
Di pagi hari yang cerah, terlihat sekelompok siswa-siswi yang berlari. Mereka dengan semangat menuju sekolah. Hingga pagar sekolah pun mereka panjati karena menghalangi.
"Aman" Accel melihat sekelilingnya dengan waspada.
Mereka dengan cepat berlari ke lantai atas menuju kelas mereka. Di kelas masih belum ada guru sehingga mereka aman. Mereka duduk di kursinya masing².
"Dengar-dengar kalau akan ada siswa pindahan yang bersekolah di tempat kita ya Rin?"
"Iya, bahkan guru pun bersiap-siap menyambut kedatangan mereka. Bahkan siswa yang terlambat langsung disuruh masuk ke dalam kelas"
Dany dan William saling memandang setelah mendengar percakapan para perempuan di depan mereka. William langsung mengecek hp-nya begitu juga Dany.
Keributan telah terjadi di depan gerbang sekolah. Para guru telah berdiri menyambut kedatangan mereka. Para siswa yang telat terlihat kebingungan dan berjalan masuk.
Mobil sedan hitam muncul di depan gerbang. Tiga orang siswa keluar dari mobil. Mereka memandangi sekolah dengan takjub.
"Jadi ini sekolah Avaris yang terkenal itu. Ternyata julukannya sebagai sekolah para 'Genius' bukan bohong belaka. Bahkan siswa yang telat ini tidak bisa diremehkan" salah satu dari mereka melangkah maju dan melihat sekolah, guru dan siswa terlambat serta siswa yang terlihat di dekat jendela.
"Kamu selalu antusias, Astar" siswa yang berkacamata menatap sinis siswa yang terlihat kagum.
Astar hanya tertawa dan berjalan masuk melewati gerbang sekolah. Dia langsung di sambut para guru yang berbaris. Melihat itu dia bertambah kagum.
Temannya yang berkacamata hanya menghela nafas berat. Dia melihat ke arah siswa yang terlihat dingin. Dia melihat ke sebuah jendela. Senyum mengembang disudut mulutnya.
Dia berjalan masuk dan menyapa kepala sekolah. Kepala sekolah langsung membimbing mereka masuk ke kantornya.
"Gantengnya" perempuan di depan Dany dan William mulai ribut membuat mereka kesal.
Pintu kelas terbuka membuat para siswa dikelas langsung diam. Seorang guru bersama tiga siswa pindahan berjalan masuk ke dalam kelas.
"Baiklah, seperti yang kalian lihat, kita kedatangan murid pindahan. Silahkan perkenalkan diri kalian" Pak guru langsung duduk di kursinya.
"Perkenalkan, namaku Astar, semoga kita bisa menjadi teman. Bahkan untuk perempuan yang ingin hubungan lebih dari teman boleh kok" Astar dengan semangat memperkenalkan diri.
__ADS_1
Cowok berkacamata di sebelahnya langsung menepuk dahinya sendiri. Dia merasa malu mempunya teman sepertinya.
"Perkenalkan, namaku Ken. Mohon untuk diketahui yang di sebelahku ini bukan temanku. Harap diingat! Terima kasih" cowok berkacamata yang bernama Ken langsung menjauh dari Astar.
"Namaku Lin" seorang laki-laki yang terlihat tidak peduli memperkenalkan dirinya.
Accel yang mendengar itu langsung mengangkat wajahnya melihat Lin. Mata mereka saling bertemu. Lin langsung tersenyum sedangkan Accel menatap dengan penuh kebencian.
"Baiklah, kalian boleh duduk di tempat duduk yang kosong. Accel, karena tempat duduk di sebelahmu kosong, bapak harap kamu bisa berbagi" Accel langsung bertambah benci setelah Lin berjalan ke tempat duduk di sebelahnya.
Saat pak guru ingin memulai pelajaran, Accel langsung berdiri. Hal tersebut menarik perhatian pak guru.
"Ada apa Accel?" Pak guru terlihat menghela nafas berat.
"Kami ingin pindah ke pelajaran lain pak" Accel langsung melihat William dan Dany memberi tanda ke mereka.
William dan Dany langsung mengerti apa yang terjadi dan setuju. Mereka langsung ikut berdiri. Milea yang melihat tindakan mereka juga ikut berdiri walaupun bingung apa yang terjadi.
Diluar kelas Dany melihat Milea yang masih kebingungan mula berjalan pelan hingga berjalan bersampingan. Dany langsung memegang tangan Milea dan menjelaskan apa yang terjadi.
Selain memiliki julukan sekolah para 'Genius', sekolah Avaris miliki julukan lain yaitu sekolah 'Bebas. Julukan itu lebih terkenal ketimbang julukan para 'Genius'.
Sekolah Avaris memiliki sistem yang berbeda dari sekolah lain. Sistem yang digunakan terbilang unik karena memiliki banyak kebebasan untuk siswa. Para guru di sekolah Avaris akan mempersilahkan para siswa yang merasa bosan dipelajaran tertentu untuk pindah ke pelajaran lain. Karena bagi mereka, siswa yang bosan bakal tidak mengikuti pelajaran bahkan melakukan hal lain untuk mengisi kebosanan sehingga pelajaran yang ada tidak bakal masuk ke otak.
Sistem ini terbilang tidak efektif karena siswa yang pindah pelajaran pasti membutuhkan waktu untuk mencari pelajaran yang di minatinya. Karena setiap hari dan jam bakal berbeda pelajaran diseluruh kelas.
Tapi untuk hal tersebut para guru sudah mempersiapkan pelajaran bagi siswa yang pindah kelas dadakan. Siswa bisa mengganti pelajaran di jam tertentu. Sehingga saat mereka pindah pelajaran, mereka tidak tertinggal.
Sebelum memulai pelajaran, para siswa dipersilahkan untuk bersiap dulu selama 30 menit. Waktu yang terbilang lama tapi cukup untuk menentukan minat dan mencari pelajaran lain.
Bahkan jika para siswa yang ingin berpindah kelas dan sudah menentukan pelajaran yang ingin dia pelajari bisa bertanya pada guru di kelasnya untuk membantu.
Saat ini Accel terus mencari pelajaran yang diminatinya. Dany dan William hanya mengikuti sambil melihat setiap kelas yang dilewati. William teringat sesuatu segera memberitahukannya kepada Accel.
__ADS_1
"Accel, bagaimana kalau kita ke kelas game?" Accel langsung bertambah suram.
Dia terlihat ingin sekaligus tidak. Hal itu membuat mereka bingung dan mengingat kejadian di game sebelumnya.
"Jadi itu alasannya selama ini... " William dan Dany menghela nafas dengan berat.
Mereka berpikir bahwa Accel akan menolak tapi kali ini dia menyetujuinya. Mereka langsung berjalan ke aula besar yang dipersiapkan untuk peralatan game.
Walaupun game merupakan hal favorit para siswa untuk mengisi waktu, tapi yang mendatangi kelas ini hanya sedikit. Hanya terdapat 20 orang siswa di tambah Accel dan temannya.
Mereka berkumpul di tengah aula. Seorang pria sedang terlihat mempersiapkan sesuatu. Suara keyboard terus terdengar. Tangan pria itu dengan lincah bermain di atas keyboard. Bahkan pria itu sedang meminum secangkir kopi.
"Ah, kalian bebas melakukan apa pun disini. Tapi jangan sampai merusak. Masih tersisa 20 menit sebelum di mulai" pria itu terus melanjutkan pekerjaannya setelah memberikan arahan.
Accel berjalan mengelilingi aula. Dia melihat banyak perlengkapan game. Bahkan game yang ada juga banyak. Accel berjalan hingga dia melihat sebuah alat yang nembuatnya cemberut. Dia langsung memalingkan muka dan melihat perlengkapan game lainnya.
"Ternyata perlengkapannya lengkap ya, Dany" William dan Dany terus berbincang membiarkan Accel sendiri.
Dany akan berbicara pada Milea dan memperkenalkan peralatan yang ada. William yang melihat itu langsung berpikir "Kapan mereka jadian?".
"Mungkin saat berada di dungeon" sebuah suara yang akrab didengar oleh William.
William segera melihat sekitarnya. Dia tidak melihat satu pun orang yang dikenalnya. Bahkan orang yang berada didekatnya hanya Dany dan Milea yang sedang bermesraan. William melihat Dany dan Milea yang bermesraan memutuskan untuk menjauh diam-diam.
William melanjutkan mencari asal suara tapi tidak menemukannya. Kalung di lehernya berkilau dengan redup membuatnya teringat sesuatu.
"Apakah itu kamu, serpihan Karasu?" William memegangi kalung di lehernya dengan penasaran.
"Tentu saja, apakah kamu tidak menggunakan otakmu?" serpihan Karasu terlihat sangat kesal.
William memalingkan mukanya sambil bersiul seolah-olah tidak mendengar ucapan serpihan Karasu. Mengetahui itu serpihan Karasu semakin kesal. Cahaya di kalung mulai menghilang. William hanya menggaruk bagian belakang kepalanya melihat hal itu.
\>\>\>\[Unknown\]<<<
__ADS_1