OBSESSION Girl

OBSESSION Girl
-OBG-Part20


__ADS_3


...•...


..._...


Di perjalanan Rm dan Raquel.


"Dimana rumah mu?" tanya Rm


"Blok B belok kiri" tunjuk raquel pada jalanan.


"Okey" rm bergegas melajukan mobilnya ke arah tujuan.


Kini mobil itu sedang berjalan di perumahan blok B.


"Itu dia rumah ku." tutur raquel sambil menunjuk ke sebuah rumah besar berpagar tinggi.


Rm membelokan mobilnya sesuai perintah. Sampai lah mereka di halaman rumah raquel. Sekarang ini pukul 2. Dan jalanan tentunya terlihat sepi. Apalagi setelah hujan badai para penghuni tentu saja tidak ada yang keluar dari kediaman.


"Tunggu. Biar aku bantu kau keluar." ucap rm dengan segera ia bergerak keluar mobil.


Rm membuka kan pintu untuk raquel dan juga seat belt nya. Raquel hanya termangu menatap lelaki itu yang begitu perhatian padanya. Namun ada rasa heran juga yang kini raquel rasakan. Kenapa tiba-tiba rm menjadi baik padanya.


"Pelan-pelan." rm kembali menuntun raquel.


"Terimakasih. Sampai disini saja." ucap raquel yang mencoba untuk tidak merepotkannya lagi.


"Tidak. Aku akan mengantar mu sampai depan pintu." tutur rm.


Raquel tidak mengatakan apa pun. Dengan keadaan tubuhnya yang sangat tidak bersahabat tentunya dia butuh bantuan untuk melewati teras dan masuk ke rumah. Tapi jika rm tidak membantunya itu juga tidak masalah bagi raquel. Namun rm lebih memilih menuntunnya sampai depan pintu, raquel pun tidak bisa menolak.


"Terimakasih." raquel tersenyum


"Oh, ya. Ini jaket mu." raquel melepaskan jaket rm yang ia kenakan. Dan Rm menerimanya kembali.


"Sekali lagi terimakasih." ucap raquel kembali.


Rm membalasnya dengan senyum dan anggukan.


Beberapa detik keduanya saling menatap canggung. Rm yang bingung karena takut meninggalkan raquel. Dan raquel menunggu gerakan rm yang sepertinya tidak berniat untuk pergi.


"Apa ada seseorang di rumah mu?" tanya Rm


Raquel tak menjawab dalam sedetik. Mungkin raquel bertanya, kenapa tiba-tiba rm menanyakan hal itu.


"Aku hanya ingin memastikan. Kalau kau tidak sendirian. Kau sedang demam jadi sebaiknya kau bersama seseorang." imbuh rm kembali menjelaskan maksudnya. Agar tidak salah paham.


"Oh. Ada ART kok." balas raquel.


Rm sedikit lega mendengarnya. Artinya ia bisa pulang dengan tenang. Walau hatinya masih sedikit cemas.


"Ya sudah. Aku akan pulang. Kau masuk lah. Jangan lupa minum obat." ucap rm seraya meninggalkan senyum manis di wajahnya.


Raquel mengangguk, "Hati-hati" ujarnya. Dan menutup pintu.


Setelah itu Rm mulai berbalik dan berjalan menuju mobilnya. Tapi baru saja tiga langkah. Rm berhenti dan menatap ke belakang. Lalu ia memutar dan kembali ke teras rumah.


Berdiri beberapa detik di depan pintu. Ingin mengetuk tapi ia ragu. Namun rm nekad kali ini. Entah mengapa dia begitu memikirkan Raquel.


Toktoktok


Raquel yang juga baru saja melangkah tak jauh dari pintu berhenti sejenak. Menatap pintu yang di ketuk. Ia menatap heran. Karena ia tahu itu pasti Rm. Tapi mengapa dia kembali lagi?


Raquel pun membukakan pintu untuknya.


"Kenapa kau kembali?" tanya raquel heran


"Bolehkah aku.. Disini menemani mu" ucap rm dengan agak ragu mengatakannya.


Raquel masih heran dengan sikap Rm saat ini. Sebelumnya pria ini begitu cuek, begitu acuh padanya. Namun sekarang kenapa dia berubah 90⁰ ?


"umm,,, yeah. " raquel mengangguk mengiyakan.


Tidak mau memikirkan tentang yang negatif. Mungkin maksud Rm baik karena dia cemas pada raquel.


"Masuklah" suruh raquel.


Rm pun masuk. Dan raquel menutup pintu.


"Maaf kalau aku meminta untuk tetap disini. Tapi aku benar-benar khawatir padamu." ucap Rm


"gwaencana.." raquel memahami maksudnya.


"Kau pergilah untuk beristirahat. Aku akan berjaga disini. Jika kau butuh sesuatu beritahu aku." tutur Rm yang langsung menuju sofa ruang tamu raquel.


Raquel menatap nya. Masih penuh tanda tanya. Kenapa Rm tiba-tiba khawatir dan ingin menjaganya. Namun pikiran itu di tepis kembali oleh raquel. Dia terlalu lelah untuk memikirkan hal sepele. Jadi ia memilih untuk tidak memikirkannya.


"Aku ke kamar dulu." ucap Raquel dan meninggalkan Rm di ruang tamu.



Raquel masuk ke kamarnya. Menghempaskan diri ke ranjang. Menatap Langit-langit kamarnya yang mewah. Ia berpikir seperti ada sesuatu yang ganjal tentang Rm. Tapi ia tak tahu, apa dan kenapa.


Raquel bangkit lagi. Dan pergi mengganti pakaiannya. Setelah itu keluar dari kamar.


Ia menghampiri kembali Rm di ruang tamu. Rm yang saat ini sedang duduk menatap layar ponselnya sambil bersandar di sofa.


"Apa dia tidak mengantuk" gumam raquel. Ia sudah bisa melihat bayangan lelaki itu dari tangga.


"Hei, apa kau butuh kopi?" tanya raquel yang baru saja sampai di sana.


Rm langsung menegakkan tubuh dan menyimpan kembali ponsel ke saku celananya.


"Oh, raquel. Kenapa kau turun, kau harus istirahat." ucap rm


Raquel tidak menanggapi ucapan rm. Lantas dia duduk di sebelahnya.


"Kau tidak mengantuk?" tanya raquel lagi

__ADS_1


"Umm, tidak. Aku baik-baik saja. Sana, kembali lah ke kamar mu." suruh rm.


Raquel sama sekali tidak mendengarkannya. Ia malah berkata,


"tunggu disini. Aku akan buat kan kopi." ucapnya dan berdiri.


Rm langsung ikut berdiri.


"Raquel!" tekannya.


Raquel tersenyum walau rm menatapnya tajam.


"Gwaencana.." tuturnya dan melangkah.


Rm mengendus napas. Hingga dada bidangnya pun ikut mengembang. Ia tak habis pikir, apa begitu keras kepala kah gadis bernama raquel ini.


Rm melangkah menyusul Raquel yang sudah duluan pergi ke dapur. Belum saja langkah raquel sampai ke dapur. Rm yang melangkah lebih cepat, menangkap lengannya dan menarik raquel.


Raquel yg saat itu tidak tahu jika Rm menyusulnya terkejut dan tak bisa menahan keseimbangan diri. Ia terpental setelah Rm menariknya.


Tanpa pikir panjang. Rm mengangkat kedua kaki raquel dan menggendongnya.


"Yak! Apa yang kau lakukan" celetuk raquel.


Rm tak mau mendengarkan ucapan raquel. Mau itu cacian, makian. Terserah!


Ia membawa raquel kembali ke jalan yang sebelumnya mereka lewati.


"Rm, turun kan aku." pinta raquel. masih dengan nada lembut.


Namun tak di gubris oleh Rm. Pria itu bahkan tidak menatapnya sama sekali. Terus berjalan bahkan melewati ruang tamu.


"Yah, Rm. Kau mau bawa aku ke mana?" tanya raquel heran.


"Ke kamar mu." ucap Rm singkat.


Raquel terdiam. Berpikir, apa yang akan di lakukan Rm sampai harus mengantarnya ke kamar.


"Beritahu aku di mana kamar mu?" tanya Rm yang langkahnya kini menaiki tangga. Tanpa rasa susah payah membawa tubuh mungil Raquel dengan enteng seperti membawa manekin saja.


"Katakan ada di mana kamar mu?" tanya Rm lagi kali ini dengan tegas. Karena raquel tak menjawab pertanyaan nya yang tadi.


"A a a, y ya. D d di sana di sana." balas raquel terbata-bata. Karena terkejut mendengar suara rm yang terasa mengerikan.


Raquel pikir, suara Rm persis seperti suara ayah nya yang sedang marah. Lantang dan judes.


Rm mendekati pintu kamar.


"Buka pintu nya." perintah rm


"Turun kan aku disini saja. Aku masih bisa berjalan." tutur raquel.


"Ku bilang buka pintu nya." pinta Rm kali ini menatap raquel tajam.


"Rm, kenapa kau begini?. Sudah turun kan saja aku. Aku bisa jalan sendiri.." ucap raquel. Tak tahu mengapa sekarang ia merasa takut pada pria yang selama ini membuat nya terkesima itu.


"Kau masih tidak mau membuka pintu kamar mu. Jika kau mau turun, maka aku akan menjatuhkan mu."


Dalam diam Rm tersenyum meringis, singkat.


"Buka sekarang kamar mu." tutur nya


Raquel pun memutar kenop pintu kamarnya. Pintu itu terbuka. Rm dengan segera masuk. Sesekali ia menatap ruang kamar yang luas itu.


Tidak heran jika raquel memiliki rumah dan juga kamar nya mewah. Dia anak pemilik perumahan di sini. Sudah pasti mereka kaya raya.


Rm meletakkan mendudukkan raquel di sisi ranjang.


"Dimana obat mu?" tanya Rm


"Di di sana." tunjuk raquel pada nakas di bawah tv LED nya.


Rm langsung berjalan menuju nakas.


"Di laci nomor dua." tutur raquel memberitahu.


Rm langsung membuka lacinya. Di dalam terdapat banyak obat-obatan dari yang bungkus sampai botol ada di sana.


"Apa kau mau buka toko obat?" celetuk Rm mentertawakan isi laci itu.


Raquel tak begitu jelas mendengar ucapan Rm sebab ia mengatakan nya dengan bergumam.


Rm mengambil satu obat untuk penurun panas. Dan kembali ke arah raquel yang masih duduk menunggunya.


Rm membuka kaplet dan menaruhnya di telapak tangan raquel. Lalu menuangkan secangkir air. Kebetulan di samping ranjang raquel ada nakas untuk menaruh tempat air. Di minum atau tidak, itu selalu tersedia di sana.


"Minumlah."


Rm menyerahkan gelas air. Dan raquel meminumnya dengan cepat.


"Terimakasih." ucap Raquel setelah menyerahkan gelas itu kembali.


"Beristirahatlah."


Rm membaringkan tubuh raquel. Raquel menjadi anak penurut hari ini.


Rm menarik selimut tebal di bawah kaki raquel. Dan menyelimutinya. Raquel hanya bisa termangu sambil terus menatap gerakan Rm.


"Sekarang tidur. Agar besok pagi kau merasa baikan." ucap Rm kemudian melangkah menjauh dari sisi ranjang.


"Kau,,, mau kemana?" tanya raquel.


Rm menghentikan langkahnya untuk menatap raquel kembali.


"Aku akan menjaga mu disini." balas nya.


Kemudian berjalan ke arah sofa tunggal di pinggir kaca jendela yang tertutup tirai.


Raquel terdiam. Ia tak berani mengatakan apa pun. Hanya bisa menatap Rm yang saat ini sedang menyilangkan kakinya di seberang sana.

__ADS_1


"Tidurlah.."


Raquel pun mencoba memejam kan matanya. Namun bukan kantuk yang ia dapatkan. Ia malah semakin tidak bisa tidur. Diam-diam perlahan ia membuka matanya. Lantas menoleh pelan ke arah di mana Rm duduk.


Pria itu tersandar di kursi sambari terpejam. Raquel terus menatapnya dari kejauhan. Ia tak menyangka kalau orang yang menjadi crush' nya kini bersamanya. Memberikan perhatian yang tidak pernah ia dapatkan seumur hidup dari seorang lelaki.


Raquel perlahan duduk dan menurunkan dua kaki nya dari ranjang. Ia mencoba mendekat ke arah Rm. Lantas berdiri dan menatap nya kembali beberapa detik. Untuk memastikan kalau Rm benar-benar sudah tertidur.


Raquel kembali ke arah ranjang untuk mengambil bad cover nya. Kemudian membawa selimut itu untuk Rm. Perlahan ia melebarkan selimut itu untuk Rm yang kini tengah tertidur sambil duduk.


Namun, tiba-tiba tangan Rm menahan tangan raquel. Membuat raquel terkejut bukan main. Dia pikir Rm tidur, padahal lelaki berlesung pipi itu hanya memejam kan mata. Bahkan ia tahu kapan raquel terbangun dan datang ke arahnya.


"Kau belum tidur juga" tanya rm dengan tatapan intimidasi seolah raut wajah rm seperti memberi peringatan pada raquel.


" A a aku,,, a aku hanya.." raquel tergagap-gagap karena kaget sekaligus takut. Raquel pikir dia telah membangun kan Rm dari tidurnya. Pasti Rm akan marah padanya karena telah menggangu. Begitu pikir nya.


"Kenapa kau tergagap-gagap? Apa aku menakuti mu." Rm malah menatap cemas pada raquel.


Karena wajah raquel langsung pucat ketika melihat Rm yang tiba-tiba terbangun.


"A ah, tidak kok. A aku hanya kaget saja.Ku pikir, aku sudah membangun kan mu. Maaf,," ucap raquel dengan jujur


Rm melepaskan tangan raquel yang tadi ia tangkap. Rm menegakkan tubuhnya. Lalu ia berkata,,,


"Tidak. Kau tidak membangunkan ku. Aku tidak tidur."


"Oh," -raquel


Beberapa saat keduanya terdiam saling tatap.


"Why?" celetuk rm. Membuat raquel mengalihkan tatapannya.


"Kenapa kau tidak tidur juga dari tadi. Apa kepala mu pusing lagi?" tanya rm memastikan.


"um, tidak kok. Aku hanya tidak bisa tidur." ucap raquel seraya berjalan ke satu kursi tunggal yang sama di seberang rm. Kini mereka berdua duduk berhadapan.


"Kau sendiri. Kenapa kau tidak tidur?" tanya balik raquel kepadanya.


"Aku kan menjaga mu. Kalau aku tidur namanya aku tidak menjaga mu, tapi numpang tidur di rumah mu." celetuk rm.


membuat raquel tiba-tiba tersenyum singkat.


"Kenapa kau malah duduk disini. Kembali lah ke ranjang dan tidur" perintah rm


Raquel menghela napas. Sebelum ia berucap,,,


"Aku tidak mengantuk. Rm, kau mengerti?" tekan raquel pada setiap kalimatnya.


Kini Rm ikut-ikutan mengendus napas dengan kesal. Ia mencoba untuk bersabar dengan gadis berkepala batu ini. Tapi sayang nya kesabaran Rm lebih tipis. Melebihi tipis nya tisu.


Rm berdiri dan menghampiri raquel.


"Ayo tidur." paksa rm


"Rm,, aku tidak mau. Aku tidak ngantuk." raquel juga kini meninggi kan sedikit nada bicaranya.


Tidak ada pilihan lain selain menarik raquel dari sana.


"Ayo, kau harus istirahat."


"Aw, Rm tangan ku!" raquel merintih.


Sebab Rm menarik tangan raquel. Sebenarnya dia tidak begitu kuat memegangnya. Tapi karena raquel terus-terusan berontak jadi pegangan itu semakin di pererat agar raquel mau menurutinya.


"Sekarang berbaring." Rm menatap raquel dengan tatapan tajam.


Raquel yang merasa Rm terlalu memerintahnya. Membuat nya sangat tidak nyaman.


"Kenapa kau terus terusan mengatur ku hah!,, Memangnya kau siapa?!" sentak raquel.


Rm hanya diam tak menjawab pertanyaan itu.


"Kenapa kau tidak pulang saja. Dan biar kan aku beristirahat. Aku bisa jaga diri ku sendiri." ucap raquel kesal.


Rm sama sekali tak bergeming. Ia terus menatap raquel dengan tatapan matanya yang teduh penuh arti terselubung. Sebenarnya Rm hanya khawatir. Tapi rasa khawatir nya membuat ia bersikap berlebihan pada raquel.


Rm kembali memegang lengan raquel. Dan kali ini ia membawa raquel ke ranjang.


"Hei!,,," jerit raquel tak menyangka jika rm senekat itu padanya.


"Maafkan aku. " ucap Rm.


Dan berakhir ia memeluk raquel dari belakang. Cara itu hanya untuk membuat raquel agar tidak terus- terusan berkeliaran.


Raquel terdiam tak bergerak. Sebab, setengah tubuhnya sudah di jepit kedua tangan kekar Rm. Hanya mata raquel yang mulai kesana kemari. Ia tak tahu, mengapa tiba-tiba Rm memeluknya dan ikut berbaring di ranjang bersama nya.


Namun di samping itu. Ada perasaan yang tidak bisa raquel jelaskan. Senang, tapi tidak senang.


Seperti ada sesuatu yang kurang pas dalam hatinya. Tapi apa?,, Padahal momen ini lah yang selama ini ia inginkan. Tapi semenjak Rm berubah menjadi aneh. Itu membuat raquel sedikit takut.


Sebenarnya ia juga merasa takut saat ini berduaan dengan pria yang baru ia kenal. Pikiran raquel mulai kemana- mana. Tapi tubuhnya tak bisa menolak. Jadi tidak ada perlawanan sama sekali setelah Rm merangkulnya. Rm dibiarkan begitu saja oleh raquel. Sampai mana batasnya.


Bersambung...





...Jangan lupa like nya ya.....


...Vote juga sebanyak-banyaknya....


...Terimakasih....


...Salam cinta ku pada namjoon selalu...


...😘...

__ADS_1


...See you next story......


__ADS_2