Olm, Osa Si Salamander

Olm, Osa Si Salamander
Episode 38:Memperbaiki Masa Lalu


__ADS_3

Kembali ke kota Deli, kota dimana penduduk terpadat di provinsi Sumatera. Medan, Sumatera Utara.


Suasana siang bolong di daerah sempit itu terlihat sepi. Warga sekitar tidak kelihatan di sepanjang gang "Bersama" itu. Tahu kan ini suasana rumah siapa? Ya, rumah Ucok.


Warung milik Ayah Ucok yang sepi pelanggan terlihat terbuka dan memperlihatkan beberapa produk makanan, minuman dan keperluan lainnya seperti produk mencuci, produk pembersih dan lainnya.


Ucok yang kelihatan sedang berada di ruang tamu sambil latihan berpidatonya untuk memenuhi undangan dari organisasi pendidikan di Bandung nanti. Ia mendapat undangan itu sebagai narasumber dari Workshop untuk memberi arahan dan bimbingan pada warga Bandung yang bercita-cita menempuh pendidikan di luar negeri.


"Weh..."


"Kuliat-liat lagi sibuk aja nya kau nak?" Ayah menghampiri Ucok yang sedang latihan berpidato


"Iya Yah, soalnya aku Minggu depan mau ke Bandung"


"Aku di undang buat jadi narasumber workshop nanti". Ucok berhenti sejenak dan menjawab pertanyaan Ayah.


"Ya baguslah"


"Tingkatkan terus ya nak". Ayah memberi nasehat pada Ucok.


"Tingkatkan apa Yah?". Tanya balik Ucok pura-pura ****.


"Kau tingkatkanlah rumah ini!"


"Banyak nanyak kau ah!".Jawab Ayah dengan logat Medan


"Hehehehe...". Cengir Ucok


Keseharian Ucok bersama Ayahnya diwarnai candaan kecil dari keluarga Batak ini, walau tanpa kehadiran sang Ibu yang sudah tiada.


Suasana kembali hening, warung sang Ayah yang belakangan ini sepi tanpa pelanggan membuat penghasilan sang Ayah menurun. Sampai pada akhirnya tiga orang Debt Collector mendatangi rumah Ucok dengan bersikap kasar dan tidak sopan.


"Woy!!!"


"Mana Fadlan!!" Tanya salah seorang dari tiga Debt Collector itu pada Ucok yang sedang menyiram tanaman di halaman depan rumahnya.


"Itu Bang, di warung"


"Ada apa Bang?". Jawab Ucok sambil menunjuk arah warung milik sang Ayah dengan penasaran.


Tanpa menjawab pertanyaan Ucok, tiga Debt Collector itu langsung mendatangi warung milik Fadlan, Ayah Ucok.


"Woy!!"


"Mana janji kau?"


"Katanya mau bayar hari Senin? Sekarang udah Rabu!". Tanya seorang dari mereka pada Fadlan.


"I...iya Pak Bisa aku minta waktu lagi?". Fadlan memohon perpanjangan waktu akan janjinya. Entah janji apa itu yang dimaksud.


"Gak usah kau nyari alasan lagi!!". Tanpa pikir lama, Fadlan dipukuli oleh ketiga Debt Collector itu didalam warungnya.


Mendengar keributan yang terjadi di warung sang Ayah, Ucok pun segera menghampiri ke warung.


Sesampainya di warung, Ucok melihat sang Ayah tergeletak kesakitan dilantai warung miliknya sambil terus diupukuli dan ditendang oleh tiga Debt Collector itu.


"Udah Pak!"


"Ada apa ini?!"


"Kenapa Ayahku?!". Tanya Ucok pada mereka.


"Ayah kau ini ya, udah 3 bulan enggak juga bayar pinjaman uangnya dari bank!!"


"Setiap di tagih kerumah pasti ngumpat" Jawab Debt Collector itu sambil menunjuk Fadlan dengan nada tinggi.


"Yaudah!"


"Gak perlu ngegas kau!"


"Berapa rupanya utang Ayah?!". Tanya Ucok dengan nada tinggi juga pada mereka.


"20 juta"


"Sudah dengan bunga". Jawab mereka menyebut nominal pinjaman Fadlan.


"Ok, tunggu disini"


"Aku ke ATM dulu, hari ini juga aku bayar semua pinjamannya".


Ucok pun bergegas ke ATM yang lumayan jauh dari rumah menggunakan ojek online yang ia pesan.


Selama kurang lebih 15 menit, akhirnya Ucok kembali dari ATM dan membayar semua pinjaman bank Ayahnya yang berjumlah 20 juta.


"Nih"


"Totalnya 20 juta"


"Sekarang kelen pigi dari sini, gak usah banyak gaya disini!!". Ucok membanting amplop coklat yang berisi 20 juta itu kepada Debt Collector.


Setelah ketiga Debt Collector itu pergi, Ayah Ucok yang duduk di kursi ruang tamu dengan lebam di pipi kanannya mencoba menahan sakit bekas pukulan Debt Collector itu tadi. Dengan wajah lemas sambil mengompres pipinya, Ayah hanya diam. Sampai akhirnya, Ucok membuka pertanyaan dan bertanya pada Sang Ayah.


"Yah, memang Ayah ada minjem uang untuk apa sama bank?". Tanya Ucok yang duduk di samping Ayah diatas sofa kumal hijau lumut itu.


Sejenak Ayah terdiam dan tidak menjawab pertanyaan anaknya itu. Ayah hanya memandang Ucok yang juga sedang memandangnya dengan penuh keingintahuan. Akhirnya Ayah pun angkat bicara dan mau menceritakan semuanya.


"Jadi tiga bulan lalu Ayah pinjam uang ke bank"

__ADS_1


"Uangnya buat bayar sewa rumah ini yang udah nunggak lama". Ayah menjelaskan pada Ucok sambil mengompres pipinya yang lebam dengan kain.


"Kenapa gak dibayar Yah? Kalopun susah bisa minta aku Yah"


"Uang hasil magang aku waktu di Jepang juga masih ada Yah". Tanya Ucok kembali.


"Uang darimana Cok? 20 juta itu gak sikit"


"Penghasilan dari warung ya gak cukup lah nak"


"Mau minta kau ya nanti Ayah ngebebani kau Cok". jawab Ayah dengan nada pelan karena insiden tadi. Wajahnya yang sudah memasuki usia 50 tahun membuatnya seolah tak punya semangat, padahal seharusnya orangtua seusianya sudah tidak selayaknya berpikir tentang penghasilan, harusnya tugas anaknya yang menggerakan ekonomi keluarganya.


"Yah, jangan kek gitu lah, Ucok kan bisa bantu Ayah"


"Ucok gak ngerasa dibebani kok". Jawab Ucok dengan menunjukkan ekspresi prihatin.


Hari itu berlalu dengan sedikit keributan karena insiden tadi. Suasana dirumah itu kembali murung, Ayah yang hanya diam dan tidak seperti biasa dengan sikap cerianya. Ucok juga seolah berat untuk meninggalkan Ayahnya untuk ia pergi bekerja di negeri orang nantinya.


Diplomat kenegaraan, Ucok akan menjadi diplomat dari Indonesia untuk beberapa negara yang nanti ia tempati beberapa tahun kedepan sebagai perwakilan Indonesia dinegara tujuan. Dan itu tidak sebentar, bahkan mau memakan waktu bertahun-tahun.


Keesokan harinya, seperti biasa, Ucok dan Ayah membuka kembali warung kelontong milik sang Ayah untuk kembali melakukan kegiatan berniaga itu. Ucok yang membantu membuka pagar warung dan memngeluarkan beberapa barang didepan pintu warung untuk mempromosikan dagangannya. Sedangkan Ayah membersihkan lantai warung dan menyusun beberapa barang dagangan sedemikian rupa.


Setelah berbenah dan menyiapkan atau membuka kembali warung, Ucok duduk di kursi warung bersama dengan Ayah yang disebelahnya. Ucok membuka pembicaraan mengenai dirinya yang akan pergi ke Bandung yang setelahnya akan langsung pergi ke negara tujuan tugasnya sebagai diplomat.


"Yah oo Yah...". Ucok membuka pembicaraan dengan memanggil Ayah menggunakan nada.


"Hm...Apa?". Sahut Ayah menjawab Ucok sambil membaca koran Sindo yang ia bentangkan lebar dengan kedua tangannya.


"Aku mau ngomong ni"


"Kan tiga hari lagi aku mau pigi ke Bandung buat Workshop"


"Tapi habis itu aku mau langsung pigi buat tugas Yah. Aku udah mulai aktif jadi diplomat di negara lain". Ucok menjelaskan dengan canggung.


"Lah terus?"


"Bagus lah kalo gitu". Jawab Ayah sembari membalikkan kertas korannya menuju halaman selanjutnya.


"Jadi, Ayah sendiri lagi dirumah?". Tanya Ucok kembali pada Ayah yang akan ia tinggalkan kembali untuk bekerja di negeri orang.


"Ya iyalah Cok"


"Itu udah resiko kau buat jadi diplomat. Ayah gaada masalah buat itu selagi kamu bisa berkembang dengan bagus". Jawab Ayah dengan santainya.


"Tapi aku janji bakal kirimin Ayah uang setiap bulannya ya"


"Aku janji Ayah gak bakal ditagihihn Debt Collector badjingan itu lagi". Tutur Ucok sambil meyakinkan Ayah untuk selalu memberikannya uang setiap bulan ketika ia bekerja nanti.


Ayah meletakan korannya di atas meja dan menatap wajah Ucok tanpa berkata apapun. Menatap anak tukang bacot kebanggaannya yang sudah mulai dewasa dan bisa berpikiran maju membuatnya yakin untuk melepas Ucok melanglang buana di negeri orang.




Ucok yang masih *packing* pakaian dan segala perlengkapannya untuk dimasukkan kedalam koper dan tas miliknya juga dibantu oleh Ayah di kamarnya.



*Packing* pun selesai, kini Ayah dengan anak itu pun pergi ke Bandar Udara Kualanamu menggunakan taksi online dengan waktu tempuh 1 jam perjalanan. Setelah 1 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di tujuan. Beberapa saat sebelum take off, Ucok mengucapkan kalimat perpisahan kepada Sang Ayah.


"Yah, aku pamit dulu ya..."


"Nanti kalo udah sampe aku kabarin Ayah, pokoknya aku bakal telfon Ayah sesering mungkin". Ucok berpamitan pada Sang Ayah sambil mencium tangan dan memeluknya.



"Jaga diri kau bagus\-bagus ya Cok"


"Ayah yakin kau bisa jadi orang sukses disana"


"Jaga nama baik Indonesia ya Cok, kamu akan wakilkan Indonesia di negara orang nanti". Ayah mengucapkan kalimat perpisahan pada Ucok dalam pelukan yang penuh makna itu.



"Ohiya, nanti kalo kamu jumpa Royan atau Papanya, Ayah tolong sampaikan maaf Ayah sama mereka berdua ya"


"Kau juga Cok, minta maaf sama mereka juga. Mereka satu\-satunya kerabat dekat kita"


"Ayah gak mau hubungan persaudaraan kita putus". Ayah memberikan amanah pada Ucok untuk memperbaiki hubungan keluarganya dengan keluarga Royan.



Pembicaraan pun selesai, kini saatnya Ucok pergi dan berpisah dari Sang Ayah untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang diplomat dalam Hubungan Internasional yang ia cita\-citakan sejak lama. Dirinya membalikkan arah dari Ayah menuju ke Gate pesawat dengan langkah penuh keyakinan diri. Kini Ucok, Si tukang omong kosong itu sudah berkembang menjadi satu dari empat helai kelopak clover yang akan bersinar menjadi *Golden Clover*.



Setelah meninggalkan orang yang sudah mengurusnya dari kecil, Ucok pergi menuju Bandung terlebih dulu untuk memenuhi undangan Workshop dan membahas tugasnya untuk menjadi diplomat di negara orang.


Sembari menunggu pendaratan dari Medan ke Bandung yang menempuh waktu selama 2 jam setengah, Ucok membuka aplikasi *WhatsApp *dan mencoba men-chat Kenzo untuk memberi kabar pada sahabatnya itu bahwa dia akan singgah ke Bandung dan sekalian meminta maaf atas insiden yang membuat Kenzo tersulut emosi pada saat di Jakarta.



                                                              ~~~~


Setelah 2 setengah jam berlalu, akhirnya pesawat yang ditumpangi Ucok mendarat di Bandar Udara Husein Sastranegara, Bandung.


Setibanya Ucok di kota Bandung, ia disambut oleh Melody yang sebelumnya sudah ia kabari akan mendarat di Bandung pada hari ini. Terlihat Melody menunggu di lobby bandara dengan jaket jeans dan juga celana jeans sembari bersandar di pilar-pilar lobby sambil memegang HP miliknya.

__ADS_1


"Woy, Mel". Tegur Ucok dari kejauhan dengan membawa tas hitam besar serta koper yang ia geret di tangan kanannya.


"Eh, udah nyampe elu Cok?". Sahut Melody sambil menatap Ucok dari kejauhan.


"Yaudahlah, kan udah ada didepan mata kau sekarang aku, ******". Jawab Ucok sedikit kesal dengan pertanyaan bodoh Melody.


"Hehehe....iya sih"


"Btw, welcome to Bandung!"


"Gimana kabar lu setelah sekian lama gak ketemu Cok". Melody membuka pembicaraan basa-basi pada teman se-frekuensinya yang sama-sama jago bacot, Ucok.


"Ya baik kok, kau kek mana kabarnya". Tanya Ucok balik pada perempuan tomboy bersuara keras itu sembari Ucok memperhatikan penampilan Melody dengan rambut gelombang sebahu dan gaya ala anak motor.


Mereka bercengkrama sembari keluar dari Bandara dan pergi ke kos-an milik Ayah Melody yang disewa murah oleh Kenzo mengendarai MoGe milik Melody. Sama seperti waktu Kenzo tiba di Bandung, kini Ucok yang dibawa ugal-ugalan oleh wanita tomboy itu.


                                                            ~~~~


Sesampainya di kos-an yang ditempati Kenzo, Ucok dan Melody langsung memasuki kos-an sederhana itu untuk mempertemukan dua sahabat itu, Kenzo dan Ucok.


"Tok...tok...tok...". Suara ketukan pintu kos-an Kenzo yang diketuk oleh Melody.


"Cklek...". Kenzo membuka pintu kayu itu dan terlihat didepannya Melody dan Ucok dengan rambut yang acak- acakan karena dibawa ugal-ugalan oleh Melody waktu dalam perjalanan.


Tanpa pikir panjang, Ucok langsung melepaskan kopernya dari genggamannya dan langsung melompat memeluk Kenzo yang berdiri sambil memegang puntung rokok di tangan kanannya.


"Zooooo...!!"


"Aku kangen sama-mu...". Teriak Ucok sambil berlari dan memeluk sahabatnya itu.


"I...,iya iya..."


"Berisik banget elu Cok. Kalem-kalem". Jawab Kenzo dalam pelukkan erat Ucok yang amat histeris karena sudah berbulan-bulan tidak bertemu dengan teman pertamanya semasa di Jakarta dulu.


"Iuhh..."


"Gue harap kalian normal ya,hehehe..."


"Kok rada jijik ya liat kalian berdua". Celetus Melody pada Kenzo dan Ucok yang saling bercengkrama gila itu.


"Hehehe....makasih ya Mel udah mau nganterin aku kesini". Jawab Ucok cengengesan atas celetukan Melody.


"Yaudah deh, gue balik dulu. Dipanggil Papa soalnya"


"Ok, lu disini aja kan Cok?". Melody berpamitan sambil kembali menaikki MoGe nya dan memasang helm dikepalanya.


"Iya, aku disini aja Mel. Makasih ya Mel".


Setelah Melody pulang, Ucok yang tinggal sementara di kos-an Kenzo membereskan barang bawaannya dari koper dan tas. Ia juga sambil bercengkrama dengan Kenzo yang sudah lama tidak bertemu. Kenzo menceritakan gimana dia bisa ninggalin orangtuanya dan sampai ke Bandung serta sifatnya yang mulai berubah dan memutuskan untuk merokok. Dan Ucok menceritakan *Planning *kedepannya dalam dunia diplomat yang akan ia jalani di negara orang. Sampai akhirnya, terjadi dialog serius antar mereka berdua.


"Zo, kau tau dimana Royan sekarang?". Tanya Ucok yang telah selesai merapikan perlengkapannya di lemari milik Kenzo.


"Ntah, gue juga gak tau dia dimana, di WA gak dibales"


"Pusing gue sama anak itu. Terlalu tertutup"


"Emang kenapa sih? Lu kan suka ribut sama dia". Tutur Kenzo dan bertanya balik pada Ucok.


"Jadi kek gini ceritanya"


"Aku sama Royan sebenernya itu sepupu-an". Belum selesai Ucok menjelaskan, Kenzo memotong pembicaraan anak Medan itu.


"Hah?!!!"


"Kalian sepupu-an?!".  Tanya Kenzo kaget sambil meletakkan puntung rokoknya kedalam asbak dan menekan ujungnya agar asap rokok mati.


"Makanya kau denger dulu aku cakap lah bang*sat"


"Jadi Ayah aku sama Papa nya Royan itu saudara kembar"


"Pokoknya ceritanya panjang lah kek mana bisa mereka jadi gak akrab sekarang"


"Yang jelas Royan sama Papa nya itu marah besar sama keluargaku Zo". Tutur Ucok menjelaskan poin penting hubungan dia dengan Royan.


"Terus?"


"Kenapa lu mau ketemu dia?". Tanya balik Kenzo sambil melipat satu kakinya ke atas sofa.


"Aku mau minta maaf sama mereka berdua"


"Kata Ayah suruh minta maaf karena kesalahan yang dibuat Ayahku dulu"


"Ya...aku juga gak mau lah ribut sama dia walaupun dia belagu". Tutur Ucok kembali.


"Ya gue juga gak tahu dia dimana,Cok"


"*4 Petals Clover *entah pada kemana semua, sekarang cuman ada gue sama elu Cok"


"Gue juga udah gak berhubungan lagi sama Anggi, entah dimana juga dia sekarang". Kali ini Kenzo yang gantian curhat.


Hari itu kedua sahabat itu curhat sekaligus bertukar pikiran antar sesama. Kenzo menceritakan langkah yang ia ambil untuk angkat kaki dari Jakarta dan Ucok menceritakan susahnya perekonomian keluarganya serta masa lalu Ayahnya bersama kembarannya Fadli, Papa Royan.


                                                               ~~~~


Hingga keesokan siangnya, setelah Ucok selesai memenuhi undangan dalam Workshop di suatu organisasi dan setelah ia selesai mendatangi rapat penentuan penempatan tempat ia bekerja nanti sebagai diplomat negara, ia mendatangi Kenzo dan memberitahu hal ini.


"Zo..."

__ADS_1


"Aku resmi jadi diplomat untuk negara Palestina nantinya Zo!"


Bersambung...


__ADS_2