OBSESSION Girl

OBSESSION Girl
-OBG-Part22


__ADS_3

_


Malam yang panjang telah berlalu. Mendung tadi malam kini berganti dengan matahari pagi yang cerah menyinari perumahan Bangtan.



Beberapa orang keluar untuk sekedar menghirup udara segar. Sebagian melakukan aktivitas mereka seperti biasa. Ada yang pergi ke sekolah, ada yang ke kantor. Bahkan berjalan-jalan dengan peliharaan mereka.


Sungguh lingkungan yang begitu ramah dan nyaman di pandang mata.


Di satu rumah besar yang masih terlihat sepi. Hanya ada tukang kebun yang melakukan pekerjaan nya. Dan juga satu orang ART yang kini sedang bersih-bersih.


"Mobil siapa ini? Kenapa parkir disini."


celetuk ART itu setelah melihat mobil berwarna biru yang parkir jalan menuju pintu masuk.


"Pak Han!" teriak nya pada tukang kebun yang sedang asik memotong rumput.


"Hah!" balasnya dari jarak 5 meter


ART melambaikan tangannya menyuruh tukan kebun paruh baya itu mendatanginya. Tukang kebun itu pun menghampiri dengan membawa gunting rumput yang tak ia lepaskan dari tangannya.


"Ada apa kau memanggil ku" tanya nya


"Pak han. Apa kau tahu ini mobil siapa?" tanya balik ART itu


Tukang kebun bernama pak han itu menatap mobil tersebut.


"Aku tidak tahu. Dari tadi pagi aku lihat mobil ini sudah ada di sini." jelas pak han


"Apa nona muda pulang tadi malam?" tanya art itu lagi.


Pak han hanya menggeleng tanda tak tahu.


"Aku tidak mengecek pekarangan karena hujan badai tidak berhenti hingga jam 2. Jadi aku ketiduran." jelas pak han kembali


"Jadi, apa kau mengunci pagar dan pintu rumah pak han?!" tanya art itu seperti terkejut


Pak han terdiam sesaat.


"A' ahah, hehe. Sepertinya aku lupa.." tutur nya sambil nyengir


"Aiisht' pak han!" art itu memukul nya dengan sebuah serbet.


"Kenapa kau ceroboh sekali! Kalau ada maling bagaimana!" teriak art itu memarahi si tukang kebun.


"Bukan salah ku. Kau juga, kenapa kau pergi kencan buta malam- malam. Seharusnya yang mengunci pintu rumah itu tugas mu" balas pak han membalikan situasi.


Art itu kini terdiam tak berani berkomentar lagi. Mereka kembali membahas tentang mobil itu lagi.


"Sepertinya aku tidak pernah melihatnya. Ini bukan milik tuan dan nyonya. Tapi juga bukan punya nona muda." tuturnya sambil berpikir


Keduanya terdiam sambil berpikir dan terus menatap mobil itu heran.


"Milik siapa ya?"


"Entahlah. Barangkali nona muda tukaran mobil lagi dengan teman- teman nya itu." ucap pak han mengingat kebiasaan raquel yang selalu tidak jelas setiap kali pulang atau pergi. Terkadang dengan kendaraan yang berbeda- beda.


Yeah, semua itu tidak lepas dari teman- teman nya zara dan olivia. Mereka biasa bertukar barang, bahkan pakaian dalam. Ups' itu pun tanpa sengaja kalau pakaian meraka tercampur saat di laundry. Haha'..


_


Sementara itu, Raquel yang masih tertidur pulas dengan memeluk guling besarnya. Terlihat begitu nyaman. Bahkan Rm juga tidak merasa pegal dan lelah sebab tubuh Raquel hanya seberat 50 kg. Itu sama sekali tidak membuat Rm keberatan, walau pun gadis itu kini tidur di atas dadanya.


Raquel terbangun lebih dulu karena ada yang menelponnya. Mendengar suara ponselnya ia meraba tempat tidur mencari ponselnya di bawah bantal. Dan menatap layar ponsel untuk melihat siapa yang menelpon nya di pagi hari.


...panggilan......


...Bestie Oliviea 📞...


"hm" raquel langsung mengangkatnya.


"Dimana kau sekarang?" olivie langsung melontarkan pertanyaan.


"Aku di rumah. Wae?" -raquel


"Apa kau masih bersama dengan nya?" tanya olivie sekali lagi. Nada bicaranya terus-terusan terdengar cetus.


"Dia?, siapa yang kau maksud." -raquel


"Siapa lagi kalau bukan Rm. My crush mu!" cetus olivie lagi


"Aaa,,, Rm. Ya, dia disini semalaman." tutur Raquel tanpa punya pikiran.


"Yak! Kau sudah gila ya raquel. Apa kau berkencan semalaman dengan nya! Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku dan zara takut kau kenapa-kenapa!" cecar olivie kesal padanya.


Sampai-sampai Raquel menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga karena suara teriakan olivie yang memekik telinga.


"Kau keterlaluan Raquel. Meninggal kan ku di saat zara hilang. Kita semua panik dan kau pergi begitu saja demi pria idaman mu itu!" timpal olive kembali


"Olive,,, bukan begitu. Aku sama sekali tidak berniat untuk meninggal kan mu dengan zara. Tapi aku.."


"Sudahlah raquel. Nikmati saja hari mu dengan Rm. Jika kau ingin bicara, temui saja aku dan zara." ucap olive dan dia mematikan teleponnya.


Raquel menghempaskan ponselnya ke ranjang. Sehingga membuat Rm terbangun.


"Apa, kenapa?" ucapnya seketika karena kaget.


Raquel menoleh ke belakang.


"Ah, maaf. Aku membangunkan mu ya" tuturnya


Rm bangkit lebih dahulu sebelum membalas ucapan raquel.


"Oh, tidak. Memang aku sudah bangun kok."


Raquel hanya melontarkan senyuman hambar. Rm menyadari itu, dan langsung bertanya.


"Kenapa wajah mu terlihat kesal pagi-pagi?" tanya Rm


Raquel menarik poninya ke belakang. Dan menghela napas panjang.


"Olivie baru saja menelpon dan dia marah padaku." jelas raquel bernada sedih

__ADS_1


"Really,, Apa kau memberitahu nya semalam kalau kau demam?" tanya Rm lagi


Raquel menggeleng.


"Why?" Rm agak terkejut.


"Aku tidak sempat,,," Raquel meremas surai nya. Ini masalah besar jika sampai kedua sahabat nya merajuk. Ini lebih dari kiamat bagi nya.


"aah, ottoeke.." Raquel terlihat bingung.


"Jelaskan saja. Kalau kau pulang semalam karena merasa tidak enak badan." ucap Rm mencoba memberi saran.


Raquel masih dengan pikirannya yang berkecamuk. Kenapa dia begitu bodoh. Seharusnya ia tidak pulang semalam dan menunggu saja. Itu pikirnya.


"Raquel, ayo pergi temui meraka. Aku akan menemani mu dan menjelaskan semuanya." ajak Rm yang sudah memegang lengan raquel ingin membawanya beranjak.


"Tunggu."


"Tidak perlu. Jangan katakan apa pun tentang yang terjadi semalam. Termasuk aku pulang karena demam." ucap raquel


"Wae. Kau tidak mau menjelaskan. Dan membiarkan mereka salah paham padamu?" Rm agak kurang mengerti dengan jalan pikiran raquel.


"Biarkan saja." tutur raquel


"Kenapa. Bukan kah kau tinggal jelaskan saja. Apa susahnya, jadi mereka tidak akan salah paham padamu." tutur Rm dengan penekanan.


"Tidak. Biarkan saja. Aku tidak mau membuat mereka khawatir jika meraka tahu. Kalau aku bilang begitu, maka zara dan olivie akan merasa sangat bersalah karena tidak berada di sisi ku." ucap Raquel


Rm terdiam. Ia tak tahu harus berkomentar bagaimana. Karena ia tak paham hubungan antara raquel dan kedua temannya itu seperti apa.


"Jadi bagaimana. Apa kau akan diam saja?" -Rm


"Aku akan jelaskannya nanti. Aku akan bicara pada mereka." -raquel


"Bagaimana kalau mereka benar- benar marah dan tak mau mendengar kan mu." Rm kembali bertanya


"Tidak akan. Aku tahu olive dan zara. Aku mengenal mereka sudah dari pucuk sampai ke akarnya. Mereka tidak akan bisa marah pada ku apalagi berlama-lama. Mereka tidak akan melakukan hal yang menyakiti ku." tutur raquel


"um,, baguslah kalau begitu." Rm kini mencoba memahami. Tidak ingin ikut campur dengan urusan perempuan. Ia hanya bisa memberi saran atau masukan jika raquel membutuhkannya.


"Oh, ya. Hari ini aku harus menemui klien." Raquel turun dari ranjang sambil mencepol rambutnya.


"Oh, begitu kah. Kalau begitu aku akan pulang sekarang." Rm pun juga ikut beranjak dari ranjang.


"Kau mau sarapan dulu?" raquel menawarinya.


"Ah, ya. Terserah." balas Rm dengan senyuman setelahnya.


"Ayo kita turun ke bawah." ajaknya


Raquel mengiring Rm keluar dari kamar dan turun kelantai dasar. Langsung menuju dapur.



Di dapur sedang ada art yang lagi bersih-bersih.


"Bik," sapa raquel.


Tangannya masih berpegangan dengan Rm tidak terlepas bahkan sampai ke meja makan.


"Nona ternyata di rumah saya pikir nona masih di apartemen." tutur art itu kembali


"Iya bi,,, tadi malam aku pulang karena kurang enak badan." ucap raquel yang kini sudah dengan posisi duduk bersebelahan dengan Rm.


Rm hanya diam, senyam senyum dikala art itu melontarkan tatapan ramah. Sepertinya wanita paru baya itu penasaran siapa gerangan pria ini dan ada hubungan apa dengan tuan rumahnya.


"Bik, aku mau makan. tolong buatkan sarapan untuk dua orang." celetuk raquel membuyarkan tatapan wanita itu yang terfokus pada Rm.


"Ah, i iya non. Segera saya buatkan. Non mau sarapan apa?" ucapnya dengan tergesa-gesa ke meja kompor.


"Yang simpel saja. Roti Sandwich isi daging dengan telur setengah matang." jawab raquel detail.


"Baik non. Tunggu 10 menit."


Sementara art membuatkan sarapan. Raquel dan Rm berbincang sedikit di meja makan sambil menunggu makanan di buat.


"Apa kau suka makan sandwich?" tanya nya basa-basi.


"Hm, yeah.. Setiap hari aku makan itu di kantor ku." balas Rm


"Dimana kantor mu?" tanya raquel lagi


"Di inggris." jawab Rm lagi


"Mwoo?,,," mulut Raquel membulat sempurna dengan matanya yang juga ikut melotot kaget.


melihat ekspresi raquel yang terlihat lucu tidak membuat Rm membiarkan hal itu untuk tidak di jahili. Rm langsung me-noel bibir raquel sampai raquel terkesiap lalu menutup mulutnya.


"Awas lalat" ucap Rm dengan tawa.


Raquel hanya tersenyum malu di goda oleh nya. Art yang juga menyimak pembicaraan mereka diam-diam mengintip tingkah keduanya. Bahkan ikut tersenyum.


"Oh ya. Teringat nya, bukan kah kau orang sini. Kenapa kau tinggal di inggris?" tanya raquel lagi.


Ia hanya ingin tahu siapa pria bernama Rm ini. Dengan cara memahami nya sedikit demi sedikit.


"Iya aku memang asli sini. Orang tua ku pindah untuk berbisnis." jelas Rm


"Owh..." raquel mengangguk-angguk.


"Jadi, apa kau punya rumah disini?"


"Dulu ada. Tapi sudah di jual untuk menambah biaya kebutuhan kami di sana. Karena waktu itu Orang tua ku merintis usaha dari nol." jelas Rm kembali


"umm,, begitu."


Raquel beranjak dari tempatnya. Ia menjeda percakapannya dengan Rm dan berjalan menuju ke arah kulkas dua pintu.


"Kau ingin minum apa" raquel menawari Rm.


"Umm, apa saja." balas Rm


"Jus, teh, kopi? Yang mana." tanya raquel. Entah ini sudah pertanyaan yang ke berapa kalinya.

__ADS_1


"umm,, coffe please." pinta Rm dengan nada bercanda


"Oke, tunggu sebentar." tutur Raquel berjalan sambil tersenyum padanya.


Raquel mengambil dua cangkir di dalam lemari gantung.


"Eh, non. Ngapain,,, sini biar bibik saja." tegur art saat melihat raquel yang hendak membuat kopi.


"Bik, gak papa. Biar raquel saja. Bibik buat sarapan aja biar cepat. Karena raquel mau pergi ke kantor hari ini." tutur raquel sambil terus melakukan pekerjaannya, mengaduk kopi.


Art itu tidak langsung pergi melakukan pekerjaan nya. Ia mencoba mendekati raquel. Kemudian berbisik


"Non, apa pemuda itu pacarnya nona? Dia sangat tampan.." tanya nya penasaran.


Raquel tersenyum mendengar pertanyaan art nya yang terdengar sangat ingin tahu.


"Bukan bik,,," balas raquel sambil senyam- senyum.


"Ah, masa sih. Bibik tidak percaya. Pasti itu pacar nona kan" ujar art tersebut sambil sedikit menyikut lengan raquel.


"Apa sih bik. Bukan bik,,, hanya teman." jelas raquel sekali lagi tapi wajah raquel terlihat salting saat art itu menanyai nya.


"Xixixi.." art itu terkekeh lagi.


"Apa semalam dia menginap dengan nona?" tanya art itu lagi penuh rasa penasaran.


Lagi-lagi raquel tersenyum salting.


"Iya,, dia menginap karena raquel tidak enak badan tadi malam." jawab raquel serius


mulut dan mata art itu seketika membulat.


"Apa, nona sakit tadi malam?" tanya nya cemas.


"Tidak kok bik. Hanya sedikit merasa pusing." jelas raquel.


"Owh, maaf nona bibik tidak tahu. Kenapa nona tidak memberitahu bibik, jadi bibik bisa membantu teman non untuk merawat nona." ucap art itu berujung penyesalan.


"Tidak apa-apa kok bik,,, raquel sudah baikan sekarang. Malam tadi Rm sudah memberi raquel obat."


"Rm. Apa nama pemuda itu Rm nona?" tanya art baru tahu


Raquel mengangguk. Tak terasa tangan raquel yang terus bekerja sambil asik bergosip dengan art nya. Ia sudah selesai membuat kopi dan memotong beberapa buah- buahan untuk pencuci mulut.


"Oh, iya non. Sebentar lagi dagingnya mateng." ucap art itu dan kembali membolak balik daging di atas teflon.


"Tolong jangan over cook ya bik.."


"Siap nona."


Sementara itu di belakang sana. Rm yang masih duduk manis menunggu Raquel. Ia menerima telepon dari seseorang. Raquel sempat menoleh mendengar Rm sedang asik berbincang melalui teleponnya.


"Tolong periksa jadwal pertemuan. Aku tidak jadi pulang hari ini."


Tapi tidak tahu dengan siapa ia bicara. Yang jelas itu sepertinya bersangkutan dengan pekerjaannya. Terlihat dari wajah Rm yang sangat serius saat bicara. Setelah itu Raquel kembali terfokus pada pekerjaannya.


"Bisa kau handle perusahaan dulu." tutur nya pelan pada seseorang yang ada di telepon.


"Aku akan menunda penerbangan ku hari ini. Aku butuh cuti satu hari lagi." -Rm


Setelah itu Rm mengakhiri panggilan teleponnya.


Raquel kini berjalan ke meja makan dengan membawa dua cangkir kopi. Raquel meletakkan dengan hati- hati satu cangkir di depan Rm.


"Terimakasih" -Rm melontarkan senyuman kepadanya.


Raquel membalas nya dengan senyuman kembali. Lalu ia duduk di tempat asalnya dan menghirup secangkir kopi miliknya.


"hm,, good. Manis nya pas." komen Rm menikmati setiap sedutan kopi.


raquel tersenyum mendapat pujian darinya.


"Oh ya. Sampai mana tadi kita?" tanya raquel yang ingin melanjutkan perbincangannya tadi.


"umm,," Rm pun juga sudah lupa sampai mana titik pembicaraan mereka.


" Oh, I'd forgotten. Sorry.." ucap Rm dengan sedikit terkekeh.


"Ah, haha.. Tidak papa. Kalau begitu lupakan saja." balas raquel pula ikut tertawa pelan.


Keduanya terlihat manis saat sedang bercengkrama. Cara bicara dan juga tatapan mereka yang terasa hangat di pandang mata. Terlihat seperti pasangan yang baru saja menikah. Dan bersenda gurau di pagi hari.


"Non,, ini makanan nya." ucap art yang kini membawa baki yang berisikan 2 potong roti berukuran besar yang ada di dalam piring. Serta telur setengah matang yang yang terlihat sempurna mendampingi roti sandwich.


"Silahkan,,, " bibik menyuguhkan makanan pada raquel lebih dulu.


"Nak tampan ini milik mu. Silahkan di makan" goda art itu pada Rm dengan ucapannya.


Rm tersenyum lebar hingga matanya hampir tak terlihat.


"Terimakasih" ucapnya ramah.


Wanita paruh baya itu terlihat senang pada sosok Rm seolah ia menjadi pendukung antara Raquel dan pemuda ini.


"Silahkan di makan tampan." art itu menyerngih kala Rm menatapnya.


"Non, bibik tinggal dulu ya. Masih banyak pekerjaan yang belum selesai." ucap art itu dengan segan. Lalu meninggalkan mereka di ruang makan setelah mendapat anggukan dari Nona muda, Raquel Adeline.


Bersambung...


•


•


•


...Jangan lupa like nya ya.....


...Vote juga sebanyak-banyaknya....


...Terimakasih....


...Salam cinta ku untuk namjoon selalu...

__ADS_1


...😘...


...See you next story......


__ADS_2