
Malam itu, hujan deras beserta gemuruh runtuh mengguyur pekarangan rumah mewah milik seorang profesor kimia yang juga Papa dari karakter dingin Royan.Tepatnya di kota Novena mereka tinggal.
Terlihat Papa Royan yang sedang duduk di sofa merah tua berbahan bludru itu sedang santainya menonton acara televisi "Exorcism".Royan yang duduk di samping sang Papa gelisah seolah ada yang ingin di tanyakan.
"Hmmm...Pah" Royan membuka pembicaraan
"Ya?" Jawab Papa singkat.
"Royan mau nanya"
"Selama menjalani misi rahasia ini, aku hanya tahu tujuanku ngelakuin ini untuk membunuh temanku itu dan membalas dendam kematian Kakak"
"Tapi ada apa dengan Ucok dalam misi ini?" Tanya Royan serius pada Papa nya mengenai misi rahasianya.
"Temanmu? Ucok?"
"Ternyata kamu masih menganggap dia teman?!"
"Sudah kuberitahu padamu beberapa kali,buang semua rasa kasihanmu pada anak itu!!"
"Patuhi perintahku saja!" Jawab Papa keras pada Royan yang masih menanggap Ucok sebagai temannya.
"Tapi apa alasanya Pa?"
"Tolong kasih tahu, aku gak bisa menjalani misi keji ini tanpa sebab" Tanya Royan kembali dengan menatap Papa nya dalam dalam.
"Baik, akan Papa ceritakan"
"Tepatnya 19 tahun lalu, saat kamu berumur 3 tahun dan Kakakmu berumur 5 tahun...
*Yooosshh... kita flashback 19 tahun lalu dalam kehidupan keluarga Royan...
````````
__ADS_1
Kita sudah di masa lalu. Masa dimana Royan masih belum bisa berpikir matang dan masih sangat kecil. Namun kita gak akan ngebahas Royan, tapi orangtuanya ya, ok?
Terlihat rumah mewah berwarna putih dengan memiliki 2 lantai milik seorang manager di sebuah perusahaan besar di Medan. Orang itu adalah Fadlan, Ayah Ucok sekaligus kembaran dari Fadli, Papa Royan. Seolah kehidupan berputar balik 360 derejat. Fadlan, yang sekarang hanya seorang pedagang kelontong sederhana ternyata dulunya seorang yang kaya raya. Berbalik dengan Fadli, yang sukses menjadi kimiawan terkemuka yang ternyata dulunya hanyalah asisten dari kembarannya itu.
Berlatar di Medan,Sumatera Utara. Mereka hidup berdampingan. Fadli tinggal di rumah kecil milik Fadlan bersama istri dan kedua anak lelakinya Ardi dan Royan. Sedangkan Fadlan tinggal di rumah utama nan mewah bersama istri dan anaknya Ucok yang sebenarnya bernama Uriel.(Kenapa di panggil Ucok? Nanti kita bahas ok!).
"Dek! ayok cepet kita berangkat!"
"Kau udah tau assisten kok banyak kali gaya kau!" Bentak Fadlan yang duduk di dalam mobil Sedan putih sambil menunggu sang assisten yaitu adiknya sendiri, Fadli.
"Bentar Bang,tadi aku mandiin Royan."
"Sorry, yaudah ayo kita berangkat" Jawab Fadli sambil tergesa - gesa menaikkki mobil yang akan di bawanya ke kantor Abangnya Fadlan.
Dalam perjalanan menuju kantor, Fadli meminta pinjaman uang kepada Fadlan untuk kebutuhan hidupnya dan keluarganya.
"Hmmm..Bang"
"Buat bayar SPP anakku Ardi, udah 3 bulan belum bayar"Pinta Fadli pada Abangnya yang sedang duduk di kursi belakang mobil sambil bolak - balik memerhatikan jam tangannya karena terlambat.
"Kau itu kerja yang bener dulu, kok malah mikir minjem uang!"
"Cepet jalannya, udah telat ini! Meeting 5 menit lagi!" Bentak Fadlan dan tidak mendengarkan permintaan dari Fadli.
Sesampainya di kantor, Fadlan langsung bergegas masuk ke ruang meeting walaupun sudah terlambat. Seperti biasa, Fadli masuk ke ruang kerja Fadlan untuk menyusun berkas dan mengerjakan laporan kantor milik Fadlan.
Waktu berlalu sudah 2 jam lamanya. Fadlan yang sudah selesai meeting kembali ke ruangannya untuk tugas lainnya. Terlihat kembarannya yang lebih muda, Fadli sedang membereskan rak berkas yang berserakan.
"Bang, udah kelar meetingnya?" Tanya Fadlan membuka obrolan.
"Udah, hampir aja telat" Jawab Fadlan yang duduk di kursi kantor bertatapkan komputer era jaman dulu.
"Ohiya Fad, kayaknya posisi mu bakal aku tukar sama orang lain"
__ADS_1
"Aku punya assisten baru, yang lebih bagus dari kau" Tutur Fadlan yang akan menggantikan posisi adiknya Fadli sebagai assisten.
"Loh Bang?"
"Jadi aku kek mana?" Tanya Fadli yang terkejut mendengar pernyataan itu.
"Makanya kau usaha yang lain, jangan bergantung sama aku aja"
"Kau kan laki - laki dan udah berkeluarga. Masa masih bergantung sama aku?" Jawab Fadlan dengan tenangnya.
"Yaudah, tapi aku minta modal Bang untuk usaha ku"
"Aku juga mau kuliah lagi untuk pendidikanku"
"Tolong Bang" Fadli meminta modal pada Fadlan untuk membuka usaha.
"Ok, berapa yang kau butuh?"
"Aku bakal modalin"
"Tapi ingat, setelah ini jangan bergantung samaku lagi" Fadlan menerima tawaran itu.
Singkat cerita, Fadli yang sudah di modali untuk membuka usaha apotek dan kuliah kini mulai lepas dari ketergantungannya pada Abangnya Fadlan. Ia dan keluarganya termasuk Ardi dan Royan kini tinggal di rumah kontrakan kecil. Sambil membuka usaha, Fadli berkuliah di fakultas ilmu kimia di Universitas daerah Medan dengan di biayai oleh Fadlan.
Suatu hari, usaha apoteknya mengalami musibah kebakaran dan melahap semuanya yang ada di dalamnya, termasuk istrinya sendiri. Atas musibah ini, Fadli tidak bisa terus - menerus bersedih karena Ia harus menghidupi kedua anaknya Ardi dan Royan. Ia melamar pekerjaan di berbagai tempat, namun tak kunjung ketemu.Meminjam uang dari Fadlan namun Ia tetap menolak dan menyuruh agar adknya itu lebih mandiri.
Akhirnya, Fadli bekerja di tempat cuci kendaraan sambil tetap kuliah yang gajinya sangat tidak mencukupi. Untuk makan saja susah, hingga Ardi anak pertamanya meninggal karena kelaparan. Rasa sedih, menderita dan marah terbenak di hati Fadli. Dari situ lah muncul rasa dendam pada Fadli untuk memberi balasan dengan menyengsarakan Fadlan yang sekarang berputar terbalik menjadi orang yang tidak mampu karena perusahaannya bangkrut.
Fadli akhirnya lulus di fakultas ilmu kimia yang di tanggung Fadlan. Ia menjadi kimiawan besar dan jahat.
Bersambung...
````````
__ADS_1