Olm, Osa Si Salamander

Olm, Osa Si Salamander
Pelajaran Berharga di Misool Selatan


__ADS_3

"Oh, pasti pindah vila. Udah gue duga itu." Suara datar itu seperti tidak asing di telinga. Tapi aneh, padahal gak ada orang di ruangan ini.


Aku menoleh ke sekeliling ruang televisi, mencari asal suara yang terdengar menyebalkan itu.


"Gue di sini, picek." Astaga! Si Nolep udah ada di sampingku. Tapi sejak kapan? Bukannya tadi aku baru saja duduk termenung di sini? Gak ada sesiapa dari tadi. Tiba-tiba saja anak ini berada tepat di samping kiriku--di atas sofa yang sama denganku.


Namun karena kegundahan hati, aku tidak begitu terkejut dengan kedatangannya secara tiba-tiba. Biasa saja. "Ishhh ... lo mending minggir jauh-jauh, jangan ganggu," ucapku merengek pada Agra yang selalu datang di saat yang tidak tepat. Contohnya saat aku berselisih paham dengan Papa tentang kuliah waktu itu, dia datang seenaknya saja di kosen jendela kamarku. Eh, tapi karena dia kan Papa akhirnya menyetujui permintaanku untuk gak kuliah. Tapi apa mungkin dia juga bisa mengembalikan pertemananku dengan Alma dan Aisyah?


"Ya udah gue cabut. Memangnya siapa juga yang mau ngurusin hidup lo yang ribet begini?" Dengan santainya dia melaluiku, menjauh, dan kemudian keluar dari vila sambil membawa buku bersampul hitam. Mungkin itu buku catatan, soalnya ada tulisan "Note Book" berwarna emas di permukaan sampulnya.


Sekarang sah sudah kesunyian menghantui suasana. Hanya terdengar suara jarum jam yang bertugas menjalankan waktu saja yang tersisa.


Hari ini sangat terik, padahal masih pagi. Desiran ombak pantai menerjang para turis yang berkeliaran di sana. Tampak beberapa turis sedang asik bercengkrama dengan beningnya air. Di sisi lain--di area putih nan lembutnya pasir, terdampar beberapa orang yang sedang merebahkan dirinya di atas tumpukkan pasir pantai. Mereka membiarkan tubuh mereka disengat mentari pagi. Sorak-sorai bahagia tersiar memecahkan suasana cerah hari itu.


Boring, padahal ini liburan, kenapa aku jadi galau-galauan begini?


Sial! Pikiran ini muncul kembali. Pikiran tentang diagnosa dokter padaku waktu itu, soal glaukoma yang akan membutakan mataku. Setiap aku terpuruk pasti dia terngiang di kepala. Jujur saja, aku belum siap satu juta persen untuk menghadapi itu semua. Tidak bisa melihat panorama indahnya alam terbuka lagi.


Harapan pertamaku untuk berlibur ke Raja Ampat memang sudah terwujud, tapi aku tidak puas. Tidak bahagia sedikit pun.


Orang-orang brengsek di sekitarku yang kukira akan banyak membantu malah menyusahkan saja. Karena merekalah aku tidak menikmati liburan ini. Lebih baik aku liburan sendiri. Solo Traveling, tapi sialnya Papa melarangku untuk liburan sendiri. Dia juga tidak bisa menemaniku seperti dulu kala. Sekarang tugas di kebunnya menumpuk.


Agra mau ke mana dia ya? Anak itu beberapa kali keluar sendiri tanpa ada seorang pun yang mengetahui ke mana tujuannya pergi. Aku jadi penasaran, apa aku telepon saja dia dan ikut pergi dengannya? Bolehlah.


Tuuut ... tuuut ....


"Halo, Gra. Lo di mana?" tanyaku dengan menjepit ponsel di antara pundak dan kuping. Sedangkan tanganku sibuk mencongkel-congkel kuku. Padahal aku baru saja potong kuku.


"Gue masih di garis pantai. Mau ke Misool Selatan," jawabnya dengan backsound ombak yang menggerutu. Gak begitu jelas.


"Gue ikut!!" Ponsel langsung kumatikan ketika dia bilang "Ya". Dengan bersicepat aku mempersiapkan diri. Topi dan baju pantai berwarna putih dan bercorak dedaunan hijau menjadi menjadi OOTD.


\~\~\~\~\~


"Buat apa kita ke sana, Gra?" tanyaku yang sudah bersampingan dengan Agra.


"Mending ikut aja, jangan berisik," ucapnya lirih namun menusuk.


Padahal belum juga sejam aku berada di sampingnya, dia sudah menandaskan pembiacaraan. Setahuku di film-film, tokoh yang berisik kayak aku inilah yang membuat tokoh pendiam kayak Agra muak. Tapi ini malah sebaliknya.


Aku mencoba bersabar, tersenyum getir padanya, dan mulai menanyakan hal lain. "Ki-" Ah! Baru dua huruf aku bicara, dia menyela lagi. "Naik kapal boat."


"Lo peramal ya? Dari mana lo tahu gue mau nanyain soal itu sama lo? Wah, ada yang gak beres, nih." Jemariku menunjuk-nunjuk heran ke Agra. Mungkin saja buku tebal yang selama ini dia baca adalah buku panduan membaca pikiran orang? Atau buku tata cara bermain ilmu sihir? Masa iya dia tahu apa yang akan aku tanyakan. Padahal kan belum kubicarakan.


"Lugu banget orang kayak elo. Pertanyaan klise begitu harusnya lo hindari. Hampir setiap orang di dunia ini, kalau sudah kehabisan pembicaraan, pasti dia melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, seperti yang mau lo tanyain tadi. Nanya ke mana lah, udah makan belum, apa kabar. Muak gue!" Aku menggaruk bego saja. Kalau sudah berteori seperti itu, aku angkat tangan lebih baik, daripada harus berdebat dengan otak udangku.


Tempat pemberhentian kapal sudah di depan mata. Aku tidak tahu tempat itu disebut pelabuhan atau bagaimana, itu karena tempatnya tidak terlalu besar. Hanya ada beberapa kapal saja yang terapung diam di sana.


Agra menghampiri salah seorang yang ada di sana, mungkin dia sedang bertanya-tanya tentang biaya kapal atau waktu tempuh. Biarlah dia bersikap sebagaimana semestinya lelaki.


"Yuk!" Setelah berdiskusi, Agra membalikkan badan, mengajakku untuk segera berlabuh ke tujuan.


Aku terpaku sejenak, ada yang kelupaan. "Bentar, gue lupa bawa uang, Gra. Kan pembayaran di sini gak bisa pakai kartu kredit?"


"Memangnya gue semiskin itu apa? Sampai gak bisa bayar kapal begini doang. Udah, lo ikut aja, jangan banyak protes."


"Yey ditraktir Agra."


\~\~\~\~\~


Mesin boat atau biasa dikenal dengan mesin tempel kini dinyalakan. Tali pengaitnya ditarik oleh seorang penjaga kapal dengan kencangnya--membuat baling-baling pada mesin kapal berputar menyibak keras air laut yang membentang.


Sebagai penumpang, kerja kami hanyalah duduk manis menikmati pemandangan sekitar. Menyaksikan burung dara laut yang terbang berkelompok melangkahi ganasnya padang air. Tiupan angin terasa semakin kencang ketika kapal menaiki kecepatannya. Pikirku yang sulit dikontrol kini melupakan kembali sejenak masalah yang ada. Masalah Alma.


"Gra, kita mau ke mana?" tanyaku lagi dengan pertanyaan yang sama sebelumnya di telepon.


Si Nolep yang sedari tadi duduk bersebelahan denganku dan membuang mukanya kini mengalihkan pandangan. "Lo budek juga ternyata? Kan tadi udah gue bilang di telepon, kita mau ke Misool Selatan! Ngerti?"


"Ya kan gue cuma nanya, soalnya di telepon tadi gak jelas suaranya. Ngomong baik-baik aja bisa gak?" tegasku merepet ke hadapan Agra yang melirik kesal. "Tinggal bilang baik-baik kalau kita mau ke Misool Selatan apa susahnya?"


Selayang aku berpikir, kayak ada yang salah sama ucapanku. "HAH! Mi-Misool Selatan!?" Dengan sekonyong-konyong aku terperangah. Tempat itu kan ....


Agra yang duduk anteng di sebelahku terlonjak dan menjauhkan diri. Mata sipitnya mengerling, seolah berkata, Dih, ini cewek waras gak sih?

__ADS_1


"Itu kan tempat Raka tinggal. Mending kita balik aja, Gra. Jangan ke sana, deh."


"Emang gue peduli? Oh, lo mau balik? Ya udah, nyebur sana pulang ke vila!"


Terpojok, gak ada yang bisa aku lakuin selain mengikuti si Nolep ini ke Misool Selatan--tempat Raka menjauhkan diri setelah kejadian itu. Semoga saja aku gak berpapasan dengan teman pengkhianat itu, bahkan mendengar namanya pun aku gak sudi. Cuih!


Aku gak bisa berbuat banyak pada Agra. Dia tipikal orang yang jutek, pendiam, dan gak mau ngomong panjang lebar. Padahal ada banyak hal yang mau kutanyakan sama si Nolep ini. Bahkan sekarang tujuan kami ke Misool Selatan aja aku gak tahu, bagaimana aku mau mencurahkan unek-unekku kalau sikapnya seperti ini? Ya ... kecuali kalau dia duluan yang buka pembicaraan, pasti sifatnya langsung berubah jadi penceramah.


Mataku menyorot dalam-dalam sekelompok pria yang mengenakan rompi hijau tua dengan simbol yang selaras di bahu kananya. Aku tidak tahu simbol apa itu, karena posisi kapal mereka sedikit lebih jauh. Dan slebornya, aku lupa membawa kacamata miopiku yang tertinggal dalam tas kulit di sofa ruang televisi. Kurasa penglihatanku semakin memburuk, itu karena biasanya aku masih bisa membaca huruf di kejauhan yang gak lebih dari 4 meter. Kini, untuk membaca tulisan yang ada di pundak--yang kurasa mereka adalah seorang regu penyelamat saja tidak mampu, padahal jaraknya hanya sekitar semeter.


Apa aku kurang beryukur sehingga Tuhan merenggut penglihatanku karena tidak digunakan dengan baik? Atau malah karena sifatku yang kurang berkenan di hati beberapa orang sehingga Tuhan menyita penglihatanku sebagai hukuman? Bagaimana aku bisa bersifat seperti itu ke orang-orang kalau mengurus hidup sendiri saja aku tak sanggup?


Gak ada yang bisa kulakukan di atas transportasi laut yang sedang menjejaki perairan ini. Biasanya jika di perjalanan, pasti ada saja yang membuat berisik. Siapa lagi kalau bukan Alma. Haduh ... aku jadi kangen dengan dia.


Kepalaku yang berstruktur oval kusandarkan ke tubuh kapal, mataku menatap kosong pada keheningan. Agra yang sedang menopang dagu tampak menghayal, alisnya merengut keras--seperti memikirkan anak istri.


Aku jadi teringat kata-katanya di kosen jendela waktu itu. Imajinasi, hidup ini jangan terlalu realistis, gunakan imajinasi sebelum melakukan apa pun. Jangan bekerja tanpa memiliki rencana. Kurasa kata-kata itu benar, setiap omongan yang kulontarkan dengan asalnya, pasti berbuah asam. Mulut jabirku ini berkata asal saja kepada Alma waktu itu, walaupun sebutan itu sudah lama kugunakan--bahkan sejak SMA. Tapi usia kan terus bertambah, pemikiran orang juga semakin dewasa. Bahwa setiap perkataan yang semasa sekolah dianggap bercanda, namun sekarang malah menjadi petaka. Badut Kota, perempuan mana sih yang mau disebut seperti itu?


Pikirku semakin panjang, berjalan ke mana-mana. Namun mulutku mulai menguap lebar, pandangan menjadi sayu, dan perlahan terpejam. Hanya ada kegelapan di dalam sini. Atmaku semakin tenggelam, menyusuri lorong berpintu kecil--yang kurasa itu adalah pintu ke alam mimpi. Aku menghampirinya, semakin dekat ... dekat ... dan ....


"WOY! Bangun. Lo mau nginep di sini?" Aku tersentak, ragaku menarik paksa arwah kembali. Mataku mengerjap silau, memandang ke sana-kemari melihat siapa yang bicara tadi.


"Kita udah nyampe, ayo turun. Masih pagi udah molor," bentak Agra seperti komandan militer yang sedang melatih kesatrianya.


Aku mengangguk pelan, kepalaku masih pening karena dikejutkan olehnya tadi.


Dengan gagu aku menancapkan tapak kaki di permukaan daratan, mengikuti derap langkah Agra dan beberapa turis yang datang dari pulau lainnya.


"Ini Misool Selatan, Sa," tunjuk Agra pada sebentang gapura bertuliskan Selamat Datang di Misool Selatan.


Aku ternganga, bagaimana tidak, selama aku tinggal di Misool Utara, aku jarang sekali menemui orang-orang lokal Raja Ampat. Namun sekarang mereka berseliweran di mana-mana. Banyak anak-anak yang berlarian ke sana-kemari dengan girangnya, para orang dewasa melakukan kegiatan rutin sehari-hari: menjemur pakaian, mengayak beras, hingga bercengkrama antar sesama.


Desa Yellu, begitulah para pemandu wisata mempersembahkan destinasi pedesaan yang ada di hadapan. Tempat ini ternyata sebuah desa kecil yang dihuni beberapa kepala keluarga. Pemandu wisata sedang menjelaskan seluk-beluk desa tersebut dengan formalnya. Tapi aku gak mempedulikan, tatapanku terus terpaku pada barisan rumah bertema tradisional dengan atap khas yang terbuat dari pelepah kelapa dan jerami kering. Rumah Hanoi.


"Heh, dengerin." Agra menyikutku pelan, memonyongkan bibirnya menuju kepada pemandu wisata yang sedang mengarahkan. Aku menurutinya, mencoba menelaah perkataan orang formal di hadapan.


"Para kepala keluarga di desa ini bermatapencaharian sebagai pemancing tradisional, beberapa di antaranya bekerja di perusahaan mutiara. Namun orang-orang di sini masih serba terbatas, mulai dari: ekonomi, pangan, dan jaringan internet. Jadi tidak heran jika sebagian pekerjaan masih dilakukan dengan cara tradisional. Hidup di kepulauan tak menjamin kebahagiaan." Mataku berkerlip memandang pemandu, gak teralihkan.


"Tapi, untuk para remaja, beberapa dari mereka juga bekerja di sektor pariwisata, seperti pemandu wisata seperti saya ini," lanjut sang pemandu berbicara dengan Bahasa Inggris.


Para turis lokal maupun mancanegara yang ikut dalam barisan mengangguk paham. Wajah keingintahuan yang besar dari Agra tergambar, seolah haus akan ketidaktahuan.


Arahan baru saja selesai dikumandangkan. Kini para turis menyebar rata ke seluruh Misool Selatan untuk menikmati atau mempelajari berbagai macam destinasi yang ada di sini.


Aku dan Agra berjalan santai menyusuri pedesaan tersebut dengan tenangnya. Para anak kecil yang sibuk berlari sambil menggelindingkan ban bekas tidak terpakai tampak sorak-sorai gembira, menghentakkan kakiknya di jejeran jembatan kayu yang memanjang menuju laut. Kulit-kulit hitam manis mereka yang berkilau agung tampak indah dibubuhi untaian mentari pagi.


"Gimana tempatnya?" ujar Agra padaku sambil terus berjalan anggun.


Aku mengangguk puas, tersenyum kecil. "Hmm ... bagus."


"Jadi tujuan lo ngajak gue ke sini buat apa?" lanjutku bertanya untuk si Nolep.


"Memangnya gue ada ngajak lo?"


"Enggak sih. Ya udah gue ganti pertanyaan. Sebenarnya lo ke sini buat apa? Buat lihat situasi desa ini?"


Agra menghela napas dan bergumam, "Bukan, kebetulan aja tempat ini banyak desa dan warganya. Sebenarnya gue juga mau ngajak lo ke suatu tempat."


Sepersekian detik aku menyelidik curiga perkataannya. Jangan-jangan dia mau kayak Raka, mau nembak aku di tempat yang katanya romantis. "Ah, mau ngapain!? Jangan bilang lo mau nembak gue kayak Raka waktu itu ya."


"Gue gak suka sama orang asal nyeplos," katanya galak. "Gue cuma mau ngajak lo ke suatu tempat nanti sore. Tempat yang pastinya lo suka."


Aku semakin penasaran, tempat apa yang dia maksud? Ingin kutanyakan padanya, tapi pasti nanti dia jawab, gue gak suka di buru-burui. Kucoba menahan rasa penasaran itu, membiarkan agar waktu yang memberitahu.


"Ini masih pagi, sore masih lama. terus kita ngapain?"


 "Tuh! Mending kita ikutan, sekalian belajar bersosial." Tangan kunting Agra menunjuk ke arah kerumunan orang yang sepertinya sedang bercengkrama dengan turis dari luar wilayah.


Ide yang bagus, baru kali ini aku menuruti perintah Agra yang berkaitan dengan belajar. Biasanya aku beralasan gak logis untuk menghindari ajakkannya. Mungkin kali ini tidak, karena berkaitan dengan ilmu sosial. Mana mungkin aku menolak bersosial dengan mereka yang berbeda budaya dan unik seperti ini.


Mendekatlah kami ke sebuah gubuk tradisional tempat para warga dan turis bercengkrama. Sebagian turis memotret kegiatan warga di sana, tidak terkecuali anak-anak. Anana (Dalam Bahasa Papua berarti anak-anak) yang polos itu tersenyum ikhlas memandang kamera yang sedang menyorot.


Sebagian wisatawan lain ada yang dengan sukarelanya memberikan bantuan kepada mereka. Mulai dari: makanan jadi, sembako, juga pakaian. Tidak usah ditanya lagi, senyum merekah lebar dari paras ragam dalam diri mereka. Lagi-lagi pandanganku gak teralihkan melihat kegiatan sosial yang tampak adem ini.

__ADS_1


Beberapa menit aku tersadar, Agra sudah tidak ada di sampingku. Aku mencari wujudnya ke setiap sudut desa.


Aku melihat dia, tapi apakah itu hanya kembarannya? Soalnya gak mungkin dia mlyang nolep melakukan itu. Dia sedang sibuk berbaur dengan anak-anak yang penasaran dengan hal yang aku gak terlalu suka. Buku. Entah dari mana Agra mengumpulkan buku-buku itu yang akhirnya dibagikan kepada pelajar lokal. Yang jelas, dia yang sedang duduk lesehan di tikar anyam itu tampak giat mengajari mereka membaca. Bibir tipisnya juga memekar lebar dan menampilkan daya tarik dari sana. Ya! Gingsul menawannya.


Aku mendekat, menundukkan tubuh, dan menatap Agra yang duduk bersila bersama anak-anak lainnya. "Gra, lo ngapain?"


"Lagi bagiin buku sama mereka," senyum Agra sambil tetap melayani anak-anak yang melihat-lihat buku yang mereka suka. "Mau gabung?"


"Boleh." Sendal hotel kulepas, kemudian ikut duduk beralas tikar dengan mereka.


Agra tidak menoleh kepadaku sama sekali, tapi ini tidak seperti biasanya, yang selalu memasang muka sok jutek yang menjengkelkan. Kali ini berbeda, dia sedang mengayomi orang-orang yang lebih penting dariku. Orang-orang yang punya cita-cita setinggi semesta.


"Kak, ini buku apa?" tanya seorang gadis kecil dengan logat khas Timur padaku. Rambut keritingnya melingkar lucu di kepala. Anak itu memandangku dengan pupil yang berkilau, sambil menunjuk sebuah buku anak bergambar.


Aku mendekat, melayani pertanyaan polosnya yang dilontarkan padaku. "Ini buku apa?", "Gambar apa ini?", "Boleh saya bawa pulang?", dengan senang hati kujawab tuntas setiap kalimat dari mulut mungilnya.


Satu jam tidak terasa kami bercengkrama dengan anak-anak Pulau Misool sambil membagikan buku. Kini kondisi mulai lengang, mereka pergi bermain selayaknya anak-anak pada umumnya. Lari ke sana-kemari, terjatuh, dan menangis. Hahaha ... aku jadi ingat masa-masa tanpa dosa itu. Mungkin Agra yang sekarang pendiam, dulunya juga seperti mereka. Tidak dibelikan buku, dia bakal merajuk gak mau makan.


"Ini semua buku dari lo?" tanyaku kepada Agra yang sedang bersandar lelah di batang pohon yang meneduhi lesehan kami.


"Enggak, bukan buku gue. Gue cuma ngasih bantuan ke Yayasan Peduli Kasih, selanjutnya rupa bantuan seperti apa urusan mereka."


"Tapi sejak kapan?"


"Sejak gue gak pulang ke vila sehari. Gue kan ke sini waktu itu," jawab tenang Agra yang melipat tangan sambil memejam mata di rindangnya pohon.


Aku sedikit tertegun, berpikir sejenak. Kukira orang yang hidupnya paling produktif adalah aku, rupanya Agra lebih dariku. Gak nyangka sama sekali orang se-nolep Agra bisa punya inisiatif seperti ini. Padahal tujuan kami ke sini hanya untuk trip, tapi dia bisa menyempatkan untuk berbuat baik di tengah kegaduhan waktu itu.


 "Gunakan imaji lo buat hidup yang bermanfaat, Sa. Rencanakan semuanya dengan teori, jangan asal melangkah tanpa rencana. Seimbangkan antara imajinatif dengan realistis." Walaupun perkataannya seolah mengguruiku, tapi ada benarnya juga dari yang dia katakan tadi.


Semilir angin menjatuhkan dedaunan pohon yang kering, menyibaknya perlahan hingga menyentuh tanah. Atap hanoi yang berjerami kering mencoba menahan hembusan tenang angsana. Keheningan dirasa. Manusia tamak dan merasa paling bijaksana terdiam seketika, terdiam hanya karena sebuah kata-kata.


"Kalian mau minum?" Seorang gadis remaja seusiaku mendekat. Tangannya menggenggam nampan berbahan metal yang terdengar nyaring ketika terbanting.


Gadis itu berlutut, aku dan Agra mematung.


"Ini saya bawakan es matoa untuk kalian berdua," tawar gadis itu sambil menyuguhkan dua gelas minuman berwarna pada kami.


"Oh, gak perlu repot-repot. Makasih, ya," ucapku sambil tersenyum kecil padanya.


Gadis itu masih berlutut di samping kami, kemudian dia menjawab dengan logat Papua-nya, "Justru kami yang harus berterima kasih pada kalian karena sudah memberikan anak-anak desa buku."


"Bukan masalah. Ngomong-ngomong, nama kamu siapa?" Aku mengalihkan pembicaraan, menyudahkan rasa segan dan mulai berkenalan dengan gadis berkulit hitam manis itu.


"Nama saya Filda. Nama kamu?"


"Nama saya Osa, yang di sebelah ini Agra, temanku." kataku memperkenalkan diri dan Agra yang berada di samping. "Kamu guru bukan?"


"Benar, saya guru SD untuk anak-anak di sini. Kok kamu tahu?"


Ketika Osa si Salamander ber-feeling, orang-orang pasti terkejut dengannya.


Agra yang berada di sebelah menatap muak wajah menjengkelkanku. Mungkin dia tahu kebiasaanku yang sok menerka-nerka tanpa analisa kembali. Tapi untungnya kali ini felling-ku benar, jadi dia tidak bisa menertawakan.


"Hehehe ... saya cuma menerka, kok."


Pembicaraan perempuan yang meresahkan bagi laki-laki berlangsung. Aku bercerita panjang pada Filda, bertanya tentang Papua, dan bercengkrama sebagaimana wanita semestinya. Guru muda itu tak bersarjana, dia hanya tamatan SMA yang punya tekad membangun pendidikan yang lebih baik untuk anak-anak di desa ini. Aku tersanjung ketika dia berbicara, ucapannya sangat kritis.


Begitu pun sebaliknya, ketika aku bercerita, tampak raut wajah salut ia pancarkan padaku. Dia gak menyangka kalau aku tinggal di puncak, tempat yang tinggi dan berbanding terbalik dengan daerah kepulauan yang landai sejajar dengan laut.


Sedangkan Agra menjauh, menyudut ke pohon sunyi untuk memejam mata sejenak.


Komunikasi aku dan Filda belum terputus, dia mengajakku menelusuri pedesaan sambil memperkenalkan ini-itu padaku. Hingga pada suatu lokasi di dekat tempat penangkaran ikan, aku melihat tiga orang pemuda pria berjalan beriringan dari kejauhan. Salah seorang dari mereka gak asing lagi bagiku. Berambut ikal, berbadan tegap, dan kulit sawo matang. Sontak dia menatapku tajam, aku mengalihkan pandang, menunduk. Sial! Bisa-bisanya aku bertemu dengannya di saat seperti ini. Semoga dia gak mengenalku. Semoga dia gak berniat jahat padaku.


\~\~\~\~\~


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2