Pak Dosen Itu Suamiku

Pak Dosen Itu Suamiku
BAB 10 : Gara-gara Ciuuman


__ADS_3

Tidak mudah untuk memaksa keinginan diri sendiri. Meskipun telah menikah, Shaka masih berusaha untuk sabar ketika dia belum mendapatkan apa yang diinginkannya. Bukan berarti dia tidak tertarik ataupun tergoda dengan kecantikan istrinya, hanya saja Shaka menunggu waktu yang tepat. Dia tidak ingin memaksakan keinginan sendiri, sementara sang istri belum merasa siap. Shaka ingin mendapatkan apa yang diinginkannya dalam keadaan sama-sama saling menginginkan. Shaka tidak mau mendapatkan apa yang diinginkannya secara paksa, sekalipun itu sudah halal.


Sebagai seorang pria normal, setiap malam Shaka harus menahan gejolak dalam hatinya. Terkadang rasanya ingin khilaf, tetapi lagi-lagi dia tersadar kembali untuk tidak menyentuh Nada tanpa seizinnya. Itu sama saja dengan mencuri dan Shaka tidak ingin menyumbangkan benih dengan cara mencuri.


"Nad," panggil Shaka.


"Hmm.. " balas Nada yang telah diserang rasa kantuknya.


"Nad, kamu gak ada niatan untuk tidur lebih dekat denganku?"


"Pak, aku ngantuk berat. Kalau Pak Shaka gak bisa tidur, mending ikut bapak ronda di pos ronda kampling. Disana banyak temennya."


Shaka langsung menautkan kedua alisnya. Bisa-bisanya Nada sampai berpikir ke sana. Padahal Shaka hanya ingin tidur dekat dengan Nada, sekalipun tidak melakukan apa-apa. Dengan bibir cemberutnya, Shaka langsung mengambil guling dan memeluknya dengan erat.


"Gini amat sih dinikahkan sama bocah. Sama sekali enggak peka!" gerutu Shaka.


Malam berlalu begitu saja hingga kumandang adzan subuh membangunkan pasangan suami istri. Keduanya langsung membuka mata, manakala seruan terdengar seruan sholat itu lebih baik daripada tidur pada adzan subuh.


"Nad, aku dulu yang pakai kamar mandi, ya." pinta Shaka pada Nada.


Karena masih ngantuk, Nada mengiyakan saja. Sambil menunggu suaminya ke kamar mandi, Nada berniat untuk memejamkan matanya terlebih dahulu. Rasa ngantuk yang menyerang membuatnya terasa malas untuk bangun. Itu semua karena suaminya yang tadi malam tak langsung pulang ke rumah, melainkan singgah terlebih dahulu ke sebuah restoran kalau setelah itu menikmati angin Malam di alun-alun kota. Keduanya baru pulang saat waktu telah menunjukkan pukul 12 malam.


"Malah tidur lagi! Nad, bangun!" Shaka menggoyangkan tangan Nada agar terbangun karena, karena mereka akan melakukan salat subuh berjamaah.


"Ngantuk, Pak. Tambah lima menit dulu, ya. Pak Shaka sholat duluan aja." lirih Nada dengan suara serak.


"Ya udah, aku salat duluan. Setelah aku sholat, kamu harus bangun."


"Iya, iya Pak. Bawel amat sih dosen kulkas ini. Ganggu orang tidur aja!"

__ADS_1


Shaka hanya menggelengkan kepala dengan pelan kemudian meninggalkan Nada untuk melakukan salat subuhnya.


Mempunyai dua peran utama harus bisa memisahkan antara urusan pribadi dan urusan kampus. Jika di rumah atau diluar Shaka berperan sebagai mana mestinya seorang suami, akan tetapi jika berada di kampus dia akan berperan sebagai seorang dosen. Dan dia tidak akan membeda-bedakan antara mahasiswa lainnya dengan Nada, karena saat berada di kampus hubungan Nada dengan dengan dia hanya sebatas mahasiswa dengan dosen. Jika Nada melakukan kesalahan, dia juga berhak untuk mendapatkan konsekuensinya, seperti mahasiswa lainnya. Begitulah cara Shaka menjalankan tugas dan kewajibannya.


Lebih dari 10 menit, Shaka mendiamkan Nada yang tadinya hanya meminta tambahan waktu lima menit. Bahkan saat dibangunkan lagi, Nada sama sekali tidak meresponnya. Yang ada malah menarik kembali selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Nad, bangun! Sholat dulu!" Untuk kesekian kalinya Shaka berusaha untuk membangunkan Nada.


Karena tak ada tanda-tanda Nada bangun, Shaka memberanikan diri lebih mendekat ke wajah Nada. Bibir mungil adalah inciran Shaka sejak keduanya menikah, akan tetapi sampai saat ini Shaka belum pernah mencicipi bagaimana rasanya. Dan kali ini Shaka berencana untuk mencicipinya, karena Nada yang tak kunjung bangun.


Perlahan dengan pelan. Kini dua bibir saling menempel. Jika pada awalnya Shaka hanya sekedar ingin mencicipinya saja tetapi lama-lama Shaka ingin tahu bagaimana rasanya ciumman. Shaka menghiisap bibir Nada dengan pelan agar Nada tak bangun. Namun, siapa yang menyangka jika tangan Nada malah menarik tengkuk Shaka dan menyambut ciuumaan yang diberikan oleh Shaka.


Mata Shaka mendelik karena merasa sangat terkejut. Entah jin apa yang sedang merasuki Nada sehingga dia seolah lebih agresif daripada dirinya. Dalam mata terpejam, Nada aktif membalas ciuman yang diberikan oleh Shaka.


Dan setelah dirasa kehabisan nafas, Nada melepaskan ciumaannya sambil mengelap bibirnya yang terasa basah.


Shaka yang bisa mendengar dengan jelas apa yang baru saja keluar dari mulut Nada. Shaka pun hanya bisa mendelik dengan lebar. Ternyata saat melakukan ciuuman tadi Nada sedang membayangkan ciuuman bersama dengan Lee Min Ho.


"Astaghfirullahaladzim ... Nada!" Shaka mendengkus dengan kasar dan memilih untuk meninggalkan Nada begitu saja, tanpa ingin membangunkan lagi.


Dadanya terasa panas manakala sang istri diam-diam mendambakan sentuhan dari pria lain. Ya, meskipun Shaka mempunyai wajah tampan, tetapi tidak akan pernah bisa untuk menyaingi ketampanan Lee Min Ho.


"Berani sekali Nada membayangkan ciuuman bersama pria lain. Ini tidak benar! Aku suaminya. Harusnya Nada membayangkan ciuuman bersamaku," gerutu Shaka dengan rasa kesal yang masih bersarang di dalam dadanya.


Saat keluar dari kamar, suasana rumah masih begitu sepi karena waktu masih menunjukkan pukul lima pagi. Belum ada yang bangun, bahkan sang ibu mertua yang bisanya sudah menyapu dan mengepel hari ini belum terlihat. Mungkin hari ini mertuanya itu kesiangan. Dan Shaka pun berinisiatif untuk memasak agar ibu mertuanya nanti tidak kerepotan.


Namun, saat melewati pintu kamar mertuanya sama-sama telinga Shaka mendengar kakak kusuk yang terjadi di dalam kamar. Tidak begitu jelas, tetapi sesekali ibu mertuanya mengadu kesakitan.


"Aduh, Pak. Pelan-pelan. Sakit, Pak."

__ADS_1


Bulu kuduknya langsung berdiri saat suara adonan martabak begitu jelas terdengar ditelinganya.


"Astaghfirullahaladzim .... " Shaka bergidik geli kemudian berlari kembali menuju ke kamarnya. Niat ingin memasak sirna sudah saat mendengar suara keramat. Dadanya naik turun, bahkan tubuhnya terasa lemas.


"Apakah itu adalah suara .... " Shaka tidak melanjutkan ucapannya dan melirik ke arah Nada yang masih terlelap. Ludahnya terasa sulit untuk ditelan. Meskipun dia adalah seorang laki-laki, tetapi jiwa dan raganya masih suci. Apalagi mata dan telinganya. Namun, pagi ini bibir daj telinganya telah ternoda.


"Nad, bangun!" Shaka memilih untuk membangunkan Nada.


"Apa sih, Pak?" Nada mengeliat dengan pelan.


"Bangun shalat!"


Nada pun langsung membuka matanya dengan pelan. Perlahan tangannya langsung memegangi bibirnya yang sedikit basah. Mimpi yang terasa nyata baginya. Namun, saat menyadari jika ada suaminya yang masih berdiri di tepi ranjang, Nada segera menurunkan tangannya.


"Pak Shaka ngapain masih berdiri disini? Biasanya abis sholat tidur lagi," komentar Nada.


"Suka-suka, mau tidur lagi apa enggak. Kamu ngapain bangun tidur langsung megangin bibir? Abis mimpi lagi ciuuman sama Min Ho?"


Mendengar tebakan sang suami sangat benar, Nada langsung membulatkan Matanya jangan lebar. Bahkan rasanya terasa sulit untuk menelan salivanya.


"Pak Shaka ngomong apa sih?" Nada berusaha untuk menutupi kegugupan.


"Ngomong apa adanya. Tadi aku singgah ke mimpi kamu, tapi kamu malah lagi ciuuman sama Min Ho. Jahat banget kamu sih, Nad!"


Lagi-lagi Nada hanya tercengang. "Serius? Pak Shaka singgah ke mimpiku? Tapi aku kok gak tahu. Pak Shaka disebelah mana?"


"Tau, ah! Pikir aja sendiri! Udah sana mandi sekali keramas!"


...~BERSAMBUNG~...

__ADS_1


__ADS_2