
"Jadilah kuat" suara misterius dari kegelapan terdengar.
"Siapa kamu" Karasu bertanya mencari sumber suara.
"Jadilah lebih, Karasu. Masanya akan datang" kegelapan yang sangat gelap mulai menjadi terang. Kegelapan yang sebelumnya dengan cepat hilang digantikan oleh kekacauan. Seekor monster yang sangat besar terlihat. Monster itu di serang oleh banyak petualang.
"Roawrr" raungan dari monster terdengar. Monster terus menghabisi petualang dan menghancurkan bangunan disekitarnya.
Tiba-tiba monster itu menatap ke arah Karasu. Dia melihat Karasu dengan mata meremehkan. Sebuah bola yang gelap dilepaskan dari mulutnya menuju Karasu.
***
"Hah... Hah... Apa itu?" Karasu terbangun dari mimpinya. Dia berkeringat dingin, merasa lengket di punggungnya karena keringat.
"Kau sudah sadar Karasu" William bertanya sambil meminum secangkir teh hangat. Dia melihat Karasu dengan keheranan.
"Eh, dimana ini?" Karasu sadar bahwa dia tidak mengetahui dimana dia sekarang. Ruangan tempatnya terdapat aroma samar yang dikenali. Juga tempat tertata rapi.
"Kita berada di kamar Celia" William menjawab dengan santai pertanyaan Karasu. Berbeda dengan Karasu, yang sekarang terlihat marah.
"Jadi begitu" Karasu teringat saat dia dibekukan di hutan. Lalu dibawa ke tempat latihan dan harus melawan instruktur. Dia menang melawan instruktur tapi tidak sadarkan diri karena serangan menyelinap Celia.
"Karasu, tumben sekali kamu mimpi buruk. Apakah kamu bermimpi di kejar oleh para fans mu hingga ke ruangan ganti laki-laki?" William tertawa tiba-tiba.
Karasu menatap tajam William. Tapi dengan cepat menghela nafas. Dia tau kalau ada kesempatan untuk mengejek dirinya William akan cepat melakukannya.
Karasu teringat saat pertama kali berteman dengan William. Disaat itu, dia sedang bersembunyi dari para fansnya. William kebetulan sedang berdiri disampingnya.
Karasu tersenyum mengingat kejadian itu. Dia memandang keluar jendela. William juga melihat ke jendela. Dia menyadari apa yang Karasu pikirkan.
"Ayo kita ketempat itu setelah berhasil pulang dari tempat ini, William" Karasu mengulurkan kepalan tangan ke William, William menyambut kepalan tangan.
***
Di tempat pelatihan, seperti biasa instruktur memberikan arahan kepada Accel dan Dany. Celia dan Milea mengawasi dari sudut. Mereka duduk santai sambil meminum secangkir teh.
Karasu dan William terlihat berjalan ke arah instruktur. Mereka akhirnya berbaris menghadap imstruktur.
"Tunjukkan status kalian" perintah instruktur.
Mereka dengan bersamaan menunjukkan status kecuali Karasu. Dia terlihat kebingungan dengan pesan yang timbul dilayar statusnya.
Apakah kamu ingin menyabotase status yang dimiliki?
Karasu merenungkan tentang ras dan kelas yang masih tersembunyi. Dia merasa terlalu merepotkan untuk menjelaskan kepada mereka atau sesuatu yang berbahaya bisa timbul karena ras dan statusnya. Jadi dia mencoba menyabotase statusnya.
\\*\\*\\*\\*
\\(Status\\)
Nama : William
Ras : Manusia
Level : 10
Kelas : Pendekar Kilat
HP : 900
MP: 500
(Str 20)(Int 11)(Vit 14)(Agi 15)(Dex 20)
__ADS_1
Peralatan : Zirah Kulit, Pedang Kayu.
Skill bawaan : Anak Kilat
Skill : Sambaran Kilat, Langkah Kilat, Tusukan Kilat.
****
\(Status\)
Nama : Dany
Ras : Manusia
Level : 10
Kelas : Penyihir Api
HP : 750
MP: 1.000
(Str 7)(Int 21)(Vit 10)(Agi 14)(Dex 17)
Peralatan : Zirah Kulit, Tongkat sihir Kayu.
Skill bawaan : Blue Flame
Skill : Bola Api, Ledakan, Perisai Api, Tembok Api.
****
\(Status\)
Ras : Manusia
Level : 11
Kelas : Pembunuh Bayangan
HP : 750
MP: 750
(Str 15)(Int 14)(Vit 10)(Agi 20)(Dex 20)
Peralatan : Zirah Kulit, Pedang Kayu
Skill bawaan : Blink
Skill : Lenyap, Sembunyi, Tikaman tersembunyi, Fatal.
****
\(Status\)
Nama : Karasu
__ADS_1
Ras : Manusia/Demon
Level : 20
Kelas : Succubus
HP : 1.700
MP: 1.200
(Str 20)(Int 15)(Vit 15)(Agi 20)(Dex 20)
Peralatan : Zirah Besi, Pedang Besi.
Skill bawaan : Licik
Skill : Mata Licik, Langkah Cahaya, Gelombang Kejut.
****
Karasu terperangah melihat status yang dimilikinya. William dan Dany tertawa melihat status Karasu hingga berguling-guling di tanah. Accel menaikkan salah satu alisnya. Instruktur melirik ke arah Celia dan Milea yang berjalan mendekat.
"Ada apa? Kenapa mereka tertawa?" Celia merasa bingung dengan yang terjadi. Dia berpikir apa yang lucu setelah melihat status masing-masing.
Dia melirik status William, Dany dan Accel. Ekspresinya masih tenang hingga dia melihat status Karasu. Milea menutup mulutnya untuk menyembunyikan ekspresi tertawanya. Sedangkan Celia menjadi suram melihat status Karasu.
Celia yang dingin dan gelap melirik Karasu dengan niat marah. Karasu hanya pasrah melihat tatapan Celia.
"Karasu, kamu ikut denganku" Celia berjalan pergi diikuti Karasu. Semua orang keheranan dengan apa yang terjadi.
"Baiklah, kalian bisa mengganti atau memilih peralatan di gudang istana" ucapan instruktur menyadarkan semua orang. Mereka lalu pergi ke gudang senjata.
***
"Mana Karasu dan putri Celia? Kenapa mereka sangat lama?" William terus bertanya yang membuat jengkel Accel dan Dany. Mereka memutuskan untuk mengumpat mulut William yang tak tau diam dengan batu.
"Hmm... Hmm..." Suara William terhalang oleh batu yang dimulutnya. William menatap marah Accel dan Dany.
Milea yang melihat kelakuan mereka cuma tertawa diam-diam. Karasu dan Celia berjalan sambil berpegangan tangan. William, Accel, Dany, instruktur bahkan putri Milea bingung dengan apa yang terjadi.
"Baiklah, kita akan mulai menjelajahi dungeon. Kami baru saja mendapat kabar bahwa ada dungeon muncul di dekat hutan Lix. Kita akan menjelajahi dungeon ini sekalian untuk mengetahui latihan kalian" ucap Instruktur.
"Sebelum itu, perkenalkan, namaku Perka. Seorang instruktur pedang" Perka melepas topengnya selama ini. Memperlihatkan sosok yang garang.
Mereka mempersiapkan segala peralatan yang dibutuhkan selama menjelajahi dungeon. Karasu dan Celia terlihat selalu bersama. William yang melihat mereka bersama akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Apakah kalian jadian?" pertanyaan itu mengejutkan Karasu, sedangkan Celia menyipitkan matanya karena bingung. Yang lain merasa tertarik akhirnya melihat ke Karasu dan Celia.
"Jadian? Apa itu?" tanya Celia.
"Jadian itu kalian baru aja pacaran atau menjadi pasangan. Jadi kalian jadiankan?" William menjelaskan dengan penasaran.
Celia langsung terbatuk setelah mengerti dengan maksud William. Karasu hanya tersenyum masam.
"Sebaiknya kita mulai berjalan pergi menuju dungeon. Perjalanan ke dungeon pasti memakan waktu. Ayo pergi" Karasu menarik tangan Celia lalu berjalan pergi. Yang lain bertambah penasaran dengan apa yang terjadi.
***
"Kita telah tiba di depan dungeon, semuanya bersiap-siap dan membentuk formasi. Kita akan memasuki dungeon. Berhati-hatilah dengan sekitarmu karena Kita tidak mengetahui apa yang ada didalam. Ayo masuk" Perka memberi arahan pada mereka.
"Sungguh energi yang suram" Dany merasakan energi misterius di sekitarnya.
William terlihat mengagumi besarnya dungeon. Sedangkan Accel dan Karasu merasakan firasat buruk. Mereka saling menatap dan mengangguk.
__ADS_1
Mereka mengerti sesuatu dan saling memberi kode khusus. Yang artinya "Ada jebakan didalam dungeon"