Night Raid Unknown

Night Raid Unknown
Dungeon Num VI


__ADS_3

Cahaya terang berwarna kuning terus mengelilingi seorang pemuda yang melayang di langit. Cahaya itu berkumpul di tangannya membentuk pedang.


"Pedang Energi : Petir"


William segera melesat masuk ke dalam mulut undead Wyvern. Menusuk undead wyvern dengan pedang energi. William menghancurkan inti kehidupan undead wyvern membuatnya segera menghilang menjadi butiran cahaya.


William melihat ke arah necromancer yang juga sedang melihatnya. Mata merah necromancer membuat William merasakan bahaya.


Necromancer menciptakan sebuah busur dari tulang. Dia menarik tali busur dan membidik William. Panah dari tulang muncul. Necromancer melepaskan tali busurnya. Panah melesat cepat ke arah William. William membuat pelindung dari energi disekitarnya.


William segera bersembunyi di balik pohon terdekat. Necromancer menembakkan panah lain ke arah William. William yang melihat itu segera menunduk. Panah tulang menembus pohon dan membuat lubang kecil.


William merasa bersembunyi adalah pilihan sia-sia. Pedang energi terbentuk di tangannya. William menerjang maju. Setiap kali panah akan dilepaskan, William segera bersembunyi di balik batu nisan. Jika tidak memungkin untuk menghindar dia akan membuat perisai energi.


Saat jarak William dan necromancer hanya 12 meter. Serangan necromancer berubah. Panah yang dilepaskan bisa mengubah arah mengikuti William. William terdesak mundur beberapa kali sehingga tidak bisa mendekati necromancer lebih jauh.


"Sial, bagaimana cara melawannya?" William terus memikirkan rencana.


William sudah menghalangi panah tulang necromancer dengan perisai energinya tapi perisai energi langsung hancur.


William tidak menyadari bahwa kalung di lehernya bercahaya terang. Perlahan-lahan sebuah sosok yang sedang duduk santai terlihat. Dia melihat William yang terus berjuang tanpa niat membantu.


William menyadari sosok itu terlihat familiar. Segera William terkejut dan lupa kalau sedang berada dalam pertarungan. Panah tulang melesat melewatinya.


"Apakah kamu perlu bantuan?"


William menjadi semakin terkejut mendengar suaranya.


"Karasu... Bagaimana bisa kamu?"


Sosok itu menggeleng kepalanya. William menjadi bingung. Sosok itu meluruskan tangan kirinya dan membuat sebuah penghalang menghalangi panah tulang necromancer.


"Aku memang Karasu tapi bukanlah Karasu yang asli. Aku hanya salah satu serpihan kekuatannya" William teringat dengan kalung dan dia memeriksa lehernya.


William kebingungan karena berpikir bagaimana kalung itu bisa muncul padahal mereka berada didalam dunia yang berbeda. William menyentuh kalung tersebut dan merasa kekuatannya semakin bertambah sedikit demi sedikit.


"Aku akan membantumu tapi hanya dengan sebuah saran. Aku tidak akan membantumu secara langsung karena jika aku membantumu secara langsung itu akan menunda peningkatan dirimu" William mengangguk tanda mengerti.


"Pertama, perhatikan jangkauan serangan musuh dan seranganmu. Usahakan setiap hindaran tidak terlalu lebar atau membuatmu keluar dari jangkauan seranganmu" segera serpihan Karasu mundur dan membuka penghalang.


Sosok itu memperhatikan William yang sedang mencoba saran yang diberikannya. William mencoba mengukur berapa jangkauan serangannya. William juga berusaha menghindari panah tulang dengan penghindaran minim. Kegagalan terus terjadi membuatnya harus mundur menjaga jarak.


William menggunakan health potion yang disimpannya. Dia terpaksa menggunakannya karena hp-nya sedikit. William merasakan bahaya di belakangnya segera berguling ke depan.


Skeleton terus menyerang William hingga memasuki daerah tembak necromancer. Kesulitan William terus bertambah saat skeleton terus bermunculan. Serpihan Karasu langsung mengambil tindakan.

__ADS_1


Tempat sekeliling William berubah putih. Sekarang hanya dia dan serpihan Karasu di tempat tersebut.


"Mungkin aku akan mengajarimu langsung. Jika kamu bisa mengalahkanku, kamu mungkin bisa dengan mudah mengalahkan necromancer itu" serpihan Karasu membuat pedang di tangannya.


William juga langsung membuat pedang dari energi yang tersisa. Pedang pemberian Ferina telah hancur saat dia bertarung dengan undead Wyvern. Sehingga dia hanya bisa menggunakan pedang energi.


"Bersiaplah, aku akan membuatmu merasakan seperti apa neraka" serpihan Karasu tersenyum menyeramkan.


William yang melihat itu segera serius. Serpihan Karasu melangkah maju. Langkahnya lambat membuat William dengan cepat mengambil serangan pertama. Langkah serpihan Karasu tiba-tiba cepat. Dia menghindari serangan William dan melakukan serangan balasan.


William terkejut dan terlempar mundur terkena tendangan serpihan Karasu. William merasa serpihan Karasu mengatakan "Ini baru awal" dari gerakan tubuhnya. William meningkatkan penjagaannya dan kembali menyerang tapi berhasil dihindari oleh serpihan Karasu.


"Lambat"


William merasakan sakit di seluruh tubuhnya. William memegang erat pedangnya. Dia langsung memutar tubuhnya. Mengayunkan pedangnya ke serpihan Karasu. Lagi-lagi berhasil dihindari oleh serpihan Karasu dengan mudahnya.


"Pelajarilah setiap gerakanmu dengan baik. Ketahuilah alasan kenapa musuhmu dengan mudah menghindari serangan" serpihan Karasu memberikan arahan setelah menyerang balik William.


Di aula istana Accel dan Dany berhasil mengalahkan ksatria biru dan merah dengan hp yang tersisa sedikit. Mereka beristirahat menunggu William. Milea membawakan sebuah daging yang baru dibakarnya.


"Aku tidak menyangka kamu akan membawa ranting dan daging, Accel" Dany menatap daging dengan tatapan serakah.


"Oh iya dong, kalau tersesat dan kelaparan, aku tinggal memasak daging ini saja sambil menunggu pertolongan" Accel menepuk dadanya yang rata dengan bangga.


"Cantik tapi rata" itulah yang dipikirkan Dany setelah melihat tindakan Accel.


***


William berlutut di hadapan serpihan Karasu. Dia menancapkan pedang energi untuk menahan tubuhnya. Rasa lelah dirasakannya. Dia mengangkat kepalanya menghadap serpihan Karasu dengan kesusahan.


"Hanya segini?" ucapan serpihan Karasu membuat William merasa marah.


Dia memaksakan dirinya untuk berdiri. Tanpa disadari kalung di lehernya mulai berubah. Serpihan Karasu tersenyum melihat William yang sudah memasang kuda-kuda.


"Baiklah, kamu sudah membuktikan tekad yang ada di hatimu. Sekarang aku akan mengirim sebagian kekuatanku. Kita akan bertemu lagi, William"


William merasa energinya kembali. Bahkan dia merasa lebih kuat dari sebelumnya.


>>>[Status]<<<


Nama : William


Kelas : -


Judul : -

__ADS_1


Level : 20


Ras : Human


Hp. : 2.000


Mp. : 1.000


(Str 1+100)(Int 1+100)(Vit 1+100)(Agi 1+100)(Dex 1+100)


>>>[Unknown]<<<


William terkejut melihat statusnya. Tempat disekitarnya kembali ke Funeral Num. Dia melihat Necromancer yang langsung membidiknya. William melangkah maju menghindari panah.


William terus menghindari serangan skeleton dan panah yang dilepaskan. Selama dia menghindari serangan, dia menyadari sesuatu. Perlahan-lahan dia dengan lincah menghindari setiap serangan tanpa kerepotan. Dia berjalan mendekati necromancer.


William berhasil melancarkan serangan. Dia segera menghancurkan topeng yang digunakan necromancer. Saat topeng hancur William merasa sangat terkejut hingga tidak menyadari pedang telah menusuk perutnya.


William mengeluarkan darah dari mulutnya dan menatap necromancer yang tersenyum kepadanya. William merasakan kesedihan di balik senyumnya.


Skeleton dan zombie telah mengelilingi mereka. Beberapa skeleton memegang busur dan sudah siap melepaskan panah mereka ke William. William tersenyum pahit melihat keadaan di sekitarnya.


"Merepotkan" William mendengar sebuah suara.


Dia menyadari suara itu adalah serpihan Karasu. Dia melihat kalung di lehernya yang berkedip.


"Sekarang dengarkan aku, aku akan mengajarimu salah satu skill yang cocok untuk situasi ini. Skill ini akan membantumu di setiap pertempuran. Tapi ingat, jangan sembarangan menggunakan skill. Jika kamu sudah memperlihatkan skill ini, kamu harus menghabisi musuhmu segera. Sekarang dengarkan arahanku"


"Pertama, memfokuskan semua energi di sekelilingmu untuk memasuki tubuhmu. Kedua, sebarkan energi itu ke seluruh tubuhmu"


William mencoba memfokuskan energi di sekitarnya untuk masuk ke dalam tubuhnya tapi gagal. Dia terus mencoba tapi gagal. Rasa sakit di perutnya terus bertambah. Skeleton juga mulai melepaskan panah.


"Hah, aku terpaksa harus melakukan ini. Mulai sekarang aku akan mengambil kendali seluruh tubuhmu, pelajarilah setiap hal ini" William kehilangan kendali atas tubuhnya, dia sekarang berada di alam bawah sadarnya.


Dari alam bawah sadar dia bisa melihat serpihan Karasu yang mengendalikan dirinya.


"Sekarang aku akan memainkan ronde ketiga" serpihan Karasu dengan paksa melepaskan pedang necromancer dan menendangnya jauh.


Para skeleton segera melepaskan panah. Serpihan Karasu melangkah maju mendekati salah satu zombie dan menggunakannya sebagai tameng. Serpihan Karasu menendang skeleton yang dekat dan mengambil pedangnya. Dia segera memotong setiap kepala zombie yang berada di jangkauannya.


Dia kembali menggunakan zombie di dekatnya saat para skeleton melepaskan panah lagi. Setelah hujan panah berakhir, dia melemparkan mayat zombie ke arah necromancer. Necromancer terjatuh dengan hantaman mayat zombie. Serpihan karasu segera berlari mendekat dan melompat. Dia segera menghantam tubuh necromancer dengan pedangnya.


William yang melihat tindakan serpihan Karasu terkejut. Dia tidak menyangka kekuatan yang ditunjukkan mereka berbeda. William merasakan semangat untuk menjadi kuat saat melihat serpihan Karasu. Dia teringat bahwa Karasu belum ditemukan.


"Aku pasti akan menyelamatkanmu"

__ADS_1


\>\>\>\[Unknown\]<<<


__ADS_2