
"Jadi akhirnya kamu menunjukkan sosok aslimu heh, instruktur" Karasu tersenyum ke sosok berjubah hitam didepannya.
Sosok itu juga menatap Karasu dan tersenyum lalu bertepuk tangan.
"Bravo bravo. Kamu memang memiliki mata yang tajam" sosok itu masih tersenyum ke arah Karasu lalu menatap ke tanah dimana tubuh ksatria kegelapan terbaring.
"Aku tidak menyangka bahwa kamu berhasil mengalahkan prajurit buatanku" Karasu hanya tersenyum sebagai balasan.
Karasu mengambil pedang yang digunakan ksatria kegelapan yang tergeletak didekatnya. Karasu mengangkatnya dengan kedua tangan.
"Pedang ini sungguh berat, kekuatanku belum cukup untuk menggunakannya" pikir Karasu.
Karasu memusatkan semua perhatian pada sosok didepannya. Dia mengetahui siapa yang dia lawan sehingga dia sangat waspada. Melawan ksatria kegelapan telah menguras mentalnya.
Sosok didepannya menatap Karasu lalu tertawa dan berkata "Benar-benar menarik, kuharap kamu tidak mengecewakanku"
"Kuharap kamu juga tidak mengecewakanku, penyihir kegelapan" ucap Karasu tersenyum mengejek.
*****
"Oh sial" Accel, William dan Dany menatap waspada naga kegelapan yang masuk dalam mode Manusia.
"Accel, apakah kamu punya rencana?" tanya Dany sambil menyusun susunan sihir.
"Begitu ya. Semoga sihir ini berhasil" Dany terus menyusun mantra sihir.
Accel terus melihat naga kegelapan dengan waspada hingga menyadari sesuatu.
"William, kita harus menghabisi dengan cepat. Dia masih dalam proses menjadi manusia, walaupun dia sudah menjadi manusia dia masih perlu membiasakan diri" perintah Accel menyerang ke depan.
William terlihat ragu-ragu tapi setelah melihat sekitarnya, dia membulatkan tekadnya dan menyerang maju menyusul Accel.
(Ting* Anak Kilat-Max aktif)
William dengan cepat berada didepan naga kegelapan. Mata William bersinar keemasan dengan aura petir disekelilingnya. Ayunan pedang terus diluncurkan ke naga kegelapan dengan cepat hingga hanya terlihat kilauan cahaya dimata.
Naga kegelapan mengeluarkan auman yang membuat William terlempar mundur. William melihat naga kegelapan dengan senyuman mengejek dan berkata "Switch".
Accel muncul dibelakang naga kegelapan, menusuk jantungnya dengan pedang panjang. Pedang kecil dengan cepat diambil Accel dan menusuk bagian vital lainnya. Setelah melakukan itu Accel menghilang dan muncul disamping William.
"Ayo kita lakukan, William" ucap Accel serius.
***
"Alasan kenapa kamu muncul dihadapan William saat melakukan skill blink karena skill blink akan dituju oleh tempat yang diingat olehmu"
***
Accel mengingat perkataan Karasu saat itu. Accel memfokuskan pikirannya. Menatap tajam naga kegelapan. Accel mengambil pedang dari inventory-nya. Mata sebelah kanan Accel bersinar kemerahan. Accel menyentuh pundak William. Accel dan William dan muncul dihadapan naga kegelapan.
Naga kegelapan melihat Accel dan William langsung terlihat marah dan menembakkan bola gelap ke arah mereka. William terkejut tapi Accel tersenyum. Accel dan William menghilang sekali lagi dan muncul disebelah kanan naga kegelapan. Accel menghilang lagi dan muncul disebelah kiri dengan posisi siap menebas. William mengerti apa yang harus dilakukan. William dengan cepat melancarkan tebasan dan memotong bagian tubuh naga yang bisa dia potong.
Hp milik naga kegelapan terus berkurang. Naga kegelapan tidak membiarkan tubuhnya diserang terus-menerus. Dia membuat sekelilingnya menjadi gelap. Membuat William dan Accel tidak bisa melihat.
Naga kegelapan kembali ke wujudnya yang sebenarnya. Mengepakkan sayapnya menerbangkan William dan Accel. Naga kegelapan mengumpulkan energi dimulutnya dan melepaskannya ke arah William dan Accel.
Accel dengan cepat muncul disamping William dan menghilang.
__ADS_1
"Sial, aku terlalu banyak menggunakan blink" pikir Accel mulai kehilangan kesadaran.
Accel dan William muncul disamping Dany. Dany tersenyum dan mengangguk ke arah
Celia dan Milea. Celia dan Milea berpegangan tangan dan menyusun mantra sihir.
"Twin Fire and Ice : Twin Phoenix" teriak Celia dan Milea.
Dua burung phoenix muncul dari lingkaran sihir dan menyerang naga kegelapan.
"Hell Flame : Finale Destruction Flame" Dany menyusun susunan mantra menjadi satu dan mengarahkannya ke naga kegelapan yang sedang sibuk bertarung dengan dua burung phoenix.
Lingkaran sihir terwujud di atas dan bawah naga kegelapan. Mengurungnya dalam lingkaran. Api hitam kemerahan mulai muncul dan menyebar membakar naga kegelapan. Naga kegelapan mengaum berusaha menghancurkan kurungan sihir.
***
Nama : Naga Kegelapan
Level : 120
Hp : 50.000/1.500.000
***
"Meledaklah, Twin Phoenix"
"Meledaklah, Finale Destruction Flame"
Boom...
"Sungguh pemandangan yang menakjubkan, selamat telah mengalahkan naga peliharaanku" suara seseorang tepuk tangan terdengar membuat mereka melihat ke asal suara.
Celia dan Milea terkejut begitu juga Dany dan William, hanya Accel yang tersenyum. Sosok berjubah hitam itu adalah Perka. Perka menatap satu persatu dan melihat Accel yang tersenyum.
"Jadi kalian dua sudah mengetahui siapa aku heh" ucap Perka mengejek.
Accel menyadari sesuatu dan melihat di belakang Perka. Accel terkejut dan menggenggam tangannya.
"Jadi kamu sudah mengalahkan Karasu?" tanya Accel berusaha berdiri.
"Ah, dia sungguh kuat dan membuatku kewalahan. Tapi itu sudah bagus untuk kalian yang baru datang kesini" ucap Perka tertawa.
William yang mendengar itu merasa marah dan ingin menyerang tapi dihentikan oleh Accel.
"Yang dikatakan dia benar, walaupun kita kuat tapi kita masih terlalu awal untuk melawan level lebih tinggi dari kita" ucap Accel menatap Perka.
"Jadi aku harus memanggilmu Perka atau penyihir kegelapan?" tanya Accel waspada.
"Jadi kalian benar-benar mengetahui siapa diriku. Kalau begitu aku akan melenyapkan kalian. Black Magic : Black Ball" bola hitam dengan cepat menyerang mereka.
"Perisai es" ucap Celia dengan cepat menyusun mantra.
Boom...
Perisai yang dibuat Celia tidak bisa menahan serangan Perka sehingga mereka terlempar jauh. Membuat hp mereka dibawah 50%.
"Hahahaha" Perka tertawa dengan nyaring. Menatap Accel dan yang lainnya dengan sinis.
__ADS_1
"Selamat tinggal" ucap Perka.
***
(Hanya segini saja? Apakah kamu sudah menyerah? Cih, sungguh lemah.)
Karasu terbaring tak berdaya. Menatap langit-langit dengan kosong.
(Hah, apakah kamu tidak peduli dengan temanmu?)
Karasu menatap bayangan dirinya yang lain dan berkata "Apa aku masih bisa berjuang?"
.
.
.
Tidak ada jawaban. Hanya ada kesunyian. Karasu tetap menatap langit-langit terowongan dengan kosong. Karasu menutup matanya.
(Sampai kapan kamu akan terus berpura-pura? Atau kamu takut dengan diriku ini?)
Bayangan dirinya yang lain menatap Karasu dengan sinis. Karasu melihat ujung terowongan.
"Aku hanya takut melupakan mereka semua"
.
.
.
Keheningan terjadi sekali lagi. Karasu menatap terowongan dan tersenyum.
"Ma-"
"Hahahaha" suara tawa keras terdengar.
Karasu dengan cepat bangkit berdiri mengabaikan luka-lukanya. Dia terlihat khawatir. Setelah berpikir sebentar Karasu menggenggam tangannya kuat-kuat dan memutuskan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
"Tidak apa-apa aku melupakan mereka. Yang penting mereka selamat" ucap Karasu yang dikelilingi aura kegelapan "Devil... Mode".
***
"Black Magic : Black Thunder" petir hitam mulai terbentuk dengan cepat.
"Selamat tinggal" ucap perka mengayunkan tangannya ke arah Accel dan teman-temannya.
"Selamat tinggal? Siapa yang akan pergi? Kamu? Mungkin iya" sebuah suara terdengar dari belakang Perka. Mengejutkan dirinya sehingga mantra yang dia buat gagal.
"Black Magic : Shadow" Perka dengan cepat menghindari serangan dari belakangnya.
"Cancel" Perka terkejut dengan ucapan yang muncul. Mantra sihir yang dia buat langsung terbatal yang membuatnya terkena serangan dan terlempar mundur.
"Karasu!!!" seru Accel dan yang lainnya. Tapi langsung terkejut dengan apa yang mereka lihat karena hp Karasu hanya tersisa 1.
"Aku kembali..." ucap Karasu tersenyum ke arah mereka.
__ADS_1