama adek baik - baik saja Mah " jawab Mujib
akhirnya air mata Meita lolos membasahi pipinya.
Dia melihat kedua anaknya dengan tatapan penuh rindu
__ADS_1
" Mamah rindu kalian " ucap Meita.
Mujib dan Davin terlihat menahan ait mata mereka tatkala melihat ibunya menangis
" Mamah jangan nangis " ucap Davin
" Jaga adek ya Kak " ucap Meita. rasanya Meita tidak tahan melihat anak - anaknya jauh dari jangkauannya.
Mujib mengangguk mendengar ucapan Ibunya.
" Mah, kata Pak Ustad sudah dulu. " ucap Mujib
Meita tidak mampu berkata apa - apalagi, hanya menggaguk dan melambaikan tangannya.
" Assalamualaikum Mamah " ucap keduanya
" Waalaikum salam " ucap Meita pelan dan air mata semakin deras keluar dari pelupuk matanya.
Saat ponselnya mati, dan anak - anak nya sudah tidak terlihat lagi.
Meita meraung raung sejadi jadinya. Dia menangis dan menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur.
" Ya Tuhan kuatkan Aku untuk jauh dengan mereka!!! Kuatkan Aku Tuhan!!!" teriak Meita sambil menangis tersedu sedu.
Ibnu yang masih berdiri ditempat yang sama, merasa seperti orang asing. bahkan anak - anaknya tidak menyapanya. Tidak mengatakan apa - apa kepadanya. bahkan dia melihat istrinya menangis sejadi jadinya. Ibnu tidak bisa berbuat apa - apa, dia bingung harus berbuat apa terhadap istrinya.
selang beberapa menit Meita sudah tidak menangis dan meraung raung. Sedang Ibnu hanya berdiri dan memperhatikan Meita
" Maaf, itu cara aku meluapkan emosi " ucap Meita setelah dia merasa lega setelah menangis.
Meita sudah terbiasa mengobati luka dan kecewa, juga kegundahan hati nya sendiri.
Padahal saat itu Meita sungguh ingin ada seseorang yang memeluknya, mengusap punggung nya dan mencium keningnya. Namun tidak Ibnu lakukan. Saat itu dia sedang rapuh, benar - benar rapuh kalau urusannya dengan anak. Anak - anak adalah kelemahan Meita.
Meita menarik.nafasnya panjang dan membuang nya kasar.
" Aku baik - baik saja " ucap Meita saat dia beradu pandang dengan suami nya dan saat Meita hendak meninggalkan Ibnu dan melewatinya
Ibnu menarik pergelangan tangan Meita.
Ibnu menarik Meita kepelukannya.pelukan yang audah tidak Meita inginkan, karena Ibnu memeluknya setelah hati nya kembali stabil.
Kini Ibnu mendekap Meita.mendekap begitu eratnya. Tidak ada kata yang terucap dari keduanya.
" Aku sudah tidak ingin menangis lagi " ucap Meita sambil berusaha melepaskan pelukan suaminya.
Ibnu pun melepaskan pelukannya, dan membiarkan Meita keluar kamar.
---- Meita mengalihkan pikiran tentang anak - anak nya. Dia masak banyak, dia berniat menitipkan makanan kesukaan anak - anak nya kepada pengasuh di pondok pesantren.
" Sarapan Mas " ucap Meita dan Ibnu pun ikut sarapan dengan Meita. Ibnu melihat ke sebuah tas besar yang berisi makanan
" itu buat anak - anak" ucap Meita
" mau ke pondok??"
" Iya "
" Mas antar ya "
Meita tidak menjawab apa - apa, Ibnu mengganggap Meita setuju
----- pukul 10.00 Meita dan Ibnu sudah berada di pondok pesantren di mana Kedua anaknya berada.
Meita menitipkan tas berisi makanan untuk anak - anak nya, dia menitipkannya kepada pengasuh ponpes disana. Meita belum bisa menemui anak - anaknya. Namun Meita yakin anak - anaknya baik - baik saja.
Kini Meita dan Ibnu sudah berada di mobil untuk kembali pulang.
" sudah??" tanya Ibnu
Meita hanya mengangguk
Ibnu melajukan kembali mobil nya meninggalkan pesantren, Mata Meita terus melihat ponpes dimana anaknya berada sampai ponpes tersebut tidak bisa dia lihat lagi karena dia semakin menjauh.
Sesekali Ibnu melirik Meita yang ada di sampingnya.
Rasanya ini pertama kali mereka jalan lagi berdua. Entah kapan mereka jalan bersama berdua. Bahkan berempat pun sudah lama tidak.mereka lakukan.
Ibnu merasa sangat bersalah saat itu.
Ibnu melirik kembali Meita. Namun Meita memalingkan wajahnya fokus ke arah luar samping kiri nya.
Ibnu lalu maraih telapak tangan kanan Meita dan menggenggamnya. Meita melihat tangannya yang digenggam tangan Ibnu. Lalu Meita melihat ke arah suaminya. Beberapa detik mereka beradu pandang. Lalu Meita memalingkan lagi wajahnya.
" Kita makan siang dulu di kalana ya " ucap Ibnu, itu adalah tempat makan dimana dulu saat mereka pacaran.
Meita tidak menjawab apa - apa dan Ibnu menganggap Meita setuju.
Ibnu menginjak gas mobil nya lebih cepat.
sedangkan Meita yang merasakan ponselnya bergetar melepaskan genggaman tangan Ibnu. Meita membuka ponselnya. Dilihatnya ternyata chat di grup ngunyah nya.
Adel : nanti sore ke kebun durian yuk
__ADS_1
Tanti : mau traktir??
Adel : iya, tapi sama Mas Andre dan Raka.Mas Budi pulang tidak Tan, kalau pulang ajak Mas Budi dan chaca.
Tanti : Mas Budi bagian pulang minggu depan, chaca lagi nginep di nenek nya.
Adel : ya sudah mau ikuti tidak Tan, Mei????
Tanti : jemput ke rumah ya🤭
Adel : oke
Meita : jam berapa??
Adel : habis ashar
Tanti : siap😋
Adel : aku ada Mas Ibnu, tidak tahu berangkat ke bogor nya lagi kapan. Biasanya berangkat habis dzuhur.
Adel : oke nanti berkabar lagi ya, kalau misal belum pulang. Mas Ibnu ajak.
Meita : mau ikut, tapu tanpa Mas Ibnu😬😬😬
Tanti : 🤦♀️🤦♀️
Adel ; 🤣🤣🤣🤣
----
" siapa???" tanya Ibnu saat melihat istrinya sibuk dengan ponselnya.
Sejak kapan kamu peduli dengan siapa aku chat ??" tanya Meita
" Sejak hari ini " jawab Ibnu.
" tidak penting buat kamu,chat dari orang - orang tidak jelas ko " jawab Meita
Ibnu menarik nafasnya panjang. Ibnu tahu itu pasti chat dari teman - temannya.
Meita membuka akun sosial medianya kembali,tiba - tiba dia ingat Fatih. Dia belum membalas pesan dari Fatih.
Meita hanya memegang ponselnya dan melihat pesan dari Fatih, dia bingung harus membalas apa, karena pesannya di kirim Fatih tadi malam. Rasanya sudah kadaluarsa kalau dia baru membalasnya siang hari.
Namun Meita pun membalas nya.
" siang 😬 " balas Meita.
Dan ternyata pesannya langsung di lihat Fatih.
" 😄👍 " balas Fatih
Meita bingung harus membalas apalagi. Sejenak Meita berfikir dan akhirnya Meita menuliskan pesan
" salam kenal komandan🙏 "
" salam kenal juga bu guru "
" 😄🙏"
" Ngajar dimana??"
" salah satu SD dikota bandung, komandan dinas dimana??"
" Jakarta "
" asli Jakarta??"
" asli ciledug, Bu guru asli Bandung kah?? "
---- " kayanya tempat parkirnya penuh " ucap Ibnu saat sampai di kalana
Meita langsung menyimpan ponselnya tanpa membalas chat dari Fatih.
" ya sudah jangan makan siang disini" jawab Meita
" mau nya dimana??" tanya Ibnu
" terserah "
Mendengar kata terserah dari Meita membuat Ibnu bingung
" apa mau bakso??"
" Terserah "
" Steak??"
" Ya sudah terserah sih, mau makan dimana saja pasti aku makan " ucap Meita.
" Makan bakso iga enak kayanya" jawab Ibnu kemudian.
Meita buru buru menyimpan ponsel nya kembali, karena tempat tujuan yang disebutkan Ibnu hanya berjarak beberapa meter lagi.
__ADS_1