
Di Ruangan cahaya berwarna putih, Karasu terus berjalan tanpa henti. Dia terus berjalan tapi tidak menemukan jalan keluar. Di tengah kebingungan dan kepanikannya, dia melihat bayangan Celia. Karasu dengan cepat berlari ke tempat bayangan Celia. Karasu terus berlari dalam waktu lama tapi dia menyadari bahwa dia hanya berlari di tempatnya berada.
"Maaf"
Ucapan Celia membuat Karasu bingung. Cahaya yang sangat menyilaukan muncul dari bayangan Celia yang membuat Karasu menutup matanya. Saat dia membuka matanya, apa yang dia lihat adalah badai es yang sangat kuat. Dia menyadari bahwa tubuhnya tidak merasa dingin atau membeku karena badai es.
Karasu melihat sekitar tubuhnya. Sebuah perisai tidak terlihat melindungi tubuhnya dari badai es. Karasu teringat keberadaan teman-temannya segera berlari mencari mereka. Karasu menggunakan skill Mata Licik untuk mencari teman-temannya tapi hasilnya nihil.
"Sial" umpat Karasu memukul tanah yang ditutupi salju.
Di Tengah keputusasaan, dia melihat sebuah cahaya yang bersinar terang di kejauhan. Dengan cepat dia berlari. Walaupun dilindungi oleh perisai pelindung, Karasu tetap kesusahan berjalan di tengah badai. Dia mengerahkan semua tenaga yang tersisa. Yang ada di pikirannya hanya menemukan teman-temannya, tidak ada yang lain.
"Accel, William, jangan memaksakan diri kalian" Mendekati cahaya berkilau Karasu mendengar suara dari Dany.
"Accel, William, Dany" teriak Karasu bahagia.
Karasu bisa melihat Accel yang sedang terbaring. William dan Dany yang sedang bertengkar serta Milea yang sedang menyembuhkan Accel. Karasu dengan semangat menghampiri William dan Dany. Karasu mengayunkan tangannya ke belakang yang dengan cepat menghantam William. William yang tidak siap dengan serangan dadakan terlempar jauh.
"Karasu. Apa maksudmu menyerangku begitu?" William menatap marah Karasu.
"Tanganku terpeleset tadi" jawab Karasu menyentuh tengkuknya sambil memalingkan muka.
William bertambah marah mendengar jawaban Karasu. Dia berniat balas dendam tapi di hentikan Dany. William melihat Dany yang menggelengkan kepala. William berbalik dan berjalan menjauhi mereka. Dany menoleh ke arah Karasu yang mengacungkan jempol dengan wajah yang mengatakan terima kasih.
'Kenapa aku punya teman kek mereka ya?' pikir Dany menepuk dahinya.
Karasu melihat sekitarnya. Dia terus mencari sesuatu tapi tidak menemukannya. Akhirnya dia berjalan ke arah Milea yang sedang menyusun alat medis.
"Omong-omong, aku tidak melihat Celia, dimana dia?" tanya Karasu menggaruk kepalanya.
Wajah Milea dengan cepat berubah suram. Begitu juga dengan yang lainnya. Kecurigaan Karasu bertambah. Milea menghembuskan nafasnya dengan sedih lalu menunjuk ke sebuah tempat. Kepla Karasu mengikuti arah yang di tunjuk Milea. Dia melihat sebuah kristal es. Karasu berjalan mendekati kristal es dan mencoba melihat ke dalam kristal es. Di dalam kristal es Karasu melihat sosok Celia.
Karasu terkejut dan jatuh berlutut di depan kristal es. Dia teringat di dalam mimpi bertemu dengan Celia dan mendengar permintaan maafnya. Karasu memukul tanah dengan kuat. Karasu melihat kristal es dengan tatapan kosong. Milea yang melihat dari kejauhan memalingkan wajahnya dengan sedih. Accel, William dan Dany hanya menundukkan kepalanya.
Srek... Trek... Trash...
Suara retak terdengar. Accel dengan cepat melihat ke asal suara. Dany dan William berdiri di samping Accel. Mereka membuat posisi siaga berjaga-jaga.
"Sial, monster ini masih hidup" ucap Accel mencoba berdiri tapi gagal.
__ADS_1
Dany dengan segera membantu Accel berdiri. Milea berdiri di belakang mereka siap untuk memberikan bantuan. Sedangkan Karasu masih menatap kosong kristal es. Milea menoleh ke arah Karasu lalu melihat ke retakan ruang yang makin membesar.
Dari retakan ruang muncul seekor monster. Monster itu terlihat seperti manusia hanya saja ada tanduk di kepalanya dan banyak tentakel di belakang tubuhnya. Accel, Dany, William dan Milea terlihat sangat serius ketika melihat monster itu muncul.
"Sungguh perempuan yang merepotkan. Untung saja aku sempat melarikan diri ke dalam ruang" ucap monster.
Ucapan monster itu menarik perhatian Karasu. Karasu melihat si monster dengan tatapan marah. Karasu bangkit berdiri dan berjalan ke arah monster. Menyadari tatapan Karasu, monster itu menoleh ke arah Karasu.
"Ah, bukannya kamu yang dilindungi si perempuan itu hingga dia mempertaruhkan nyawanya" ucap si monster muncul di depan Karasu dalam sekejap.
Karasu segera melancarkan pukulan ke monster. Pukulan Karasu hampir mengenai monster tapi tubuhnya sudah terkena serangan lebih dulu. Karasu terbatuk dan memegangi perutnya yang diserang. Karasu bertatapan muka dengan si monster lalu meludahinya.
.
.
.
"KAMU MANUSIA SIALAN, AKU AKAN MEMBUNUHMU" tindakan Karasu membuat monster marah besar.
Tentakel-tentakel di belakang tubuhnya dengan cepat menyerang Karasu bertubi-tubi. William yang melihat dari kejauhan segera mencoba melancarkan serangan diam-diam tapi gagal. Tentakel bergerak sangat cepat membuat dia kewalahan mendekat. Menyadari kehadiran William, monster itu menoleh ke arahnya.
"William" teriak Accel dan Dany.
Mengabaikan kondisi tubuhnya, Accel menggunakan skill blink ke tempat William dan membawanya ke tempat Milea. Sedangkan Dany membuat mantra sihir mencoba mengganggu monster yang sedang sibuk menyerang Karasu.
"Manusia sialan" ucap monster itu kesal melihat Dany.
Tanpa disadari olehnya Accel menggunakan skill blink untuk menolong Karasu. Accel membawa Karasu dan membaringkannya di dekat William. Accel melihat Karasu yang sudah tak sadarkan diri dengan tersenyum lalu terjatuh tidak sadarkan diri.
Dany terus melancarkan serangan mencoba mengulur waktu. Tapi serangannya tidak memberikan dampak pada monster. Monster itu menatap mereka dengan kesal. Dia muncul di depan Dany. Dengan cepat dia mencekik leher Dany dan mengangkatnya ke atas. Dany dengan panik mencoba menyelamatkan dirinya.
***
"Gunakanlah kekuatanmu, Karasu. Selamatkan teman-temanmu"
***
Cahaya menyilaukan muncul membuat si monster berpaling dan merasa sakit di tangannya. Dia melihat tangannya yang sudah di belah. Monster meraung marah dan menyerang di sekitarnya.
__ADS_1
Sosok Karasu dan teman-temannya muncul di kejauhan. Milea dan Dany menatap Karasu dengan terkejut. Karena sosok Karasu yang sangat berbeda dari sebelumnya. Rambut berwarna-warni begitu juga mata sebelah kanannya. Jubah berwarna putih dengan berbagai warna membentuk sebuah simbol tergantung di belakangnya.
Karasu melihat kondisi teman-temannya. Dia mengulurkan tangannya ke bawah. Sebuah lingkaran sihir terbentuk. Energi kehidupan di rasakan oleh Milea dan Dany.
"Kekuatan apa ini?" pikir Dany dan Milea bersamaan setelah melihat perbuatan Karasu.
Karasu menatap monster dengan kosong. Dia mengulurkan tangannya ke arah monster. Retakan ruang di sekitar mereka makin menyebar. Badai es mulai menghilang digantikan oleh ruang dimensi yang kacau. Kristal es yang mengelilingi Celia perlahan-lahan meleleh. Hal tersebut segera menarik perhatian Karasu dan di sadari oleh si monster.
Dengan cepat monster mendekati kristal es berniat menghancurkannya. Karasu tidak tinggal diam menghentikan tindakannya. Karasu membuat perisai di sekeliling Celia. Karasu terus menebas tentakel menggunakan pedang yang dia ambil dari William.
"Tentakel yang menyebalkan" ucap Karasu memanggil petir.
Petir menyerang monster membuatnya mengalami shock sesaat. Kesempatan itu dimanfaatkan Karasu untuk membawa tubuh Celia dari kristal es yang sudah mencair sepenuhnya.
Melihat Karasu berusaha pergi, monster tidak tinggal diam melancarkan serangan. Sebuah bola energi terbentuk di tangannya. Dia melepaskan ke arah Karasu. Karasu terkena serangan terhenti.
'Kenapa tubuhku tidak bisa bergerak?' pikir Karasu kebingungan.
"Golem Api, muncullah" sebuah golem api raksasa muncul di belakang Karasu melindunginya dari serangan monster.
"Dforga, itu namamu kan?" ucap Karasu menoleh ke arah monster.
Dforga yang mendengar ucapan Karasu tertawa keras. Banyak bola energi dibuat oleh Dforga. Dforga menunjuk ke tempat Accel. Karasu terkejut dengan tindakan Dforga. Karasu berniat menolong teman-temannya menyadari sesuatu. Bola energi berubah arah ke dirinya. Karasu yang tidak menyangka serangan tersebut. Dia memeluk Celia dengan erat.
"Badai Ruang"
Bola energi yang dibuat Dforga menghilang. Tapi Karasu tidak berhenti siaga. Dia melihat ke arah Dforga. Melihat Dforga tersenyum, Karasu segera melihat ke arah teman-temannya. Banyak tentakel muncul dari ruang menyerang mereka. Karasu ingin menolong tapi dihalang oleh tentakel yang tiada habis.
"Menyebarlah" kalung kristal yang di buatnya mulai menyebar ke masing-masing temannya.
Kalung kristal merah mendatangi Dany, Milea kristal hijau, William Ungu, Accel Hitam. Karasu melihat Celia dengan sedih. Sebuah kalung berwarna kuning muncul di tangannya. Dia mengenakan kalung itu ke leher Celia.
"Bawalah mereka pergi, Elemen kristal"
"Dimensi Ruang, terbukalah"
Kalung bercahaya terang sesuai warnanya. Karasu melepas pelukannya. Dia melihat Celia yang mulai menghilang. Melihat semua temannya sudah pergi, dia menoleh ke arah Dforga.
"Maaf atas yang terjadi tadi, mari kita lanjutkan pertarungannya" ucap Karasu tersenyum ke arah Dforga.
__ADS_1