
"Ah ...." Lega rasanya sehabis berenang di pantai pagi tadi, kemudian malamnya berendam dalam bathtub berisi air hangat dengan wewangian yang menenangkan. Lilin-lilin aromaterapi menemani kesenyapan meditasiku. Taburan kelopak bunga mawar mengambang di permukaan air hangat yang kurendami. Aku tenggelam dalam keheningan. Pikiranku kembali cemerlang.
Dor-dor-dor. Daun pintu berwarna putih bersih di hadapan terketok. Sepertinya ada seseorang di sisi lain pintu itu. "Sa, buruan mandinya, udah waktunya makan malam. Jangan lama-lama, ntar badan lo keriput." Aisyah sepertinya bukan hanya manajer pribadiku saja, tapi dia juga sudah menjadi orangtuaku.
Aku bersahut panjang kepadanya, berkata bahwa sebentar lagi aku selesai mandi.
Tubuh mungilku yang bermandikan busa dan bunga kubangkitkan, melangkah keluar dari bathtub, kemudian membasuh diri dengan air mengalir. Tidak terasa, ternyata sudah lebih dari lima belas menit aku mendekap di dalam sini.
\~\~\~\~\~
"Temen lo si Raka itu gimana nasibnya?" Gak seperti biasanya, Agra memulai pembicaraan duluan di atas meja makan malam itu. Aku duduk berhadapan dengannya--yang bersebelahan dengan Alma. Sedangkan Aisyah yang terakhir duduk di sampingku, karena dia sibuk menghidangkan makanan yang dipesan tadi.
Aku mengembuskan napas, menjawab, "Kan udah gue bilang, dia tinggal sama temennya di Misool Selatan. Jangan tanyain dia mulu dong, Gra." Aku senang dia mau memulai pembicaraan meja makan bersama, tapi kenapa yang dibahas orang yang sekarang kubenci? Macam gak ada persoalan lain saja.
"Gue gak suka diburu-burui, gue belum selesai bicara, kenapa lo potong?" ucapnya datar sambil mencocol cumi goreng tepung dengan saus mangga di hadapan. Walau dia berbicara samaku, orang yang ada dihadapannya, dia malah memandang ke buku tebalnya yang kurasa gak akan selesai dibaca hingga sepuluh milenial ke depan.
Aku menggeram, menggenggam cangkang lobster hingga permukaannya retak. "Kan lo tadi udah berhenti bicara, ya langsung gue jawab!" Nadaku mulai menggema kesal. Padahal tadi dia cuma nanya soal Raka, setelah itu diam--gak ada sambungannya. Ini orang jadi plin-plan kurasa.
"Terserah, yang gue tanya temen lo si Raka, gimana nasibnya nanti setelah selesai trip di sini? Apa bakal ikut ke Puncak Jaya Wijaya?"
"Nanti gue pikir-pikir dulu. Lo ikut?"
"Gak tahu, nanti gue pikir dulu."
"Aiisshh ... ikut kek, Gra," bujukku dengan wajah penuh harap. Dia nyebelin memang, tapi kalau gak ada dia kayak ada yang mengganjal. "Ikut ya, Gra?"
Si Nolep berbadan kunting itu manggut-manggut saja. Pandangannya gak teralihkan sedikit pun dari buku tebalnya.
Aku heran, kenapa di dunia ini orang sangat beragam? Ada yang hobinya mantengin layar ponsel terus, ada yang seolah berahi dengan barisan huruf sampai lupa kalau di depannya ada orang hidup yang berbicara, bahkan ada yang berhati tulus nan mulai seperti Aisyah. Terus, aku golongan yang mana? Soalnya semua jenis yang kusebutkan tadi gak ada yang masuk kriteria. Apa aku yang aneh?
Entah apa yang menjadi penyebab, Alma yang dari tadi diam saja terserempak dari kursinya, kemudian dia pergi dari meja makan--meninggalkan kami.
Aku menyikut Aisyah yang ikut tersentak sambil mendongak bingung bertanya kenapa. Muslimah itu mengangkat bahu, berbisik tidak tahu.
Kalau ditanya siapa orang yang paling perhatian sama teman sendiri, itu mungkin Aisyah. Dia rela meninggalkan makanannya dan pergi menyusul Alma yang kurasa masuk ke dalam kamar. Gamis rumahan yang ia kenakan menggubit seirama dengan kakinya yang berlari cepat.
Pandanganku beralih ke Agra, ingin menanyakannya juga. "Gak tahu, bukan urusan gue. Coba tanya diri lo sendiri." Brengsek! Belum juga ngomong, eh si Nolep malah menyangkalku terlebih dulu. Bibirku memonyong kesal, kemudian melanjutkan makan malam dengan tanda tanya yang terus mengganjal.
Tapi kalau kupikir-pikir, benar juga kata Agra, coba tanya diri sendiri. Eh, apa karena kejadian tadi sore? Benarkah hal sesepele itu masih dia pendam sampai ngambek begitu? Kalau aku jadi dia mungkin aku menyikapinya ya masa bodoh. Entahlah, aku melanjutkan makan saja hingga selesai.
Makan malam telah kuselesaikan dengan rasa penasaran yang terus membisik. Kemudian dengan penasaran itu pula aku berniat menuju kamar Alma, menanyakan penyebab dia yang tadi tiba-tiba pergi dengan raut wajah kesal.
Cklek! Daun pintu yang menempel di kerangkanya kubuka lebar. Tanpa mengetuk, aku langsung menerobos dan masuk nyelonong ke kamar Alma yang hanya sepetak. Aroma parfum yang belum pernah kurasakan menyerbak di dalam ruangan itu. Pemandangan bibir pantai terhalang oleh tebalnya gorden coklat hazelnut yang tertutup. Berbagai peralatan kosmetik milik Alma tersusun rapi di atas meja rias yang berpantul bayangan karena kacanya.
Aku berhenti sejenak di depan pintu, menatap Alma yang berderai air mata. Ia menangis sambil memeluk kedua lututnya, rambutnya yang tergurai panjang dan lemas tampak berserak tak karuan.
__ADS_1
Aisyah yang sedang mengelus lembut pundak Alma menatapku, melambaikan tangannya--memberi isyarat padaku untuk mendekat. Aku berjalan perlahan dan mendekati mereka yang dipangku oleh lebarnya kasur kamar itu.
"Kenapa?" tanyaku dengan nada membisik pada Aisyah. Dia mengernyitkan alis dan menaikkan pundak.
"Ma ... lo kenapa? Ada masalah apa? Tolong jangan ada yang ditutup-tutupi dari kita bertiga." Aisyah bertanya pelan, mencoba menggali lebih dalam tentang permasalahan yang hinggap dalam diri teman sepermainannya itu sejak SMA.
"Kalau ada masalah, cerita aja. Jangan depresi du-" Aku mencoba bersikap santai padanya, mencoba mengulangi perkataannya sewaktu aku didiagnosa dulu. Namun Alma memotong dengan tiba-tiba dan menghadapkan wajahnya ke aku. "Lo ... lo jangan pura-pura gak tahu. Memang temen kayak lo itu temen brengsek!!!"
PLAK!!! Wajahku terhempas keras, hampir terjengkang dari tempat tidur. Tamparannya tepat mengenai pipi kananku. Perih.
Aku menggosok-gosok pipi bekas tamparan Alma. Kepala yang terhempas membuat rambut lurus sebahuku berantakkan. Napasku menderu kencang, jantungku berdebum laksana gendang ditabuh, gigiku beradu--menahan sakit.
"Astaghfirullah. Ada apa ini? Kok lo nampar Osa, Ma!?" Aisyah mencoba menjadi penengah, kedua tangannya membentang lebar--memberi jarak antara aku dan Alma.
"Lo tanya sama gue kenapa? Tanya aja sama si brengsek gak tahu diri ini!!" Alma menunjuk-nunjuk diriku persis ketika aku menunjuk dirinya sore tadi. Wajahnya merah padam, amarahnya meledak sudah.
"Elo yang gak tahu diri!! Semua biaya liburan gue yang tanggung. Ngaca dulu!!"
"Kalau gak ada kami, lo gak akan bisa pergi jauh-jauh begini!"
"Heh!! Jangan jerit-jerit begini, istigfar kalian!"Gak kusangka, Aisyah yang setahuku lemah lembut kini berubah drastis. Nadanya lebih lantam dan tegas daripada kami yang nyempreng. Seketika kami terdiam. "Sebenarnya apa masalahnya? Cerita pelan-pelan, jangan egois begini."
Aku gak berkomentar, malah Alma yang angkat bicara. Ia menceritakan tentang ejekkan yang selalu kulontarkan padanya. "Badut Kota". Nadanya yang bergetar menahan tangis terus bercerita seolah mengadu pada hakim. Seperti anak-anak yang mengadu pada gurunya saat teman-temannya mengejek nama orangtua.
Aisyah yang menatap Alma dengan seksama terus mengangguk-angguk pelan--memahami penjelasan Alma. Kemudian ia beralih pandang kepadaku dengan tatapan menusuk. Muslimah itu menghela napas panjang, lalu memberi penilaian padaku yang tunduk terpaku. "Jelas lo salah dalam persoalan ini, Sa. Lo masih terlalu egois--mementingkan diri sendiri, masih terlalu kekanak-kanakkan. Jujur, ketika lo seolah membusung dada dengan nyebut Alma gak tahu diri, di situ gue, juga mungkin Agra dan Raka ikut tersinggung. Memangnya kami pembantu elo apa?
Egoku semakin meraja, seolah tak terima dengan omongan Aisyah, aku tertalah-talah keluar dari kamar dengan emosi memuncak. Langkahku meghantuk-hantuk keras lantai vila. menggeram.
Ketika keluar dari kamar Alma, aku berpapasan dengan Agra yang mungkin saja dia penasaran dengan keributan yang terjadi. Aku gak mempedulikan, mengacuh tatap pada wajahnya yang tetap datar namun terkilas rasa penasaran.
Pintu kamarku kubanting dengan lantangnya, menggetarkan area sekitar dan mendengungkan sunyinya malam di Pulau Misool. Terpaan masalah terus kurasakan, setiap hari. Aku gak tahu siapa yang salah, apakah diriku yang terlalu egois, atau mereka yang gak mau disalahkan?
Wajahku menggerutu, tubuhku kaku seolah sedang membeku. Aku menatap raga di cermin besar yang merefleksikan pantulan bayanganku sendiri. Apa yang salah dariku? Aku teringat pernyataan Agra waktu itu yang bilang aku labil. Benarkah begitu? Tersirat juga di pikiranku yang sedang panas ini tentang perkataan Papa waktu di meja makan, apakah aku kekanak-kanakkan?
Baiklah, biar kupikir ulang insiden yang terjadi selama di pulau ini. Pertama, kejadian Raka, dia seenaknya mengungkapkan perasaannya padaku--teman lamanya--tanpa memahami perasaanku yang sedari kecil sudah menganggapnya sahabat sehidup. Sudah jelas aku menolaknya mentah-mentah, kemudian dia kecewa. Marah. Memangnya aku salah?
Kedua, Agra. Dia yang selalu ikut campur soal urusanku sudah jelas aku gak suka. Walau hipotesanya benar soal permasalahan yang kuhadapi, tapi apa pantas orang yang kukenal tidak lebih lama dari Raka seenaknya mencampuri urusanku? Aku marah. Dia kecewa sampai gak kembali ke vila semalaman.
Ketiga soal Alma. Dia adalah teman pertamaku di SMA dulu, bahkan sebelum ada Aisyah. Kami bersahabat sebagaimana semestinya. Ya, kalian tahu? Sahabat dekat itu tidak mengenal sakit hati, baper, atau apa pun yang keluar dari mulut kami masing-masing. Yang jelas, sahabat itu gila atau sedeng bareng, gak kenal malu, sembrono. Itu adalah hal yang wajar. Pertemanan kami juga dari dulu begitu, aku menyebut Alma dengan sebutan "si Badut Kota", dia menyebutku dengan sebutan "Gesrek" sebelum adanya sebutan Olm dari Agra. Tapi kenapa sekarang dia jadi baperan begitu?
Muka ovalku yang masih terpaku menatap cermin kini tersadar. Percuma saja, aku gak dapat apa pun dengan memikirkan ulang kejadian-kejadian itu. Yang ada hatiku semakin menderu panas, seolah ada setan yang merasuki raga--membuat emosiku semakin menyala-nyala.
Lipatan-lipatan ombak kecil terdengar sayup-sayup dari balik tirai jendela kamar, seolah mereka sedang menunggu untuk menerpaku kembali. Angin sepoi mengibaskan helaian daun pohon kelapa yang membungkuk lengkung. Walau pun tak bisa kurasakan dari dalam sini, tapi sepertinya tamparan angin malam itu amat menyakitkan.
Ini bukan soal bagaimana aku mendapatkan cinta yang kuinginkan, bukan juga soal seperti apa sahabat yang kudambakan. Tapi, tujuan hidupku yang harus kucapai ialah: bagaimana aku bisa mengendalikan diri, lebih dewasa, dan berpikir positif. Bukan hanya soal harapan saja yang harus kurealisasikan.
__ADS_1
"Setiap problematika yang orang berikan padamu, bisa saja justru berbanding terbalik. Bahwa kaulah yang membawa masalah itu untuk orang lain juga dirimu sendiri. Berpikirlah secara multiperspektif. Jangan prioritaskan egomu saja."
Bara api panas yang berkecamuk dalam sukmaku kini semakin pudar. Mesin pompa darah pada tubuhku juga kembali menderu sesuai ritme normal. Pikirku yang baru saja disegarkan saat berendam tadi kini lelah kembali. Kurebahkan jasad ramping ini di atas tumpukkan kapas empuk yang seolah berkata, tidurlah, acuhkan kehidupan yang memuakkan ini. Aku pun menuruti pintanya. Tertidur.
\~\~\~\~\~
"Ini, gue kembalikan kartu kredit papa lo." Ketika aku keluar dari kamar, dengan mengejutkan Aisyah sudah berada di depan daun pintu tempat itu, dia menghadang, menyodorkan kartu kredit Papa padaku.
Sejenak aku terdiam, arwahku belum menyatu dengan jasad sepenuhnya. Kupandangi wajah tirus Aisyah yang dengan mengejutkan memberikan kartu kredit Papa.
"Kenapa?" jawabku singkat. Rambutku yang sebahu terkibas lembut saat menoleh. baru disisir.
"Ambil aja. Gue sama Alma mau pindah ke vila lain," jawabnya hambar. Pandangannya terfokus pada kartu kredit Papa yang akan dikembalikan padaku. "Vila yang kami sewa nanti pakai uang Alma, kami bakal pulang ke kota tiga hari lagi."
Aku manggut-manggut saja, padahal hati ini seolah gak rela melepas mereka dari tripku yang kurencanakan sendiri. Tanganku menggapai kartu kredit hitam milik Papa, melepaskannya dari genggaman tangan kurus Aisyah, kemudian memasukkannya ke dalam tas berbahan kulit yang kuselempangkan.
Sejujurnya aku ingin sekali meminta maaf pada mereka. Tapi rasanya gak rela, seolah harga diriku langsung merosot jika melakukan hal itu.
Langkahku menapaki lantai nyaman vila, menuju ruang tamu, kemudian menyisiri seisi ruangan. Sudah tidak ada sesiapa di ruangan ini. Kosong melompong, hanya ada Aisyah yang terakhir kali keluar vila dengan membawa ranselnya.
"Cha, lo yakin?" tanyaku dari kejauhan yang menatap horizontal ke depan--ke arah Aisyah.
Aisyah yang membelakangiku berhenti, kemudian berbalik badan. "Alasan gue buat selalu jadi penengah di antara perseteruan kalian adalah satu, gue gak mau berpihak pada siapa pun. Tapi kali ini mau gak mau gue harus milih dan berpihak. Dan pilihan gue gak tertuju pada Alma, tapi kepada yang menurutku benar. Walaupun pertemanan kita sudah lama, tapi bukan berarti lo bisa seenaknya menjelekkan sesama. Gue harap lo bisa berubah ya, Sa. Asalamualaikum."
"Wa-walaikumsalam." Aku tergemap seketika. Sejenak tubuhku membatu, tenggorokan seperti tersendat sesuatu. Perkataan nyelekit Aisyah menyindir keras sikapku. Suaranya ketika berbicara lembut, namun diksi-diksi yang digunakan seolah menampar jahat hatiku.
Bola mataku menilik ke arah jendela lebar yang terbuka--ke arah Alma dan Aisyah yang masing-masing menggendong ransel yang berisi keperluan pribadi. Terdengar suara tapak sepatu yang menyerakkan pasir dari langkah mereka yang mulai menjauh. Ke penginapan baru.
Aku terduduk, meratap kebodohan diri sendiri dari pantulan layar televisi yang mati. Kedua telapak tangan kudekatkan ke permukaan wajah, menggosoknya, berharap keserakahan ego melayang jauh-jauh dalam diri.
Padahal aku memiliki inisiatif untuk mengajak mereka berkeliling pulau hari ini, namun entah kenapa hati masih tak pasti, seolah gak ikhlas dengan mengalah dan menyalahkan diri sendiri. Harusnya itu lebih baik jika saja kulakukan. Sekarang, lihatlah, semua menjauhiku. Tinggal Agra.
\~\~\~\~\~
__ADS_1