Olm, Osa Si Salamander

Olm, Osa Si Salamander
Random Relation


__ADS_3

SLURP!!


"Ah ...." Sungguh nikmat menyedot air kelapa muda langsung dari buahnya.


Duduk santai dilindungi teduhnya pondok tradisional beratap jerami kering, membuatku merasa di surga yang sesungguhnya. Sayup-sayup temaramnya angin siang membuat mata mengerjap ngantuk. Pandanganku terus disuguhkan keindahan alam pulau ini. Pohon-pohon bakau yang merambat gersang, membuat kontras warna yang begitu sempurna.


"Lima belas menit lagi kita balik," tegas si nahkoda abal-abal. Dia sibuk membenarkan mesin kapal yang aku pun tidak tahu di mana letak kerusakannya.


"Sial! Gue gak bawa baju ganti sepotong pun." Pandanganku yang tertutup kacamata hitam beralih, menatap Agra yang masih telanjang dada.


Aku tidak memedulikannya. Urusan bajunya yang basah, ya itu urusannya. Orang angkuh dan songong seperti dia memang pantas dipermalukan sekali-kali, agar tidak semena-mena bicara sama orang. Lebih baik aku menghabiskan sisa lima belas menit untuk tetap bersandar di kursi pantai yang bermaterial kayu ini.


Anak-anak Pulau Friwen Wall sepertinya sedang tidur siang. Tidak ada seorang pun dari mereka yang berkeliaran. Cuaca hari ini juga sangat terik, jadi lebih baik orang-orang bersembunyi di balik kediaman mereka masing-masing.


Napasku bisa menghela lega sekarang, itu karena niat utamaku trip di sini adalah diving dan snorkeling. Harapanku sudah terealisasikan untuk yang satu ini. Dengan segala dramanya yang dari hari pertama sudah dilanda insiden memalukan Raka, digigit ular laut, sampai ribut dengan Alma, membuat trip ini begitu berwarna.


Hari ini aku cukup bahagia, namun kebahagiaan ini bisa sirna kapan saja. Ketika diagnosis dokter terealisasi, mungkin saat itu aku kembali terpuruk. Bahkan sampai saat ini, aku belum menemukan 'obat' penawar ketika masa itu terjadi. Buta, bagaimana mungkin aku akan mengalaminya dalam waktu yang tak tentu? Aku bahkan tidak bisa membayangkan, betapa gelagapannya menjadi tunanetra, tidak bisa melihat secercah warna pun, apalagi pemandangan secuil pun. Andai ada tempat untuk waktu bisa terjeda; umur tak bertambah, wajah tidak menua, penyakit tidak bertambah parah, mungkin aku akan menetap di sana.


Black Hole, katanya tempat itu tidak terjamah oleh waktu. Saking kuatnya gaya gravitasi di dalam, bahkan waktu pun tidak sanggup mengusik lubang itu. Satu-satunya subbidang ilmu eksakta yang membuatku tertarik adalah ilmu tentang waktu. Otakku selalu berputar tentang bagaimana menghentikan waktu. Tidak ada satu jurnal pun yang dapat menjelaskannya. Jangankan menghentikan waktu, melihat wujudnya saja, itu rasanya tidak mungkin. Yang memungkinkan hanyalah satu: ikut maju bersama waktu.


Sebuah film dokumenter dari presiden ternama Amerika Serikat, John F Kennedy pernah kutonton. Itu pun karena Papa yang selalu memaksaku menonton film dokumenter tokoh dunia yang membosankan. Di pertengahan film, ada sebuah petikkan dari sang presiden yang menurut beberapa orang itu terlalu klise, tapi bagiku itu mengesankan.


"Waktu adalah sebuah kekuatan. Dan siapapun yang menggunakannya dengan baik, waktu itu bisa menjadi sebuah keberuntungan yang akan membuat seseorang bahagia."


Sejenak aku terpesona dengan kata-kata itu dan berpikir: benar juga apa yang dikatakan, waktu itu sebuah keberkahan. Namun kata-kata itu seolah sia-sia ketika aku melihat akhir dari film tersebut. John F Kennedy tewas tertembak. Otakku kembali berputar, benakku bersuara, ke manakah eksistensi waktu yang katanya sebuah keberuntungan yang akan membuat seseorang bahagia? Hingga sekarang aku tak pernah memercayai bualan para tokoh-tokoh dunia. Mereka ahli dalam berteori, berhipotesa, merasa dirinya paling benar dan dengan embel-embel julukan 'Ilmuwan' dari orang banyak, padahal imajinasi mereka yang terlalu melambung. Imajinatif.


"Cepat! naik ke kapal, waktu tidak banyak." Aku tersentak hebat ketika si nahkoda berkerut wajah itu membentak. Topi pantaiku terjatuh ke pasir.


Kami segera bergegas menaiki kapal boat yang sudah berderu karena suara mesinnya menyala. Aku beranjak dari kursi santai, memasang kembali topi yang terjatuh, kemudian menyibakkan baju pantai putih yang kukenakan.


Alma dan Aisyah lebih dulu menunggangi mesin air itu, sedangkan Agra yang bertelanjang dada terakhir naik. Si nahkoda memasuki ruang kemudi di bagian moncong kapal, kemudian menancapkannya. Kapal pun kembali berlayar, meninggalkan Pulau Friwen Wall bersama waktu.


Tidak ada yang berkutik dalam teduhnya kapal ini, semuanya tampak lusuh dan lelah, tidak terkecuali aku yang mulai rapuh karena otot-otot kaki dan tangan yang melemah karena menyelam tadi. Alma sudah terlelap dalam pangkuan damai Aisyah. Juga Aisyah yang berulang kali terhantuk dengan body kapal karena tak kuat kantuk.


Di pojokkan kapal, terpampang wajah lusuh Agra sambil memegangi baju switer tebalnya yang lembab. Badannya yang kurus kerempeng membuat dua puluh empat tulang rusuknya menonjol jelas. Lehernya yang panjang dan tidak berleman tampak berurat, tapi ... benda apa yang mengalungi leher cungkringnya?


"Itu di leher lo apa, Gra?" tanyaku iseng.


Si Nolep Agra menyisikan switernya, kemudian menarik tali hitam yang melilit lehernya. Tampaklah sebuah kalung beraksesoris batu hijau, tampaknya itu batu zamrud. Aku tahu ketika mengambil kelas khusus pelajaran geologi.


"Itu zamrud?" ungkapku ingin tahu.


"Ya."


Merasa penasaran, aku pun mendekat, kemudian memegang batu hijau berbentuk lonjong itu dari lehernya. "Wah, gue baru pertama kali lihat batu zamrud begini. Lo dapat dari mana?"


"Dari ibu."


"Ibu ... maksudnya mama lo?" Aku menatap lekat-lekat batu itu, kemudian melanjutkan, "Enak ya, punya mama sepeduli itu sama anaknya. Padahal lo kan laki-laki."


"Chk. Buat apa terlalu mengharap sama perempuan yang gak punya tanggung jawab itu. Perempuan yang sama sekali gak mau aku lihat tampangnya," cibir Agra dengan muka masam.


Mendengar perkataannya yang amat frontal membuatku sedikit emosi. "Eh, Jaga bicara, Gra! Lo kira gampang apa ngelahirin dan membesarkan anak, hah!? Awas lo jadi anak durhaka ntar."


"Lo paham apa soal gue? Jangan sok baik, jangan sok paling tahu urusan orang. Udah deh, jangan ganggu!" Nyolot dibalas dengan emosi, begitulah jawaban Agra yang menepis ceramahku tentang seorang ibu.


Diam. Aku sadar, tidak banyak hal yang kutahu tentang seluk-beluk keluarga Agra. Urusan dia dengan ibunya, biarlah menjadi urusan pribadinya. Tapi rasa kecewa sedikit kurasa terhadap sikap Agra yang seperti ini. Bagaimana dia mau menyayangi perempuan lain, kalau ibunya sendiri saja dia abaikan.

__ADS_1


Sekesal-kesalnya batinku menerima kenyataan bahwa orangtuaku telah bercerai, aku sama sekali tidak pernah terpikirkan untuk menyimpan dendam terhadap Mama yang gak tahu di mana. Malah aku rindu berat terhadapnya. Tidak bisa kupungkiri, setiap orang itu bermacam-macam ragamnya. Rupa. Sifat. Keahlian. Kekurangan. Hobi. Masalah internal. Masalah eksternal. Tak mungkin bisa sama persis, dan jangan samakan pribadi orang dengan pribadi sendiri.


"Dan lo harus tahu, kalau sikap gue terhadapnya, itu bukan berarti tanpa sebab. Justru penyebablah yang buat hubungan antara anak dengan ibunya kacau." Dengan tatapan kosong dan kaku, ucapan terakhir Agra dilontarkan.


Tidak ada yang bisa kumengerti dari ucapannya itu. Hanya semakin membuatku penasaran, semakin menggantung.


\~\~\~\~\~


Suara ketemaraman siang menghantui kembali. Dua gadis yang seusiaku tampak terlelap dalam mimpi masing-masing. Di atas sofa lembut bak sutra, Alma tampak lembek, kulitnya belang karena tabir surya tak mempan menahan betapa tajamnya sinar UV. secara keseluruhan, anak itu tampak seperti buah sawo yang membusuk. Aku cekikikan geli melihat rupanya, kemudian memotret dirinya dari berbagai sudut, untuk menjadi aib sesama.


Tepat di sebelahnya, Aisyah tampak ikut terlelap dalam kelelahan hari ini. Matanya yang terpejam rapat, memperlihatkan kelentikan bulu dari sela kelopak. Tangannya yang menggantung, terlihat konsisten menggenggam tasbih, seolah zikir terus dilakukan dalam tidur. Aku sedikit iba, karena sudah beberapa hari ini dia tidak bisa menjalankan ibadah, sebab darah haid belum mereda.


Sejujurnya aku pun juga capek, mengantuk, pandangan sempoyongan, tapi bagaimana bisa aku tidur dalam kelaparan yang menggila ini? Perutku sudah sangat keroncongan, seolah cacing ingin menjerit dan berderu, kalau lo gak ngasih kami makan, maka ususlah yang jadi santapan kami.


Langkahku kembali menjejak, menuju dapur vila yang tidak seberapa besarnya. Berpintu-pintu lemari gantung tampak tersusun rapi, dengan pernis yang diterjang kemilau siang, membuat lemari itu seolah tampak bercahaya dengan sendirinya. Meja makan persegi panjang dengan material kayu yang beralaskan kaca, teronggok sepi di tepi sana, tidak ada apa pun di sana, kecuali hiasan kerang-kerangan yang masih mematung.


Pandangan kutolehkan ke sana-kemari, mencari sisa makanan yang masih ada untuk setidaknya mampu mengganjal perut. Namun, tidak ada makanan siap santap di dapur itu secuil pun. Usahaku tidak sampai di situ, kulkas besar dua pintu yang terpojok kaku di sudut dapur kuhampiri, membukanya, kemudian melihat isinya. Haduh ... masih mentah semua lagi, batinku ketika membelalak ke dalam kulkas yang hanya ada bahan mentahan yang tersisa. Sayur-mayur, daging mentah yang masih merah, dan buah-buahan tropis seperti: jeruk, mangga, belimbing. Vila ini kelas eksklusif, semuanya tersedia di sini, dengan penegasan, BAHAN MENTAH SEMUA.


Rasa mager membuatku enggan untuk memasak, walau demi kebutuhan pribadi. Tidur, tidur, tidur, hanya itu yang ada di otak dangkalku sekarang. Walakin, perutku tidak mendukungnya, tidak sinkron. Otak dan perut seperti ingin berpisah ranjang.


Suara berderik nyaring terdengar, memecahkan kesenyapan siang. Tubuhku yang masih duduk berhadapan dengan sejuknya kulkas, terperanjat. Aku memandang ke arah kamar Agra yang tidak jauh dari dapur, pintunya terbuka, lalu muncullah sesosoknya yang tampak segar, mungkin habis membasuh diri. Tidak seperti biasanya, kali ini si Nolep Agra tampak menggunakan baju kaus berwarna maroon dan berbahan lembut. Celananya hanya sampai selutut, membuat bulu-bulu keriting di betisnya kelihatan jelas tumbuh di atas kulit putih bersih. Tapi ... kalung zamrud pemberian sang ibu masih dikenakan, dari orang yang katanya tidak bertanggung jawab itu.


"Gak ada makan siang?" katanya datar sembari mencari sesuatu di atas meja.


Aku hanya menggeleng, masih berfokus pada kalung berkilau itu.


Tuk!


"Aduh!" aku berseru sambil mengelus kepala. Rupanya si Nolep melempariku dengan hiasan kerang di atas meja. Dan nahasnya, lontarannya tepat sasaran.


"Cewe kayak apa lo, gak bisa masak makanan?" Wajah menggerutu tersungging dalam rautnya.


Mendengar cemoohan pria kunting tak berlemak itu, aku pun bangkit, dan kembali berseru, "Oh, lo kira gue kayak elo, apa!? Yang gak bisa berenang tapi ngaku-ngaku pandai? Gue bisa buktiin kalau gue jago masak! Lihat, nih!"


Sebilah pisau kugenggam, kemudian dari dalam kulkas, beberapa sayuran mentah kuambil. Cabai, bawang, brokoli, wortel, kentang, semuanya kurajang habis, terbabat, menjadi satu. Kaldu udang tertuang dalam panci aluminium yang terisi air, mencampurinya menjadi satu. Kemudian dengan sigap, udang-udang jumbo kucincang habis, menjadi potongan-potongan kecil dan berbaur dengan sayuran.


Aku menoleh sejenak ke anak nolep banyak tingkah itu, dia terduduk santai sambil menatapku di dari meja makan. Dengan sekelebat, pandangan kufokuskan kembali pada masakan yang akan menjadi ajang pembuktianku pada Agra.


Kompor menyala, kobaran kecil api yang menjilati pantat wajan tampak selaras, mengelilinginya sesuai sumbu. Dengan cepat, air beserta bahan-bahan lainnya yang menggenang itu pun mulai berontak. Buih-buih dan gelembung yang semakin memanas, menciptakan suara blubuk-blubuk yang membahana. Asap karbondioksida mengepul dengan gaharnya, kemudian keluar dari jendela dan ventilasi udara. Aroma semerbak dari kaldu udang mulai tercium, membuat penduduk perut semakin memberontak parah.


Sebuah wadah besar yang terbuat dari batu berkilau kusediakan. Lalu dengan gesit  tanganku meraih pegangan panci yang masih panas dengan serbet, mengangkatnya, dan menuangkannya ke dalam wadah batu yang tersedia. Sentuhan terakhir dari tangan terampilku: menghiasi hidangan dengan daun bawang yang masih segar. Sup kaldu udang, tersaji.


Semangkuk wadah kecil kuisi dengan sup, lalu memberikannya pada Agra. "Nih! Lo cobain makanan gue. Biar lo tahu kalau gue itu jago masak."


Agra menodongkan wajahnya pada sup di hadapan. Kepulan asap lembut yang menusuk hidung, membuatnya merasa tertarik, kemudian ... slurp! Bibir tipisnya mengecap, lidahnya beradaptasi dengan masakanku. Dia tidak merespon, cicipan kedua ia lanjutkan. Kali ini bukan mengecap cita rasa kaldu udang saja, tapi sudah melahap cincangan udang dengan sayuran sekaligus. Tidak kusangka, bibir setipis Agra bisa juga menganga lebar bagai Palung Mariana.


Beberapa menit kemudian, aku yang masih melenggang kangkung di hadapan si Nolep Agra, mulai semakin sewot karena tidak direspon sedikit pun. Malah, wajahnya terus tertunduk fokus menyantap makananku. Alasan apa lagi yang mau diberikan anak ini untuk terus menjatuhkanku? Tidak bisa! Aku yakin masakanku sangat enak. Lihat saja betapa rakusnya orang itu.


"Gimana, enak kan makanan gue?" ketusku sambil berdiri di hadapannya dan melenggakkan pinggul.


Makanan di mangkuknya sudah bersih, namun tetap tidak ada umpan balik yang diberikan padaku; tidak berkomentar. Segelas air mineral ia teguk, menembus tenggorokkan, kemudian terdengar suara glek ... glek ... dari jakun yang menonjol.


"Standar, gak ada bedanya sama makanan di warteg," tandas Agra yang sekaligus membuat kepercayaan diriku roboh seketika.


"Halah, tapi ujung-ujungnya, habis juga kan makanan itu. Lagian, mana ada laki-laki yang mau merendahkan derajatnya buat memuji cewek. MUSTAHIL!" Bibirku tersungging. Aku mulai sewot dengan manusia introvert yang satu ini. Tetapi, dengan terbengkil-bengkil, aku mencoba menahan kekesalan yang membuncah. Ribut dengan Agra tidak ada gunanya.


"Ya namanya juga lapar, bahkan batu pun enak buat ditelan," lanjut Agra memperpanjang masalah.

__ADS_1


"Ooo ... jadi menurut lo, makanan gue kayak batu ya? HAH!!"


Plak-plok-plak-plok! Jambakkan, tamparan, tonjokkan, semuanya melayang dengan kencangnya menuju kerangka rapuh Agra. Hajab sudah anak itu kubuat. Baju kaosnya compang-camping sebab aku menariknya hingga molor.


"Be-bentar dulu woy!" Agra meraung kesakitan, menepis tanganku yang terus menerjang tanpa henti padanya.


Sepertinya dia mau bicara, untuk itu siksaan sejenak kuhentikan, mempersilakan dia untuk berdalih dan memberi pembelaan.


"Seenggaknya gue udah habisin makanan lo! Udah apresiasi usaha lo! kenapa lo gak terima diberi penilaian? Dasar otak udang!" berontak dia dengan gaharnya.


"Eh?" Aku terdiam, berpikir, lalu membenak, benar juga katanya, ini kan termasuk apresiasi. Dia menilai masakanku yang seperti makanan warteg. Lantas, kenapa aku seolah gak terima gini. Haduh ....


Pandangan kutancapkan pada Agra. Terlihat wajahnya yang merah padam bak gunung berapi yang memuntahkan lahar panas, meringis kesakitan. Bajunya yang kendor, ia rapikan; disibakkan. Aku yang duduk di sebelahnya masih terdiam kikuk.


"Makasih ya, buat makanan yang standar ini," senyum cemerlang timbul dari wajahnya. Kedua taringnya yang panjang beserta gingsul yang menyembul, ya ampun, manisnya .... Tidak peduli dengan ke-random-an sifat anak ini, yang jelas ... kami sama. Sama-sama tidak ketebak.


Apa ini? Dia memandangku dalam-dalam. Sangat serius. Aku pun sama, seolah ada lem super yang menempel di antara kami. Tidak terbesit dalam diriku untuk mengalihkan tatapan ini. Entah kenapa balas-balasan sorot mata ini begitu teduh, bagaikan drama Korea yang jarang kutonton.


"Whoopsiee ... ada yang lagi bercumbu mesra nich," sambut Alma dari sebalik dinding yang memergoki kami sedang beradu pandang.


Aku dan Agra tersentak kaget. Pandangan buyar, kini kami menyoroti Alma bagai penjahat yang ketahuan sedang beraksi. Malu sekali aku. Mau ditempatkan di mana harga diriku yang berkhianat pada sumpah serapah untuk janjiku waktu sekolah dulu pada Alma dan Aisyah. Janji untuk tidak sekali-kali punya perasaan dengan si Nolep Agra.


"Ehem ... yuk, mending kita makan. Kayaknya Osa yang masak sup ini." Aisyah menyalip Alma, mendekat ke meja makan, kemudian menghirup aroma sup. Dia ahli dalam mengalihkan adegan mencengangkan ini.


Melihat kesempatan untuk kabur, dengan gesit Agra bangkit dari tempat duduk dan pergi dari ruang makan. Gak gentle sekali anak ini.


Suasana tegang kembali menyurut. Aku, Alma, dan Aisyah, melangsungkan prosesi makan siang, tanpa ada sedikit pun yang membahas soal kejadian tadi. Semuanya berlalu dengan cepatnya dibawa waktu, seolah insiden yang menurutku memalukan itu tidak pernah terjadi.


Beeb ... beeb ...


Ponsel pintarku yang terbujur kaku di atas meja berdering. Tanganku melepas pegangannya dari sendok, kemudian beralih menggapai alat canggih tersebut.


Ra-Raka, dia lagi? Benakku membisik setelah lagi-lagi Raka mengirim pesan padaku. Kemudian dengan canggung aku membuka isi pesan tersebut, kemudian membacanya dalam hati.


Sa, semuanya akan jelas. Aku mau kamu tahu tentang maksudku.


\~\~\~\~\~


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2