
•
Raquel yang tertangkap oleh jimin dan jungkook, kini tidak bisa kabur lagi. Walau rasanya ia ingin segera lari dari sana. Tapi entah mengapa kaki nya tidak sinkron dengan pemikirannya. Tubuhnya malah membeku di tempat. Padahal sedetik yang lalu bisa saja ia guna kan untuk berlari dari sana.
Jungkook dan jimin kini menatap nya dengan tatapan intimidasi. Seolah polisi yang mau mengintrogasi nya.
grep!
Jimin merampas topi di atas kepala gadis itu. Dan betapa terkejut nya dia saat melihat siapa yang mereka kira sebagai maling.
"Kamu!"
Gadis bernama Raquel Adeline perlahan mengangkat kepala.
"eh' hehehe.." raquel langsung nyengir.
Jungkook yang tak menyangka pun langsung merenggangkan remasan tangannya dari raquel.
Raquel reflek mengelus lengannya yang baru terasa sakit.
"Miane, aku pikir tadi kau benar-benar maling." tutur jungkook langsung merubah nada bicara dan juga ekspresi wajahnya.
"But' kau sedang apa disini?" tanya jimin
Sedetik raquel terdiam. Ia tak tahu bagaimana menjelaskan maksud nya datang kemari.
Apakah ia harus bilang bahwa sejujurnya ia merindukan Rm?, atau.. Ah' tidak. Ia tidak boleh, mereka berdua tidak harus tahu maksud kedatangannya.
"Ah ' aku.. ingin bertemu seokjin. Apa dia ada?" ucap raquel mencoba bersikap senormal mungkin.
"Seokjin?" tanya heran jungkook
Dan raquel membalas dengan anggukkan.
"Ada sih. Tapi.. Kenapa kau mau bertemu dengannya?" jungkook kembali bertanya karena rasa penasaran dan heran.
"Oh begini." tiba-tiba raquel menghela napas dan menyodorkan tangannya,
"Kenalkan, Raquel Adeline.
Anak pemilik perumahan di komplek bangtan ini." jelasnya dengan bangga
Jimin dan jungkook seketika saling tatap. Kedua orang itu tercengang.
"Apa?, apa kau bercanda?" tanya jungkook tak percaya berbarengan dengan jimin yang juga menatapnya heran.
"I'm serious,,," jawab raquel dengan wajah meyakin kan.
Jimin dan jungkook kembali bengong.
"Yeorobun, aku ingin bertemu dengan seokjin. Apa dia ada?" tanya raquel sekali lagi
"Oh, ya. Dia ada di dalam."jawab jungkook lebih dulu
"Biar aku antarkan kamu bertemu dengannya." imbuh nya.
"Thank's " raquel berjalan duluan di depan.
Jungkook ingin menyusul namun jimin tiba-tiba menahan tangannya. Kemudian menaruh kunci motor di tangan jungkook.
"Belikan juga aku roko yang biasa. Kau tau kan." tutur jimin lalu ia berjalan masuk ke rumah meninggalkan jungkook yang masih berdiri dan bengong.
Entah apa maksud dari lelaki berwajah manis bernama park jimin itu. Tapi yang jelas ada maksud dari ucapan jimin. Padahal di awal dia yang duluan ngajak jungkook keluar beli rokok sama-sama. Tapi tiba-tiba dia malah minta belikan.
"Yak',,,Dasar jimintul !" kesal jungkook.
Tapi itu hanya sedetik. Setelah itu dia pergi dengan membawa motor gede milik park jimin, keluar dari halaman menuju toserba terdekat.
_
Sementara itu, raquel yang sudah berada di tengah rumah dan jimin yang baru saja masuk menyusulnya.
"Loh, bukannya tadi yang bilang mau mengantar ku itu si,,,? Siapa?" tanya raquel tak tahu dengan nama jungkook.
"Jungkook" jawab jimin.
"Oh, jungkook namanya,," mulut raquel membulat setelah ia tahu nama pria gondrong yang tadi.
"Dia lagi mau beli rokok katanya. Makanya aku yang disuruh ngantar kamu buat ketemu seokjin." alibi jimin.
"owh," jawaban singkat dari raquel dengan matanya yang menatap kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu. Lebih tepatnya mencari seseorang.
jimin yang juga menyadarinya langsung to the point.
"Apa kau dan seokjin benar-benar punya urusan penting?"
Raquel langsung mengalihkan pandangannya ke jimin.
"suruh saja dia temui aku." suruhnya
Dan jimin dengan segera memanggil seokjin.
"Jin-nah!!!"
Kang seokjin!!!!
Ada tamu!!!
Teriaknya lantang. Sebab seokjin masih asik di ruang arcade.
Seokjin yang mendengar teriakan jimin dari ruang tengah langsung men-jeda permainan. Dan beranjak.
"Ndeee!!!" balas seokjin dengan berteriak juga.
Seokjin berjalan keluar dari ruangan menuju ruang tengah. Di mana disana jimin dan raquel masih menunggu.
"Ada apa." ucap seokjin seketika saat ia sampai
__ADS_1
jimin langsung mengarahkan tatapannya ke raquel. Memberi kode dengan mata pada seokjin seolah berkata. Lihatlah siapa yang datang. Seokjin yang sudah paham dengan itu langsung menatap kearah gadis yang sedang duduk manis di sofa.
"Oh, ada tamu rupanya "
seokjin berjalan menghampiri.
"Hai, seokjin?" ucap raquel. Ia menyodorkan sebelah tangannya
"oh hai,," seokjin membalas. mereka berjabat tangan. Setelah itu seokjin duduk di hadapan gadis bernama raquel itu. Jimin yang masih disana juga ikut duduk di sebelah seokjin.
"Apa yang membawa mu datang kemari?" tanya seokjin dengan wajah penuh pertanyaan.
"Oh, begini. Ayah ku menyuruh ku untuk mengecek ke adaan perumahan disini.
Karena kau orang baru jadi aku harus memperkenalkan diriku " ucap raquel
Sedetik seokjin terdiam.
"Nde?,,," seokjin merasa heran. Bahkan ia menatap jimin.
Jimin yang sudah tau pun tidak kaget. Walau sebenarnya ia masih tidak menyangka.
lalu raquel mengeluarkan ponselnya. Ia mengotak atik lalu memperlihat kan layar ponsel itu kepada kang seokjin.
"Apa semalam kau menemui dia untuk membeli rumah ini?" tanya raquel setelah memperlihatkan sebuah foto lelaki paruh baya berjas hitam di ponselnya.
Seokjin menyerngitkan keningnya bahkan kini matanya menyipit untuk mengenali siapa lelaki tersebut.
"Oh,ya benar. Beliau yang mengurus semua saat aku membeli rumah ini." jawab seokjin
"Dia papah ku." ucap raquel blak-blakan.
Untuk kedua kalinya seokjin terkejut.
"Kenapa kau kaget. Bukan kah td dia sudah bilang." celetuk jimin menyadarkan seokjin.
"oh, ya,, iya ya." tiba-tiba nge leg
"Jadi seokjin. Kalau kau butuh apa-apa kau bisa langsung beritahu aku". Ucap raquel
"Oh, nde." balas seokjin hanya mengangguk-angguk.
Lalu tiba-tiba suasana hening dan canggung. Mereka saling tatap.
"Oh, eng... Mau minum apa?" tiba-tiba seokjin menawari raquel.
"jangan repot-repot." raquel membalas dengan senyuman.
"Sebentar, biar aku ambilkan kau minum." celetuk jimin dengan langsung berjalan menuju dapur.
"Ah, a-a-aniyo.." raquel merasa tak enak. Namun lelaki itu sudah terlanjur jauh melangkah.
Seokjin masih duduk di sana dan menatap gerak-gerik raquel. Gadis itu kini melirik kesana kemari.
"Oh ya, kebetulan kau di sini. Ada yang mau aku tanyakan." ucap seokjin yang teringat akan sesuatu.
"Apa?.."
"itu..um,,," baru saja seokjin ingin mengatakannya. Tapi jimin datang membawakan minuman.
"Silahkan diminum." ucap jimin mempersilahkan. Ia meletakkan minuman soda di atas meja, di depan raquel.
"Oh terimakasih." raquel membalas dengan senyum singkat. Lalu membuka kaleng soda itu dan meminumnya.
Glek'
Glek'
Glek'
"Ternyata aku haus,," timpal raquel setelah banyak meneguk minuman soda tersebut.
Seokjin yang terdiam tak lagi menyambung kalimatnya.
"Oh ya, apa tadi. Kau mau tanya apa?" lanjut raquel mengingatkan percakapan mereka tadi yang terputus.
"umm,,," seokjin menatap jimin terlebih dahulu.
Dan jimin juga seketika menatapnya heran. Ia berpikir, mengapa seokjin seolah menyembunyikan sesuatu.
Raquel yang masih menunggu penjelasan seokjin juga merasa aneh.
"ah, sepertinya aku lupa. Hehehe"
Padahal belum ada semenit seokjin mengatakan ucapannya tadi. Tapi tiba-tiba dia bilang lupa. Apa pria ini sudah tua?,,,
Jimin masih disana, duduk dan terus menatap raquel. Sedang kan gadis yang ia tatap sibuk menatap liar mencari sosok pria idamannya.
Sedangkan seokjin masih diam seribu bahasa. Pria dengan wajah tampan yang terpahat sempurna itu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Tapi entah apa yang sedang ia pikirkan.
Kemudian tiba-tiba ia berkata demikian.
"Jimin, bisa tolong kau ambilkan ponsel ku. Aku lupa, tadi aku meninggalkan nya di ruang arcade."
Jimin seketika mengalihkan pandangannya dari raquel. Takut-takut seokjin mencurigai nya. Kalau ia sedang memperhatikan raquel.
"Oh," satu kalimat yang keluar dari mulut jimin.
Namun yang membuat seokjin heran ia masih di sana. Sama sekali tidak berdiri bahkan bergerak sekali pun.
"Jimin?,," seokjin menatapnya aneh.
Temannya itu terlihat kikuk. Bahkan raquel saat ini ikut menatapnya heran.
"Ah, y- ya.. a-a-apa tadi?" tiba-tiba lupa.
Ada apa dengan dua pria ini?, tadi kang seokjin dan sekarang park jimin?,,, apa daya ingatan mereka melemah kalau sudah di depan perempuan. Atau,, mereka lagi banyak pikiran?. Entahlah, tidak tahu mengapa mereka bersikap aneh saat ini.
__ADS_1
"Aku tadi menyuruh mu mengambilkan ponsel ku,," seokjin memperjelas ucapannya.
"Ah, ya. A-a-aku ambilkan sekarang." seolah seperti tikus yang ketakutan melihat kucing. Jimin terbata-bata saat menjawabnya.
"Cari sampai dapat!" perintah seokjin.
"Yee!.." si asisten pun menjawab.
Jimin seperti bawahan yang takut dengan atasannya. Begitu lah kira-kira gambaran mereka berdua.
Akhirnya jimin pun pergi. Kesempatan seokjin untuk mengatakan maksudnya yang tadi sempat ia tunda.
"Oh ya, sekarang aku ingat apa yang mau aku katakan." ucapnya
Kening raquel seketika mengkerut. tanda ia menunggu seokjin mengatakannya. Barang kali sekarang sudah benar-benar ingat,
"Apa,, teman mu sudah punya pacar?"
Raquel tak membalas. Ia terdiam menatap seokjin bingung.
"Teman ku yang mana maksud mu?" raquel balik bertanya.
"Eng... Itu, siapa ya namanya?" seokjin lupa lagi.
"Olive?,,, Zara?,," tutur raquel memberi pilihan.
"Ah, ya. Zara nama nya ya.." seokjin tersenyum setelah ia mengingat nama orang yang dia maksud.
"Kenapa kau menanya kan zara?" raquel menatapnya dengan tatapan intimidasi.
"um,,, tidak. Hanya sekedar bertanya. Barang kali dia jomblo mungkin." seokjin menerka-nerka
Senyum miring menghiasi wajah raquel.
"Yaa',, apa ini? Langsung saja ke intinya. Kau suka zara kan?" tembak langsung raquel.
"Oh, ani. Um, tidak maksud ku..-"
"Kau mau nomor nya tidak?" tawar raquel langsung tanpa menunggu seokjin lebih dahulu meminta.
Walau pun seokjin belum mengatakannya. Raquel sudah bisa menebak dari arah percakapan ini, ujung-ujung nya pasti juga dia akan menanyakan nomor telepon zara.
"kosong delapan,,,,-"
Tanpa aba-aba Raquel mulai menyebutkan satu persatu nomor zara. Seokjin yang awalnya bengong seketika kelabakan mengeluarkan ponselnya. Dan mulai menekan tombol angka di layar.
Raquel meliriknya,
"Yah',, bukan kah ponsel mu berada di ruang arcade!" raquel tiba-tiba mengintrogasi seokjin.
Seokjin terdiam tak berkutik.
"huh?!!"
ia tertangkap basah telah berbohong.
"Kau berbohong ya,,," sekali lagi raquel melontarkan tatapan curiga dengan memicingkan ekor matanya.
"eng.. Aku..-" seokjin benar-benar tamat sekarang. Dia ketahuan berbohong pada jimin.
Tapi untung nya saat ini jimin belum kembali jadi hanya raquel yang mengetahui hal ini.
"Ah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud,,' um.. Bagaimana ya menjelaskannya?" seokjin kebingungan.
"Tidak perlu kau jelaskan. Aku paham maksud mu." dengan gaya nya yang sok cool raquel mengangkat kaleng soda dan meminumnya.
"Yeah, ku akui aku memang tertarik pada zara pada pandangan pertama. Tapi aku takut untuk mendekati nya terlalu berlebihan. Takut-takut dia sudah punya pacar." jelas seokjin kali ini membuka mulut.
Raquel diam termangu menyimak ungkapan seokjin.
"It's okey,, aku bisa membantu mu untuk dekat dengan zara."
"ah' jinjja!" seokjin takjub. Seketika menegakkan tubuhnya yang duduk agak membungkuk
Dan raquel mengangguk pasti.
"Tapi ada syaratnya,," -Raquel.
"Apa?" -Seokjin.
Gadis itu kini tersenyum miring seolah telah merencana kan semua di kepalanya.
"Bantu aku untuk mendekati Rm." tuturnya.
Membuat seokjin seketika terdiam membisu dengan matanya yang membulat. Ia jadi teringat dengan ucapan temannya Rm. Jika malam itu gadis inilah yang duluan mau mencium nya. Sekarang bukti di depan mata. Sepertinya ucapan Rm itu benar, gadis ini kian terobsesi dengannya.
Bersambung...
•
•
•
......Jangan lupa......
...LIKE...
...Vote...
...Dan tinggalkan jejak komentar kalian ya readers.....
...Terimakasih juga selalu mensupport cerita author....
...Salam support selalu...
...See you next story...
__ADS_1
...😘...