
Ketika senja tiba, angin sepoy-sepoy mengipasi pepohonan yang rindang hingga daun-daunya berjatuhan ke tanah negeri tropis ini. Anak senja terlihat duduk termenung di atas ruko lama yang tak berpenghuni.
Rumah berwarna coklat dengan desain klasik ala 90-an itu menyalakan penerangan pada taman depan rumahnya. Terlihat seorang gadis yang sedang duduk di bingkai jendela sambil melihat terbenamnya sang mentari dari ufuk barat. Rambutnya dikuncir satu sepantat. Mulai terlihat siluet pantulan sisa cahaya matahari mengenai wajahnya
Gadis itu ternyata Anggi, remaja yang baru merasakan pendewasaan itu merasa dilema akan pilihan hidupnya yang saling berlawanan.Antara ego atau keharusan, antara pergaulan dengan pekerjaan. Ia menatap ke arah terbenamnya matahari seolah banyak yang dipikirkan.
"Cklek"Suara pintu kamar berwarna maroon milik Anggi terbuka.
"Gi?"
"Ini, Ibu bawain kamu coklat panas, pake marshmallow kesukaanmu"Ternyata Ibu yang datang membawakan minuman kesukaan Anggi sejak kecil.
Namun Anggi tidak menyadari kehadiran Ibu di kamarnya.Ia terus menatp matahari yang mulai terbenam di ufuk barat.
"Heh!"Ibu mengejutkan Anggi yang sedang melamun dengan memukul pelan pundak anak maupun keluarga satu-satunya itu.
"Eh, Ibu?"
"Sejak kapan Ibu masuk kamarku?"
"Kok aku gak denger?"Tanya Anggi dengan ambigunya seolah tak tahu kejadian di sekitarnya.
"Loh? Ibu dari tadi memang disini"
"Kamu aja bengong disini dari tadi"
"Kamu kenapa?"
"Coba cerita sama Ibu Gi"Ibu menanyakan penyebab anaknya itu termenung hingga tak merasakan kehadirannya tadi.
__ADS_1
Anggi pindah posisi dari bingkai jendela menuju kasur dengan sprey bergambar grafis marshmallow itu.Iya tak menjawab pertanyaan dari Ibu dan hanya menyeruput minumannya sedikit.
"Coba cerita sama Ibu, ada apa nak?"Ibu duduk disebelah Anggi dan menanyakannya lagi dengan nada yang agak lebih lembut sambil menatap dalam anaknya itu.
"Bu,Anggi mau nanya"
"Kalau Ibu disuruh antara kemauan dan keharusan, Ibu milih yang mana?"Tanya Anggi dalam rangkulan Ibu.
"Ya jelas kemauan, karena hal yang harus itu tidak akan bisa kita laksanakan dengan baik tanpa adanya kemauan kan?"
"Itu pilihan Ibu"Jawab Ibu dengan yakin.
"Memangnya kenapa dengan itu?"Tanya Ibu balik kepada Anggi.
"Mmm....Gini..."
"I...Ibu jangan marah ya..."
"Oh..."
"Kamu mau mnanya Ibu izinin kamu atau enggak?"
"Itu terserah kamu, Ibu hanya menyarankan, cari pria itu yang bisa menjaka kamu, dan keluarganya"
"Ibu gak mau kamu kenapa-napa.Ibu gak mau kamu sakit hati"
"Ibu sayang kamu Gi"Belum selesai Anggi memberitahu sudah dipotong oleh Ibu dengan nasehat yang amat menohok.
"Dia baik kok Bu"
__ADS_1
"Selamat di Jepang, Anggi selalu dijaga sama dia, dia bijaksana"
"Dialah yang udah nolong Anggi waktu Anggi berniat bunuh diri dulu"Tutur Anggi membela Kenzo.
"Tapi yang Anggi tanyain itu, apakah Anggi harus bekerja dulu, atau milih dia?"Tanya Anggi pada Ibu.
"Nah...itu namanya kamu sudah bukan remaja lagi, kamu atau kalian sudah dewasa"
"Tidak seharusnya bersikap labil"
"Pilihlah [ilihanmu sendiri, yang terbaik saja"
"Ibu hanya mendo'akan dari belakang"
Anggi terdiam dengan perkataan Ibu.
"Ibu yakin, kamu bisa mengendalikan egomu"
"Kamu bisa membawa dirimu ke arah yang kamu mau"
"Ingat, Ayahmu sudah tidak ada, kamu tidak punya penuntun lagi"
"Saran Ibu, cari pemimpin yang mampu menuntun kamu kepada kebaikan"Tegas Ibu.
"Ba...baik Bu"
"Makasih sudah mempercayai Anggi untuk memilih jalan hidup Anggi sendiri"
"Anggi janji, akan menjaga amanah dari Ibu, janji"Anggi tersenyum lega dan memeluk kuat Ibunya sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
Bersambung...