
"Keysa, darimana nak?" Tanya Nyonya Mina saat mengetahui Keysa baru pulang setelah lewat tengah malam
"Mama nungguin Keysa? Keysa minta maaf Ma." Keysa memeluk Nyonya Mina, wajah khawatir Nyonya Mina membuat Keysa menyesal karena lupa waktu saat keluar dengan Kay
"Istirahatlah Ley. Mama mau bicara sama Jay." Perintah Myonya Mina.
"Iya Ma." Jawab Keysa lalu menuju kedalam kamarnya.
"Ehem... Darimana saja kamu pergi ngajak Keysa sampai dini hari?" Tanya Nyonya Mina
"Aku cuma jalan-jalan Ma. Aku lihat dia seperti stres, jadi aku menghiburnya sebelum dia menikah. Kalau dia sudah menikah, aku tidak akan bisa menghiburnya lagi." Jawab Kay
"Sejak kapan?" Tanya Nyonya Mina yang membuat Jay terkejut.
"Maksud mama?" Jay pura-pura tidak paham arah pertanyaan Nyonya Mina
"Sejak kapan kamu mencintainya? Sejak kapan Jay? Jawab Mama!" Nyonya Mina berbicara dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.
"Apakah pertanyaan sejak kapan itu sekarang penting? Apakah jawabannya juga penting? Ma, Keysa sebentar lagi menikah sama Kak Javier, sejak hari itu tiba, Jawaban dari pertanyaan Mama sudah tidak ada artinya lagi." Jawab Jay dengan sangat bijak.
"Jay, jangan mencintainya. Karena Keysa bakal jadi Kakak Iparmu, bukan Adik angkatmu lagi" Ucap Nyonya Mina dengan kesedihan yang terlihat dipelupuk matanya.
"Ma, kalau suatu hari nanti Kak Javier menyia-nyiakan pengorbanan Jay yang melepaskan Keysa untuk menjadi Istrinya, apa boleh Jay mengejar Keysa lagi?" Tanya Jay
"Apa Jay boleh bersama Keysa, membahagiakannya, selalu mencintainya, berada disampingnya, apa boleh Ma?" Imbuhnya
"Tentu saja boleh." Jawab Nyonya Mina.
"Kenapa kalian menikahkan Keysa dengan Kak Kavier? "Tanya Jay
__ADS_1
"Supaya Javier bisa tetap tinggal. Supaya Javier tidak lagi memilih keputusan yang salah." Jawab Nyonya Mina.
"Apa Keysa gk berarti untuk kalian? Kalian gunakan dia untuk pion?" Tanya Jay dengan sedikit emosi
"Bukan seperti itu. Jay, alasan ini cukup Mama dan apa yang tahu. Kalau suatu hari nanti keputusan ini menyakiti Keysa, kejarlah kalau memang kamu bisa membuatnya bahagia." Ucap Nyonya Mina lalu kembali ke kamarnya meninggalkan Jay yang termenung dengan jawaban sang Ibu.
"Apa harus membuatnya terluka dulu, baru mengijinkannya untuk bahagia? Keysa, aku akan melindungimu seperti layaknya seorang Kakak. Persetan dengan yang namanya perasaan. Kebahagiaanmu jauh lebih penting dari perasaanku." Batin Jay
Malam ini, oh bukan, sudah hampir dini hari, terasa begitu sunyi hingga terdengar suara jam bergerak dan juga suara jantung yang berdetak.
Hari yang indah bagi Jay sudah berakhir karena setelah ini, Jay harus merelakan Keysa menikah dengan Kavier.
Perlahan kaki itu masuk kedalam sebuah kamar yang indah. Kamar siapa lagi kalau bukan kamar Keysa. Jay mengambil kursi dan duduk disebelah tempat tidur Keysa. Memandangi wajah Keysa yang saat ini sedang tertidur pulas.
"Kalau menuruti keegoisanku, aku hanya ingin memilikimu seorang. Aku tidak ingin berbagi pada siapapun. Aku ingin memandangmu saat kamu tidur, seperti sekarang yang ku lakukan. Aku ingin saat aku terbangun, wajahmu yang pertama kali aku lihat. Keegoisan yang konyol ya Keysa? Andai aku tahu dari awal kalau kamu boleh menikah dengan anak dari keluarga yang merawatmu, mungkin aku tidak akan menghindar seperti yang aku lakukan selama ini. Sekarang sudah terlambat aku mengetahuinya, percuma juga aku pasang badan paling depan karena kamu tetap akan melewatiku karena aku seorang pengecut yang tidak berani jujur pada perasaanku sendiri." Gumam Jay
Jay tanpa sadar bergumam hingga tertidur dikursi. Keysa yang sedari tadi belum tidur, mendengarkan semua yang digumamkan Jay. Meskipun suaranya sangat pelan, namun suasana yang sunyi cukup membuatnya mendengarkan semuanya.
Waktu seolah bergantian, sekarang giliran Keysa yang memandangi Kay ketika tidur. Tubunya yang tegap, kepalanya yang disandarkan pada sebuah meja rias, wajahnya yang terlihat muda dari umurnya. Keysa memandangi Jay dengan tersenyum.
Hanya bersama Jay, Keysa bisa tertawa, menangis, mengekspresikan perasaannya. Keysa menahan dirinya ketika didepan siapapun.
"Kak Jay." Keysa membangunkan Jay karena Keysa rasa, jJay sudah terlalu lama tidur dalam posisi seperti itu. Tubuhnya bisa sakit kalau dibiarkan lebih lama lagi.
"Kak Jay." Tangan mungil Keysa menyentuh tangan Jay dan menggoyangkannya.
"Key? Apa aku ngorok sampai kamu terbangun? Bukannya kamu kalau tidur seperti ba*i mati?" Ucap Jay
"Apa? Keysa berbaik hati membangunkan Kak Jay biar badan Kak Jay gak sakit, malah meledekku. Sana keluar dari kamar Keysa!" Keysa menarik tubuh Jay, lalu mengusirnya keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Keysa, buka pintunya. Kak Jay masih mau didalam" Jay menggedor-gedor pintu Keysa. Setelah 20 menit, Jay masih saja berusaha menggedor pintu Keysa hingga akhirnya Keysa menyelipkan sebuah tulisan dan dikeluarkan melalui celah di bawah pintu.
"Kak Jay, jangan berisik, oke! Keysa capek sekali, mau tidur. Sekarang sudah dini hari, Keysa harus sekolah jadi sekarang harus tidur. Selamat istirahat Kak Jay! Terimakasih untuk semuanya, terimakasih sudah ngiler dimeja riasku!"
Seperti itulah surat yang ditulis Jay, hanya seperti itu membuat Jay tersenyum kikuk.
"Jay, kamu ngapain didepan kamar Keysa?" Tanya Tuan Zenda yang tiba-tiba datang, membuat Jay terkejut. Jay langsung menyimpan surat yang ditulis oleh Keysa.
"Mau lihat, Keysa udah tidur apa belum. Soalnya tadi pulang kemaleman, kalau belum tidur mau Jay buatkan teh hangat" Jawab Jay berusaha tidak tegang
"Sana istirahat! Kamu pikir Papa gak denger kamu gedor-gedor pintu sampai membangunkan semua orang." Tuan Zenda berucap seolah-olah Jay menjadi pengganggu
"Iya-iya maaf. Perasaan Jay, tadi gedornya udah pelan. Ohya Pa, hari pernikahan Keysa, jadiin hari pertunanganku sama Ellia, oke!" Ucap Jay sembari merangkulkan tangannya dipundak sang Papa.
"Kamu yakin? Secepat ini?" Tanya Tuan Zenda ragu
"Papa gak percaya sama Jay?" Tanya Jay
"Biasa aja. Bukannya kamu lagi jatuh cinta?" Tanya Tuan Zenda
"Aku itu jatuh cinta udah lama, mungkin bisa dibilang sudah kadaluarsa kali Pa." Ucap Jay membuat Tuan Zenda terkekeh dibuatnya
"Kamu ini. Sana istirahat, nanti Papa yang atur. Besok jam makan siang, kita kerumah Ellia membicarakan soal pertunanganmu!"
"Siap Papa Bos!"
Membuat keputusan menikah dengan gadis pilihan Keluarga, tidaklah mudah. Namun, siapapun akan menerima dan berusaha kalau wanita yang dipilihkan memiliki sifat seperti Ellia. Wanita tangguh yang tidak pernah mau menggunakan koneksi orangtua untuk urusan pribadinya.
Seorang wanita yang selalu lemah lembut dalam tutur katanya. Wanita yang selalu mengalah dan juga wanita yang penuh dengan keyakinan. Berbeda dengan Keysa, Keysa wanita yang bijak. Keysa tidak lemah lembut melainkan wanita yang tegas.
__ADS_1
Keduanya membuat arti tersendiri bagi Jay. Yang satu cinta dan yang satu hanya sebatas kagum. Jay sudah hidup berdampingan dengan Ellia bertahun-tahun. Kedekatan mereka berhenti dibatas persahabatan. Tidak bisa lebih dari itu karena ruang hati Jay sudah dipenuhi oleh Keysa, tidak ada ruang untuk yang lain.