Pak Dosen Itu Suamiku

Pak Dosen Itu Suamiku
BAB 13 : Pindah Rumah


__ADS_3

Sebenarnya terlalu berat untuk melepaskan putrinya ikut bersama suaminya. Akan tetapi, sudah menjadi kodrat seorang wanita yang sudah menikah harus mengikuti langkah sang suami kemampuan dia melangkah.


Hari ini Nada sengaja libur kuliah karena ingin pindahan. Namun, saat sang suami mengetahui, pria itu malah marah kepada Nada. Tidak seharusnya Nada libur hanya untuk pindahan, karena semua yang diperlukan oleh Nada telah tersedia disana.


"Tapi aku udah terlanjur izin, Pak. Terus gimana, dong?" Nada meminta saran pada sang suami saat dirinya sudah terlanjur meminta izin pada salah satu dosen yang mengajar kelas hari ini.


"Makanya kalau mau ambil keputusan itu kasih tahu suami dulu. Untuk apa gunanya punya suami kalau gak dianggap!"


"Untuk pajangan tempat tidur, Pak!" jawab Nada yang kemudian meninggalkan Shaka begitu saja.


"Heh?! Nada ... !" teriak Shaka.


*


*


Pindah rumah bukan berarti harus membereskan semua perkakas yang dibutuhkan. Bahkan Shaka menyarankan Nada membawa pakaian dan barang yang penting saja, selebihnya sudah disiapkan oleh Shaka.


Karena sudah Nada terlanjur izin, maka Shaka langsung mengantarkan Nada ke rumah yang akan mereka tempati. Karena bukan rumah baru, jadi tak ada kerepotan yang harus dirasakan oleh Shaka. Hanya saja Nada yang repot sendiri karena harus membawa hampir semua barang-barang berharga miliknya, padahal sebelumnya Shaka sudah memberitahu Nada agar tidak membawa barang terlalu banyak. Namun, larangan Shaka ibarat sebuah perintah untuk Nada. Wanita itu memboyong hampir semua isi kamarnya.


"Nad, serius kamu mau bawa semua ini? Rumah kita disana sudah lengkap," ujar Shaka dengan helaan nafas panjang


"Kata Pak Shaka aku suruh membawa barang-barang yang penting. Lah ini semua barang-barang penting, Pak!" balas Nada yang tidak mau kalah dengan suaminya.


"Terserah kamu ajalah! Kalau perlu ranjang tempat tidur dan juga lemari kamu bawa!" Shaka pun memilih berlalu untuk meninggalkan Nada yang masih sibuk mengemas barangnya.


Sesampainya di lantai bawah, sang ibu mertua dan kakak iparnya sudah menunggu pasangan pengantin muda itu turun.


"Lho, dimana Nada?" tanya ibu mertuanya.


"Nada masih mengemas barangnya, Bu. Padahal Shaka udah bilang, bawa aja yang penting-penting, eh malah satu kamar dikemas semua," keluh Shaka.

__ADS_1


"Gak usah kaget, Nada memang seperti itu orangnya. Baginya larangan itu adalah sebuah perintah. Jadi jangan coba-coba memberikan larangan kepadanya," sahut Dani, sang kakak ipar.


Semua orang hanya melihat kearah Nada yang sedang kesulitan untuk membawa kopernya turun ke lantai bawah. Bahkan diantara tiga orang tak ada yang berniat untuk membantunya. Dalam hati Nada sudah dongkol saat dirinya hanya dijadikan tontonan saja.


"Mas Dani .... bantuin napa!" teriak Nada yang masih berusaha menuruni anak tangga.


Tak ada jawaban yang diberikan oleh Dani. Pria yang tak lain adalah Kakaknya malah menertawakan Nada yang sedang kesusahan.


"Ibu!" Kini Nada memanggil ibunya, tetapi wanita itu hanya menghela nafas panjangnya.


"Dih ... kalian kenapa, sih? Pak Shaka, tolong bantuin napa? Berat ini! Nanti kalau aku jatuh gimana?"


"Kan itu semua kemauanmu! Turunkan aja sendiri! Jadi bocah kok ngeyel mulu!" gerutu Shaka.


Karena tidak ada yang peduli dengan kesusahan Nada, wanita itu pun berusaha dengan keras untuk menyeret kopernya seorang diri. Dalam hati dia sudah berjanji tidak akan memaafkan Shaka atas apa yang telah dilakukan kepadanya. Bisa-bisanya sang suami meracuni pikiran ibu dan kakaknya, sehingga mereka tidak peduli lagi padanya.


"Ya udah, Bu. Kalau begitu kami pamit dulu." Shaka oun langsung menyalami Ibu mertuanya. Tak lupa dia juga melakukan tos bersama dengan Dani, teman semasa kuliahnya yang saat ini telah menjadi kakak iparnya. "Dan, aku pamit ya. Aku bawa adikmu."


"Tenang, aku bisa menghadapinya."


Tak tertinggal, Nada pun juga berpamitan kepada ibu dan sang kakak dengan perasaan kesal karena keduanya sempat menertawakan dirinya yang kadang kesusahan.


"Kamu ingat baik-baik pesan Ibu, Nak. Surga anak ada di telapak kaki ibunya, tetapi surga seorang Istri ada di telapak kaki suaminya. Tugas kamu adalah melayani suamimu, baik secara lahir maupun batin. Jika ada masalah, bicarakan secara baik-baik. Jangan mengambil keputusan di saat sedang marah. Ibu tahu, kamu pasti paham akan hal itu karena kamu pernah mempelajarinya." Sang ibu memberikan wejangan pada putrinya.


"Iya, Bu. Nada paham itu. Sampaikan juga sama bapak, kalau sekarang Nada udah ikut pulang ke rumah Pak Shaka, ya."


"Iya. Nanti ibu sampaikan sama Bapakmu."


Setelah berpamitan pada ibunya, Nada pun langsung berpamitan kepada kakaknya seraya meledak sang kakak.


"Mas, Nada pergi dulu. Jagain ibu. Jangan cuma merantau aja. Sekali-kali cari cewek yang serius terus ajak nikah!"

__ADS_1


"Jangan jadi adik durhaka Kamu ya! Kualat baru tahu rasa. Buncit perutmu!" ledek Dani.


"Dimana-mana kalau kualat itu kakinya di kakinya diatas kepalanya dibawah, kak!"


"Itu kualik ( terbalik ) Nada! Lihat aja aku akan pastikan jika sebentar lagi perut kamu akan membuncit karena kualat!"


Kakak dan adik jika sudah jadi satu tidak akan pernah bisa akur, tetapi jika jauh dirindukan, begitulah antara Nada dengan Dani


*.


*


Meskipun ada jadwal mengajar pagi, Shaka masih menyempatkan untuk mengantar Nada pulang ke rumahnya. Namun, dia tidak bisa mengantar Nada hingga masuk ke dalam rumah. Shaka hanya membantu untuk menurunkan koper milik Nada, dan beberapa barang yang dirasa tidak penting.


"Ini kunci rumahnya. Maaf aku tidak bisa mengantarmu untuk masuk ke dalam karena aku harus ke kampus. Kamu bawa sendiri barang-barang ini, ya!" kata Shaka setelah memastikan semua barang-barang milik Nada telah turun dari mobilnya.


"Jadi Pak Shaka enggak mau bantuin aku bawa koper ini masuk ke dalam rumah?" tanya Nada ingin memastikan.


"Tidak. Tadi kan aku udah bilang aku ada jadwal mengajar pagi. Kalau aku bantuin kamu untuk memasukkan semua barang ini, bisa-bisa aku terlambat sampai di kampus. Dan aku tidak mau itu terjadi kepadaku. Sebagai dosen yang disiplin akan waktu harus bisa memberikan contoh yang baik," ujar Shaka. "Sudah ya, aku berangkat dulu!"


"Iya," jawab Nada dengan ketus.


"Jangan ketus-ketus! Kata ibu kamu harus nurut sama suami. Mau kamu kualat?"


Nada tak lagi mempedulikan ucapan suaminya. Dia pun langsung membuka pintu rumah milik Shaka yang saat ini juga telah menjadi rumahnya. Karena Shaka tidak mau membantu untuk memasukkan semua barang-barang miliknya, Nada pun berusaha untuk memasukkan satu persatu barang-barang itu dengan sabar.


"Gini amat sih punya suami yang enggak peka!" gerutu Nada ditengah-tengah aktivitasnya.


Namun, saat Nada sedang berusaha memasukkan satu persatu barang-barang miliknya, tiba-tiba telah muncul seseorang tepat di depannya sehingga Nada merasa sangat terkejut.


"Astaghfirullahaladzim Ya Allah ... "

__ADS_1


...~BERSAMBUNG~...


__ADS_2