No More Sun

No More Sun
KEYSA


__ADS_3

Sejak Jay memutuskan untuk menikah dengan Ellia dan juga sejak Keysa meninggalkan Javier karena di tarik oleh Jay, mereka tidak pernah bertemu lagi.


Hari ini, kurang 5 hari lagi dari hari H pernikahan. Keysa yang kalut dan dibuat bimbang oleh perasaannya sendiri. Keysa takut melukai orang lain dalam menjalankan pernikahannya. Maka dari itu, keysa memutuskan untuk mendatangi Jean.


Keysa menekan bell dan seorang wanita tinggi semampai membuka pintu dengan senyum ramah.


"Maaf, cari siapa ya De?" Kebetulan Keysa masih mengenakan seragam karena belum sempat ganti.


"Kakak, Kak Jean ya?" Tanya Keysa


"Iya. Adik cari saya ada apa?"


"Boleh saya masuk Kak? Ada yang mau saya bicarakan!"


"Silahkan masuk dan silahkan duduk. Aku buatin minuman dulu"


"Gak perlu Kak, saya gak akan lama" Keysa mencegah Jean dengan sikap dewasanya.


"Jadi ada apa?"


"Saya langsung ke intinya ya Kak. Kak Jean, nama saya Keysa. Saya rasa Kak Jean pernah dengar nama itu" Meskipun sedikit gugup, tapi Keysa berusaha tenang


"Kamu Keysa?" Tanya Jean dengan terkejut.


"Iya, saya Keysa! Saya kesini untuk bertanya soal hubungan Kak Jean dengan Kak Javier. Tapi sebelumnya saya mau minta maaf kalau saya membuat Kak Jean merasa tidak nyaman."


"Lanjutkan apa yang mau kamu bicarakan!" Ekspresi wajah Kean berubah menjadi tidak tenang.


"Saya tidak akan merebut milik orang lain. Saya bukan orang yang tamak. Kalau memang Kak Jean berencana untuk menikah dengan Kak Javier, saya akan membatalkan rencana yang dibuat sama Papa. Lagipula, saya tidak berminat untuk menjadi perebut." Perasaan Keysa menjadi lebih baik setelah membicarakan semua yang ada di otaknya.


"Kami sudah menjalin hubungan selama 7 tahun. Sekarang dia akan menikah denganmu, itu adalah pilihannya. Kelak, kalau dia menceraikanmu juga adalah pilihannya."


"Kalau saya sudah menikah, saya akan mempertahankan agar tidak terjadi perceraian. Tidak akan ada selah untuk oranglain masuk dalam hubungan kami. Saya datang kesini karena ingin tahu rencana kalian yang sebenarnya." Keysa memiliki IQ di atas 200, hanya melihat dari pandangan lawan, dia bisa tahu apa yang lawan pikirkan.


"Tidak ada yang aku dan Javier rencanakan. Dia mau menikah denganmu dengan keinginannya sendiri." Jean menjawab pertanyaan yang menyelidik dari Keysa.


"Baiklah, sore ini datang ke Caffe Dahlia. Kak Jean akan tahu jawabannya dari mulut Kak Javier, apa rencana dia yang sebenarnya."


"Terimakasih sudah menyambut kedatangan saya. Saya harus pulang sekarang. Maaf!" Imbuhnya.


"Aku gak mau salah langkah. Sebelum semuanya terlambat, aku harus tahu seberapa yakinnya Kak Javier dalam pernikahan ini. Aku bukan bocah yang mengatur semua dengan emosi. Semuanya harus berjalan mulus dan lembut." Batin Keysa


Benar saja, sore ini di Caffe Dahlia Keysa dan Javier bertemu. Mereka bertemu dipintu lalu masuk bersama.


"Keysa mau pesan apa?" Tanya Javier

__ADS_1


"Saya tidak akan lama, tidak akan bertele-tele juga, jadi langsung bahas pada intinya. Soal minum dan makan, saya tidak terbiasa makan diluar." Jawab Keysa dengan tegas.


"Kata Mama, Keysa ngajak ketemu aku disini. Aku kira Keysa mau ngajak ngedate."


"Apa? Ngedate? Sekarang bukan waktunya untuk menikmati waktu dengan hal-hal itu. Kak, saya bertanya dengan sungguh-sungguh. Apa Kak Javier yakin mau menikah sama Keysa?" Tanya Leysa.


"Tentu saja!"


"Dengan alasan?"


"Kamu cantik, pilihan Papa sama Mama. Mau minta alasan apa lagi?"


"Bukan karena Kak Javier mencintai saya?"


"Key, kita mau menikah 5 hari lagi. Jangan curiga sama hal-hal yang tidak penting. Kita harus saling percaya." Jawab avier dengan serius.


"Sepertinya kita tidak perlu menikah Kak. Saya tidak akan menikah dengan laki-laki yang mencintai wanita lain, meskipun laki-laki itu adalah pilihan Papa ataupun mama!"


"Keysa, apa maksud kamu? Jangan seperti anak kecil!" Javier mulai tidak bisa mengontrol diri.


"Bukankah seharusnya Kak Javier menikah dengan Kak Jean? Untuk apa mengorbankan hubungan kalian hanya untuk saya? Kak Javier pikir, dengan berkorban seperti itu, lalu saya akan berterimakasih?" Ucapan Keysa pelan namun membuat Javier terdiam.


"Aku mencintaimu. Kalau aku tidak mencintaimu, untuk apa aku setuju menikah denganmu Key?" Tanya Javier


"Antara aku dan Jean sudah berakhir. Aku sudah tidak mencintainya lagi! " Javier menjawab dengan menundukan kepalanya.


Keysa yang sudah sadar atas kehadiran Jean sejak mereka masuk, sengaja memberikan pertanyaan itu agar Jean dengar secara langsung jawaban dari Javier.


"Kak Jean, jangan bersembunyi lagi. Saya tahu Kak Jean dengar semuanya. Kalian selesaikan masalah kalian, saya tidak mau ikut campur." Ucap Keysa dengan nada sedikit tinggi dari sebelumnya.


"Apa maksudmu Key? Kamu sengaja mengundang Jean kesini supaya dia dengar semua pembicaraan kita?" Javier terkejut saat Keysa menyebutkan nama Jean.


"Apa kamu takut Jev kalau aku dengar semuanya?" Tanya Jean yang muncul diantara mereka.


"Kalian urus masalah kalian sampai selesai sebelum hari pernikahan!" Keysa pergi meninggalkan mereka yang tengah gemelut dengan ketidakpastian.


Saat ini, tidak perduli hujan turun sangat deras. Seorang gadis remaja membawa sebuket bunga dan berlutut didepan sebuah pemakanan.


Hatinya terasa sangat terluka. Perasaannya terasa seperti mati rasa. Hanya didepan pemakaman Ibunya, keysa bisa menjadi diri sendiri. Meluapkan semua yang ada dipikirannya.


"Bu, aku melakukan hal yang benarkan? Aku mempertemukan Kak Javier dan Jean, aku tidak bermaksud memisahkan mereka. Aku tidak bermaksud berbuat jahat. Hanya saja, Javier belum bisa memilih satu di antara dua. Aku gunakan cara seperti ini supaya dia bisa memilih karena aku tidak ingin berbagi. Apa aku salah Bu? Aku sangat egois ya? Apa aku terlalu memaksa ? Andai Ibu ada disini, aku gak akan merasa sesulit ini." Gumam Keysa dengan bibir gemetar. Airmata yang tak terlihat karena tersapu air hujan, suara petir yang menggelegar seolah mengiringi perasaannya yang kacau.


Sebuah tangan memberikan uluran. Memakaikan jaket pada Keysa dengan penuh perhatian.


"Key, ayo kita pulang!" Ajak Kay dengan senyum dibibirnya.

__ADS_1


"Kak Jay duluan aja, Keysa sebentar lagi pulang."


"Calon pengantin gak boleh sakit. Ayo pulang!" Jay mengulurkan tangannya untuk membantu Keysa berdiri namum tangan itu ditepis oleh Keysa.


"Mama udah khawatir dirumah. Kamu udah terlalu lama kena hujan!"


"Keysa sebentar lagi juga pulang." Jawab Keysa


"Baiklah, karena Keysa gak mau dengan cara halus, Kak Jay akan gunakan cara Kakak sendiri!" Jay menggendong Keysa bak sekarung beras. Keysa meronta-ronta tapi Jay malah asyik menertawainya.


" LKak jay, dasar penculik. Lepasin, kepala Keysa pusing." Teriak Keysa


"Semakin meronta, semakin pusing." Ledeknya


"Oke-oke, Keysa nyerah. Turunin, Keysa bisa jalan sendiri."


Jay menurunkan Keysa dengan lega dihatinya. Meskipun Keysa memasang wajah cemberut, tapi wajahnya tetap saja terlihat lucu dengan ekspresi apapun.


"Kak Jay, besok Keysa libur nih, Kantor juga libur, kalau Kak Jay bisa kejar Keysa, besok Keysa ajak Kak Kay jalan-jalan. Gimana? Ajak Kak Ellia juga boleh loh, tapi Kak Jay yang bayar ya. Ayo mulai ya dari hitungan ketiga." Ajak Keysa dengan wajah yang berubah ceria.


"Oke. Siapa takut!" Tantang Jay


"Satu.... Ayo kejar. Ahahaaaa..." Keysa sudah berlari lebih dulu dari hitungan kesatu. Berlari dengan sangat bahagia seolah tidak terjadi apa-apa pada perasaan.


"Curang!" Jay protes karena Keysa curang tapi walaupun begitu, Jay tetap mengejarnya.


"Wleee ( menjulurkan lidah )... Ayo kejar sini. Masa segitu doank, dasar tua." Ledeknya


"Awas ya kalau dapet, Kak Jay gelitikin sampe tiada ampun." Jay tetap mengejar walaupun nafasnya sudah ngos-ngosan. Main kejar-kejaran ditengah hujan, seperti sepasang kekasih yang tengah bahagia tanpa akhir.


Jay berhasil meraih tangan Keysa lalu terjatuh dalam pelukannya. Jay menggelitik Keysa hingga Keysa memohon ampun.


"Ampun Kak Jay, oke-oke Keysa ngaku kalah." Keysa akhirnya menyerah


"Kamu lincah juga ya ternyata Key. Kak Kay kalah sekarang."


"Iya dong, Keysa jauh lebih mudah, berenergi, dan juga pintar." Sombongnya


"Ayo pulang, kita sudah basah kuyub. Kak Jay gak mau Keysa sakit." Wajah Jay berubah menjadi sebuah kekhawatiran.


"Iya ayo kita pulang!" Keysa menggenggam tangan Jay dengan erat. Keysa hanya membawa perasaannya sebatas Kakak Adik, tidak lebih. Tapi lain halnya dengan Jay yang merasa nyaman dan tumbuh harapan baru di hatinya walaupun Jay tidak menanggapi harapan yang sudah ia sadari karena suasana seperti ini akan segera berakhir. Makanya Jay menikmati masa-masa yang tersisa.


"Jika memang kamu tidak bisa terhapus dari hati ini, ijinkan aku mencintaimu selamanya. Aku tidak akan berharap untuk bisa bersamamu. Cukup dengan hanya aku saja yang mencintaimu." Batin Jay


"Kita selamanya akan menjadi Kakak dan Adik. Agar hubungan kita baik-baik saja seperti ini. Agar aku tidak kehilangan orang yang sangat peduli padaku." Batin Keysa

__ADS_1


__ADS_2