
Ucok yang pulang ke kampung halamanya dengan rasa sedikit sakit hati karena sifat Kenzo kemarin akhirnya tiba di kota kelahirannya,yaitu kota Medan.
Ucok pulang ke rumahnya dari bandara Kualanamu menuju rumahnya yang berkisar 6,5 Km menggunakan taksi biru ternama,ya BlueBird.
Sebelumnya ia tidak memberitahu kepada Ayahnya untuk pulang secepat ini dari rumah Kenzo setelah kelulusannya di Waseda University,Jepang.
Tibalah Ucok di depang gang selebar 3 meter dan memilih untuk berhenti di depan gang tersebut untuk menghemat biaya. Ucok turun dari taksi itu sambil membawa ransel coklat dan koper hitam besar berisi perlengkapannya selama di Jepang lebih kurang 5 tahun.
Terlihat dari kejauhan rumah sederhana berwarna hijau daun dengan luas sekitar 4 x 6 m itu sedang sibuk karena di samping rumah itu ada toko kelontong milik Fadlan, Ayah Ucok yang juga sedang sibuk menghitung total belanjaan pembeli sambil memegang kalkulator digital.
"Assalamu'alaikum Yah..." Ucok yang tiba langsung memberi salam pada Ayah.
Ayah menoleh ke arah Ucok dengan wajah terkejut
"Wallaikumsalam"
"Cok?"
"Udah pulang nya kau?"Sontak Ayah meletakan kalkulatornya dan menghampiri anak semata wayangnya itu.
"Hehehe...."
"Aku pulang lebih cepat Yah"
"Soalnya dah kangen kali aku sama Ayah ini"Jawab Ucok sambil mencium tangan Ayah
"Tunggu....tunggu...tunggu"
"Kau masuk dulu kedalam rumah"
"Letakkan barang kau itu, mandi lah. Ayah tangani dulu pembeli - pembeli ini ya"
"Ok Yah!" Ekspresi Ucok yang tadi nya murung kini kembali tersenyum melihat Ayah nya yang masih sehat itu.
Malam pun tiba, kini waktunya toko kelontong Pak Fadlan mengakhiri operasi jual belinya untuk sesaat.Ayah dan Ucok yang sedang memasukkan barang dagangan nya kedalam toko lalu bergegas masuk kedalam rumah untuk beristirahat.
__ADS_1
Malam itu terasa sangat melelahkan bagi Fadlan. Bukan hanya malam itu, tapi hari-hari nya juga seperti itu tanpa ada keluarga yang menyokongnya. Ia duduk di kursi kayu sambil bersandar dan menghela nafas tanda lelah.
Ucok menghampirinya
"Yah, gak capek apa setiap hari Ayah dagang kek gini?" Tanya Ucok pada Ayah.
"Capek ya pasti, tapi mau kek mana lagi"
"Ayah kan gak punya penghasilan selain dagang, jadi mau gak mau"
"Intinya Uriel jangan ikut Ayah yang sekarang bisanya cuma dagang kecil-kecil an ya"Jawab Ayah sambil memberi nasehat pada anaknya.
"Iya Yah..."Ucok berhenti sejenak.
"Eh,Uriel? Siapa Uriel?"
"Yaampun Yah, namaku itu Ucok. Masa lupa sama nama anaknya yang sebijik ini?"
"Hmmm...." Kayaknya kau udah bisa Ayah kasih tahu ini lah tentang namamu" Ayah memberi pernyataan dengan Ucok atau Uriel yang membuat ia kebingungan.
"Ngasih tahu apa Yah?"
"Jangan bilang aku keturunan bule makanya namaku Uriel" Tanya Ucok dengan kaget yang mengira dirinya keturunan bule karena nama itu -_-
"Lah perasaan kali kau"
"Ayah kau ini asli batak"
"Ibu kau juga melayu"
"Gaada sangkut pautnya sama bule" Jawab Ayah dengan palak nya.
"Loh, jadi kenapa namaku kek gitu Yah?" Tanya Ucok dengan ngotot.
"Jadi sebenarnya nama kamu itu Uriel, artinya penuh semangat, mudah beradaptasi. memiliki keahlian berbicara yang baik." Ayah menjelaskan pada Ucok sambil bersandar menatap Ucok yang melongo mendengar ia berbicara.
__ADS_1
"Lah terooss?"
"Kenapa jadi Ucok? Kan keren namaku kek bule gitu Yah hehhehe....."
"Karena kamu itu banyak bicara, suka ngebacot dari dulu nak"
"Teman-temanmu suka ngejek kau Ucok"
"Apalagi si Royan. Masa kau gak ingat?" Tutur Ayah
"Hehehe...gak ingat sama sekali aku Yah, soalnya masih kecil"
"Eh,kok waktu kecil ada Royan?"
"Ayah juga kok tahu Royan itu temenku?
"Wah wah...pasti ada udang dibalek bakwan nii"
"Soalnya Royan kek gak suka samaku waktu pertama ketemu di Jakarta" Ucok mulai mencurigai Ayah nya yang menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
Sontak Ayah duduk tegak dari sandaran kursinya dan mencoba menjelaskan hal yang sama pada ROyan saat ia bertanya pada Papa nya kemarin.
Ayah menjelaskan hal yang sama dengan panjang lebar dengan penuh keseriusan pada Ucok a.k.a Uriel itu.
Ucok yang mendengarkan cerita Ayah sangat terkejut dan ak bisa berkata-kata lagi, suasana kembali murung. Seolah tak percaya kalau ia dan Royan adalah sepupu.
"Maafin Ayah nak, dulu Ayah memang orang sombong, lupa diri dan dengki"
"Makanya mungkin Tuhan ngasih balasan kek gini unuk kita" Ayah menyesali perbuatannya dulu sambil mengelus kepala Ucok yang duduk menatapnya dalam dengan mata berkaca-kaca.
Tanpa adanya jawaban, Ayah dengan anak itu berpelukan erat dalam takdir yang mereka rasakan sekarang.
"Jadi, kau mau dipanggil siapa?" Tanya Ayah pelan.
"NAMAKU UCOOOKK!!!!" Jawab kang bacot itu dengan keras dan memecahkan suasana haru barusan.
__ADS_1
Bersambung...