Olm, Osa Si Salamander

Olm, Osa Si Salamander
Perhatian atau Hanya Pertolongan?


__ADS_3

"Gimana kalau kita nyebur aja di pantai ini?" seru Alma dari bawah tebing menawarkan kami.


"Setuju!" Mendengar tawaran Alma, sejenak aku melupakan koreng di kaki dan langsung menuruni tebing dengan sembrono. Aisyah yang mendongak menatapku turun tampak berkspresi seolah merasa ngilu dengan gerakkan gesitku menuruni tebing. Takut terbesot lagi.


"Ya Allah, Sa. Kan udah janji tadi buat gak nyebur ke pantai, nanti luka lo gak sembuh-sembuh," keluh Aisya kepadaku yang mengingkari janji buat gak berenang.


Dengan beradu argumen sebentar denganku, akhirnya Aisyah menyerah dan mengalah untuk membiarkanku berenang bersama Alma di pantai di hadapan. Bagaimana bisa aku menolak untuk tidak menyentuh air pada liburan yang didominasi oleh lautan jernih ini?


"Hufftt ... yaudah deh, terserah. Tapi kalian kan gak bawa baju ganti?"


"Tenang aja, kita pulang basah-basahan."


"Kalian aja, gue gak ikut." Aisyah memilih untuk tidak ikut berenang. Ia mengembuskan napas kemudian kembali duduk di dipan kayu yang diteduhi pohon kelapa. Tangannya tampak mengutak-atik kamera sambil beberapa kali menjepret pemandangan cerah hari itu.


JEBUR!!


Aku tidak peduli, dengan baju pantai sekali pun kuterobos jutaan liter air laut yang terus mengggoda. Segar, ini kali pertama aku berenang di salah satu pantai di Kepulauan Raja Ampat, sebelumnya tertunda terus oleh insiden-insiden yang terus menghalang-halangi trip di sini.


Masih terasa sakit, benar kata Aisyah, lukaku masih belum kering sepenuhnya, perih di lutut dan pergelangan kaki kurasakan. Tapi biar saja, siapa peduli dengan luka kecil dibandingkan dengan hamparan luas alam terbuka?


Lautan yang membentang luas itu kusapu oleh gerakkan tangan dan dorongan kaki, menjelajahinya, dan kembali menyembulkan kepala ke permukaan air. Mataku perih karena ketika menyelam tidak menutupnya. Tapi itu bukan masalah, karena kehidupan bawah laut yang amat langka dan susah di cari di daerah puncak kini dapat kunikmati. Berbagai biota laut hidup rukun di dalam sini, mulai dari: berbagai macam jenis ikan yang berwarna-warni, terumbu karang, kerang, bintang laut, dan lainnya.


BYURR!!


Aku terkejut dan membalikkan badan, ada yang menyundul pantatku dari belakang, putri duyung? Ternyata bukan, itu si badut kota Alma, mungkin dia berenang sambil menutup mata. Sudah jelas, mana mungkin anak kota seperti dia berani membuka matanya di dalam air. Payah.


"Woy, Gra! Ayo turun, ikut nyebur sama kami." Aku melambaikan tangan tinggi-tinggi menghadap Agra--mengajaknya untuk bergabung. Ia gak menjawab apa-apa--hanya menggeleng saja. "Lo gak bisa berenang, ya?"


Baru saja hubungan kami membaik, aku malah resek sama dia-- mengejeknya dengan menuduh tidak bisa berenang.


"Udah gue bilang, jangan sok tahu. Gue gak mau berenang karena gak suka aja." Wajahnya memerah dan berdalih yang gak masuk akal. Gak suka berenang? Memangnya ada di dunia ini orang yang bisa berenang tapi gak suka berenang? Aku mulai menganalisis. Memangnya dia aja yang bisa membongkar masalah yang aku hadapi dengan hipotesa? Kali ini aku yang membongkar kedoknya yang tidak bisa berenang.


"Dari pada kalian pulang basah-basahan, mending gue balik ke vila dulu buat ngambil baju ganti sekaligus beli minuman, gimana?" Saran yang bagus dari Aisyah, mungkin dia bosan di sini terus tanpa melakukan apa-apa.


"Ok, my Icha ...." Aku dan Alma serentak men-ok inisiatif muslimah itu.


Lima belas menit berlalu sejak kepergian Aisyah, cahaya mentari terik sudah tepat di atas kepala kami. Semburat cahaya lembut pagi kini menjadi serangan mematikan buat kami yang masih berendam. Panas sekali, kulit kami terbakar dibuatnya. Ditambah kami tidak mengoleskan tabir surya terlebih dulu sebelum berenang. Kondisi kami sudah seperti sop krim jagung kesukaanku.


Aisyah kembali dengan menenteng plastik kresek putih yang pastinya berisi baju ganti kami, serta membawa nampan yang di atasnya terekspose indah empat wadah minuman segar yang tampak seolah berkeringat dari dinding luar gelas-- gelas kaca bening itu mengeluarkan butiran-butiran air yang fresh.


"Ini baju ganti kalian. Gue juga mampir sebentar tadi buat beli minuman, empat lemon tea dingin kupesan untuk kita." Aisyah meletakkan minuman kami di atas dipan tempat dia menunggu. "Oh iya, Gra. Ini gue bawain buat elo juga minumannya, buruan turun."


Si nolep Agra manggut-manggut, menutup buku tebalnya, dan kemudian menuruni tebing dengan hati-hati. Tangannya tampak gemetar menahan bebatuan tebing yang curam, serta kakinya meraba-raba susah mencari tanah sebagai landasan. Aku jadi ragu dia bakal sanggup mendaki Puncak Jaya Wijaya nanti.


"Eh, udahan, yuk. Kulit gue udah gosong banget, nih." Alma mengeluh, mendelikkan mata ke tangannya yang sudah mulai menghitam. Nampaknya badut kota itu panik sebab kecantikan yang hanya diakui dirinya sendiri itu luntur oleh cahaya matahari.


Kalau warna kulit yang gelap tidak masalah bagiku, tapi karena mukaku yang lonjong sudah tampak belang--hitam di jidat dan putih di pipi, rasanya aku harus menyetujui saran Alma ini.


Kami pun naik ke permukaan dengan perlahan. Namun belum sampai ke permukaan, sepertinya ada sesuatu yang menggeliat lasak di betis kiriku. Aku menoleh ke arah kaki, dan astaga! Seekor hewan seperti belut menancapkan taringnya ke betisku. Aku gak tahu itu apa, mungkin ular laut, sebab belut tidak menggigit.


"KYAAA!!! Aku berteriak kencang terkejut. Hewan yang menggigit betisku lari terbirit-birit. Tapi sial, sepertinya bisa hewan tersebut sudah masuk ke pembuluh darah. Bekas gigitan itu tampak menghitam.


Alma, Aisyah, dan Agra terkejut, menatap bingung diriku yang syok terduduk di permukaan pasir pantai.


"Eh, lo kenapa, Sa?" Aisyah meletakkan gelas yang berisi lemon tea ke atas permukaan dipan lalu lari menghampiriku dengan terburu-buru.


"Ular laut, gue digigit ular laut." Wajahku masih meringis. Walau gak begitu perih, tapi mungkin akan bahaya jika bisa ular laut masuk ke pembuluh darah.

__ADS_1


Mendengar aku yang digigit ular laut, Agra dengan sigap menghampiriku dengan membawa segelas lemon tea ke hadapan. Kakiku diselonjorkan olehnya, kemudian disiram dengan air teh yang dipesan Aisyah.


Air teh? Untuk apa dia menyiramnya ke bekas gigitan ular laut itu dengan air teh? Waktu di SMA aku gak belajar banyak soal pertolongan pertama digigit hewan berbisa, aku gak tahu apa yang dilakukan anak ini.


"Lo ... lo ngapain nyiram betis gue dengan air itu?" tanyaku pada Agra yang masih sibuk menumpahkan sisa lemon tea-nya ke betisku yang terkena luka. Gak ada jawaban, seolah anak itu gak terlalu peduli denganku--lebih peduli pada betisku.


"Ya ampun, Osa ...!" Dengan congor lebarnya yang kelimpungan, Alma si badut kota juga ikut menghampiriku dengan paniknya. Rambut panjangnya yang menjuntai lepek menggantung-gantung di wajahku--tetesan air bercucuran dari sana.


CLAP!


Apa ini? Agra menggigit bekas lukanya. Aku sempat ingin berontak, takut lukanya lebih parah karena digigit. Namun ternyata tidak, dia gak menggigit kakiku.


NYOT-NYOT *Euh ...


Di sedot, bisanya di sedot oleh Agra. Bukannya itu berbahaya jika tertelan? Aku menggeliat agar dia tidak melakukan itu pada lukaku. Itu bahaya. Tapi apa daya, kakiku diterkam erat oleh kedua tangannya. Kuat sekali.


"Cuih." Agra meludahkan bisa yang dia sedot dari bibir tipisnya berkali-kali--kemudian ia berkumur dengan air pantai sampai bisa yang ada dalam mulutnya hilang tak bersisa.


"Tanin, zat yang terkandung dalam teh bisa mendetoks venom atau bisa ular. Gue gigit betis lo untuk setidaknya bisa mengeluarkan sedikit bisa yang menyebar. Tapi tetap harus segera diberi suntikan anti racun sebelum menyebar." Akhirnya Agra menjawab pertanyaanku, bahkan soal gigitan di betis yang gak kutanyakan ia jawab dengan spesifik. Jenius juga caranya.


"Ya udah, buruan kita ke pusat pengobatan, gak jauh kok dari sini," saran Aisyah untuk segera membawaku ke pusat pengobatan agar mendapat suntikan yang dimaksud Agra.


"Jangan! Osa jangan jalan dulu, karena otot kakinya akan menyebarkan bisa ular dengan cepat. Bahaya," bentak Agra keras melarangku untuk berjalan.


"Terus, harus gimana?"


Agra bangkit dari tumpukkan pasir, menjauhi kami, kemudian berjalan menuju plastik baju gantiku dan Alma yang tepampang di atas dipan. Ia merogoh seisi plastik, mencari sesuatu dari dalamnya. Astaga! BH-ku ada di sana.


Ia kembali dengan membawa baju ganti dan mengikatkannya ke atas dan bawah sisi betisku di dekat bekas gigitan ular. "Walau gak terlalu efisien, tapi seenggaknya bisa memperlambat racun ular sebelum menyebar hingga ke seluruh bagian tubuh. Ayo kita bergegas ke tempat pengobatan."


Agra mendekat, kemudian menggendongku dari permukaan pasir pantai. "Eh! Apa-apaan lo!?" Dengan lantang aku membentak kuat sambil menggeliat-geliat. Apa-apaan ini, enak aja dia menggendongku dengan motif membantu. Kurang ajar.


Mau bagaimana lagi? Terpaksa aku harus pasrah di atas kedua tangannya yang menopang tubuhku--tangannya kurus--tulang semua, punggungku sakit dibuatnya. Tapi biarlah, aku menghargai usahanya untuk membantu. Semoga saja seperti itu tujuannya.


Bangunan itu sudah di depan mata. Gak terlalu besar, tapi aku yakin tempat ini gak salah karena ada plang yang terpampang jelas beruliskan, "Pusat Pertolongan Pertama Pulau Misool".


Kami masuk bersama ke salah satu ruangan tempat itu. Tampak beberapa kasur yang biasa tersedia di rumah sakit berjejer rapi. Beberapa obat-obatan dan kotak P3K tersusun apik di dalam lemari kayu dan kaca tempat itu.


Agra menurunkan aku ke salah satu kasur di tempat itu, memanggil dokter, dan kemudian berbicara, "Dok, kakinya digigit ular laut di pantai tadi. Saya sudah memberikan pertolongan pertama dengan zat tanin, juga mengisap beberapa bisa dari bekas gigitannya. Sekarang dia butuh suntikan antivenom." Dengan tegas Agra mengadu sekaligus menceritakan kejadian pada dokter di hadapan. Urat tangannya tampak menjalar di permukaan dermis. Mungkin dia kelelahan karena menggendongku tadi.


Dengan cekatan pula dokter memeriksa bekas gigitan ular di betisku, kemudian membuka lemari yang tersedia berbagai macam obat, dan mengambil botol kecil yang kurasa berisi cairan antibisa. Kemudian dokter wanita itu menyuntikkan serum yang berisi cairan antibisa ke bagian bekas gigitan ular padaku.


"Untungnya cepat diberi pertolongan pertama, jadi virus tidak sampai menyebar ke mana-mana." Dokter berperawakkan formal itu tersenyum padaku. Rambut keritingnya ia kuncir satu, badannya yang tinggi membuatku harus mendongak melihat wajahnya, dan kulitnya yang gelap menjadikan salah satu dari banyak perbedaan yang membuat Indonesia semakin beragam.


Aku tersenyum balik padanya, berterima kasih. Syukurlah gak terjadi hal yang lebih buruk dari gigitan ular laut tadi.


"Jangan berterima kasih pada saya saja, pacar kamu juga sepertinya tulus, sampai rela mengisap bisa ular dan menggendong kamu sampai sini." Dokter itu menunjuk Agra yang dia kira sebagai pacarku.


"Bu-" Dengan cepat aku menyela, mencoba memperbaikki kesalahpahaman yang dikira dokter. Namun Agra memotongnya.


"Dia bu-" Sepertinya Agra juga ingin menyela, namun lagi-lagi ditepis oleh dokter.


"Eh, maaf. Jadi keceplosan. Hahaha ... ABG seperti kalian lucu juga," gelak dokter Papua itu sambil meninggalkan kami di ruangan berempat. Dokter juga bisa jahil rupanya. "Kalau ada apa-apa, bilang saja, saya ada di ruang sebelah."


Kami berempat men-iya serentak. Dokter pun menjauh, tubuhnya menghilang di kelokkan pintu keluar.


"Cie ... cie ... ABG labil masih malu-malu emang buat PDKT-an. Hahaha ...." Anak tu, si badut kota, selalu saja nimbrung kalau soal cinta-cintaan. Kedua jari tangannya ia kuncupkan, kemudian mengadu keduanya. Apalagi kalau tidak usil padaku?

__ADS_1


"Eh, badut kota! Hobi banget lo ya kalau soal cinta-cintaan," bentakku ketus sambil menampol pipinya pelan.


Aisyah yang melihat kegaduhan kami berdua malah cengengesan.


"Tapi seenggaknya lo bilang makasih kek ke Agra. Emangnya gendong lo gak berat apa?" Aisyah selalu jadi penengah kegaduhan kami, pemberi saran yang baik juga untukku. Memang sih, ada benarnya juga apa yang dia bilang, seenggaknya aku harus berterimakasih pada Agra.


Aku menatap teliti Agra yang berjalan ingin keluar dari pintu. "Gra." Langkahnya terhenti, kepalanya menoleh ke belakang--menunggu lanjutan dari pembicaraanku. Kemudian aku melanjutkan, "Makasih, ya."


"Jangan berterima kasih sama gue. Berterima kasihlah pada usaha." Argh! Kalimatnya itu, loh. Dia jarang bicara, tapi setiap kalimat yang dia ucapkan, pasti buatku tercengang, tertunduk, bahkan pertama kalinya aku salut dengan kata-katanya.


Aku tersenyum simpul, lucu juga orang hemat suara ini. "Lo mau ke mana, Gra?"


"Mau ke vila, gue capek," tandas sudah pembicaraan super singkat kami.


Entah kenapa, rasanya aku ingin tahu dalam soal Agra. Seluk-beluknya, latar dirinya, dan hal lainnya yang gak kuketahui tentangnya. Sejak SMA dulu aku gak banyak tahu soal Agra. Paling yang kutahu hanya: dia itu laki-laki dan nolep. Itu saja. Bahkan rumahnya yang katanya di puncak pun aku gak tahu. Padahal daerah puncak itu gak seluas pusat kota. Apa aku harus kepoin dia?


"Woy! Melamun aja. Ayo, kita balik ke vila juga, lo gak risih basah-basahan begini?" Pandanganku kembali menatap nyata--memandang muka badut Alma yang menurutku menyeramkan.


Ya ampun! Aku gak sadar kalau aku belum ganti baju sedari berenang di pantai.


Kami pun angkat kaki dari pusat pengobatan, berpamitan dengan dokter. Soal urusan bayar-membayar, biarlah Aisyah--manajer pribadiku yang mengaturnya.


Aku dan Alma beranjak duluan, sedangkan Aisyah menyusul setelah melakukan pembayaran.


"Ih, serius deh, Sa. Lo mirip banget sama temen lama gue itu." Sial! Si badut kota berdongeng lagi di tengah perjalanan. Kepalaku mumet dibuatnya.


"Siapa, si baron-baron itu?" tanyaku yang bodohnya meladeni pembicaraan.


"Iya, bener. Percaya deh omongan gue."


"Gue gak percaya sama omongan lo! Yang jelas dan terpampang nyata di hadapan gue bahwa si badut kota ini gak bisa mingkem sama bacotannya yang membabi buta." Aku memendelikkan mata, memutar-mutar kepalaku ke hadapannya, dan menunjuk-nunjuk Alma bagai tersangka pembunuhan.


Alma cemberut, mukanya masam. "Udah berkali-kali lo nyebut gue 'badut kota', memangnya sehina apa sih, gue!? Sampai lo ejek gue begitu?" resah Alma yang keberatan sama panggilan--atau lebih tepatnya cemoohan yang kuberikan padanya. Wajahnya memerah, nadanya meninggi lantam.


Apa mungkin dia tersinggung sama perkataanku?  Aku membenak. Mungkin kesabarannya sudah kandas, makannya dia tersinggung begini. Padahal, ejekkanku itu hanya selorohan, kenapa dia harus tersinggung?


Kericuhan menjadi senyap. Alma bergegas cepat meninggalkan langkahku yang perlahan. Aku hanya diam membisu, gak tahu siapa yang salah. Antara dia yang baperan atau aku yang kelewatan.


Ia sudah menghilang, berbelok ke kanan--ke jalan setapak yang akan kulalui juga nantinya. Aku melirik ke sekitar, seperti ada yang membuntuti. Kepalaku menoleh ke belakang, berharap ada Aisyah yang menyusulku. Tapi ternyata tiada sesiapa. Kosong-melompong.


"Eh! si-siapa itu?" Aku sontak menoleh ke kanan--ke arah semak-semak dan pohon oak yang bercabang banyak. Namun lagi-lagi tidak ada apa pun. Aku masih gak yakin, padahal jelas-jelas di balik semak belukar itu ada seseorang, walau hanya sekilas. Perawakannya tinggi besar, sepertinya laki-laki.


Aku melangkahkan kaki yang penuh luka ini lebih cepat--bukan berlari--tapi berjalan cepat. Kalau soal hantu aku gak begitu takut. Tapi kalau soal penjahat, pembunuh, pemerkosa, ah, jangan bahas itu. Ditambah hari semakin sore, bisa-bisa aku kelimpungan nanti mencari jalan pulang.


\~\~\~\~\~


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2