Olm, Osa Si Salamander

Olm, Osa Si Salamander
Harga Diri Tak Lebih dari Apresiasi


__ADS_3

"Haduh! Langitnya mulai gelap, Gra." Aku memerhatikan horizon dunia, menatap mentari mulai meninggalkan bumi untuk berganti dengan bulan.


Pasir pantai yang tadinya terasa hangat, kini menyejuk disebabkan hawa malam itu yang sangat rendah. bayi-bayi penyu seluruhnya sudah melanglang buana menuju lautan lepas, menuju tanpa batas.


Aku yang sedari tadi mulai gusar karena pandangan terganggu, terus mengeluh pada Agra.


"Tenang aja," gumam Agra sambil merogoh saku dalam switer tebalnya. "Nih, untung gue bawa lampu."


Dua buah lampu teplok kecil ia keluarkan dari baju tebalnya yang sedari tadi menggelembung. Kemudian dengan sigap Agra menyalakan sumbu lampu tersebut. Lampu pun menyinari wajah kami sambil melepas kalornya, membuat kehangatan kecil terasa di permukaan dermis.


Aku menggenggam satu teplok, mengharap bisa mempermudah penglihatanku dalam gelap.


"Terus, kita pulang naik apa? Apa ada malam-malam begini kapal?" tanyaku semakin cemas karena sepertinya tidak ada kapal yang bertugas di malam hari.


Si Nolep Agra menggeleng, kemudian berkata, "Memang gak ada, tapi kita bisa pakai alternatif lain buat balik ke Misool Utara. Dengan jalan kaki."


Aku terperangah karena baru tahu kalau dari Misool Utara ke Selatan bisa menggunakan jalur darat. Ditambah, hari sudah gelap, suasana di Misool Selatan hampir tidak ada penerangan di sepanjang jalan yang membentang.


Penolakkan sempat ingin kuajukan padanya, tapi Agra keburu menghadang mulutku yang ingin berbicara, seolah tahu kalau aku akan banyak protes. Mau tidak mau sekaligus dengan terpaksa, aku ikut saja.


\~\~\~\~\~


Malam sudah sepenuhnya menggelapi hari. Pohon-pohon oak yang menderu sunyi membuat suasana perjalanan dipenuhi dengan dengung telinga. Hawa udara yang bercampur dinginnya air laut mulai menusuk-nusuk tulang. Dingin. Suasana desa tampak sepi, hampir tidak ada penerangan yang mewarnai malam. Hanya terlihat dari ventilasi rumah kayu mereka cahaya kuning yang berbinar redup. Mungkin itu lampu teplok yang kugenggam ini. Namun, suara lolongan anjing liar menjadi satu-satunya keramaian yang ada.


Agra yang berjalan bersisian di sampingku membisu, seolah-olah sedang kerasukan sesuatu. Aku ikut berkontribusi dalam kesunyian, terus melangkah menapaki jalanan tak beraspal tempat ini yang membuat kaki siapa pun yang lewat akan berdebu.


Tiba-tiba suara berkeresak terdengar dari balik semak belukar. Kami berdua sontak mengalihkan pandang pada objek. Sepersekian detik, tampaklah sosok siluet yang diterangi oleh teplok kami. Postur tubuhnya sama seperti orang yang aku lihat sekelebat waktu kembali dari  Pusat Pertolongan Pertama Pulau Misool. Ia mendekat, menunjukkan eksisteninya.


"Raka!?" Sontak aku menunjuk kaget pada bayangan yang sudah jelas tampangnya siapa.


Raka mendekat, wajahnya dingin saja seolah berkamuflase dengan cuaca.


Dengan sigap Agra menarikku, aku membelakangi dia.


"Aku mau bicara sama Osa sebentar," serunya dengan nada datar. Suara basnya menggema mengikuti angsana.


"Mending lo cabut! Jangan ngusik Osa terus. Jangan buat gue bertindak kasar sama lo." Tegas Agra dengan manikkan nada bicaranya. Tangannya mengepal kaku.


"Tenang. Aku gak bakal nyakitin Osa, ada yang mau kubicarakan hanya berdua."


"Gue gak suka keributan. Tapi kalau lo maksa, gue gak akan nolak."


"Aku gak maksa buat ribut, aku cuma mau meluruskan maksudku waktu itu. Tolong jangan halangi," pinta Raka dengan mencoba rendah hati.


Raka yang bersikap dingin tak terpengaruh oleh Agra yang mulai tegang urat. Kepalan tangan Agra semakin kencang, dadanya membusung, seolah menentang dan siap menerjang. Si Nolep terus menolak dan mengotot agar Raka segera menjauhiku. Aku yang semakin takut melihat kekeruhan yang terjadi, hanya bisa diam dan berserah diri pada Agra.


Kemudian Agra menarikku, berjalan bersamaan, dan mengacuhkan Raka. Pemuda Puncak itu tidak menghadang, ia hanya menatapku sayu yang mulai pergi menjauh. Kukira akan terjadi pertengkaran tadi di antara Agra dan Raka, ternyata feeling-ku lagi-lagi salah. Apa yang ingin dibicarakan Raka padaku? Meluruskan maksudnya waktu itu?


"Gimana pun alasannya, jangan pernah lo dekati dia lagi! sekalipun dia teman dekat lo dari kecil." Agra menasihatiku dengan lantamnya, seperti melarang anak keluar rumah oleh orangtuanya.


Aku manggut-manggut paham. Tumpuanku di trip ini hanya tinggal Agra. Semoga setiap tindakan yang dia peruntukkan padaku tidak ada maksud tertentu atau mengharap sesuatu.


Suasana semakin mencekam gelap membuat ritme langkah kami semakin cepat. Suara senandung jangkrik dan kodok saling berbalaskan. Rumput ilalang menancap tanah membuatnya seperti jajaran kayu pancang untuk membunuh sesiapa yang memberontak. Seperti dalam cerita Dracula.


\~\~\~\~\~


Semua otot-ototku yang kaku kurenggangkan di atas empuknya tempat tidur. Tulang-tulangku seperti mau runtuh seluruhnya. Persendian mengeretak, mengeluarkan bunyi yang bagi sebagian orang senang mendengarnya. Bagaimana tidak penat, selama satu setengah jam nonstop kami berjalan dari Misool Selatan dan kembali ke sini, ke Misool Utara dalam kegelapan mencekam.


Agra, anak itu membuat sehariku bagai seminggu. Bahkan setiap detikku di hari ini seolah berarti. Dari pagi yang rencana ingin hanya sekedar ikut Agra ke mana pun dia pergi, malah merengsek ke Misool Selatan. Tapi setidaknya aku mendapatkan pengalaman baru di kepulauan ini. Di hari keempat trip di sini, baru kali ini aku merasa puas.


Tok-tok-tok


Aku menoleh ke arah pintu kamar yang berdentum nyaring. "Siapa?"

__ADS_1


"Cuma mau ngingetin, besok jangan lupa perbaiki relasi lo dengan Alma. Jangan buat dia kecewa jadi bagian dari hidup lo." Itu Agra, dia berbicara dari balik pintu, mengingatkanku soal teman-temanku.


Aku mengiyakan, karena memang rencananya besok aku ingin menemui Alma dan Aisyah untuk meminta maaf. Si Nolep yang memiliki karakter random itu seolah menjadi pengingat dan penjagaku. Dia perhatian padaku, tapi tidak lebih, seolah ada yang membatasinya untuk bersikap lebih padaku. Aku gak tahu, beberapa kali terkaanku salah. Kapok berhipotesa.


Cahaya lampu tidurku meremang gelap, seolah menjadi obat bagi siapa pun yang tidak bisa tidur. Deburan ombak terdengar meledak hebat di luar sana, seolah menjadi bencana bagi orang yang menjadi pengkhianat. Kakiku menggeliat resah karena denyutan urat yang sedikit kram.


Kebiasaanku ketika sendiri adalah menelaah kalimat terakhir orang yang kudengar. Aku mulai mengingat kembali perkataan Agra di sebalik pintu beberapa menit yang lalu. "Jangan buat dia kecewa jadi bagian dari hidup lo", kata-kata itu terlalu berlebihan bagiku. Mana mungkin orang-orang yang ribut karena masalah kecil sampai sesakit itu hatinya. Aku gak suka menyakiti hati orang-orang. Tapi orang menilaiku seolah akulah yang salah. Egois, mana mungkin aku egois dengan mereka yang jelas-jelas kuajak trp bersama seperti ini.


Pikirku kembali membayang-bayang masa lalu. Waktu itu, aku ingat sekali ketika aku menanyakan hal yang sensitif pada Papa. Ke mana Mama berada?


\~\~\~\~\~


Di hari itu aku masih kelas satu SMA. Seperti biasanya, sepulang sekolah dan sehabis makan siang, aku pasti selalu nongkrong di bingkai jendela kamarku yang berhadapan langsung dengan pohon beringin belakang rumah.


"Sa, ganti baju sekolah kamu, nanti kena noda, susah dihilangkan," tegur Papa yang tiba-tiba saja masuk dalam kamar.


Aku yang masih mengenakan seragam utuh SMA langsung terperanjat kaget. Pandanganku membelalak ke belakang, ke arah Papa yang mendekatiku duduk di atas jendela.


"Masih suka bengong mandangin pohon itu lagi?" Dia berdiri di belakangku yang masih duduk menghadap ke luar.


"Pa, tujuh tahun Osa selalu duduk di sini sambil memandangi pohon beringin itu." Tanganku menunjuk lurus ke arah pohon waringin yang mengatapi luasnya lahan belakang rumah. "Berharap Osa tahu jawaban di balik pohon itu. Tapi gak mungkin, kan, Osa dapat jawabannya dari sebatang pohon yang bisu itu? Kecuali kalau Papa mau bercerita."


Papa tertawa kecil mendengar alasanku terus menatapi pohon itu hampir setiap hari, kemudian ia bergumam, "Kamu gak perlu tahu soal apa yang ada di balik pohon itu dengan mendetail. Yang jelas, sebuah penyesalan yang papa rasain membuatnya menjadi pelajaran dan bahan evaluasi."


"Penyesalan soal apa?" tanyaku semakin menggebu.


Sejenak Papa membisu, menatap sendu pohon itu, seolah ada kisah pilu. Matanya berbinar oleh refleksi pantulan cahaya matahari yang bersemburat lancang masuk ke dalam kamar.


"Dulu papa orang yang egois," sambungnya dengan ritme menurun. "Bukan cuma itu, sewaktu papa muda dulu, papa adalah pribadi yang sombong. Lahan perkebunan yang papa punya di daerah sini, menjadikan papa mengacuhkan orang-orang terbelakang. Hingga suatu hari papa bertemu dengan gadis muda yang malang. Dia berlari ketakutan ketika papa mengunjungi pusat kota untuk kerja sama dalam bisnis perkebunan."


Aku yang masih polos menyela, "Apa perempuan itu Mama?"


"Perempuan itu minta tolong sama papa. Dia memohon-mohon agar papa membawanya pergi jauh dari kegelapan di pusat kota." Pria yang saat aku duduk di kelas satu SMA itu melanjutkan ceritanya, seolah mengacuhkan pertanyaanku. "Papa gak tega kalau melihat orang lain menderita, apalagi seorang wanita. Jadi, dengan keputusan panjang, papa pun membawanya ke puncak."


"Apakah kalian jatuh cinta?" Aku semakin penasaran dengan siapa perempuan yang dimaksud Papa. Sorot mataku tidak henti-hentinya menodong ke arah wajah sayu Papa.


Setelah ia bercerita tentang secuil kenangan di balik pohon beringin belakang rumah, aku terus menyodorkan berbagai pertanyaan soal siapa perempuan itu. Namun tetap saja, papa bersikeras untuk bungkam.


Hanya itu kenangan yang kupunya tentang keluarga beringin kami yang antah berantah. Itu pun hanya dari sebuah kisah yang iceritakan Papa tidak lengkap. Seolah aku hidup tanpa sebuah kisah. Mana mungkin aku lahir dari seorang ayah tunggal. Memangnya kisah Nabi Isa, yang lahir dari orangtua tunggal karena mukjizat?


\~\~\~\~\~


Jasadku mulai lunglai diterkam empuknya selimut vila. Sekelebat pikiran masa lalu yang terlukis tidak dapat kuperpanjang lagi, karena hanya itulah memori yang kuingat dari kisah pohon beringin belakang rumah.


Namun, di luar dari kisah pohon beringin yang papa ceritakan tak sampai seperempat itu, aku mulai paham arti sebuah hidup yang gak sendiri ini. Bahwa,


"Tanpa orang lain, hidupmu hanyalah sebatas ranting yang patah dan hilang, dan tak tumbuh juga berganti."


Pandanganku mulai menatap hitam, laksana lorong kesunyian tanpa pencerahan. Seruan ombak gagah perkasa mulai meredam lamat-lamat yang membuat hilangnya sekelebat penat. Atmaku mulai meninggalkan raga untuk sementara, berlalang buana menuju imajinasi dunia bawah sadar. Dunia mimpi dari kenyataan yang fana. Aku tertidur.


\~\~\~\~\~


"Lo tahu kan, apa yang harus dibilang?" Agra sekali lagi memastikanku yang sudah berdiri kaku di depan pintu vila tempat Alma dan Aisyah menginap.


Hari ini seperti yang telah kurencanakan, aku harus meminta maaf sama Alma, bahkan juga Aisyah. Tidak ada alasan lagi untuk menghindar, jangan membuang waktu percuma hanya demi harga diri yang gak seberapa. Tapi rasa ragu masih menghujam hati, seolah ada saja yang menghalangi.


"Lo ikut, dong!" ucapku berbisik sambil menatap ke arah samping, ke arah Agra yang memojok ke vila orang lain.


"Gak! Memangnya salah gue apa sampai harus ikut lo minta maaf sama mereka?"


"Gra ...."


Si Nolep Agra malah berbalik badan, mengacuhkanku lalu pergi menjauh. Anak itu memang gak bisa ditebak. Kadang baik, kadang juga jutek. Hufft ... memang aku tidak bisa menyerahkan semuanya pada orang lain. Harus dari diri sendiri.

__ADS_1


Tok ...


Baru satu ketukan kubenturkan mengarah ke pintu vila yang sedari tadi berhadapan denganku, tiba-tiba seseorang dari sebalik pintu itu membuka, menampakkan wujudnya. Aku sedikit terperangah, salah tingkah.


"Osa, ada apa?" tanya Aisyah yang menjadi dalang di balik pintu yang terbuka. Tatapannya polos, jilbab panjang menutup dada masih ia kenakan walau di dalam ruangan.


"B-boleh ... boleh aku masuk?" ucapku dengan terbata-bata. Keringatku mulai bercucur keruh, padahal hari ini masih sangat pagi, bahkan matahari pun belum bangun dari tidurnya.


Aisyah menyiarkan senyum kecil, mempersilakan aku masuk.


Dag-dig-dug


Dentuman jantungku yang semakin menjadi-jadi membuat napasku terengah-engah walau tidak sedang lari pagi. Langkahku kupersempit, jari kakiku mengerut gugup untuk hal yang sangat jarang kulakukan ini.


Aku menatap interior dalam vila yang amat sederhana itu. Vila ini hanya punya satu kamar, perabotan ruangannya serba mini, tidak ada lanskap indah di sebalik jendela ruangan. Hanya panorama batang pohon kelapa saja yang melengkung, menjadi penghias pemandangan jendela. Atau, lebih tepatnya pengganggu pandangan.


"Osa!" seru Alma yang dengan tergopoh-gopoh beranjak dari tempat tidur ketika melihatku. Dia bangkit, berdiri berhadapan denganku di dalam kamar.


"A-aku ma-" Tanganku ditarik oleh Alma, aku duduk di atas kasur kecil kamar itu. "Apa? Mau minta maaf?"


Aku mengangguk, kemudian pandangan kutundukkan seperti sedang diospek kakak pembimbing. Haduh ... rendah sekali harga diriku kalau begini.


"Hahahaha ... tenang aja! Jangan kaku gitu muka lo. Udah kayak anak kecil yang ketahuan cepirit aja." Tanpa kuduga, bukannya ucapan lantam yang dia katakan padaku, dia malah mengejekku atas sikapku.


Aku tidak marah, aku tahu ejekkan yang dia ucapkan atas konsep bergurau. Tapi kenapa? Kenapa dengan sekilas dia begitu friendly? Padahal kan aku sudah menyakitinya. Aku tidak merespon, mencoba menunggu ucapan dia selanjutnya.


"Jadi kebetulan nih, Ma," sergah Aisyah yang duduk di samping Alma dan menyikutnya. Dia juga ikut tergelak kecil ketika Alma menyebutku seperti anak cepirit tadi.


Alma mengiyakan perkataan Alma, kemudian menatapku yang sok polos itu.


"Jadi ... kami pun sebenarnya mau ke vila lo hari ini. Mau memperbaiki ukhuwah-ukhuwah apa itu, Cha?" Alma kembali melirik Aisyah. Mungkin mau memperjelas kosakata islami yang dia dapat dari Aisyah.


"Ukhuwah islamiyah," tegas Aisyah memperjelas.


"Nah, benar! Pokoknya hari ini kami mau memperbaiki hubungan persaudaraan antar sesama lah. Jadi intinya, sebelum lo minta maaf ke gue, gue juga udah maafin lo kok. Santai aja, Sa." Mendengar perkataan Alma, senyumku terkembang kembali.


Bagaimana mungkin aku tidak senang, bahkan aku belum meminta maaf, Alma sudah memaafkanku lebih dulu. Ini seperti mimpi, jantungku yang berdebum kencang, kini meledak sudah, membuyarkan kembang-kembang yang bermekaran dalam diri.


"Ma-makasih ya, Ma, Cha."


Aisyah memelukku dengan erat, kemudian disusul Alma yang membentangkan kedua tangannya kepadaku.


Kukira meminta maaf sesulit yang dibayangkan, rupanya tidak! Orang-orang di sekitarku tidak seburuk itu rupanya. Mereka mau melapangkan dadanya demi secercah ucapan yang menyakiti jiwa.


Emosiku gak beraturan. Bingung, mau senang atau haru, tapi juga menyesal karena perbuatanku dengan Alma. Tapi yang jelas, rasa lega untuk keputusan ini amat sangat berarti bagiku.


Aku tidak sama sekali merasa bahwa harga diriku hancur setelah ini. Malah, menurutku keputusan yang bijak untuk memperbaiki hubungan dengan mempertaruhkan jati dirilah jalan terbaik dalam bersosialisasi. Apresiasi, aku jadi ingat kata-kata Filda semalam, bahwa tidak ada artinya kalau sebuah hasil didapat tanpa apresiasi. Tidak ada hasilnya kalau sebuah ego yang amat tinggi, jika tidak dihargai oleh orang lain karena terlalu angkuh.


Pelukan kami lepaskan, wajahku mulai berseri kembali. Kami saling tatap, senyum mereka tampak tulus padaku yang banyak salah ini.


"Eh, btw, lo ke mana semalam sama Agra pergi?" tanya Alma yang mengalihkan pembicaraan. "Soalnya gue lihat kalian pulang malam-malam sekali."


"Ceritanya panjang. Tapi ada yang lebih perlu ditanyakan dari itu," kataku menggantung.


"Apa?" Mereka berdua serentak bertanya. Senyuman manis berubah menjadi raut wajah penasaran yang hambar.


"Tadi malam, gue jumpa Raka."


\~\~\~\~\~


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2