Night Raid Unknown

Night Raid Unknown
Hukuman


__ADS_3

Di atas atap, terlihat seorang pemuda yang sedang bersantai sambil memakan roti. Dia memandangi seorang pemuda yang pingsan di pukul oleh perempuan.


Seorang penjaga dengan segera menghampiri si perempuan. Perempuan itu terlihat marah dan memerintahkan mereka membawa pemuda yang pingsan.


Pemuda itu memperhatikan perempuan dengan teliti. Raut wajah terkejut terlihat diwajahnya.


"Kenapa dia mirip dengan Putri Milea?" Karasu mengingat postur tubuh Putri Milea.


Putri Milea memiliki rambut berwarna biru yang panjang yang diikat. Mata emas yang membawa aura ceria dan damai. Sedangkan perempuan ini memiliki rambut biru yang sesuai dengan matanya. Rambutnya dibiarkan terurai. Dia mengenakan gaun berwarna biru.


(Mata Licik Aktif)


***


Nama : Celia


Ras : Manusia


Level : 75


Kelas : Penyihir Es


***


"Jadi namanya Celia" Karasu menyaring informasi di kepalanya.


Selesai menyaring informasi, Karasu akhirnya mengerti. Karasu memgikuti si perempuan hingga ke aula istana. Selama perjalanan perempuan itu menyuruhkan penjaga membawa teman-temannya yang pingsan.


Putri Milea yang berbicara dengan seseorang terkejut dengan kedatangan Celia. Tapi dia langsung bingung saat melihat para penjaga membawa teman-temannya.


"Apa yang terjadi Kakak?" tanya Putri Milea berjalan mendekati Celia.


Celia menggeleng kepalanya "Hanya terdapat seorang yang licik memanfaatkan situasi".


Mendengar ucapan Celia membuat marah Milea "Siapa yang berani melakukan itu kepada kakak?".


Para penjaga yang melihat kemarahan tuan putri hanya berjalan menjauhinya. Tidak berani melalukan sesuatu yang menyinggung perasaannya lebih jauh.


"Tidak apa-apa, sudah ku urus" jawab Celia dengan ekspresi tenang dan dingin.


Karasu yang melihat dari celah ruangan hanya bergidik ngeri. Karasu memutuskan untuk segera pergi dari aula.


Seorang pelayan mendekati putri Milea dan Celia. Dia melaporkan bahwa Accel, Dany dan William sudah di obati.


"Apakah mereka pahlawan yang kamu panggil?" tanya Celia penasaran.


"Iya, sebenarnya ada satu orang lagi, tapi aku bingung dimana dia dan kenapa mereka bisa babak belur?" Milea merasa heran sedangkan Celia menjadi dingin.


"Baiklah, urusanku sudah selesai disini, aku akan pergi" Celia berjalan pergi meninggalkan aula lalu memandang ke atap.

__ADS_1


Karasu yang sedang menikmati makanannya sambil menghirup udara segar merasa dingin di punggungnya. Dengan segera dia menghindar ke samping.


Serpihan es melewati tempat dimana dia duduk tadi. Karasu melihat ke asal serpihan es dan berteriak "Siapa?!"


Udara dingin merasuki tubuh Karasu membuatnya menggigil kedinginan.


"Kali ini kamu tidak akan bisa lari" suara lembut dan dingin perempuan terdengar disampingnya.


Karasu dengan reflek menghindar. Tapi dia merasakan kakinya tidak bisa bergerak dan terasa sangat dingin. Dia melihat kebawah, es terlihat membekukan kakinya.


Dia melihat ke samping dan mendapati Celia sedang tersenyum ke arahnya. Karasu dengan cepat memutar otaknya untuk kabur dari Celia.


"Kenapa kamu menyerangku" tanya Karasu menyembunyikan perasaan gugup.


Celia masih tersenyum dingin. Alih-alih menjawab pertanyaan, Celia membaca mantra yang membuat Karasu sangat panik.


Sebuah ide melintas tapi Karasu ragu menggunakannya karena takut membuat masalah lebih jauh. Karena tidak mendapat ide lain Karasu memberanikan dirinya.


"Bodo amat, yang penting selamat" pikir Karasu dengan cepat tangannya bergerak menarik baju Celia untuk membuatnya mendekat berniat mengganggu konsentrasinya.


Celia yang sedang membaca mantra tidak bisa berbuat mantra. Walaupun ditarik oleh Karasu tapi Celia tetap membaca mantra dan bertambah cepat.


Melihat Celia masih membaca mantra membuat Karasu merinding ngeri. Karasu menggertakkan giginya dan mengumpulkan tekadnya.


Karasu mengunci mulut Celia dengan mulutnya. Celia terkejut dengan ciuman tiba-tiba dan melebarkan matanya. Karasu terus mengunci mulut Celia hingga mereka kehabisan nafas.


Celia melihat ke arah Karasu dengan kemarahan yang luar biasa. Sebuah tongkat sihir muncul ditangan Celia.


Tongkat itu berwarna biru dengan di ujung tongkat terdapat kristal es. Tiga cincin lingkaran mengelilingi kristal es.


"Dasar kau cowok mesum, kau sudah mencuri ciuman pertamaku. Kau pantas di HUKUM. TOMBAK ES" Celia meraung marah.


Sebuah lingkaran sihir muncul diatas Celia. Tombak es timbul keluar dari lingkaran. Celia mengayunkan tongkatnya ke arah Karasu dan dengan cepat tombak es meluncur.


Karasu meneguk ludahnya dan berpikir "Sepertinya ini akhirku".


Karasu hanya berdiam diri melihat tombak es mendekatinya. Jarak Karasu dan Celia begitu dekat sehingga Karasu merasa percuma menghindar dari tombak es.


"Tidak, aku tidak akan mati, aku harus hidup" naluri bertahan hidup Karasu timbul.


Karasu melihat tombak es yang tinggal beberapa sentimeter. Tubuhnya dengan cepat mundur ke belakang dan menunduk. Tombak es tepat melewati kepala Karasu.


Setelah tombak es di hindari, Karasu berbalik dan melompat pergi dengan sangat cepat. Menghilang dari pandangan Celia.


Celia yang melihat Karasu menghilang cuma menggertakkan giginya marah. Kilatan dingin terlihat dimatanya.


***


Diruangan tempat dimana Accel, Dany dan William dirawat. Terlihat mereka sudah sadarkan diri. Mereka terbangun dan bingung dimana mereka.

__ADS_1


"Ugh, apa yang terjadi?" William bangun memegang kepalanya dan melihat sekelilingnya.


William melihat Accel dan Dany juga terbaring. Mereka berusaha mengingat apa yang terjadi. Saat mereka mengingat apa yang terjadi, mereka memikirkan satu nama yang sama.


"Awas saja kau Karasu" ucap mereka dengan marah.


Suara pintu yang dibuka terdengar. Mereka segera melihat ke arah pintu. Seorang perempuan yang mengenakan gaun putih terlihat memasuki ruangan.


"Eh, kalian sudah sadar?!" putri Milea agak terkejut dan berjalan mendekati mereka.


"Apa yang terjadi dengan kalian? Dan dimana teman yang kalian yang satunya?" Milea bertanya dengan penasaran.


Accel, Dany dan William tersenyum kecut mendengar pertanyaan putri Milea. Mereka saling memandang satu sama lain lalu menghela nafas ringan.


"Yeah, cuma dibalas dendam oleh teman kami yang licik" jawab Accel tersenyum pahit.


Dia merasa ditipu oleh Karasu yang menyuruhnya menggunakan skill Blink bukan sembunyi. Sedangkan Dany kesal karena menjadi samsak tinju. Kalau William tidak menerima kenyataan bahwa dia tidak bisa membalas perbuatan Karasu.


Putri Milea yang melihat ekspresi mereka hanya berdiam diri. Setelah merasa mereka sudah tenang putri Milea melanjuti pertanyaannya.


"Jadi, dimana teman kalian?" tanya putri Milea memastikan sesuatu.


Accel, Dany dan William menggeleng kepala pelan.


"Semoga firasatku tidak benar" pikir putri Milea melihat jawaban mereka.


suara langkah kaki terdengar dan terlihat Celia memasuki ruangan.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Celia dingin.


"Kami baik" jawab Accel.


celia mengangguk mendengar jawaban Accel.


"Jadi siapa namamu?" Celia melihat Accel, Dany dan William satu persatu.


"aku Accel, yang disebelah kananku bernama Dany sedangkan disebelah kiriku bernama William" ucap Accel yang diikuti anggukan William.


"Namaku Celia, kakak dari Milea. Oh ya, siapa nama teman kalian yang satunya?" ucap Celia dengan sangat dingin.


Accel, Dany dan William terkejut mendengar ucapan dingin Celia. Mereka segera berpikir "Apa yang sudah kamu lakukan sampai membuat seorang gadis sangat marah, Karasu?".


"Namanya Karasu, putri Celia" jawab Dany dengan cepat.


Celia yang mengetahui nama Karasu tertawa dingin.


"Karena teman kalian membuatku kesal, kalian akan dihukum besok. Kalian akan mengetahui hukuman kalian di tempat pelatihan" ucap Celia lalu berjalan pergi.


Accel, William dan Dany mengutuk Karasu dalam Hati "Dia yang berbuat, kita yang terkena"

__ADS_1


__ADS_2