
Tok... Tok... Tok...
"Pa, apa Jay boleh masuk?" Tanya Jay ketika sudah berada didepan pintu ruang baca Tuan Zenda.
"Masuklah Jay!" Jawab Tuan Zenda dari dalam ruangan
"Papa sibuk?"
"Ada apa Jay?"
"Papa serius soal pernikahan Keysa sama Kak Javier? Umur mereka beda 12 tahun Pa. "
"Kalau tidak serius, mana mungkin akan ada persiapan? Pertanyaan kamu ini ada-ada aja Jay" Jawab Tuan Xenda dengan sangat santai.
"Jay gak setuju pa!" Ucap Jay yang seketika membuat Tuan Zenda berhenti membaca.
"Dengan alasan?"
"Apa harus ada alasannya Pa?"
"Harus Jay!"
"Karena Kak Javier sudah bertunangan tanpa sepengetahuan Papa saat di Amerika." Jay tidak tahan untuk berbicara soal hubungan Javier dan Jean.
"Kamu jangan main-main Jay." Ucap Tuan Zenda dengan penuh penekanan.
"Papa boleh cek dirumah Kak Javier ada siapa. Papa boleh tanya sama Kak Javier secara langsung, dan Jay rasa... ( menghela nafas ) Jay rasa Keysa mengetahui hal ini." Ucap Jay
"Papa akan urus semuanya."
"Jay kasih tau Papa soal Jean bukan karena Jay peduli sama Kak Javier tapi Jay cuma gak mau Keysa jadi korban keegoisan Kakak." Jay melangkah pergi. Memberikan kesempatan agar Tuan Zenda memikirkan solusi tentang ini.
Jay rebahan di ranjang milik Keysa karena dikasur itulah tercium wangi tubuh Keysa. Jay selalu seperti itu ketika merasakan rindu dihatinya.
"Key, aku benarkan? Aku benar karena sudah kasih tahu Papa. Aku gak bisa halangi kamu tapi aku bisa selesaikan semua ini tanpa melibatkanmu. Aku ingin kamu baik-baik saja tanpa menanggung beban apapun. Semoga kamu bahagia." Batin Jay
Jay memandangi semua foto yang terpajang dikamar milik Keysa. Kamar yang sudah sangat lama tidak ia datangi karena menghindari pemiliknya. Mata Jay berfokus pada foto paling pojok dan dengan ukuran paling kecil.
"Ternyata cuma foto kita yang kamu pajang dikamar ini, Tidak ada foto lain kecuali foto-foto kenangan setiap tahunnya." Gumam Kay.
Jay memejamkan matanya sebentar dan terdengar hentakan kaki memasuki kamar yang ia tempati untuk beristirahat.
"Kak jay?" Keysa sedikit terkejut melihat Jay yang terlelap di atas tempat tidurnya.
"Andai saat Kak Jay bangun tetap tenang seperti ini, andai Kak Jay tidak selalu membuat keributan, mungkin kita masih bisa dekat sebagai Kakak dan Adik. Ya walaupun Keysa tahu kalau Kak Jay berbuat onar hanya untuk menghibur diri setelah tahu bahwa kita tidak mungkin menikah. Maafin Keysa Kak." Batin Keysa.
Keysa menyelimuti tubuh Jay. Sebelum itu, Keysa melepaskan sepatu yang masih melekat pada kaki Jay. Tangan mungil itu sesekali mengelus rambut Jay, membuatnya menjadi semakin nyaman.
__ADS_1
"Keysa, dipanggil papa." Teriak Kavier dari luar kamar
"Iya, sebentar!"
Keysa keluar dari kamar dan pergi menemui Tuan Zenda. Sedangkan Jay meringkuk memeluk guling sembari mengeluarkan airmata karena sedari tadi Jay hanya berpura-pura tidur.
"Tanganmu begitu lembut dan tulus. Tapi kenapa pura-pura tidak tahu perasaanku? Aku jatuh cinta padamu saat kamu sudah bisa belajar tersenyum. Apa tidak bisa kalau aku yang menjadi pilihanmu?" Batin Jay
Diruang keluarga terdengar sangat berisik. Karena penasaran, Jay turun kebawah dan melihat apa yang terjadi.
Saat mau membuka pintu, terdengar perdebatan didalam. Jay memutuskan mendengarkan tanpa masuk kedalam.
"Pa, Papa sendiri yang memutuskan pernikahan ini. Kenapa masih curiga sama aku?" Tanya Javier
"Benar atau tidak kalau kamu sudah punya kekasih?"
"Aku tidak punya wanita manapun!" Jawabnya dengan serius.
"Entah kenapa, aku tidak bisa membuka mulutku untuk mengakui kehadiran Jean. Padahal kami sudah menjalin hubungan selama 7 tahun. Tapi melihat Keysa yang hanya sekedar tersenyum saja, aku ingin memilikinya sepenuhnya. Aku sadar kalau aku begitu serakah tapi aku sendiri tidak tahu perasaanku yang sebenarnya." Batin Javier.
"Pa, kita undur saja sampai keysa lulus ya. Lagipula, mungkin memang Kak Javier butuh waktu untuk memilih dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan penting seperti ini. Keysa hanya ingin menikah sekali dalam seumur hidup jadi Keysa tidak ingin Kak Javier menyesali keputusannya." Keysa membuka suaranya, mengungkapkan isi hatinya karena Keysa mengetahui kalau Javier memang tinggal bersama seorang wanita.
"Kalian berdua bicaralah dulu. Papa mau istirahat!" Tuan Zenda keluar dan membuka pintu. Lalu melihat Jay yang termenung, Tuan Zenda menepuk bahunya untuk menyadarkan Jay dari lamunannya.
"Kamu mencintainya jay?" Bagaikan petir ditengah siang bolong pertanyaan dari Tuan Zenda baginya.
"Kamu gak boleh mencintainya jay!!"
"Apa maksud Papa?"
"Kalau Keysa tidak menikah dengan Javier, berarti dia akan menikah dengan pria lain."
"Kenapa Pa?"
"Apa kamu sangat mencintainya?"
"..." Jay tidak menjawab pertanyaan Tuan Zenda. Hanya berdiam diri dan sesekali menghela nafas.
"Keysa bisa saja mencintaimu. Jay, jangan permalukan Papa. Kamu sudah Papa jodohkan dengan Putri Tuan Leon. Papa tidak bisa menikahkanmu dengan Keysa karena sebuah janji harus ditepati. Ini adalah perjodohan sedari kalian masih bayi, makanya Tuan Leon mengirimkan putrinya agar selalu dekat denganmu."
"Jay gak bisa pa." Jawab Jay
"Kamu harus bisa Jay. Papa tidak pernah meminta apapun. Papa cuma minta kamu menikah denga Ellia."
"Beri Jay waktu Pa."
"Berikan jawaban yang bijak."
__ADS_1
Tanpa melihat situasi, Jay mendatangi Keysa yang sedang berbincang dengan Javier. Jay menarik tangan Keysa supaya Keysa mengikuti langkahnya.
"Kak Jay, sakit. Lepasin!" Keysa berusaha melepaskan tangannya namun pegangan Jay semakin erat.
"Masuk dalam mobil, ikut Lakak sebentar." Perintahnya
"Kemana?" Tanya Keysa
"Kemana saja asal bersamamu!"
"Ha?"
"Masuk Keysa!"
Akhirnya Keysa masuk dan nurut sama Jay. Meninggalkan Javier yang bengong melihat kejadian ini.
Kecepatan mobil melebihi rata-rata, Bibir mereka saling terkunci tanpa berbicara selama perjalanan.
"Apartement?" Keysa heran karena Kay membawanya kesebuah apartement elit.
"Apartement yang dibelikan oleh Javier untuk Kean. Apa kamu yakin kalau mau menikah dengan pria seperti itu?" Tanya Jay
"Keysa gak tahu." Jawabnya
"Key, Kak Jay sebentar lagi akan menikah. Papa ingin Kak Jay menikah dengan wanita pilihannya. Kak Kay gak akan bisa selamanya melindungimu." Jay mengelus ubun-ubun Keysa dengan lembut.
"Keysa gak tahu Kak. Keysa tidak bisa menolak. Keysa menunggu Kak Javier yang menolak pernikahan ini. Keysa gak bisa mengecewakan Papa sama Mama. "
"Menikahlah kalau kamu yakin bisa membuatnya jatuh cinta. Tapi mundurlah kalau kamu merasa tidak mampu karena mereka sudah menajalin hubungan selama 7 tahun. Mungkin akan sedikit sulit." Jay berusaha menjadi Kakak yang baik karena Jay sadar, mereka tidak akan bisa menikah.
"Mungkin butuh waktu tapi Keysa yakin bisa kak. Kalau gagal, Keysa yang akan mundur."
"Jadilah istri yang baik. Jangan sungkan untuk meminta bantuan Kak Jay ya."
Jay membawa Keysa kembali karena meskipun Keysa tahu kebenarannya, ia tidak berani menolak.
"Ellia?" Saat mereka sampai, Jay di sambut Ellia begitupun juga dengan Keysa yang disambut oleh Javier. Namun Keysa menepis tangan Javier dan bergegas masuk ke dalam kamar.
"Jay, udah lama kita gak ketemu."
"Sudah lama disini? Sama siapa kesini?" Tanya Jay
"Lumayan. Sama Papa kesininya."
"Papamu ada didalam?"
"Iya. Lagi ngobrol sama Om Zenda."
"Panggil Papa juga dong. Kita akan menikah sebentar lagi." Wajah Ellia memerah karena Jay berbicara seolah-oleh perasaannya biasa saja sedangkan Ellia merasakan degub jantung yang sangat keras.
__ADS_1
"Kita tidak bisa bersama Keysa, jadi aku harus berusaha mencintai oranglain. Mungkin usahaku dulu belum sepenuhnya karena aku pikir, aku masih punya harapan. Tapi sekarang, harapan itu sudah tidak ada jadi aku akan berusaha sepenuhnya." Batin Jay