
Di pojokan restoran, William dan Dany bersandar di kursi dengan tak berdaya. Mereka merasakan kalau perut mereka bakal pecah. William dan Dany berkeringat dingin sekaligus ngeri dengan pemandangan di depan mereka.
Milea dan Accel sudah menghabisi semua makanan dan minuman yang di pesan. Tapi mereka memesan lagi makanan dan minuman lain. William tidak membayangkan berapa yang harus dibayar. William melihat ke arah Dany yang juga mengangguk.
***
>>>[Rumah William]<<<
Dany dan Accel sedangkan membicarakan strategi. Milea hanya mendengar pembicaraan mereka karena tidak mengerti. Sedangkan William menjadi pembantu dirumahnya. Dia membawa nampan dan meletakkannya di meja. Accel dengan cepat menyambar gelas dan menuangkan teh ke gelasnya.
"Jadi di kota mana kita akan bertemu?" William melihat Accel dan Dany bergantian.
"Kota Num" William mengangguk mendengar jawaban Accel.
Dany menjelaskan tentang bagaimana cara membuat karakter kepada Milea. Accel sedangkan merancang tujuan mereka melalui info yang didapatkannya. William berpikir keras untuk memilih kelas yang akan digunakan.
Mereka mempersiapkan diri untuk mulai memainkan Unknown. William mempersiapkan perlengkapan VR-nya. Accel teringat bahwa perlengkapan untuk Milea tidak ada. Accel segera bertanya pada William.
"Ada satu lagi tapi itu perlengkapan kakakku..." William terlihat ngeri saat menyebutkan kakaknya.
William hanya tersenyum pahit lalu mengambil perlengkapan VR kakaknya. Dia menyerahkannya ke Milea. Milea langsung menggunakan perlengkapan VR diikuti William, Dany dan Accel.
"Unknown, Start"
>>>[Unknown]<<<
(Akun anda belum terdaftar, ingin mendaftar?)
"Ya"
(Berhasil mendaftar)
(Sebutkan nama yang akan digunakan)
"Axcel"
(Apakah anda yakin ingin menggunakan nama 'Axcel')
"Yakin"
(Sebutkan ras yang akan digunakan)
"Human"
(Apakah anda yakin?)
"Ya"
(Sebutkan kota tujuan anda)
"Kota Num"
(Memproses status pemain)
(Anda akan dikirim ke kota Num)
Penglihatan Accel segera menjadi buram sehingga dia harus menutup mata. Saat dia membuka mata yang dilihatnya adalah pemandangan ramai para player dan npc. Accel berjalan-jalan mencari teman-temannya.
"Aku berharap mereka tidak jauh"
***
William, Dany, Milea berkumpul di dekat pohon yang besar. Mereka duduk di salah satu kursi dekat pohon. Mereka melihat status yang dimiliki.
>>>[Status]<<<
__ADS_1
Nama : William
Kelas : -
Judul : -
Level : 0
Ras : Human
Hp. : 100
Mp. : 100
(Str 1)(Int 1)(Vit 1)(Agi 1)(Dex 1)
>>>[Unknown]<<<
>>>[Status]<<<
Nama : Dany
Kelas : -
Judul : -
Level : 0
Ras : Human
Hp. : 100
Mp. : 100
(Str 1)(Int 1)(Vit 1)(Agi 1)(Dex 1)
>>>[Unknown]<<<
>>>[Status]<<<
Kelas : -
Judul : -
Level : 0
Ras : Human
Hp. : 100
Mp. : 100
(Str 1)(Int 1)(Vit 1)(Agi 1)(Dex 1)
>>>[Unknown]<<<
Status yang mereka miliki sama. William dan Dany saling tersenyum. Milea yang melihat mereka berpikir bahwa mereka memiliki hubungan khusus.
Di tengah keramaian, mereka melihat seorang perempuan berlari menuju tempat mereka. William terlihat bersemangat.
"Wanita itu pasti terpesona oleh ketampananku" William dengan bangga menghadap Dany.
Milea dan Dany hanya tersenyum kecut. Perempuan itu tiba di depan mereka.
"Akhirnya aku menemukan kalian" suara manis dan lembut memasuki telinga William yang membuatnya lebih bersemangat.
__ADS_1
Perempuan itu melihat sikap William yang aneh. Dia dengan bingung memperhatikan William. Dany dan Milea memikirkan sesuatu tapi membuang pikiran itu.
"Kenapa dengan kamu William?" pertanyaan perempuan itu semakin membuat William bangga melihat ke arah Dany.
Dany mengerutkan matanya melihat William. Dia melihat ke arah perempuan dan mengajukan pertanyaan.
"Siapa kamu?"
Pertanyaan itu membuat si wanita terdiam. Dia terlihat kebingungan menatap William dan Dany.
"Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian tidak mengenalku?" pertanyaan itu membuat kecurigaan Dany makin menjadi.
Bahkan Milea yang berada di samping Dany merasa curiga. Hanya William yang tidak menyadarinya.
"Jadi... Kamu Accel" pernyataan itu membuatmu William diam membeku.
William menatap si perempuan dan Dany dengan tatapan tidak percaya. Accel juga menyadari sesuatu dan melihat tubuhnya sendiri. Wajahnya menjadi sangat merah setelah melihat tubuhnya. Tangannya bergerak sangat cepat menghantam kepala Dany dan William.
Tindakannya menarik perhatian orang sekitar mereka. Mereka berhenti dan memperhatikan Accel, William dan Dany. Mereka berpikir bahwa William dan Dany sedang mengganggu Accel.
***
"Sungguh, aku tidak menyangka bahwa kapten kita adalah perempuan" William terlihat tidak percaya menatap Accel.
Accel memalingkan mukanya menghadap ke arah lain. Wajahnya terlihat sangat merah.
"Aku juga tidak menyangkanya. Jadi... Siapa saja yang mengetahui bahwa kamu perempuan, Accel?" Dany menghembuskan nafasnya dengan berat.
Milea hanya diam memperhatikan. William dengan penasaran mempersiapkan telinga untuk tidak melewatkan satupun ucapan Accel.
"Hanya Karasu. Dia yang mengetahui bahwa aku perempuan" Accel menutup mukanya dengan malu.
"Kapan? Dan apa yang dia bilang" pertanyaan William membuat Accel salah tingkah.
Accel terlihat kesal sekaligus malu. Dany dan William yang melihat sikap Accel berpikir bahwa itu imut.
"Saat mengganti baju di ruang ganti. Apa yang dikatakannya... Rata" William dan Dany langsung tertawa membuat Accel kesal.
Accel melihat Dany dan William dengan tatapan membunuh. Merasakan bahaya Dany menghentikan tawanya. William masih tertawa tanpa menyadari bahwa Accel berjalan mendekatinya. Hp yang dimiliki William segera menjadi nol.
***
Accel berjalan ke sebuah hutan diikuti teman-temannya. Mereka berjalan dengan waspada.
"Dany, dimana arah dungeon terdekat di hutan ini?" pertanyaan Accel membuat Dany terkejut.
Dany melihat Accel dengan tidak percaya. Tapi setelah berpikir sebentar Dany pikir bahwa setelah sampai level 5 mereka akan langsung menantang dungeon.
"Dungeon yang berada disini adalah dungeon Num" Accel mengangguk lalu melihat William yang mengajari Milea bertarung dengan monster.
"Jangan biarkan bar level kalian hampir penuh. Jika mau penuh langsung bunuh diri. Kita akan mencari uang sebentar untuk membeli beberapa health potion untuk menantang dungeon. Kita akan menantang dari level 0 dengan tangan kosong" Keterkejutan terlihat di William, Dany dan Milea.
Mereka berpikir bahwa Accel sudah gila dan ingin menghilangkan stress karena hal sebelumnya. Tapi mereka teringat bahwa menantang dungeon lv 5 sangat menantang jika itu dilakukan dari level 0 tanpa perlengkapan apalagi dengan tangan kosong. Dengan cepat ide Accel diterima.
William dan Dany dengan semangat membunuh para monster untuk mengumpulkan bahan yang bisa dijual. Jika bar persen level mereka hampir penuh, dengan cepat mereka bunuh diri.
Proses itu berlangsung 6 jam. Waktu di game dan kenyataan berbeda. Waktu di game berlangsung dua kali lebih lama. Jika di game waktu berlangsung 6 jam, maka di kenyataan waktu baru berlangsung 3 jam. Sangat efektif untuk para gamer apalagi kalau ada tugas numpuk tinggal kerjakan di dalam game saja.
Accel memberikan setiap orang tiga botol health potion. Selesai membagikan potion, mereka berjalan menuju ke tempat dungeon. Accel sudah mempersiapkan jalan sehingga aman terhindar dari monster.
Mereka sampai di depan dungeon Num. Dungeon Num terlihat lumayan besar. Mereka saling mengangguk lalu masuk ke dalam dungeon.
\>\>\>\[Unknown\]<<<
__ADS_1