Olm, Osa Si Salamander

Olm, Osa Si Salamander
Petualangan Bawah Laut


__ADS_3

"Udah, deh. Gak usah dipikirin orang kayak dia. Mending hari ini kita sama-sama diving, gimana? Soalnya sudah hari kelima kita di sini, tapi tujuan gue buat menyelam selalu tersendat." Setelah menceritakan kejadian tadi malam, aku cepat-cepat beralih topik pembicaraan.


Tanpa pikir panjang, aku menarik kedua pergelangan perempuan seusiaku itu, membawa mereka ke luar, menuju pantai.


\~\~\~\~\~


Cuaca hari ini begitu mendukung. Langit cerah dengan cemerlangnya laut biru saling beradu, seolah mencari siapa dari mereka yang paling agung. Tebing-tebing batu yang terjal tampak jelas di sepanjang mata memandang. Udaranya tidak berdebu, karena angin lalu hanya bertiup kecil.


Gerombolan burung belibis beterbangan, berpatroli ke sana-kemari dengan gemulainya. Makhluk-makhluk darat seperti: kepiting, kerang, siput laut, terdampar pasrah di permukaan pasir yang basah. Di ujung sana, di laut lepas, tampak beberapa orang sedang berenang dengan riangnya. Tapi, tempat diving dan snorkeling bukan di sini. Aku harus mencari Agra untuk menemani perjalanan kami menuju tempat diving yang telah kusearching di Google.


Ke mana perginya Agra? Aku membolak-balikkan kepala, mencari eksistensi si Nolep itu di balik vila-vila yang menjulang kokoh. Namun tetap tidak ada.


"Ikut gue cari Agra," perintahku pada Alma dan Aisyah.


Dengan kemampuanku yang suka menerka-nerka, langkah kaki kami tancapkan menuju Misool Eco Resort, menuju vila yang kuinapi, berharap anak itu ada di sana.


Brak!


Pintu kubuka dengan sembrono, menghasilkan bantingan keras karena daun pintu menghantam tembok dalam vila. Mataku menyisiri ke mana anak itu berada, yang secara tiba-tiba datang, dan secara mendadak juga menghilang.


Tidak sampai semenit aku menelusuri pandangan, aku melihat Agra yang terlonjak kaget saat pintu kubuka. Tangannya yang mengepal ponsel di telinga, secara tiba-tiba ponsel dimatikan, seolah ada yang ia sembunyikan.


"Eh, bu ... bukan siapa-siapa," sentak Agra dengan terlonjak kaget.


Aku yang belum mengucap sepatah kata pun menjadi bingung. Apa urusanku kalau dia mau menelepon siapa-siapa? Mengapa ia menjawab seperti itu, tapi dari tampangnya seperti ada yang disembunyikan dariku. Pikiranku kembali setelah 'traveling' yang tidak-tidak. Aku mencoba melawan rasa sok tahu dalam benak. Gak mau merusak hubungan hanya karena keegoisan.


"Ayo, Gra. Temeni gue sama mereka ini." Telapak tanganku membentang, menunjuk ke arah Alma dan Aisyah yang berdiri kikuk di belakangku.


"Lo mau ke mana?" tanyanya sambil bersikukuh duduk santai di atas sofa ruang tamu.


"Diving. Please, jangan halangi gue buat ngelakuin itu. Berhari-hari gue nunggu buat menyelam ke laut," bujukku dengan nada mendayu-dayu. Raut wajah kukeruhkan, merengek.


"GAK! Kalian aja sana."


"Kenapa? Tolonglah, Gra. Ikut, dong ...."


"Untuk apa gue ikut ke tempat begitu?"


"Ehem ... jangan bilang kalau ada laki-laki yang beneran gak bisa berenang di dunia ini," celetuk Alma dengan nada menyindir. Senyuman jahat mulai terukir.


Aisyah yang mendengar perkataan itu tertawa kecil, menutup giginya yang menyembul dengan jilbab panjangnya.


Si Nolep Agra memerahkan wajah, menandakan kalau dia sedang kesal dengan perkataan nyeletuk Alma. Ia dengan tegasnya beralih dan menepis pernyataan yang dilontarkan Alma. Tampang juteknya luntur sudah. Mendengar hal itu, Alma bersikap santai saja, dia malah semakin memanasi Agra yang sudah tersulut api.


"Makanya lo ikut!" perintah Alma yang membuat Agra mau tidak mau menurut.


"Ok!"


\~\~\~\~\~


Kali ini, aku menjadi pemandu mereka dalam melaksanakan perjalanan menuju spot diving dan snorkeling ternama di sini, mungkin bagi orang yang sudah pernah ke Kepulauan Raja Ampat. tidak asing lagi dengan namanya. Pulau Friwen Wall.


Bahkan sebelum keberangkatanku ke sini, jauh sebelum wacana trip di Kepulauan Raja Ampat, aku sudah lebih dulu melakukan pencarian mendalam tentangnya: spot wisata. Ya! Selama aku duduk di kursi sekolah dan berhadapan dengan coretan tipe-x, aku tidak pernah sekalipun memikirkan bagaimana cita-citaku terwujud. Yang kukhayalkan hanyalah: bagaimana aku bisa ke sini, ke sana, sama siapa, dan bagaimana. Itu sebabnya, pengetahuanku soal ilmu, eh ... atau lebih tepatnya destinasi wisata tidak bisa dianggap remeh. Abaikan kebodohanku saat tidak tahu kalau dari Misool Selatan ke Utara bisa berjalan kaki!


Tas yang berisikan baju ganti, kami sanggah pada pundak masing-masing. Langkah kakiku yang sedari tadi teramat ligat, membuat Alma terengah-engah.


"Kita mau ke mana, sih?" Alma menghentikan derapnya yang disusul olehku dan Aisyah.


Aku baru tersadar kalau aku belum memberitahu mereka lebih dulu tentang tempat yang mau dituju. "Kita mau ke-"


Sementara Agra yang terus berjalan, menyalip omonganku. "Mungkin ke Pulau Friwen Wall. Kenapa kita terburu-buru itu karena kapal yang tersedia sangat terbatas. Jadi si Olm buru-buru banget."


Tidak peduli dengan hipotesa yang dia katakan, aku menarik lengan Alma dengan tegas, berjalan lebih cepat karena waktu sudah menunjukan pukul sepuluh. Para turis yang ingin ke sana sangat banyak, sedangkan kapasitas orang yang diperbolehkan menuju Pulau Friwen Wall sangatlah terbatas. Aisyah yang membuntutui di belakang, terbatuk-batuk dengan suara parau. Entah sebab kelelahan atau bagaimana, aku tidak tahu. Tidak peduli. Urusanku sekarang hanya satu: bagaimana cara mendapatkan kapal untuk menuju Pulau Friwen Wall.


Jutaan liter air tertampung dalam wadah super besar yang membentang ke seluruh penjuru dunia, menjadikannya lautan lepas. Ombak-ombak yang bergelombang dengan quietude, menjadikan kapal-kapal yang sudah lebih dulu berlayar, berjalan damai tanpa kendala. Sudah tidak ada kapal lagi yang bertengger nganggur.


Aku mulai kelimpungan, berharap masih ada lagi kapal yang tersisa untuk kami tumpangi.


"Di sana!" seru Agra sambil menunjuk-nunjuk ke arah timur, ke arah seonggok kapal boat yang berduaan dengan nahkodanya.


Dengan sigap, aku mendatanginya, dan mulai berkompromi untuk pergi ke tempat tujuan. Awalnya ada sedikit kendala soal jumlah penumpang terakhir yang di bawa. Untuk hari ini hanya tersisa dua penumpang lagi untuk bisa ke Pulau Friwen Wall, karena kelestarian alam Friwen harus dijaga. Begitulah kira-kira argumen yang dilontarkan seorang nahkoda untuk menolak kami yang berempat ini.


Aku semakin pusing. Muka masam tergambar, kakiku berulang ali menghentak ke jejeran jembatan kayu yang menjadi pembatas antara daratan dengan garis pantai. Sampai malaikat penolongku datang dengan gagah oleh segala rencananya.


"Alasan Bapak membatasi kuota para turis untuk ke tujuan karena takut merusak ekosistem laut, benar begitu?" Agra memulai pemikiran kritisnya. Si nahkoda manggut saja, membenarkan. "Tenang saja, Pak. Kami berempat akan pergi ke sana dengan perjanjian: dua orang dari kami tidak ikut menyelam. Bagaimana?"


Mendengar tawaran absurd Agra, si nahkoda terdiam sejenak, menatap langit lepas seolah mengharapkan pertolongan jawaban dari pertanyaan membingungkan ini.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kalian melanggar?" cetus si nahkoda dengan senyum sinis.


"Kami tanggung denda. Gimana?" Agra kembali menentang si nahkoda.


Keputusan telah disepakati. Si nahkoda akhirnya mau mengantarkan kami dengan konsekuensi yang dibuat Agra tanpa keputusan pemerintah: denda. Birokrasi menjadi ajang bagi para pejabat rendah untuk mengambil kesempatan di dalam kesulitan setiap orang. Denda; uang; harta. Tidak ada yang lebih indah dari itu. Bahkan dari sucinya Kepulauan Raja Ampat sekalipun.


\~\~\~\~\~


Apa ini, apa kami sedang dalam dunia fantasi? Mungkin pikiran itulah yang sejenak membenak dalam diri. Bagaimana tidak, ketika pandanganku menilik ke bawah, ke arah lautan dari atas kapal, aku melihat pemandangan bawah laut yang amat memukau. Jernih sekali airnya, bagai mengapung di atas hampa.


"Gak terasa ya, Sa. Besok udah hari terakhir kita di sini," gumam Aisyah pelan. Tatapannya memandang kosong ke arah genangan air.


Aku menolehnya, merasa ada yang salah dari perkataan yang diucapkan wanita muslimah ini. "Eh, bukannya besok masih hari keenam, ya? Masih ada dua hari lagi, dong?"


"Astaghfirullah. Aku lupa. Di hari kedua kita di sini, waktu gue booking tiket buat lanjut trip ke Jaya Wijaya, aku lupa ngasih tahu kalian kalau keberangkatan dipercepat sehari. Jadi kita bakal berangkat di hari ketujuh, bukan kedelapan. Maaf, Sa." ucap Aisyah memecah suasana hening.


Agra dan Alma yang mendengar perkataan Aisyah hanya terdiam, kemudian menatapku dalam-dalam, seolah menunggu komando atasan.


"Gak masalah, toh gue juga udah mulai bosen sama pemandangan di sini. Pengen cepat-cepat ke Puncak Jaya Wijaya," tandasku yang membuat Aisyah mengembuskan napas lega.


\~\~\~\~\~


Kapal boat putih yang kami tumpangi akhirnya bernaung di lokasi: Pulau Friwen Wall. Si nahkoda melabuhkan kapalnya pada permukaan pulau, mematikan mesinnya, kemudian memberi tahu kami bahwa perjalanan telah sampai.


Beberapa kapal yang sama juga bertengger tidak jauh dari kami. Bedanya, untuk melakukan perjalanan yang lumayan jauh ini, para nahkoda juga ikut menunggu hingga waktu trip selesai. Uang yang kami sumpal pada mereka sudah cukup untuk memerintahkan mereka duduk manis hingga waktu habis.


Mataku membelalak heboh ketika beberapa turis yang sudah memakai pakaian diving, lengkap dengan tabung oksigen di punggungnya, pergi ke tengah laut, kemudian menyelam, mengarungi pedalaman laut.


Ketika aku beralih pandang ke belakang, ke daratan Friwen Wall, tampak beberapa anak-anak penduduk lokal menyambut kami dari atas pohon bakau yang menjulang tinggi. Ternyata pulau kecil ini bukanlah tempat tak berpenghuni. Hampir di setiap pulau yang kami kunjungi dari kepulauan ini pasti ada tout guide-nya. Kali ini pemandu pria dengan rambut pelontos dan kulit khas timurnya giliran menerangkan.


"Pulau Friwen ini berpenghuni," celoteh si pemandu sambil mendekat, menghampiri kami. "Anak-anak di sini kalau sekolah naik speedboat ke Desa Yenbeser yang berada di Pulau Gam tepat di seberangnya, berjarak sekitar 1 km ke arah barat. Pulau Friwen juga tidak jauh dari pesisir Pulau Waigeo yang banyak terdapat resor-resor, juga dari mulut Teluk Kabui. Jadi Pulau Friwen strategis juga untuk dijadikan homebase selama di Raja Ampat. Ada dua homestay di sini, di sisi utara dan selatan. Sedangkan di Friwenbonda ada satu homestay. Dan yang tidak perlu ditakuti lagi untuk kalian, para anak milenial, sinyal telepon masih dapat di sini." Begitulah sekiranya penuturan dari penduduk lokal yang berprofesi sebagai pemandu wisata itu.


Pelajaran untuk kesekian kalinya kuterima, walaupun otak ini berkali-kali menolaknya, tapi syukurlah rasa ingin tahu bisa mengalahkan kemalasanku untuk menelaah. Belajar sambil bertualang, bukan ide buruk kukira.


Basa-basi sudah cukup, kini saatnya aku mengganti baju untuk menyelam.


Kapal kembali berlabuh tak jauh dari Pulau Friwen Wall. Sekarang, kami sudah berada di tengah lautan lepas, dalam, dan mencekam.


Segala pernak-pernik diving kukenakan; masker selam, regulator selam, wetsuit, BCD, sabuk pemberat, kaki katak dan tabung oksigen. Tubuhku sudah seperti robot bawah laut dengan cangkang tabung di belakangnya. Berat sekali menahan bebannya di punggungku. Sedangkan Alma, dia hanya menggunakan perlengkapan snorkeling saja, karena anak itu belum mendapat sertifikat menyelam secara sah.


Ketika umurku masih menginjak 10 tahun, aku sudah beberapa kali mengikuti pelatihan menyelam. Itu sebabnya sertifikat menyelam sudah berhasil kudapatkan untuk bebas menyelam di mana pun.


"Lo gak nelaah perjanjian sama nahkoda tadi, ya?" katanya suntuk. Aku yang gak memerhatikan betul perkataannya tadi dengan si nahkoda hanya menggeleng bego saja. "Ya ampun! Kit kan udah janji, cuma dua dari empat orang dari kita aja yang boleh menyelam, makanya gue gak ikut."


"Nyenyenye ...," moncong jabir kumajukan, mengejek. "Bilang aja kalau lo gak bisa berenang. Jago juga , ya, lo jadikan perjanjian tadi sebagai tameng buat gak nyebur. Hahaha ...."


Aku tertawa besar, mencoreng nama baikku sebagai perempuan. Agra memang bukan orang bodoh, segala sesuatu yang dia lakukan pasti berdasarkan pemikiran yang matang. Sampai-sampai alasannya tidak berenang karena memang tidak bisa, mampu ia selubung dengan sempurna.


Icha yang duduk di sampingku berulang kali membungkuskan tubuh ketatku dengan handuk, seolah merasa risi dengan penampilanku. "Doain aja supaya gue cepat-cepat dapat hidayah" , begitulah ucapan yang kusembur ketika aku merasa melanggar aturan agama. Atau ... orang-orang pun sama denganku?


Saatnya tiba. Para pemandu selam memerintahkanku untuk duduk membelakangi kapal di tepiannya, kemudian meyakinkanku dengan memberi aba-aba. "Tiga ... dua ... satu ...." Tubuhku yang berat dibebani tabung oksigen, kurebahkan, membiarkannya hanyut dalam kesejukan lautan.


JEBUR!


Kini tatapanku berfokus pada laut dalam, senter mulai menyala dalam gelap, membuat keremangan membelalak jelas. Sunyi ... sepi ... temaram .... Beberapa penyelam lain juga tampak lihai menelusuri pemandangan bawah laut. Kami, para kesatria bawah laut mulai mengupas misterinya, mencari keindahan apa saja yang bisa Tuhan berikan dari tempat yang sejatinya bukanlah habitat manusia.


Zona penyelaman yang kuambil adalah kategori sedang, di antara 10 meter hingga 30 meter. Dalam kedalaman segitu, sudah cukup bagiku untuk melihat kedalaman laut di pulau ini. Kupingku berdengung hebat, air laut, tekanan, dan kedalaman, membuat resonansi gelombang suara tidak sanggup menembusnya. Aku sempat bertanya, bagaimana bisa makhluk-makhluk di dalam sini mampu beradaptasi dalam kesunyian? Mungkin itu sebabnya Tuhan menciptakan makhluk berbeda-beda dalam berbagai segi kehidupan.


Hingga kedalaman 16 meter kucapai. Tidak ada suara gelembung udara yang mendekap di dalam sini. Kesunyian mutlak tergapai. Tapi, apa ini? Berwarna-warni, seperti tumpukkan bunga tulip dengan beragam warnanya, namun, sekarang ada di laut. Itu terumbu karang dan teman-temannya: koral, myrophillum, kelp, serta rumput laut. Indah sekali, hampir-hampir mulutku menganga, lupa kalau satu-satunya oksigen terpasok dari selang dalam mulut.


Di sebalik ruwetnya berbagai macam tumbuhan laut, menyempil ikan indah yang amat populer: Nemo. Dory, dalam sekuel film Finding Nemo juga ada di sana. Pandanganku terus mencoba berfokus pada panorama lain. Di seonggok batu yang menganggur, terlihat juga Patrick si Bintang Laut sedang mengadu nasib, sepertinya begitu. Juga tumbuhan berduri runcing, babi laut, ikut berkelana bersama ikan-ikan kecil yang penuh warna lainnya.


Ketika aku mencoba mendekati mereka, buyarlah mereka yang sedang asik menggibah. Mungkin mereka mengira kalau aku predator ganas. Kurasa juga mereka mengira bahwa aku adalah hiu megaladon? Si Penguasa Lautan yang tak pernah terkuak bukti akan keberadaannya.


Beberapa menit berlalu setelah aku mencoba beradaptasi dengan makhluk setempat, kini aku mulai penasaran terhadap sebuah lubang yang menganga di ujung sana. Sepertinya itu palung, tapi lebih kecil, namun tetap saja besar. Bentuknya seperti lubang besar yang amat sangat. Rasa penasaran semakin membabi buta, aku mendekati palung kecil itu, mendongakkan seluruh tubuh di permukaan bibir lubang. Gelap sekali di ujung sana, sampai-sampai senterku tidak dapat menembuskan cahayanya. Ini adalah pengalaman pertamaku melihat secara langsung betapa mengerikannya palung. Atau ... makhluk darat biasa menyebutnya lubang, jalan amblas.


 


Lihat! Ada ikan aneh bercahay di dalamnya. Aku hanyutkan tubuh mungliku pada lubang besar yang menganga itu. Gelap sekali, ini masih pagi, tapi secercah cahaya pun tak dapat menembusnya. Mentari sebesar gaban yang amat panas juga tidak sanggup melawannya. Pandanganku meraba, hanya secuil cahaya senter sajalah yang mampu menolongku walau dengan radius kecil.


Tubuhku kini masuk ke dalam kengerian palung. Kuping semakin berdengung, seolah ingin memecahkan gendangnya. Banyak primata laut yang tidak pernah kujumpai sebelumnya. Bentuk mereka aneh, parasnya mengerikan. Penglihatanku semakin gamang, seperti waktu itu, ketika hujan melanda di dalam rimbunnya kebun apel milik Papa. Dinding-dinding lubang yang ditumbuhi rumput laut, seolah ingin menarik tubuhku ke dalamnya. Menelannya. Aku gelagapan. Takut. Ini gila, ketika aku menengaah ke atas, tidak ada setitik pun cahaya yang masuk. Gelap gulita.


Dengan sekonyong-konyong, ada yang menyentuhku di dalam tempat sunyi ini. Untuk yang kedua kalinya aku terkejut, hampir saja melepaskan selang oksigen dari mulut. Aku menolehnya, ternyata dia adalah pengawas turis yang sedang menyelam. Aku tahu dari pundak kirinya tertera simbol untuk para pengawas di sini.


Tangannya mengisyaratkanku untuk kembali, aku mengikutinya dalam tuntunan. Habislah aku, itu karena seorang penyelam rekreasi sepertiku tidak boleh menyelam ke dalam palung. Semua sudah tertulis dalam prosedur penyelaman nasional, bahkan internasional.


Bouyancy Compensation Device (BCD) yang terpasang di tubuhku membuat beban berat dalam laut tereduksi. Menjadi sedikit ringan. Tidak terasa sudah tiga puluh menit aku menyelam, membiarkan Agra dan Aisyah kepanasan di permukaan sana.

__ADS_1


Bayang-bayang penampang kapal mulai terlihat dari kedalaman yang hanya sekitar 4 meter ini. Cahaya hangat matahari juga mulai menerjang. Aku melihat Alma dengan pantat teposnya berenang di permukaan, tangannya sedang menggenggam kamera, tampaknya sudah banyak foto yang ter-cekrek dalam memorinya.


BYUR!


Kepalaku dengan sang pengawas mulai menyembul ke permukaan. Habislah aku karena sudah melanggar peraturan penyelaman.


"Sudah diperingatkan berkali-kali, jangan pernah kamu melanggar peraturan yang sudah tertera dalam menyelam! Bisa membahayakan nyawamu, PAHAM!!" Benar saja, aku dibentak habis-habisan di atas kapal. Kupingku yang habis dihujam kedengungan, kini kembali dihajar kegarangan suara sang pengawas.


Aku menunduk, tak berani berkata-kata. Aisyah dengan telatennya membungkus tubuhku dengan handuk. Alma sibuk mengutak-atik kameranya sambil bertanya-tanya, gerangan apa yang terjadi padaku di bawah sana.


Beberapa menit berlalu, akhirnya sang pengawas galak itu pergi entah ke mana. Tinggallah aku, Alma, Aisyah, Agra, dan si nahkoda abal-abal yang tidak peduli permasalahanku. Aku menceritakan pengalaman yang menurutku seru itu. Masuk ke dalam palung. Mereka hanya bisa menganga mendengar ceritaku. Dan sialnya, tidak ada sejepret foto pun yang kudapat, karena kamera dipegang Alma.


"Tuh, rasain!!" celetuk Agra kesal. Wajahnya bukan lagi memerah, tapi sudah gosong, belang diterpa panasnya siang itu.


"Kok elo yang sibuk!? Nolep!!" bentakku balik.


"Kalau orang yang dongkol memang begitu, dikasih tahu ribuan kali pun, tetap aja dongkol."


"Aiisshh ... lo diem nolep! Paham apa lo soal menyelam!?" Tanganku mulai menimpuk tubuh kerempeng Agra.


Berulang kali dia menangkis seranganku, tapi tangan kurusnya mana mungkin bisa menahan tampolan ganasku. Aku mendorong tubuhnya sambil terus berkata, "Coba lo nyemplung sekali, jangan bacot doang lo besarin."


"Woy!! Ntar gue jatuh!!"


"Biar aja!"


Aku menjambak rambutnya, mendorong keras tubuhnya. Kapal pun bergoyang, tidak stabil. Hingga akhirnya ...


JEBURR!!!


Agra pun terlonjak dari atas kapal, terjatuh dalam laut.


"MAMPUS!"


Dia menggelepar tak tentu arah. Aku menertawakannya dengan lantang. Aisyah mulai meragukan Agra yang sepertinya tidak bisa berenang. Sedangkan Alma memotret kejadian.


"Eh, kok dia gak muncul lagi?" tanyaku pada sekitar melihat Agra tidak nongol sedikit pun ke permukaan.


"SOALNYA DIA BENERAN GAK BISA BERENANG!!!" Aisyah menjerit panik, kelimpungan.


Aku dan Alma juga ikut kaget mendengar hal itu. Orang sepintar Agra tidak bisa berenang? Hancurlah harga diri dia sebagai laki-laki.


Ketika aku berinisiatif menolongnya, seorang pengawas sudah lebih dulu terjun, menolong si Nolep banyak bicara itu. Walau begitu, benakku tetap saja panik. Gimana kalau dia mati?  Benakku berucap. Dia kan yang sering kusebut sebagai 'Malaikat Penolong', meskipun hanya dari hati. Kalau di lisan, tetap saja kusebut 'si Nolep'.


Tidak sampai semenit, Agra pun terselamatkan. Tapi sepertinya harga dirinya tidak bisa.


"Sesuai perjanjian, tiga ratus ribu denda untuk pelanggar," pinta si nahkoda korupsi pada kami yang melanggar aturan. Tiga dari kami sudah nyebur ke laut. Tidak ada alasan untuk mengelak, entah berdalih bahwa tidak merusak bita laut, atau apalah, denda tetaplah denda. Begitulah pemikiran para penggiat birokrasi.


Tiga lembar uang pecahan seratus ribu Rupiah kuberkan pada nahkoda dengan wajah cemberut geram.


"Wah ... wah ... wah ... kayaknya, ada yang cuma bisa berenang gaya batu, nih," sindir Alma sambil melipat kedua tangannya di dada.


Agra tertunduk malu bagai bocah yang tercebur dalam got. Basah kuyup.


 Beep ... beep ...


Ponselku bergetar dari dalam tas. Aku menoleh ke arahnya, membuka kancingnya, dan mengecek pesan apa yang masuk.


Ternyata dari Raka, ada apa? Aku membuka pesan Whatsapp dan membaca isinya.


Sa


Besok malam.


Be-besok malam? Aku membenak, merasa cemas sekaligus khawatir.


\~\~\~\~\~


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2