
Langkah Nada terlihat gontai saat menyusuri lorong kampus untuk menuju ke ruang kelasnya. Perasaan kesal masih bersarang dalam hatinya. Dosen yang tak lain adalah suaminya selalu mengekang dirinya, sampai-sampai Nada tak memiliki waktu untuk bersama dengan teman-teman lagi. Masih mending jika suami romantis dan perhatian. Lha, ini boro-boro. Yang ada marah-marah terus.
"Doorr." Kila mencoba untuk mengagetkan Nada. Namun, pada akhirnya Kila malah menautkan alisnya dan menatap kearah Arsyila, karena tak ada ekspresi apa-apa dari Nada.
"Kamu kenapa, Nad?" tanya Kila dengan heran.
"Aku baik-baik aja. Mungkin cuma kurang tidur aja."
"Memangnya tadi malam kamu ngapain?" celetuk Arsyila.
Gelengan kepala sebagai jawaban dari Nada. "Gak ngapa-ngapain. Cuma gak bisa tidur aja."
"Kamu sakit? Kalau sakit kenapa harus dipaksain masuk kuliah, sih?" protes Kila.
Rasanya terlalu lelah untuk menanggapi berbagai pertanyaan dari sahabat. Dan akhirnya Nada memilih bungkam hingga sampai di kelas.
Berbagai pertanyaan muncul di kepala dua orang sahabatnya yang terlalu ingin tahu apa yang sedang terjadi pada Nada.
"Kamu lagi berantem?" tanya Arsyila tiba-tiba.
"Gak. Cuma lagi kesel aja!" balas Nada dengan malas.
Kila yang tidak tahu akan maksud pembicaraan dua sahabatnya langsung menaikkan kedua alisnya. "Kalian ngomong apa sih? Apakah ada yang sedang kalian sembunyikan dariku?" tanya Kila dengan sejuta rasa penasarannya. "Nad, siapa yang dimaksud? Apakah kamu udah punya pacar? Kenapa kamu gak kasih tahu aku? Aku ini sahabatmu lo, Nad! Bener-bener kamu ya!" rajuk Kila pada Nada. Bahkan Kila langsung memalingkan wajahnya dari Nada.
__ADS_1
Nada menyadari jika dia kelepasan. Semua ini karena Arsyila yang memancing dengan pertanyaan diluar jangkauan.
"Bukan gitu, Kil. Aduh ... susah mau jelas gimana." Jika sudah seperti ini Nada tidak tahu harus berbuat apa. Helaan nafas panjang pun terdengar begitu berat.
Menjalani pernikahan secara tersembunyi bersama dosennya kadang membuat Nada merasa takut, karena Nada sering keluar masuk ke ruangan sang dosen. Padahal semua orang tahu jika dosen itu memiliki julukan dosen kulkas, di mana dia akan terlihat cuek dan dingin kepada para mahasiswanya. Namun, itu tidak berlaku untuk Nada. Hampir setiap hari Nada melakukan makan siang bersama suaminya di ruangan itu. Dan kali ini Nada harus berjalan mengendap-endap agar tak ada yang mengetahui jika dia akan masuk ke ruangan dosen kulkas.
Tanpa mengetuk pintu, Nada langsung masuk. Namun, siapa yang menyangka jika saat ini sedang ada seseorang yang berada di ruangan Shaka. Dan yang membuat Nada terkejut Nada sangat mengenali orang itu.
"Ucup." Nada hampir tak percaya saat melihat penampilan Ucup yang 180 derajat berbeda dari biasanya. Tanpa kacamata tebal dan rambut klimisnya lagi. Bahkan penampilannya terlihat lebih cool dan maco.
"Nada." Satu kata yang keluar dari bibir Ucup. Pria yang dipanggil Ucup langsung gelagapan saat tak menyadari jika kedatangannya saat ini bukanlah menjadi Ucup, melainkan menjadi Yusuf.
"Kamu —" Nada menunjuk Ucup dengan ketidakpercayaan.
"Apakah selama ini kamu hanya memakai topeng saja? Satu lagi jelaskan padaku apa hubunganmu dengan dosen kulkas ini? Aku yakin menyembunyikan sesuatu. Jangan bilang kalian berdua adalah pelangi." Nada langsung membungkam mulutnya. "Astaghfirullahaladzim, Pak Shaka ... !" pekik Nada.
*
*
Tak ada sepatah kata yang terucap dari ketiga orang yang berada di ruangan Shaka saat ini. Setelah makan siang, Nada ingin melanjutkan lagi segudang pertanyaan yang telah berada di ubun-ubun. Sungguh dia merasa sangat penasaran siapa Ucup yang sebenarnya dan apa hubungannya dengan Shaka. Namun, belum sempat Nada mengutarakan berbagai pertanyaan itu, Ucup memilih undur diri dengan memakai masker untuk menutup mulutnya. Terlihat dengan jelas jika saat vs ini Ucup sedang menyembunyikan jati dirinya. Lalu apa tujuan Ucup berpenampilan culun sehingga dijauhi dari sebagai teman-temannya.
"Pak, sebenarnya siapa dia? Aku yakin diantara kalian berdua ada hubungan yang tersembunyi. Pak Shaka, tolong jawab aku. Pak Shaka bukan pelangi, kan?" Nada mendesak Shaka untuk mengatakan tentang siapa Ucup yang sebenarnya.
__ADS_1
"Sembarangan! Memangnya aku terlihat seperti seorang pelangi? Aku pria normal, Nad!" bantah Shaka dengan tegas.
Nada masih berpikir keras tentang hubungan Shaka dengan Ucup, karena setiap kali Shaka mereka sangat cemburu saat Nada sedang bersama dengan Ucup.
"Dia sepupuku," ucap Shaka dalam keheningan.
Bola mata Nada membulatkan lebar saat mendengar penjelasan dari Shaka yang mengatakan jika Ucup adalah sepupunya. Rasa cemburu yang dimiliki oleh Shaka bukan tak beralasan. Shaka tahu jika sejak pertama masuk kuliah dan bertemu dengan Nada, Ucup telah memiliki rasa kepada Nada. Dan itu Ucup katakan sendiri pada Shaka. Sejak saat itu Shaka sangat posesif jika Ucup berdekatan dengan Nada.
"Serius, Pak? Lalu mengapa Ucup menutupi wajahnya yang tampan itu. Upss!" Nada langsung menutup mulutnya karena kelepasan berbicara. Sudah dipastikan jika suaminya tidak terima jika Nada memuji orang lain.
"Mau tau? tanya aja sendiri sama Ucup! Udah sana keluar! Sebentar lagi kelas akan dimulai!" usir Shaka.
"Pak, bisa enggak nanti pas akhir dari materi yang Pak Shaka berikan enggak usah ngasih tugas. Itu otak pengen istirahat, lho. Masa iya, tiap pertemuan kelas pulangnya bawa tugas." Nada memohon pada suaminya agar tak memberikan tugas lagi.
"Tidak bisa! Tugas itu wajib! Kalau tidak mau mendapatkan tugas, ya sudah keluar dari kelas. Gampang kan?"
Nada pun tak bisa berkata apa-apa lagi saat tak bisa membujuk dosen kulkas yang tak lain adalah suaminya.
"Ya udah suka-suka Pak Shaka aja!" Nada pun memilih untuk meninggalkan ruangan Shaka. Baru saja membuka pintu, Nada diterkejutkan oleh Bu Dewi yang hendak masuk ke ruangan Shaka.
"Lho, kamu abis ngapain di dalam?" Bu Dewi menyingkirkan tubuh Nada untuk memastikan penampilan Shaka apakah terlihat berantakan atau tidak.
"Pak Shaka, Anda baik-baik saja?" tanya Bi Dewi dengan rasa penasarannya.
__ADS_1
Shaka hanya menautkan kedua alisnya saat wanita itu mendekat dan memeriksa pakaiannya. "Bu, apa yang Anda lakukan!"
...~BERSAMBUNG~...