Night Raid Unknown

Night Raid Unknown
Unknown


__ADS_3

Suara ledakan terdengar di seluruh ruang dimensi. Karasu dan Dforga terpental akibat benturan yang mereka ciptakan. Mereka saling melihat beberapa saat. Karasu diam-diam menggerakkan ujung jarinya. Lingkaran sihir terwujud di belakang Dforga.


"Panah sihir" ucap Karasu pelan.


Panah sihir keluar dari dalam lingkaran mengenai punggung Dforga. Dforga meraung dan menyerang dengan tentakelnya. Karasu menebas tentakel dengan pedangnya.


"Apa?" Karasu terkejut dengan pemandangan yang ada di depannya.


Banyak bola energi yang diciptakan oleh setiap tentakel. Karasu menelan ludahnya. Dia segera melangkah mundur. Tapi dia tak menyangka bahwa dia masuk ke dalam jebakan Dforga. Tentakel muncul dari ruang kosong melilit tubuhnya dari belakang.


"Last Hope: The Final Light" Cahaya berkilau di sekitar Karasu.


Semua bola dilepaskan ke tempat Karasu terus-menerus. Dforga tidak merasa puas memanggil senjata miliknya. Sebuah tombak panjang muncul di tangannya. Dia membidik ke tempat Karasu. Walaupun ditutupi cahaya akibat serangan yang dibuatnya, Dforga bisa merasakan keberadaan Karasu dengan energi kehidupan yang dimiliki Karasu.


Dforga melempar tombak. Tombak melesat cepat ke arah Karasu. Di balik cahaya Karasu tersenyum. Tentakel yang mengikatnya telah hancur akibat serangan Dforga sendiri.


Whoosh... Slash...


Dforga menoleh ke belakang melihat Karasu yang telah menyarung kan pedangnya. Tubuh Dforga terbelah dua. Dforga meraung marah.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu menang?" ucapan Dforga membuat Karasu menyadari sekitarnya.


Dia melihat sekelilingnya. Teringat kalau dia berada di domain Dforga membuat Karasu tersenyum kecut.


"Sepertinya ini tidak akan mudah" pikirnya.


***


Suara burung berkicau terdengar di telinga Dany. Dia melihat sekitarnya. Pemandangan asing sekaligus akrab memasuki kepalanya. Dany mencoba berdiri tapi tubuhnya terasa sangat lemah. Dia menyadari ada Accel dan William di sampingnya. Dany teringat dengan kejadian dan kenapa dia bisa berada disini.


"Karasu" ucapnya tanpa sadar.


Dany juga teringat dengan Milea dan Celia. Dia segera mencari mereka walaupun tubuhnya terasa sangat lemah. Tak berapa lama Accel dan William terbangun dan melihat Dany yang sedang kepanikan.


"Dimana ini?" ucap William.


Accel dan William melihat sekitarnya dan terkejut. Mereka mendekati Dany dan menepuk pundaknya. Dany terkejut dan melihat Accel dan William dengan kesal.


"Bagaimana kita bisa berada di taman kota?" tanya William dengan penasaran.


Dany menghembuskan nafasnya dengan berat dan berkata "Karasu mengirim kita kembali dengan kekuatannya".


Dany memegang kalung di lehernya. Accel dan William juga sadar kalau mereka memilikinya tapi dengan warna yang berbeda.


"Apa ini?" tanya Accel.

__ADS_1


Dany hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Accel dan William dengan penasaran memeriksa kalung di leher mereka.


"Sebentar, kalau kita dikirim kesini... Bagaimana dengan Milea dan Celia?" tanya William teringat dengan Milea dan Celia.


"Aku pun tidak mengetahui keberadaan mereka saat ini. Aku sudah mencari mereka sekitar taman tapi tidak menemukannya" ucap Dany mengangkat tangan dan menggelengkan kepalanya.


"Ah, kalian sudah sadar?" sebuah suara terdengar di belakang mereka.


William, Accel, Dany dengan cepat melihat ke asal suara dan melihat seorang wanita yang mirip Milea. Mereka terkejut dengan penampilan Milea. Milea mengenakan seragam sekolah yang sama dengan mereka. Mereka juga melihat Celia yang tak sadarkan diri di kursi taman.


William menyadari sesuatu segera melihat jamnya. Jam di tangannya menunjukkan angka 9. Accel yang melihat William juga tersadar. Saat ini mereka semua mengenakan seragam sekolah dan berada ditaman.


"Apakah kita sedang bolos sekolah?" pikir mereka.


Disaat itu mereka melihat seorang perempuan yang juga mengenakan seragam sekolah berlari ke arah mereka. Perempuan itu tiba didepan mereka. Dia terlihat sangat kelelahan. Keringat mengalir dari rambutnya. William dan Dany meneguk air liur melihat kecantikan didepan mereka.


"Jadi kalian disini... Saya mencari kalian karena tidak ada saat saya mengabsen. Eh, apa yang terjadi dengan Celia?" perempuan itu menghampiri Celia dan memeriksa kondisinya.


Mereka bisa melihat ekspresi terkejutnya saat memeriksa Celia. William menyenggol bahu Dany sambil berbisik "Siapa perempuan ini? Aku baru tau kalau ada keindahan seperti dia".


Dany menatap William dengan kesal dan menepuk pundaknya dengan kuat sambil berkata "Seriuslah".


William tertawa hambar memegang pundaknya sambil berkata dalam hatinya "Ngajak berantem nih orang".


Sambil menjawab pertanyaan si perempuan, Dany dan William melirik ke dada miliknya.


"Natasha" ucap mereka pelan.


"Eh, ada apa?" mendengar namanya di panggil Natasha memiringkan kepalanya dengan jari telunjuk di bibirnya.


William dan Dany menelan ludah. Accel yang mengamati mereka cuma menggelengkan kepalanya. Dia berbicara dengan Milea yang juga melihat kelakuan William dan Dany. Milea hanya tersenyum melihat kelakuan mereka.


"Ternyata kamu cantik juga jika tersenyum" ucap Accel membuat Milea tersipu.


"Kita harus kembali, yang lain pasti khawatir. Tapi Celia... " ucap Natasha melihat Celia yang terbaring tak sadarkan diri di kursi taman.


Accel berjalan mendekati Celia dan mengangkatnya.


"Maaf Karasu" ucap Accel dalam hati.


Natasha yang melihat perbuatan Accel cuma mengangguk lalu berjalan pergi. Accel yang menggendong Celia mengikutinya begitu juga Milea, William dan Dany.


***


Di ruang dimensi yang tak diketahui, terlihat seseorang yang sedang duduk santai di atas mayat monster. Dia melihat sekelilingnya dengan bingung.

__ADS_1


"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" ucapnya.


Ruang disekitarnya mulai menjadi kacau. Retakan mulai terlihat disekitarnya. Karasu menghembuskan nafasnya. Dia melihat ke arah retakan besar yang berada di kejauhan. Karasu melesat dengan cepat ke arah retakan.


"Sial, ini ruang kekacauan" ucap Karasu setelah masuk ke dalam retakan.


Karasu melihat banyak monster muncul. Karasu juga melihat di kejauhan terdapat lingkaran sihir aneh. Memegang erat pedangnya, Karasu dengan cepat menuju ke arah lingkaran sihir misterius tapi selalu di halangi oleh monster-monster.


"Sial, waktuku tidak banyak" pikir Karasu.


Karasu terus menebas setiap monster yang menghalanginya. Walaupun monster mudah dikalahkan tapi Karasu merasa sangat lelah. Bertarung dengan Dforga menguras semua energi miliknya. Cahaya disekitarnya mulai meredup tanda energi yang dimilikinya hampir habis.


Hanya beberapa jarak lagi Karasu bisa mencapai lingkaran sihir misterius. Sebuah monster yang dua kali lebih besar dari monster lainnya muncul dihadapan Karasu. Monster itu meraung dan menyerang Karasu dengan tombaknya. Karasu menghindari serangan dan menyerang lengan monster raksasa. Karasu melanjutkan serangan ke titik vital lain monster raksasa. Menghabisinya dalam satu rangkaian serangan.


Monster raksasa menghilang dari pandangan Karasu. Begitu juga monster lainnya ikut menjauh dan menghilang. Karasu mendekati lingkaran sihir misterius dan memegangnya. Rasa sakit di tangan membuatnya terkejut. Lingkaran sihir mulai berputar. Ruang disekitarnya menjadi sangat kacau dari sebelumnya. Karasu merasa sesak tidak bisa bernafas. Perlahan-lahan Karasu kehilangan kesadaran akibat energi yang dimilikinya telah habis dan tidak bisa bernafas.


Lingkaran sihir terus berputar menjadi sangat cepat. Mengisap tubuh Karasu ke dalam lingkaran sihir. Sebuah pedang putih dengan lambang gagak muncul di samping Karasu. Pedang itu melindungi tubuh Karasu dari kekacauan ruang. Perlahan-lahan Karasu menghilang dari retakan ruang kekacauan.


***


Di sebuah ruangan, Accel menatap Celia yang terbaring di kasur. Celia masih tidak sadarkan diri. Dia melihat Milea yang menatap sedih Celia. Demi melindungi mereka, Celia menggunakan skill yang mempertaruhkan hidupnya. Accel berjalan keluar ruangan dan melihat Dany yang sedang bermain kartu bersama William.


"Jadi bagaimana kondisinya?" tanya Dany setelah melihat Accel keluar dari ruangan.


"Celia sekarang dalam keadaan koma" jawab Accel dengan berat hati.


Dia duduk di samping mereka. Dia melihat permainan Dany dan William. Melihat kartu William membuat Accel berpikir bahwa dia akan kalah. Dan betul saja William segera dikalahkan oleh Dany.


"Sepertinya kita membutuhkan uang" Accel menunjukkan layar hpnya ke William dan Dany. Mereka tersenyum mengerti dengan apa yang dimaksud.


"Unknown baru saja rilis beberapa saat yang lalu. Jadi kita mungkin bisa menyusul para top player" mendengar ucapan Accel membuat William dan Dany bersemangat.


"Mari kita taklukkan 'Unknown' dan menjadi legenda" ucap William bersemangat.


.


.


.


 


\>\>\>\[***Unknown***\]<<<


 

__ADS_1


__ADS_2