Pak Dosen Itu Suamiku

Pak Dosen Itu Suamiku
BAB 4 : Merasa Kesal


__ADS_3

Hampir 30 menit dua insan saling membisu tanpa kata. Shaka yang menyuruh Nada ke ruangannya malah mengabaikan Nada begitu saja. Dosen kulkas itu malah sibuk mengecek tugas dari mahasiswanya.


"Pak," panggil Nada.


"Hmmm."


Ya Allah ... berilah hamba kesabaran untuk menghadapi dosen kulkas ini. Jika jarak gurun pasir itu dekat, hamba sudah akan membawa dosen kulkas ini agar mencair . Nada hanya bisa merangkai kata-kata itu di dalam hatinya saja.


"Sebenarnya tujuan Pak Shaka nyuruh aku ke sini itu apa, sih? Udah 30 menit ini lho, aku disini, tapi Pak Shaka masih aja sibuk sendiri. Kan bikin kesal!" protes Nada dengan bibir cemberutnya.


"Gimana rasanya kesel? Enak gak? Nah... itu yang sedang aku rasakan. Mending kamu diam aja, jangan sampai banyak tanya. Awas saja kalau berani keluar dari ruangan ini!"


"Hah? Yang benar aja, Pak! Jadi tujuan pak Shaka nyuruh aku kesini hanya untuk nemenin Pak Shaka ngerjain tugas Pak Shaka? Pak Shaka udah gila!"


"Bagus deh kalau kamu sudah paham jadi aku tak perlu menjelaskan kepadamu tentang tujuanku menyerah ke sini. Kamu tahu alasannya apa? Alasannya biar kamu enggak jelalatan. Udah dikasih jodoh yang ganteng seperti ini masih aja ngelirik yang cupu. Masih sehat kan mata kamu, Nad?" Kini Shaka meletakkan pena yang sejak tadi dipegang untuk mengoreksi tugas mahasiswanya.


"Pak Shaka jangan ngaco! Aku sama Ucup tuh gak ada hubungan apa-apa. Yang benar aja aku naksir sama Ucup. Tapi kalau seandainya Ucup nggak pakai kacamata tebal terus rambutnya dimodis, ganteng juga sih. Bisa-bisa Pak Shaka lewat."


Mata Shaka langsung menatap Nada dengan tatapan tajam. Bagaimana mungkin ketampanan dirinya bisa dikalahkan dengan pria culun? Tentu tidak segampang itu.


"Kamu percaya diri sekali membicarakan pria lain di depan calon suamimu. Lihat saja dua Minggu lagi aku menghukummu!"


Mata Nada membuat dengan lebar. "Mending hukum sekarang. Dua Minggu kelamaan. Tapi gak papa sih. Siapa tahu dua Minggu lagi Pak Shaka lupa. Biasanya sih kalau udah tua itu rawan mengalami kepikunan," ledek Nada sambil tertawa pelan.


"Puaskan saja tawamu sampai dua Minggu lagi!" tukas Shaka yang kemudian memilih untuk melanjutkan pekerjaannya lagi.

__ADS_1


Shaka sudah tahu jika Nada telah membohongi dirinya yang mengatakan jika pernikahan mereka akan diundur. Namun, nyatanya pernikahan itu akan segera berlangsung dalam waktu 2 minggu lagi.


Sebenarnya saat Nada mengatakan jika pernikahan mereka akan diundur lagi, Shaka tidak percaya, karena ibunya Shaka sudah ngebet untuk menjadikan Nada sebagai menantunya. Dan karena diliputi dengan rasa penasaran akhirnya Shaka mengesampingkan gengsinya untuk bertanya kepada ibunya, tentang apa maksud dan tujuan mengujinya rumah Nada.


Tertawalah Nad, sebelum kamu aku tertawakan! batin Shaka.


*


*


Menghilangnya Nada tentu saja menjadi tanda tanya pada dua orang sahabatnya. Sudah hampir kelas mereka akan dimulai lagi, tetapi keduanya belum melihat tanda-tanda kemunculan Nada kedalam kelas.


"Jangan-jangan Nada langsung pulang," kata Kila.


"Masa sih? Kan masih ada kelas lagi. Masa karena diusir dari kelasnya dosen kulkas itu dia langsung pulang. Kayaknya enggak mungkin deh!" sanggah Arsyila.


Tepat 5 menit sebelum kelas dimulai tiba-tiba muncul sosok nada dari balik pintu untuk menuju ke banknya. Sontak dua orang sahabatnya merasa sangat terkejut dengan kedatangan Nada yang secara tiba-tiba.


"Ya ampun ... Nada kamu ke mana aja? Dari tadi kita nyariin kamu. Mana di chat gak dibales lagi!" todong Kila.


"Nad, kamu nggak papa kan? Kamu enggak dikasih hukuman lagi sama dosen kulkas itu kan? Jangan bilang kamu baru aja mendapat hukuman dari dosen kulkas itu. Ya ampun Nada ... kasihan banget sih kamu. Makanya jangan berani untuk mengabaikan materinya dosen kulkas itu. Kan jadi gini ceritanya," sambung Atsyila dengan heboh.


Nada hanya membuang nafas kasarnya dan segera menarik tempat duduknya. "Udah ah, aku lagi kesel. Jangan sampai aku juga kesel sama kalian!" ketus Nada.


"Ye ... kalau kesel sama dosen kulkas itu jangan bawa-bawa kita dong. Kan itu urusan kamu. Salah siapa main hape saat materi berlangsung. Kan namanya cari mati!" protes Kila yang tidak setuju jika Nada ikut kesal padanya dan juga Arsyila.

__ADS_1


Hampir satu jam akhirnya berakhir juga mata kuliah hari ini. Nada sudah tidak sabar lagi untuk segera pulang. Kali ini dia tidak ingin kemana-mana karena ingin tidur sepuasnya karena masih kesal dengan ucapan Shaka satu jam yang lalu, dimana dia mengatakan dua Minggu lagi akan menghukumnya. Hukuman yang akan diberikan oleh Shaka bukanlah sembarang hukuman karena dosen kulkas itu mengatakan hukumannya ada di atas tempat tidur. Itu artinya dosen kulkas mengetahui jika pernikahan keduanya akan dilakukan dua minggu lagi. Sungguh sangat menyebalkan! Kata dosen kulkas itu masih terngiang-ngiang di dalam kepalanya.


Baru saja keluar dari gerbang kampus, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di samping Nada. Kaca jendela sedikit dibuka dan memperlihatkan sebagian wajah Shaka. "Naik!" titahnya.


Nada yang kesal memilih untuk mengabaikan perintah Shaka dan berjalan begitu saja. Tentu saja Shaka merasa geram dengan sikap Nada dan berusaha untuk mengejar Nada. Suara klakson terus dibunyikan untuk menarik perhatian Nada. Dan benar saja nada merasa terusik dengan suara klakson terus-menerus dibunyikan oleh Shaka. Dengan sejuta rasa kesal yang bersarang di dalam dadanya akhirnya Nada membuka pintu mobil calon suaminya itu.


"Nah gitu dong! Dari tadi kan enak," kata Shaka setelah Nada masuk dan memasang sabuk pengamannya.


"Sebenarnya Pak Shaka maunya apa sih?" protes Nada dengan Kesal.


"Mau anterin kamu pulang. Saat ini Bapak sama ibu lagi ada di rumah kamu. Dan ibu juga yang nyuruh aku untuk bawa kamu pulang."


"Ya udah jalan!"


Shaka pun mulai mengajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Beberapa kali Shaka melirik kearah Nada yang duduk dengan anteng tanpa pergerakan. Bahkan Shaka masih bisa melihat wajah kesalnya Nada.


"Kamu masih kesal?" tanya Shaka untuk memecahkan suasana hening.


"Enggak. Untuk apa kesal?" Nada menjawab dengan ada kaktus.


"Ya kali aja! Tapi syukurlah kalau enggak kesal."


Nada enggan untuk menanggapi ucapan Shaka. Bagaimana tidak kesal, jika beberapa jam yang lalu dia harus dipermalukan karena harus dikeluarkan dari kelasnya. Tidak sampai di situ saja dirinya juga harus mendapat hukuman untuk menemaninya di ruangannya. Dan yang lebih membuatnya kesal adalah saat Shaka mengatakan ingin memberikan hukuman dua Minggu lagi. Membayangkan saja Nada sudah bergidik geli.


"Kamu kenapa, Nad? Jangan bayangin yang aneh-aneh ya!" kata Shaka dengan senyum tipis dibibir.

__ADS_1


...~BERSAMBUNG~...


...Jejaknya dong 🤭...


__ADS_2